Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Berapa totalnya?" tanya pembeli pada Luna.
Dia segera melakukan scan barang dan menyebut harga total pembelian.
"Seratus tiga puluh lima ribu, mau dibayar cash atau debit?"
"Q-rish"
"Baiklah"
Hari itu toko lumayan ramai. Mungkin karena musim mahasiswa baru datang, jadi banyak yang mencari alat tulis di tokonya. Dan untungnya, hal itu membuatnya sibuk. Mengalihkan perhatiannya dari kejadian pagi tadi.
Malam hari datang dan Luna sibuk menghitung penghasilannya. Sesudah menyelesaikan pembukuan, dia mulai membersihkan toko dan menutupnya.
Dalam perjalanan pulang, Luna mampir ke sebuah restoran ayam goreng. Membeli untuk dibawa pulang. Lalu ketika masuk ke lobi apartemen, dia segera teringat tentang kejadian tadi pagi. Matanya melihat sekeliling, mencari sosok seseorang yang dikenalnya.
"Tidak ada" katanya seusai mengkonfirmasi dengan pandangan matanya. Merasa tenang, dia berjalan ke arah lift dan terkejut karena orang yang dia cari ternyata menyusul dari arah belakang.
"Luna, kau ... "
Baru saja Arya ingin bicara mendadak muncul beberapa orang masuk ke dalam lift. Memaksa keduanya berdekatan namun tak bisa bicara. Hidung Luna mencium sesuatu yang akrab. Aroma kayu yang lembut dari tubuh pria di depannya.
'Ternyata Arya masih menyukai aroma parfum seperti ini' pikirnya dalam hati.
Teringat ketika Luna membeli parfum dengan aroma yang sama untuk Anniversary pernikahan mereka yang pertama.
"Lantai lima!" kata seseorang menyadarkan Luna untuk keluar dari lift. Setelah keluar dengan susah payah karena lift penuh sesak, Luna terus saja berjalan sampai di depan apartemennya. Merogoh tas untuk mencari kunci dan menemukannya. Membuka pintu lalu masuk ke dalam apartemen yang sepi. Namun saat ingin menutup pintu, dia terpaku dengan kehadiran sosok tinggi besar di depan pintu.
"Apa yang kau lakukan?"
Kenapa Luna baru sadar kalau Arya mengikutinya sampai depan kamar apartemen?
"Kita baru bertemu setelah tiga tahun berpisah, kau tidak ingin mengundangku masuk?" tanya Arya.
"Masuk? Untuk apa? Tidak ada yang perlu dibicarakan diantara kita, iya kan?" tanyanya ragu dan mulai takut Arya menyebut tentang masalah cek.
"Aku lapar" jawab Arya membuat Luna heran sampai mengumpulkan alis di tengah dahi.
"Apa?"
"Aku lapar dan kau membeli ayam. Sepertinya enak"
Luna heran dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Seorang mantan suami yang berselingkuh, menceraikannya kemudian menghilang tanpa jejak selama tiga tahun. Tiba-tiba muncul di depannya. Mengikuti langkahnya sampai apartemen dan mengatakan bahwa dirinya lapar lalu ingin makan ayam bersama?
"Maaf, tapi aku hanya membelinya untuk diriku sendiri" kata Luna tak ingin berdebat dan menutup pintu.
Sayang sekali pintu apartemennya tak bisa ditutup, karena sebuah sepatu berhasil mengganjal disana.
"Hanya satu potong ayam saja" kata Arya membuat Luna benar-benar heran. Dia kembali membuka pintu dan melihat pria di depannya yang meringis dan tersenyum seperti orang bodoh.
"Tidak ada kewajiban bagiku menyetujui hal itu" ucap Luna yang kemudian berusaha mendorong kaki Arya yang mengganjal pintunya.
"Hanya satu ayam!! Aku benar-benar lapar sekali"
"Beli saja sendiri"
"Aku tidak tahu dimana belinya"
"Kau bisa pesan online"
"Kau tahu aku malas memesan makanan online"
"Bukan urusanku!!"
"Ayolah!! Cuma satu ayam saja"
"Tidak!!"
