NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Tak Disengaja

Halaman kampus dipenuhi mahasiswa yang lalu-lalang, sebagian duduk santai di taman, sebagian lagi berjalan tergesa menuju kelas masing-masing.

Di tengah keramaian itu— Dua orang berada dalam satu tempat. Tapi belum saling menyadari.

Arsen berjalan pelan menyusuri area kampus.

Jas hitam yang ia kenakan membuatnya terlihat mencolok di antara para mahasiswa.

Beberapa orang bahkan meliriknya dua kali.

“Pak… kita terlalu mencolok,” bisik Raka.

Arsen tidak menoleh. “Biarkan.”

Raka menghela napas kecil. “Kalau begitu minimal kita punya arah.”

Arsen berhenti. Matanya menyapu sekitar. Gedung. Koridor. Wajah-wajah yang lewat.

“Cari bagian administrasi,” ucapnya.

Raka langsung mengangguk. “Baik.”

Nayra keluar dari kelas dengan langkah pelan. Keringat tipis terlihat di dahinya. Hari itu terasa lebih melelahkan dari biasanya.

“Na!” Sinta berlari kecil menghampirinya. “Aku nyariin kamu dari tadi.”

Nayra tersenyum tipis. “Kenapa?”

"Aku khawatir aja. Kamu kelihatan capek banget.”

Nayra menghela napas. “Iya… hari ini berat.”

Sinta langsung memegang lengannya. “Duduk dulu yuk.”

Nayra mengangguk. Mereka berjalan ke arah taman kecil di samping gedung.

Beberapa meter dari sana— Arsen baru saja keluar dari gedung administrasi.

“Data mahasiswa tidak bisa diakses sembarangan, Pak,” jelas Raka.

Arsen mengangguk kecil. “ sudah ku duga.”

“Jadi sekarang?”

Arsen menatap ke arah halaman. “Observasi.”

Raka mengernyit. “Observasi?”

“Dia di sini,” ucap Arsen pelan.

Raka tersenyum tipis. “Bapak benar-benar mengandalkan insting.”

Arsen tidak menjawab. Tatapannya berhenti pada satu titik.

Di taman—

Nayra duduk di bangku panjang. Sinta di sampingnya.

“Minum dulu,” kata Sinta sambil menyerahkan botol air.

Nayra menerimanya. “Makasih…” Ia minum pelan. Lalu bersandar.

“Sin…”

“Iya?”

“Kalau aku… tiba-tiba hilang dari semua ini…” ucap Nayra pelan.

Sinta langsung menoleh. “Maksud mu?”

Nayra tersenyum tipis. “Aku cuma mikir… hidupku sekarang beda banget.”

Sinta menghela napas. “Na, kamu jangan mikir yang aneh-aneh.”

“Aku cuma takut…”

“Takut apa?”

Nayra menunduk. “Takut nggak kuat.”

Sinta langsung menggenggam tangannya. “Kamu kuat,” ucapnya tegas.

Nayra tersenyum kecil. “Aku harap begitu…”

Di kejauhan—

Arsen berdiri diam. Tatapannya tertuju ke arah taman. Lebih tepatnya— Ke arah dua gadis yang sedang duduk di bangku.

Salah satunya…Terlihat berbeda. Ia tidak tahu kenapa. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

“Pak?” panggil Raka.

Arsen tidak menjawab. Matanya tetap fokus.

“Pak…?” ulang Raka.

Arsen akhirnya berbicara pelan. "Gadis itu…”

Raka mengikuti arah pandangannya. “Yang mana?”

“Yang pakai baju putih.”

Raka memperhatikan. “Nggak terlalu kelihatan jelas, Pak.”

Arsen sedikit menyipitkan mata. Ada perasaan aneh. Familiar. Meski ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas dari jarak itu.

“Aku mau lebih dekat,” ucapnya.

Raka mengangguk. “Baik.”

Sementara itu— Nayra bangkit dari duduknya.

“Ayo ke kantin,” kata Sinta. “Aku pengen yang anget.”

Nayra mengangguk. “Boleh…”

Mereka mulai berjalan. Tanpa sadar Mengarah ke jalur yang sama dengan Arsen.

Beberapa langkah lagi. Jarak semakin dekat.

Orang-orang lalu-lalang di antara mereka.

Suara obrolan, tawa, dan langkah kaki bercampur jadi satu.

Nayra berjalan pelan. Matanya sedikit menunduk. Sementara Arsen berjalan dari arah berlawanan. Tatapannya lurus ke depan.

Dan dalam satu momen— Mereka berpapasan. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang saling menyapa.

Namun—Bahu Nayra hampir bersentuhan dengan Arsen.

Dan di detik itu— Nayra sedikit tersentak.

Ia menoleh. Hanya sekilas. Melihat sosok pria tinggi dengan aura berbeda dari mahasiswa lain. Alisnya sedikit berkerut.

“Kenapa?” tanya Sinta.

Nayra menggeleng. “Nggak… cuma…” Ia melirik lagi ke belakang. Pria itu sudah berjalan menjauh. “Aneh aja…”

“Apanya?” tanya Sinta.

“Nggak tahu…” jawab Nayra pelan.

“Kayak… pernah lihat.”

Sinta langsung menoleh ke belakang. “Yang mana?”

“Udah lewat.”

Sinta mengangkat bahu. “Mungkin cuma perasaan.”

Nayra mengangguk. “Iya… mungkin.”

Di sisi lain—

Arsen juga berhenti. Satu langkah. Ia menoleh ke belakang. Kerumunan orang.

Tapi ia tahu— Barusan ada sesuatu.

“Pak?” Raka bingung.

Arsen menatap ke arah belakangnya. “Barusan…”

“Kenapa, Pak?”

Arsen sedikit mengernyit. “Aku ngerasa…” Ia berhenti.

Raka menunggu.

“Kayak pernah ada di dekatku.”

Raka menatapnya. “Perasaan?”

Arsen terdiam. Beberapa detik. Lalu menggeleng pelan. “Entahlah.”

***"

Dua orang itu… Baru saja melewati satu sama lain. Begitu dekat. Namun— Belum cukup untuk saling mengenali. Takdir seperti sengaja mempermainkan jarak mereka.

Memberi kesempatan.Tapi belum waktunya.

Di kantin—

Nayra duduk sambil menatap kosong. Sinta memperhatikannya. “Kamu masih kepikiran?”

Nayra mengangguk pelan. “Iya…”

“Kenapa sih?”

Nayra menghela napas."Aku nggak tahu… tapi tadi…” Ia berhenti. “Kayak ada yang aneh.”

Sinta mengernyit. “Na… jangan bilang kamu mulai halu.”

Nayra tertawa kecil. “Enggak lah.”

Tapi di dalam hatinya, Perasaan itu belum hilang.

Di luar kampus—

Arsen kembali masuk ke mobil. Raka ikut duduk di depan.

“Bagaimana, Pak?” tanya Raka.

Arsen tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah kampus. “Aku hampir…”

“Hmm?”

Arsen menghela napas pelan. “Hampir nemuin dia.”

Raka tersenyum kecil. “Insting lagi?”

Arsen menatap lurus ke depan. “Kali ini… lebih kuat.”

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!