NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11:Ujian Sepuluh Bidadari Besi

Suasana di dalam Istana Majapahit milik Nyai Gayatri Sekar Arum mendadak berubah tegang. Di luar gerbang gapura bata merah, sayup-sayup terdengar derap langkah kaki kuda dan dentuman tombak yang menghujam bumi. Bukan musuh, melainkan ribuan prajurit gaib berseragam zirah emas yang datang untuk memberikan penghormatan kepada sang pewaris tahta.

Faris Arjuna berdiri di balkon, matanya melongo melihat barisan prajurit yang panjangnya tak berujung. "Mbok, niki prajurit kulo kabeh?" (Bu, ini prajurit saya semua?) tanya Faris tak percaya.

"Iyo, Le. Tapi sakdurunge kowe mrentah pasukane dadi Panglima, kowe kudu mrentah awakmu dhewe dhisik dadi kawulane Gusti Allah," (Iya, Nak. Tapi sebelum kamu memerintah pasukannya jadi Panglima, kamu harus memerintah dirimu sendiri dulu jadi hamba-Nya Allah) jawab Nyai Gayatri sambil menunjuk ke arah masjid kuno yang ada di tengah kompleks istana.

Adzan Subuh berkumandang dari menara masjid yang arsitekturnya menyatu dengan bangunan Majapahit. Suaranya begitu menggetarkan jiwa.

Arjuna Hidayat langsung mengambil wudhu. Ia menatap adiknya dengan tajam namun teduh. "Ayo Dikmas, pasukan ini tidak akan bergerak sebelum mereka melihat Panglimanya sujud kepada Yang Maha Kuasa."

Seketika, pemandangan luar biasa terjadi. Sepuluh dayang piningit, ribuan prajurit zirah emas yang tadinya berdiri tegak, semuanya menancapkan senjata mereka ke tanah. Mereka semua melepas helm tempurnya dan berbaris rapi di belakang masjid untuk ikut menjalankan sholat berjamaah yang diimami oleh Arjuna Hidayat.

Faris berada di shof terdepan, tepat di samping Jono dan Brewok. Brewok yang biasanya urakan, kali ini sholat sampai badannya gemetar.

"Mas Jono, saya merinding... sholat bareng prajurit sing ora ketok ngeten iki rasane koyo wis nang akhirat," (Mas Jono, saya merinding... sholat bareng prajurit yang tidak terlihat begini rasanya seperti sudah di akhirat) bisik Brewok lirih saat posisi rukuk.

"Ssst! Meneng, Brewok! Iki barisan suci!" (Ssst! Diam, Brewok! Ini barisan suci!) balas Jono sambil tetap fokus.

Selesai sholat, Faris merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan selama hidup di jalanan. Ia berdiri, memakai beskap cokelat-emasnya, dan menyisipkan Keris Kyai Jalak Suro di pinggangnya.

Begitu Faris melangkah keluar masjid, ribuan prajurit itu serentak bersujud syukur. "Kulo siap, Mbok. Kulo siap njogo tanah Sidoarjo lan amanah Majapahit niki," (Saya siap, Bu. Saya siap menjaga tanah Sidoarjo dan amanah Majapahit ini) ucap Faris dengan suara lantang yang mengguncang seisi istana.

Arjuna Hidayat memegang pundak adiknya. "Ingat, kekuatanmu bukan di keris itu, tapi di dahi yang baru saja menyentuh sajadah tadi."

Nyai Gayatri Sekar Arum tersenyum bangga. "Waktunya berlatih, Panglima! Tunjukkan pada sepuluh dayang itu kalau darahmu bukan darah pengecut!"

Setelah barisan prajurit kembali ke pos penjagaan masing-masing, suasana di selasar istana menjadi lebih santai. Aroma dupa Majapahit yang mistis kini bercampur dengan aroma yang sangat familiar di hidung Faris: wangi tembakau dan cengkeh yang kuat. Nyai Gayatri Sekar Arum duduk di kursi kayu jati ukir dengan anggun. Di depannya sudah tersedia nampan kuno berisi cangkir-cangkir kopi hitam kental yang mengepulkan asap pekat. Arjuna Hidayat tampak tenang mengeluarkan tembakau pilihan, lalu mulai melinting rokoknya sendiri dengan gerakan teliti.

"Istirahat dulu, Le. Ngopi dulu supaya pikiran sampeyan terang," ucap Nyai Gayatri sambil menyesap kopinya dengan tenang.

"Dikmas Faris, sini duduk. Ilmu itu tidak hanya soal sabetan keris, tapi soal tenangnya hati sampeyan," tambah Arjuna Hidayat sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.

Faris Arjuna menyandarkan punggungnya ke pilar batu besar sambil menyulut rokok kreteknya. "Walah, Kangmas... rasanya seperti ini yang membuat kangen terminal. Ternyata di istana sampeyan juga bisa ngopi begini ya?" ucap Faris sambil tertawa renyah.