Luna berusaha keras menggerakkan sepatu dan kaki berukuran 45 itu dari pintunya namun sulit sekali. Apa karena dia sudah lelah dan belum makan? Tak habis akal, Luna segera menginjak kaki itu sekuat tenaga. Memaksa Arya menarik kembali kakinya dan Luna akhirnya bisa menutup pintu. Tak lupa menguncinya dengan baik agar mantan suaminya tak lagi mengganggu.
"Padahal cuma satu ayam, kenapa pelit sekali!" teriak Arya dari balik pintu.
"Masa bodoh!" balasnya meninggalkan pintu, tak mau tahu dengan pria yang ada di depan apartemennya.
Beberapa menit kemudian, tidak ada suara dari luar. Perlahan Luna berjalan kembali ke pintu, meletakkan telinga di pintu dan mencoba mencari pergerakan apapun diluar apartemen.
Tidak ada.
Apa Arya sudah pergi?
Untuk memastikan pemikirannya, Luna membuka pintu sedikit dan menemukan lorong kosong. Dia menghela napas lega dan kembali menutup pintu.
Satu kotak ayam goreng berikutnya, Luna mulai berpikir.
Apa sebenarnya yang dilakukan Arya? Bukankah mereka sudah berpisah? Berpisah artinya berpisah. Tidak ada hubungan lagi. Atau ... Arya benar-benar mendatanginya karena masalah cek? Ingin mengambil cek uang itu kembali? Apa waktu itu Arya salah meletakkan cek itu di dalam amplop? Dan sekarang ingin mengambilnya kembali? Tapi kenapa menunggu sampai tiga tahun untuk melakukan itu?
Apa Arya baru menemukan fakta kalau cek itu terselip dalam amplop yang dikirim waktu itu? Bagaimana ini?
Luna mengangkat pantatnya dari lantai dan pergi ke kamar. Mengumpulkan semua buku tabungan dan membawanya ke depan tv. Dia membuka semua buku tabungan lalu menghitung semua uang yang dia miliki.
"Kurang" gumamnya lalu mendadak merasa ngeri.
Bagaimana ini? Kurang lima puluh juta dari total lima ratus juta yang ada dalam cek itu.
Seharusnya Luna tidak pernah menggunakan uang dalam cek itu. Jumlahnya jelas-jelas terlalu besar untuknya.
Pasti uang di dalam cek itu akan digunakan Arya untuk membangun kehidupan baru dengan Marina. Tapi batal karena cek itu menghilang. Pantas saja selama tiga tahun ini Marina tidak pernah memposting foto Arya sama sekali di media sosialnya.
Apa keduanya putus gara-gara cek itu hilang? Kalau begitu Luna menghilangkan kemungkinan keduanya bersatu? Hanya karena cek itu ada di tangannya?
Tapi ... memang itu yang harus Arya dan Marina terima. Sebuah hukuman karena berani mengkhianatinya. Ini adalah hukuman dari Tuhan untuk keduanya. Bukan salah Luna kalau cek itu memilih untuk berada di tangannya.
Dia menutup kembali semua buku tabungan dan menyimpannya kembali di lemari. Lalu berharap tak akan pernah bertemu lagi dengan mantan suaminya itu.
Tapi harapannya pupus begitu saja karena Luna melihat Arya di lobi apartemen. Kenapa pria itu masih ada disini?
"Sungguh sial sekali" katanya lalu berjalan seolah-olah tidak mengenal Arya.
"Luna!!" teriak Arya.
Luna berpura-pura tidak mendengar suara apapun, mempercepat langkahnya menuju halte bus. Tapi mantan suaminya berhasil menyusul langkahnya dan mengikuti masuk dalam bus.
"Cepat sekali larimu!" puji Arya yang sekarang berdiri tepat di sebelah Luna.
"Untuk apa mengikutiku?" tanyanya.
"Kita perlu bicara"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan"
Luna terus bergerak menghindari mantan suaminya. Lupa berpegangan pada tiang. Dan ketika bus berhenti, dia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan namun berhasil ditangkap oleh mantan suaminya dan sekarang bisa berdiri dengan benar. Tapi itu menyebabkan tubuh Luna menempel erat ke Arya.
"Pinggangmu kecil sekali sekarang" bisik Arya di telinga kirinya. Berhasil membuat pipinya memerah.
tahi