“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Kepercayaan di Tengah Keraguan
Reza mendekat setengah langkah. Suaranya turun.
“Jangan munafik.” Kalimat itu langsung mengenai. “Kamu tahu hubungan mereka retak.” Tatapannya menusuk. “Dan kamu juga ingin berada di posisi itu, bukan?”
Alvian langsung menoleh ke Fahri. Matanya membesar.
“…Om Fahri?”
Fahri tidak menoleh. Tapi tangannya sedikit menekan bahu Alvian. Menenangkan.
“Jangan bicara sembarangan,” ucapnya tegas. “Hanya dengan foto seperti itu… tidak membuktikan apa-apa.”
Tatapannya tidak goyah. “Aku percaya pada Kak Kaisyaf.”
Reza tertawa pendek. “Kamu lebih percaya orang lain… daripada kakakmu sendiri?”
Ia mendekat sedikit lagi. “Kamu anggap dia ‘kakak’…” suaranya sinis, “…tapi aku? Orang asing?”
Fahri diam sejenak. Lalu—
“Karena Kakak tidak pernah jadi kakak.”
Kalimat itu datar. Tapi menghantam.
Reza langsung diam.
Fahri melanjutkan. Suaranya tetap rendah. Tapi kali ini… lebih dalam.
“Kakak tidak pernah ada di saat aku butuh. Tidak pernah peduli.”
Alvian menatap Fahri. Wajahnya berubah. Tidak sepenuhnya mengerti… tapi merasakan.
“Yang selama ini ada…” lanjut Fahri, “…yang mengarahkan aku, mendukung aku…”
Ia berhenti sejenak.
“…itu Kak Ayza dan Kak Kaisyaf.”
Reza tak menyela.
“Jadi…” tatapan Fahri kembali tajam, “…jaga kata-kata Kakak sebelum bicara.”
Beberapa detik sunyi.
“Dan satu lagi,” tambahnya. Nada suaranya berubah. Lebih tegas. “Jangan coba meracuni Alvian lagi.”
Alvian langsung menatap Fahri. Tangannya refleks memeluk leher pria itu saat Fahri mengangkatnya.
“Om Fahri…” gumamnya pelan.
Fahri tidak menjawab. Ia hanya menepuk punggung kecil itu. Lalu berbalik pergi. Meninggalkan Reza di tempatnya.
Reza tidak langsung bergerak. Tatapannya mengikuti punggung Fahri yang menjauh.
Rahangnya mengeras. Namun, Ia tidak marah. Tidak meledak. Perlahan… sudut bibirnya terangkat. Tipis.
“…akhirnya keluar juga.” Suaranya rendah. Hampir seperti gumaman.
Bukan soal kata-kata Fahri. Tapi kenyataan yang selama ini ia tekan, bahwa semua yang seharusnya ia lakukan sebagai kakak… justru dilakukan orang lain.
Ia menatap ke arah gerbang sekolah. Ke arah di mana Fahri membawa Alvian pergi.
“Jadi bukan cuma aku yang menginginkan dia…”
Matanya menyipit sedikit. Bukan kesal. Lebih seperti… menemukan sesuatu yang menarik.
“Bagus…” Ia menghela napas pelan. “Jadi ini bukan sekadar soal aku dan Ayza.” Tatapannya berubah. Lebih dalam. “…tapi juga kamu, Fahri.”
Senyumnya kembali muncul. Kali ini… jelas bukan hangat. Dan kali ini, yang ia lihat bukan lagi sekadar wanita yang ingin ia dapatkan.
Tapi… persaingan yang mulai terbuka.
***
Mobil Fahri melaju perlahan meninggalkan area sekolah.
Di dalam… lebih sunyi dari biasanya.
Alvian duduk di samping Fahri. Sabuk pengamannya terpasang rapi. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.
Bocah itu tidak langsung bicara.
Fahri menatap jalan. Kedua tangannya di setir. Tenang. Terlalu tenang.
Beberapa detik kemudian—
“Om Fahri…”
Suara kecil itu akhirnya terdengar.
Fahri melirik sekilas. “Iya?”
Alvian terlihat ragu. Keningnya sedikit berkerut.
“Tadi…” ia berhenti sejenak, “…foto yang ditunjukin Om Reza.”
Tangan Fahri di setir… sedikit mengencang. Namun suaranya tetap sama.
“Foto yang mana?”
Alvian menunduk. Seolah mengingat.
“Abi… sama perempuan lain.”
Mobil tetap melaju. Tidak ada reaksi berlebihan dari Fahri. Namun rahangnya mengeras tipis.
“Terus…” lanjut Alvian pelan, “…dia bilang… Abi sekarang jarang pulang.” Ia menelan ludah kecil. “Katanya… mungkin Abi lagi sibuk sama pilihannya sendiri.”
Kalimat itu keluar dengan polos. Tanpa tahu… betapa berat maknanya.
Fahri menarik napas pelan. Satu tangan tetap di setir. Yang lain bergerak sebentar, menepuk ringan paha Alvian. Menenangkan.
“Al,” ucapnya pelan.
Alvian menoleh.
“Kalau orang bicara soal orang lain…” lanjut Fahri, “…kita gak bisa langsung percaya semuanya.”
Nada suaranya lembut. Stabil.
“Apalagi kalau itu… tentang orang yang kita sayang.”
Alvian diam. Mendengarkan.
“Tapi itu Abi…” gumamnya kecil. “Kalau benar gimana?” Pertanyaan itu… jujur.
