Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Antara Rahasia Dan Rasa Malu
Cinta menyentuh pipinya sekali lagi, memastikan suhunya sudah sedikit menurun sebelum ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
Angin sepoi-sepoi di bawah pohon beringin itu sedikit banyak membantu menormalkan detak jantungnya yang tadi nyaris meledak. Namun, rasa penasaran yang baru saja tumbuh di benaknya justru jauh lebih liar daripada debaran jantungnya.
Rahasia apa yang Clarissa pegang?
Pertanyaan itu berputar-putar seperti gasing di kepala Cinta. Jika Rian adalah cowok yang selama ini terlihat begitu tidak takut pada apa pun, bahkan berani menentang aturan seragam sekolah tetapi sampai bisa tunduk dan diancam, berarti rahasia itu bukan sekadar urusan remaja biasa. Apakah ini alasan sebenarnya Rian pindah dari Jakarta ke sekolah ini? Apakah Rian sedang melarikan diri dari sesuatu yang besar?
Cinta menggelengkan kepala kuat-kuat. "Fokus, Cinta. Ingat misi dari Mamah. Tetap jadi dinding yang kokoh."
Dengan tarikan napas panjang yang terakhir, Cinta merapikan kardigan pinknya dan berjalan kembali menuju kelas XI MIPA 1. Sepanjang koridor, ia menundukkan kepala, takut jika ada orang yang menyadari sisa-sisa rona merah di wajahnya.
Begitu Cinta melangkahi ambang pintu kelas, suasana mendadak sunyi selama satu detik. Matanya secara refleks mencari keberadaan Rian. Cowok itu masih duduk di tempatnya, namun ia tidak lagi menatap ke depan. Rian sedang menyandarkan kepalanya di atas meja, tertutup oleh kedua lengannya. Bahunya tampak naik turun perlahan, menandakan ia sedang menghela napas berat.
Cinta berjalan seanggun mungkin menuju bangkunya, mencoba mengabaikan tatapan menyelidik dari Sarah yang sudah kembali dari kantin. Saat Cinta menarik kursi dan duduk, Rian langsung bereaksi. Ia mengangkat kepalanya dengan cepat.
Mata mereka bertemu. Kali ini, Rian tidak tersenyum menggoda. Tatapannya penuh dengan ketidakpastian, seolah sedang menunggu vonis mati dari bibir Cinta.
"Cinta..." panggil Rian lirih.
Cinta tetap diam. Ia membuka tasnya, mengeluarkan buku paket, dan mulai membolak-balik halaman dengan gerakan yang terlihat sengaja disibukkan.
"Kamu... kamu tidak apa-apa?" tanya Rian lagi. Ia sedikit memajukan kursinya, mencoba memperpendek jarak yang sengaja dibuat oleh Cinta.
"Maaf kalau ucapanku tadi membuatmu takut."
Cinta meletakkan bukunya dengan gerakan pelan, lalu menoleh ke arah Rian. Meskipun hatinya sedang berteriak "Aku juga suka kamu!", bibirnya justru mengeluarkan kalimat yang berbeda.
"Aku tidak takut, Rian. Aku cuma butuh oksigen karena mendengarkan drama pagimu yang luar biasa itu," jawab Cinta dengan nada datar yang dibuat-buat.
Rian mengembuskan napas lega, meskipun jawaban Cinta sedikit pedas. Setidaknya gadis itu tidak lagi melarikan diri darinya. "Soal rahasia itu... aku benar-benar akan ceritakan semuanya padamu. Tapi tidak di sini. Terlalu banyak telinga."
Cinta melirik ke sekeliling kelas. Benar saja, beberapa murid tampak mencuri dengar, termasuk Clarissa yang baru saja masuk ke kelas dengan wajah yang masam. Begitu Clarissa melihat Rian sedang berbicara serius dengan Cinta, matanya langsung berkilat marah.
Clarissa berjalan mendekat, langkah sepatunya yang berbunyi nyaring di lantai kelas seolah menjadi genderang perang.
"Rian! Kamu dicariin dari tadi malah di sini!"
Clarissa langsung berdiri di antara meja Rian dan Cinta, membelakangi Cinta seolah gadis itu tidak ada. "Ayo temani aku ke koperasi. Aku butuh beli beberapa alat tulis yang tertinggal."
Rian tidak beranjak. Ia menatap Clarissa dengan tatapan dingin yang tajam. "Beli saja sendiri, Cla. Kamu punya kaki dan mulut untuk bertanya jalan."
Wajah Clarissa memerah karena malu. Ia melirik Cinta dengan tatapan penuh kebencian, lalu kembali menatap Rian. "Rian... kamu lupa ya soal janji kamu ke aku? Atau kamu mau aku telepon Papa sekarang juga dan bilang kalau kamu—"
"Cukup, Clarissa!" bentak Rian pelan namun penuh penekanan.
Cinta yang mendengar ancaman itu merasa hatinya mencelos. Telepon Papa? Urusan keluarga? Mengapa Clarissa selalu menggunakan ancaman itu untuk menekan Rian? Rasa penasaran Cinta kini bercampur dengan rasa simpati, namun ia tetap bertahan pada topeng kaku yang ia pasang.
"Kalau mau bertengkar, tolong jangan di depanku. Mengganggu konsentrasi belajarku," tukas Cinta ketus.
