Violet Evania, ia merupakan seorang gadis yang mempunyai pandangan berbeda tentang pernikahan. Baginya, menikah berarti neraka.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian. Karena semua itu, di pelajari, dari pernikahann orang tuanya. Sang ayah yang ringan tangan, dan mulut setajam silet, mampu merubah pandangannya.
Disisi lain, Ryhs Sinclair, seorang CEO di perusahaan Developer Perumahan ternama, ia malah beranggapan jika menikah artinya mengikat. Sedangkan ia butuh kebebasan seperti burung-burung yang berterbangan liar di langit sana.
Bagaimana jika dua orang dengan tujuan yang sama, malah disatukan dalam ikatan pernikahan?
Yuk, ikuti kisahnya di novel ini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam Pembawa Berkah
"*Semoga gak akan ada pembuahan," batin Violet mengelus perutnya*.
Sekarang, Rysh dan Violet sudah dalam perjalanan ke kantor. Rysh sengaja menyuruh orang dari papanya untuk mengantarkan setelan kerja mereka ke hotel tempat mereka menginap.
"Kenapa?" tanya Rysh, melihat Violet murung.
Violet hanya menggeleng lemah.
"*Mana ini masa suburku," lagi-lagi Violet membatin*.
Dan semua itu, tak luput dari pandangan Rysh. Apalagi, ketika Violet meremas ujung bajunya.
"Aku berencana mengumumkan pernikahan kita," tutur Rysh.
Violet mengerjap, terkejut.
"Kenapa?"
"Kenapa? Bukankah— seharusnya kamu senang? Apalagi, menjadi istri seorang Rysh Sinclair. Salah satu pengusaha terbaik di bidangnya," ujar Rysh jumawa.
Violet memutar mata malas, enggan menanggapi celotehan Rysh.
Namun, sebelum Rysh mengumumkan pernikahannya, Violet ingin memastikan sesuatu. Bukan perasaan Rysh padanya. Melainkan perasaannya sendiri. Karena jujur, sampai saat ini, Violet belum tahu apa itu cinta.
Karena kebersamaannya bersama Rysh, dia hanya menganggapnya kewajiban. Dan melayani Rysh, adalah keharusan. Bukan atas dasar cinta.
Dan bagaimana dengan perasaan Rysh? Jujur, Violet bisa merasakan jika lelaki itu mulai terpikat dengannya. Bahkan, diam-diam dia sering mendengarkan Rysh, membisikkan kata-kata cinta, di tengah malam buta.
🍇🍇🍇
Pekerjaan di kantor tak ada habisnya. Seharian ini, Rysh dan dirinya banyak menghabiskan waktu di ruang rapat.
Apalagi, ini sudah mendekati akhir tahun. Alhasil, banyak divisi yang berlomba-lomba berpersentasi menunjukkan kelebihan mereka.
Dan bagaimana jika itu kurang? Rysh bukan lah, ceo kejam yang memarahi karyawannya habis-habisan.
Dia hanya memberikan semangat, mengajari mereka agar tak kalah dari devisi lain.
Maka dari itu, orang-orang bisa mengabaikan sikap dinginnya. Sebab di hati Rysh masih mempunyai kehangatan. Yang mempertimbangkan atau menghargai setiap tetesan-tetesan keringat para pekerja di bawah naungannya.
"Kamu lelah?" tanya Rysh ketika melihat Violet memutarkan lehernya ke kenan dan ke kiri.
"Siapa yang tidak lelah, duduk disini hampir dua jam lamanya Rysh," ucap Violet, ketika hanya tinggal mereka saja di ruang rapat.
"Kalo gitu, kamu ke kamar aja, istirahat," ujar Rysh, lebih mirip perintah.
"Terus, agenda hari ini?"
"Biar sapta yang urus," balas Rysh, menatap dalam ke arah istrinya. "Lagi pula, kamu sudah bekerja keras, sejak semalam," tambah Rysh, membuat Violet berdiri dan meninggalkannya dengan langkah cepat.
Bukan marah, Rysh malah tersenyum.
"Cepat, atau lambat, kamu akan bertekuk lutut sama aku, Vio. Dan— kamu akan menjadikan aku satu-satunya dunia, tempat kamu berpulang," ucap Rysh seperti sumpah yang di tanamkan dalam hatinya.
Alih-alih tidur di kamar yang di katakan oleh Rysh. Violet lebih memilih untuk pulang lebih dulu.
Karena Violet menduga, jika benar dia tidur di kamar tersebut. Alamat, dia akan di hantam lagi dan lagi, oleh lelaki mesum, yang telah jadi suaminya.