Fahri terdiam sejenak. Hanya satu detik. Namun bukan karena ragu… melainkan karena ia sedang menahan sesuatu yang baru saja ia ketahui.
Kaisyaf sakit dan mungkin tak punya banyak waktu lagi.
Ia menarik napas Lalu menoleh sedikit ke arah Alvian.
“Al…”
Nada suaranya tetap lembut. Stabil.
“Abi kamu…” ucapnya pelan, “…bukan orang seperti itu.”
Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan. Kalimat itu keluar pasti.
Alvian menatapnya.
“Tapi fotonya—”
“Itu belum tentu seperti yang kamu lihat,” potong Fahri pelan. Tidak keras. Tapi cukup untuk menghentikan pikiran anak itu.
Ia kembali menatap jalan.
“Kadang…” lanjutnya, “…orang dewasa ada di situasi yang gak bisa langsung dijelaskan.”
Nada suaranya tetap tenang. Terjaga.
“Dan gak semua yang terlihat… itu kebenarannya.”
Alvian diam.
Fahri melanjutkan, lebih lembut, “Yang pasti… Abi kamu sayang sama kamu.”
Satu tangan Fahri kembali menepuk paha Alvian ringan.
“Dan sama Umi kamu.”
Kali ini… bukan sekadar menenangkan. Lebih seperti… menegaskan sesuatu yang ia sendiri pilih untuk tetap percaya.
Mobil terus melaju.
Namun di balik ketenangan itu... pikiran Fahri tidak berhenti bekerja.
Bukan tentang perselingkuhan. Tapi tentang satu hal.
Apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh Kaisyaf… sampai harus sejauh ini?
Alvian menatapnya.
“Om yakin?” tanyanya pelan.
Fahri mengangguk.
“Iya.”
Jawaban itu cepat. Seolah tidak memberi ruang untuk hal lain.
“Kalau pun Abi lagi sibuk…” lanjutnya, “…itu bukan berarti dia berubah.”
Ia mengusap pelan kepala Alvian sebentar, lalu kembali fokus ke jalan.
Nada suaranya tetap hangat.
“Tapi itu bukan berarti mereka berhenti sayang.”
Alvian terdiam. Perlahan mengangguk kecil. Namun tatapannya masih sedikit kosong. Belum sepenuhnya tenang.
Fahri melihat itu.
“Kalau kamu ragu…” ucapnya lagi, lebih lembut, “…tanya langsung ke Abi nanti.” Ia berhenti sejenak. “Jangan simpan sendiri.”
Alvian mengangguk lagi. “Iya, Om…”
Mobil kembali sunyi. Namun kali ini… bukan karena tenang. Melainkan karena masing-masing… sedang memikirkan sesuatu.
Fahri menatap jalan di depannya. Tangannya masih di setir. Kuat. Namun pikirannya… tidak sepenuhnya di sana.
Dan untuk pertama kalinya, ia berharap… apa yang ia yakini selama ini… tidak salah.
***
Malam mulai turun.
Rumah terasa lebih tenang dari biasanya.
Alvian duduk di ruang tengah. Mainannya ada di depan. Tapi tidak benar-benar disentuh. Tatapannya kosong. Seolah memikirkan sesuatu.
Ayza yang baru keluar dari dapur berhenti sejenak. Ia memerhatikan. Ada yang berbeda dari putranya.
“Al…”
Alvian menoleh. Sedikit terlambat dari biasanya.
“Iya, Umi…” Nada suaranya pelan.
Ayza mendekat. Duduk di sampingnya.
“Kenapa diam saja?” tanyanya lembut. “Capek?”
Alvian menggeleng kecil. Namun tidak langsung bicara. Tangannya bermain dengan ujung baju sendiri.
Ayza menunggu. Tidak memaksa. Beberapa detik.
Lalu—
“Umi…”
“Iya?”
Alvian menunduk. “Tadi… Om Reza datang lagi.”
Ayza langsung menoleh. “Apa?”
Satu kata itu keluar lebih cepat dari yang ia inginkan.
Alvian sedikit tersentak. Tapi tetap melanjutkan.
“Dia nunjukin foto…” suaranya mengecil, “…Abi sama perempuan lain.”
Wajah Ayza berubah. Tidak langsung marah. Tapi jelas… terguncang.
“Terus?” tanyanya pelan. Lebih pelan dari sebelumnya.
“Dia bilang… Abi sekarang jarang pulang…” lanjut Alvian, “…mungkin lagi sibuk sama pilihannya sendiri.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi cukup… untuk membuat dada Ayza terasa sesak. Tangannya tanpa sadar mengepal di pangkuannya.
"Reza. Ia benar-benar sudah melewati batas."
Ini bukan lagi soal dia… tapi sudah menyentuh anaknya.
...🔸🔸🔸...
..."Yang paling berbahaya bukan kebohongan,...
...tapi kebenaran yang dipelintir untuk melukai."...
..."Anak tidak butuh semua kebenaran,...
...tapi mereka selalu merasakan mana yang salah."...
..."Menjaga bukan berarti membela tanpa pikir,...
...tapi tetap berdiri di tempat yang benar saat semua mulai goyah."...
..."Ada orang yang mencintai dengan menjaga,...
...dan ada yang mencintai dengan merusak."...
..."Rumah tangga tidak selalu runtuh karena kebenaran,...
...tapi sering hancur karena orang luar yang sengaja masuk."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Tapi aku yakin sekali dunianya runtuh /Cry//Cry//Cry//Cry/