Di pojokan, Brewok sibuk melakukan tradisi lelet ampas kopi ke rokoknya. "Mas Jono, sampeyan bayangkan... ngopi di istana Majapahit, yang melayani dayang-dayang cantik, rokoknya kretek mantap. Kurang apa hidup kita ini?" bisik Brewok pada Jono.

Jono menatap Brewok dengan sinis. "Kurang satu, Brewok. Kurang ingat kalau sebentar lagi Mas Faris mau latihan babak belur di tangan mereka!" jawab Jono ketus.

Nyai Gayatri kemudian meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting pelan yang berwibawa. "Le, keris yang kuberikan tadi bukan pajangan. Begitu rokok sampeyan habis, sepuluh dayang itu bakal mengetes seberapa dalam darah Majapahit yang mengalir di tubuh sampeyan."

Faris langsung tersedak asap rokoknya sendiri. "Waduh, Mbok... kopi saya baru separuh ini," keluh Faris sambil buru-buru menghisap rokoknya lebih cepat agar tidak tertinggal.

Arjuna Hidayat hanya tersenyum tipis melihat tingkah adiknya yang panik. "Cepat habiskan kopi dan rokok sampeyan, Dikmas. Dayang-dayang itu tidak akan menunggu sampeyan selesai mengobrol."

Faris mematikan puntung rokoknya di asbak kuno, berdiri dengan gagah, dan meraba hulu keris di pinggangnya. "Sidoarjo sudah panas, Mbok. Ayo kita mulai!"

Faris melangkah ke tengah alun-alun istana dengan langkah angkuh. Ia mencabut Keris Kyai Jalak Suro yang berkilat keemasan, merasa di atas angin karena baru saja mendapatkan restu leluhur. Namun, sepuluh dayang piningit itu hanya berdiri diam, wajah mereka sedingin es meski tangan mereka menggenggam selendang sutra dan kipas baja.

"Ingat, Le. Jangan remehkan wanita. Mereka adalah rahim kehidupan, tapi mereka juga bisa menjadi badai kehancuran jika sampeyan tidak waspada," Nyai Gayatri memberi peringatan dari balkon.

"Tenang saja, Mbok! Lawan sepuluh preman terminal saja saya sanggup, apalagi cuma lawan sepuluh wanita cantik begini," sahut Faris sombong sambil memutar-mutar kerisnya.

Baru saja kalimat itu selesai, dayang paling depan mengibaskan selendangnya. Wuss! Selendang itu memanjang seperti cambuk api, menyambar pergelangan tangan Faris hingga kerisnya hampir terlepas. Belum sempat Faris membalas, dayang lainnya sudah meluncur lincah, menyerangnya dari berbagai arah dengan gerakan yang sangat halus namun mematikan.

Faris mencoba menyerang dengan tenaga penuh, tapi setiap sabetannya hanya mengenai angin. Sepuluh dayang itu bergerak seperti bayangan—mereka tidak melawan kekuatan Faris dengan kekuatan, melainkan meminjam tenaga Faris untuk menjatuhkan dirinya sendiri.

BRAKK!

Faris tersungkur setelah kaki salah satu dayang menyapu tumpuannya dengan gerakan secepat kilat. Ia mencoba bangkit, namun ujung kipas baja yang tajam sudah berada tepat di depan lehernya.

"Waduh, Kangmas! Kok mereka lincah begini? Saya tidak bisa menyentuh mereka sama sekali!" keluh Faris sambil mengatur napasnya yang mulai kacau.

Arjuna Hidayat yang sedang duduk santai memperhatikan hanya tertawa kecil. "Itulah pelajaran pertama buat sampeyan, Dikmas. Kekuatan laki-laki itu ada pada pedang, tapi kekuatan perempuan ada pada batin. Kalau sampeyan menyerang dengan amarah, sampeyan akan selalu kalah oleh ketenangan mereka."

Brewok yang melihat dari pinggir lapangan langsung menutup matanya dengan tangan. "Aduh Mas Jono, itu Mas Faris kok kayak dipukuli bidadari begitu ya? Mau menolong tapi saya takut selendangnya mampir ke leher saya."

"Sudah diam saja, Brewok! Biar Mas Faris tahu kalau di atas langit masih ada langit, dan di atas preman masih ada Nyai Gayatri dan dayang-dayangnya!" sahut Jono sambil menahan tawa.

Faris akhirnya terduduk di lantai marmer, menyerah sepenuhnya. Ia menyadari bahwa Keris Kyai Jalak Suro miliknya tidak akan berguna jika ia masih membawa ego seorang preman terminal ke dalam istana Majapahit. Di depan sepuluh dayang sakti itu, Sang Panglima Terminal harus belajar merunduk seperti padi.

Nyai Gayatri tersenyum bangga melihat bungsunya mulai paham. "Cukup, Le. Latihan hari ini selesai. Simpan keris sampeyan, dan mulailah belajar bagaimana cara menghormati kekuatan yang tidak terlihat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!