Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpustakaan
Suasana di District of Columbia Public Library sore itu tenang. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, jatuh lembut di deretan meja baca. Hanya suara halaman buku yang dibalik dan langkah kaki pelan yang sesekali terdengar.
Damar duduk di salah satu meja, fokusnya penuh pada buku tebal di tangannya dunia di sekitarnya seakan hilang.
Dia membaca dengan serius, alisnya sedikit berkerut, sesekali mencatat sesuatu di buku kecil di sampingnya tidak ada yang bisa mengganggu konsentrasinya.
Termasuk Kirana dari kejauhan, Kirana sudah memperhatikannya sejak tadi dia berdiri di balik rak buku, memperhatikan Damar tanpa berkedip.
“Masih sama…” gumam Kirana pelan.
Setelah menunggu beberapa saat, dia akhirnya berjalan mendekat langkahnya pelan, hampir tanpa suara.
Kirana menarik kursi dan duduk tepat di samping Damar. Namun Damar tidak bereaksi satu menit, lima menit, sepuluh menit. Bahkan empat puluh lima menit berlalu Damar masih tenggelam dalam bacaannya, sama sekali tidak menyadari kehadiran Kirana.
Kirana hanya menatapnya sesekali, lalu pura-pura membaca buku di tangannya. Senyum kecil terus menghiasi wajahnya. Serius banget sih…
Akhirnya Damar menutup bukunya dia menarik napas panjang, meregangkan lehernya, lalu menoleh ke samping dan langsung tersentak.
“Kirana?!” Seru Damar terkejut, Kirana menoleh santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Eh, Damar. Ada di sini juga?”
Damar menatapnya tajam, masih sedikit kaget.
“Kamu ini, bikin kaget saja.”
Kirana tersenyum manis Damar mengangkat tangan sedikit.
“Jangan bilang ‘kebetulan’ lagi.”
Kirana terkekeh pelan. “Ya sudah, aku nggak akan bilang.”
Damar menyipitkan mata. “Ngapain kamu di sini?”
“Baca buku,” jawab Kirana santai.
“Serius?” Damar telihat tak percaya dengan ucapan Kirana.
“Aku mahasiswa ilmu politik,” katanya sambil mengangkat buku di tangannya. “Kerjaanku ya membaca.”
Damar melirik buku itu sekilas, lalu kembali menatapnya.
“Dan kamu kebetulan duduk di sebelahku?”
Kirana mengangkat bahu. “Tempatnya kosong.”
Damar menghela napas dia tahu ini bukan sekadar kebetulan.
“Sudah selesai?” tanya Kirana.
“Sudah.”
“Cepat juga.”
“Karena aku benar-benar baca, bukan cuma pura-pura,” jawab Damar datar Kirana tersenyum tipis.
“Aku nggak pura-pura,"
“Terserah kamu saja.” Damar berdiri, merapikan bukunya.
“Kalau begitu, selamat membaca,” kata Damar singkat. “Aku sudah selesai.” Damar mulai berjalan pergi.
“Eh, tunggu!” Kirana langsung bangkit dan menyusulnya. Langkah Damar justru semakin cepat.
“Kamu buru-buru banget,” ujar Kirana sambil mencoba menyamai langkahnya.
“Ada urusan.” Jawab Damar masih berjalan terburu-buru.
“Urusan apa?” Kirana coba mengimbangi langkah Damar.
“Pribadi.” Kirana sedikit mendengus.
“Sejak kapan kamu jadi setertutup a ini sama aku?”
Damar berhenti mendadak Kirana hampir menabraknya dia menoleh, menatap Kirana dalam-dalam.
“Apa yang sebenarnya kamu mau, Kirana?”
Pertanyaan itu membuat Kirana terdiam sejenak namun hanya sebentar, Kirana tersenyum lagi, seolah pertanyaan itu tidak berat.
“Ketemu kamu,” jawabnya ringan.
Damar menghela napas panjang.
“Kamu ini,” Damar menggeleng pelan, lalu kembali berjalan.
Kirana tetap mengikuti.
“Damar,” panggilnya lagi Damar tidak menoleh.
“Kamu nggak bisa menghindar terus.”
Langkah Damar sedikit melambat namun dia tetap berjalan.
“Ini bukan soal kabur,” jawab Damar akhirnya.
“Terus?”
Damar berhenti lagi kali ini tanpa menoleh.
“Ini soal… menjaga jarak.”
Kirana menatap punggungnya.
“Dari aku?”
Damar tidak langsung menjawab beberapa detik berlalu.
“Iya.” Jawaban itu singkat tapi cukup membuat suasana berubah.
Namun Kirana tidak mundur dia justru tersenyum kecil.
“Sayangnya,” kata Kirana pelan, “aku nggak jago jaga jarak.”
Damar memejamkan mata sejenak seolah mencoba menahan sesuatu lalu dia membuka mata, menatap lurus ke depan dan kembali berjalan.
Dengan satu hal yang kini Damar sadari Kirana tidak akan berhenti dan itu akan menganggu fokusnya.