Clarissa mendengus keras. "Dengar ya, Cinta atau siapa pun namamu. Kamu jangan merasa besar kepala hanya karena Rian mau bicara sama kamu. Kamu nggak tahu apa-apa soal kami."
"Memang aku tidak tahu apa-apa, dan aku tidak berminat tahu," jawab Cinta tenang, meskipun di dalam hatinya ia merasa ingin sekali menjambak rambut cokelat gadis Jakarta itu.
"Sekarang, tolong menjauh dari mejaku. Bel pelajaran akan dimulai."
Clarissa menghentakkan kakinya dan kembali ke kursinya dengan perasaan dongkol. Sementara itu, Rian menatap Cinta dengan tatapan yang sulit diartikan yaitu antara bangga melihat keberanian Cinta dan sedih karena ia belum bisa lepas dari jeratan Clarissa.
...****************...
Dua jam pelajaran Kimia terasa seperti selamanya bagi Cinta. Di satu sisi, ia merasa sangat puas karena Rian sudah mengungkapkan perasaannya. Namun di sisi lain, ia merasa sangat kesal karena Rian masih tampak "lemah" di hadapan Clarissa karena rahasia itu.
Saat jam pergantian pelajaran, Sarah segera mendekat ke meja Cinta. "Cin, aku tadi lihat semuanya dari pintu. Gila ya si Clarissa itu, nggak ada kapok-kapoknya!" bisik Sarah semangat.
"Terus tadi... Rian ngomong apa pas kamu lari keluar kelas? Aku lihat kamu lari kayak dikejar hantu."
Cinta merasakan pipinya kembali menghangat. Ia menarik Sarah sedikit menjauh dari Rian yang sedang dipanggil oleh ketua kelas ke meja guru.
"Dia... dia bilang dia suka aku, Sar," bisik Cinta nyaris tak terdengar.
Mata Sarah membulat sempurna. Ia hampir saja berteriak kalau Cinta tidak segera membekap mulutnya.
"Serius?! Akhirnya! Terus kamu jawab apa?!" tanya Sarah dengan nada heboh yang tertahan.
"Aku nggak jawab apa-apa. Aku lari," jawab Cinta jujur.
Sarah menepuk jidatnya sendiri. "Ya ampun, Cinta! Kenapa lari? Itu kan momen emas! Setidaknya kamu kasih sinyal kek!"
"Aku kesal, Sar! Dia bilang suka, tapi dia masih dekat dengan Clarissa gara-gara rahasia aneh itu. Dia bilang dia diancam. Bagaimana aku bisa tenang kalau orang yang aku suka masih bisa dikontrol sama mantannya."
Sarah mengangguk-angguk setuju. "Iya sih, itu poin yang bagus. Rahasia itu emang mencurigakan banget. Tapi Cin, lihat dari sisi positifnya. Rian berani jujur ke kamu biar kamu nggak salah paham. Itu tandanya dia prioritaskan perasaan kamu daripada ego dia."
Cinta menghela napas. "Tetap saja, Sar. Aku mau dia tegas. Aku mau dia benar-benar bebas dari Clarissa sebelum aku kasih jawaban apa pun."
"Nah, itu baru sahabatku! Jual mahal dikit nggak apa-apa, biar dia tahu perjuangan itu perlu modal tenaga," dukung Sarah sambil tertawa kecil.
Sepanjang hari itu, Cinta benar-benar menjalankan misi dinding kokoh. Ia meminimalisir interaksi dengan Rian. Jika Rian menawarinya bantuan, ia menolak. Jika Rian mencoba memulai obrolan, ia hanya menjawab dengan satu atau dua kata.
Namun, diam-diam Cinta memperhatikan gerak-gerik Rian. Cowok itu tampak sangat berusaha menjaga jarak dari Clarissa. Berkali-kali Clarissa mencoba mendekat, namun Rian selalu menemukan cara untuk menghindar, bahkan sampai rela bersembunyi di toilet atau perpustakaan saat jam istirahat kedua.
Di sisi lain, setiap kali Rian selalu menyempatkan diri untuk meletakkan sesuatu secara diam-diam. Terkadang sebuah permen cokelat, terkadang secarik kertas kecil bertuliskan "Maafkan aku, tolong jangan marah terus."
Cinta melihat secarik kertas itu di bawah laci mejanya saat jam sekolah hampir berakhir. Ia menggigit bibirnya, menahan senyum yang hampir terukir. Rasa kesalnya perlahan mulai terkikis oleh kegemasan melihat tingkah Rian yang mendadak jadi sangat perhatian.
"Berjuanglah lebih keras, Rian. Tunjukkan kalau awal yang baru itu bukan cuma kata-kata di atas kertas novelku, tapi nyata dalam hidupmu," batin Cinta.
Cinta melirik ke samping. Rian sedang menatapnya dengan wajah memelas. Cinta segera memalingkan wajah, kembali memasang wajah dingin, namun tangannya diam-diam meremas kertas kecil itu dan menyimpannya di dalam saku kardigannya yaitu tepat di samping jurnal pribadinya.
Hari ini mungkin penuh dengan ketidakpastian dan ancaman dari masa lalu, namun bagi Cinta, setidaknya satu hal sudah terang benderang yaitu Rian menyukainya, dan itu adalah bahan bakar yang cukup untuk membuatnya bertahan dalam drama ini sedikit lebih lama lagi.