🍇🍇🍇
Dania menyambut kedatangan Violet. Dia sedikit heran, melihat anaknya yang pulang dalam keadaan lesu.
"*Apa jangan-jangan Violet hamil?" batin Dania menerka-nerka*.
"Bu, tolong jangan ganggu aku ya … badanku terasa lelah sekali. Aku mau istirahat," pesan Violet sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.
Melihat kejanggalan itu, Dania langsung menghubungi sahabatnya.
Namun sayang, Ghea gak bisa ke sana. Karena sekarang, dia dan suaminya sedang berada di luar kota, untuk menghadiri salah satu undangan dari kolega bisnis.
Malamnya Rysh pulang dengan membawakan beberapa makanan untuk Violet.
Karena sebelumnya, dia mendapatkan pesan dari Dania, jika Violet menolak untuk makan. Dan memintanya untuk tidak masuk kamar, dengan alasan yang sama. Yaitu ingin istirahat.
"Dimana Vio?"
"Masih di kamar …dan kayaknya pintu kamar di kunci," balas Dania, khawatir.
Teringat, dulu dia pernah memergoki Violet lagi demam. Dan dia mengurung dirinya di kamar, dengan alasan ingin istirahat.
"Tak apa,aku punya kunci cadangan,"
Begitu pintu di buka, terlihat Violet meringkuk di bawah selimut.
Rysh dan Dania sama-sama mendekatinya.
"Vio …" panggil Dania.
"Bu, biarkan aku istirahat," ujar Vio, tanpa membuka matanya.
"Panas!" seru Dania, menatap Rysh.
Lelaki itu langsung mengambil alih.
"Bu, suruh bibi ambilkan obat dan peralatan untuk kompres,"
Dania langsung keluar, dan mengatakan pesan Rysh pada bibi.
"Biarkan aku yang urus Vio bu … ibu istirahat lah," perintah Rysh.
Mau-mau tak mau Dania keluar. Karena dia paham, jika sekarang Violet merupakan tanggung jawab suaminya.
Sepeninggalan Dania, Rysh dengan telaten mengurus Violet.
Bahkan, dia mengantikan baju Violet. Karena setelah selimut di buka, ternyata Violet masih memakai setelah kerja tadi.
"Mau makan? Atau minum?" tanya Rysh, ketika Violet membuka mata.
"Aku mau istirahat aja Rysh,"
"Makan dulu ya, sedikit aja. Karena sejak siang tadi perutmu belum terisi apa-apa,"
Mau tak mau, Violet mengangguk.
Dan sekarang, Rysh menyuapinya bubur.
Dan Violet, tahu jika bubur ini buatan ibunya. Karena rasanya sama persis seperti yang ia makan ketika sakit, sejak dulu.
"Kalo gak enak badan, kasih tahu … jangan apa-apa mendam sendiri. Kalo nggak, aku dan lainnya gak akan tahu," tutur Rysh, sembari meniup-niup bubur yang ada di tangannya.
"Udah," Violet menolak suapan yang di berikan Rysh.
"Kalo gitu minum obat ya,"
Violet langsung mengangguk.
Malam ini, Rysh memilih untuk menjaga Violet. Dia enggan untuk tidur, takut jika Violet kenapa-napa.
Sepanjang malam, dia hanya memeluk Violet. Sesekali, mengelus punggungnya. Menenangkan Violet yang terlihat menangis dalam pelukannya.
🍇🍇🍇
Karena tubuh Violet masih terasa demam. Hari ini, untuk pertama kalinya Rysh tidak masuk kantor.
Padahal, sebelum-sebelumnya Violet tidak pernah melihat lelaki itu libur.
"Aku beneran gak apa-apa Rysh, mungkin bentar lagi demamnya juga udah hilang," ucap Violet di sela-sela suapan bubur ayam yang diberikan oleh Rysh.
Dan Violet baru tahu, jika Rysh bisa membuat bubur yang tak kalah enaknya dengan bubur buatan ibunya.
"Terus, kamu mau apa?" tanya Rysh.
"Kamu kerja aja. Lagian disini ada ibu dan bibi-bibi yang menjagaku,"
"Hari ini aku kerja, jadi pembantu mu. Jadi kamu bebas meminta apapun atau memerintah apapun padaku,"
Violet menyungging senyum tipis.
"Kalo begitu, bisakah anda berangkat kerja saja?"
"Ini aku lagi kerja. Kerja melayani tuan putri Violet Evania," kekeh Rysh.
"Baik lah, dan aku ada pekerjaan khusus untukmu,"
"Apapun itu, pasti akan aku lakukan," balas Rysh.
Dan Violet menyunggingkan senyum jahil, yang penuh arti.
tpi kenapa vio gk hamil2...