Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33: Mahkota Kehormatan
Langit Jakarta pagi itu tampak mendung, seolah turut merasakan kegentingan yang mencekam di kawasan Jakarta Selatan. Di depan gerbang kayu bertuliskan Yayasan Cahaya Atmadja, suasana sudah tidak lagi menyerupai tempat bernaung anak-anak yatim. Dua buah alat berat—ekskavator besar—sudah terparkir dengan mesin menderu, memuntahkan asap hitam ke udara yang menyesakkan dada.
Puluhan pria berbadan tegap dengan seragam hitam tak resmi preman bayaran Reza berdiri membentuk barikade. Di hadapan mereka, Pak Burhan dan beberapa guru mengaji duduk bersimpuh di tanah, memeluk kaki-kaki preman itu sambil menangis. Anak-anak yatim yang masih kecil bersembunyi di balik pintu gedung, mata mereka sembab karena ketakutan melihat rumah satu-satunya akan diratakan dengan tanah.
"Tolong, Pak! Beri kami waktu! Ini rumah anak-anak ini!" teriak Pak Burhan parau.
"Waktu sudah habis! Pak Sukardi sebagai pemilik lahan sudah membatalkan sewa secara sepihak. Minggir atau kalian ikut terkubur di bawah beton ini!" bentak salah satu preman sambil menendang debu ke arah Pak Burhan.
Tiba-tiba, suara decit ban mobil yang memekakkan telinga memecah keributan. Tiga buah mobil SUV hitam mengkilap berhenti tepat di depan barikade. Pintu terbuka, dan Danu Setiawan melangkah keluar. Auranya begitu dingin, lebih tajam dari mata pisau mana pun. Di belakangnya, sepuluh pengawal berseragam rapi dan tim legal Setiawan Group berdiri dengan koper di tangan.
"Berhenti," suara Danu tidak keras, namun mengandung otoritas yang membuat operator ekskavator seketika mematikan mesin.
Danu berjalan mendekati Pak Sukardi, pemilik lahan yang tampak gelisah di samping pimpinan preman. "Pak Sukardi, saya membawa dokumen pembelian lahan ini. Dua kali lipat dari harga pasar. Ambil ini, dan perintahkan anjing-anjingmu pergi dari sini."
Pak Sukardi menelan ludah. Ia menatap cek di tangan Danu, lalu melirik ke arah ponselnya yang bergetar sebuah pesan ancaman dari Reza baru saja masuk. "Maaf, Tuan Danu. Ini bukan soal uang lagi. Nama baik lahan saya sudah tercemar karena yayasan ini dituduh sebagai sarang pencucian uang. Saya tidak ingin berurusan dengan kriminal. Bongkar sekarang!"
Sementara itu, di Mansion Setiawan, kekacauan terjadi di dalam kesunyian. Karin berhasil menyuap salah satu perawat junior dengan alasan ingin membawa Nara menghirup udara segar di taman belakang. Namun, yang mereka tuju bukanlah taman.
Nara, dengan wajah pucat dan bibir yang membiru, duduk di kursi roda. Selang infus masih menempel di punggung tangannya, terhubung ke kantong cairan yang digantungkan Karin pada tiang besi portabel di samping kursi roda.
"Mbak, kita benar-benar melakukan ini? Kalau Mas Danu tahu, dia akan membuangku ke kutub utara!" bisik Karin gemetar saat mereka mencapai pintu keluar samping yang dijaga longgar karena sebagian besar keamanan dibawa Danu ke yayasan.
"Aku tidak bisa membiarkan Mas Danu menyelesaikan ini dengan kekerasan dan uang saja, Rin," jawab Nara, napasnya sedikit terengah. "Ini soal harga diri yayasan. Aku harus ada di sana."
Dengan bantuan supir taksi online yang sudah disiapkan Karin, mereka meluncur menembus kemacetan Jakarta. Setiap guncangan mobil membuat Nara meringis memegangi perutnya. Ia berbisik dalam hati, Anakku, bertahanlah. Ibu butuh bantuanmu hari ini saja.
Kembali di yayasan, situasi semakin beringas. Preman-preman itu mulai menarik paksa Pak Burhan. Media massa yang sudah berkumpul sejak pagi mulai menyalakan kamera mereka, menyiarkan secara langsung detik-detik pengosongan paksa yang dramatis ini.
"Danu Setiawan! Anda tidak punya hak di sini!" teriak pimpinan preman sambil mendorong bahu Danu.
Mata Danu berkilat penuh kemarahan. Ia hampir saja melayangkan pukulan jika tidak mengingat janjinya pada Nara untuk menjadi pria yang lebih baik. Namun, saat salah satu preman mencoba merangsek masuk ke arah anak-anak, Danu memberi kode pada pengawalnya. "Hancurkan mereka. Tapi jangan sentuh warga."
Perkelahian fisik nyaris pecah. Suasana kacau balau. Teriakan anak-anak pecah menjadi tangis histeris. Di saat itulah, sebuah taksi berhenti di tengah kerumunan.
Pintu taksi terbuka. Karin keluar dengan tergesa-gesa, menarik sebuah kursi roda keluar.
Seluruh gerakan di area itu seolah berhenti seketika. Kamera wartawan yang tadinya menyorot ekskavator kini berputar 180 derajat ke arah taksi itu.
Danu membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok di atas kursi roda itu. Nara. Istrinya yang seharusnya terbaring kritis di ranjang rumah sakit, kini ada di hadapan publik dengan baju tidur yang ditutupi trench coat panjang, wajah tanpa riasan yang sangat pucat, dan tiang infus yang berdenting pelan saat kursi roda didorong maju.
"NARA?!" Danu berteriak, suaranya penuh horor. Ia berlari menerjang kerumunan menuju istrinya.
"Apa yang kamu lakukan?! Kamu gila?! Kamu bisa kehilangan bayi kita!"
Danu hendak mengangkat Nara secara paksa untuk dibawa kembali ke mobil, namun tangan Nara yang dingin namun kuat mencengkeram lengan Danu.
"Jangan, Mas," bisik Nara, namun matanya menatap tajam ke arah Pak Sukardi dan para preman. "Bantu aku berdiri."
Danu gemetar hebat antara amarah dan ketakutan, namun melihat tekad di mata Nara, ia akhirnya mengalah. Dengan sangat hati-hati, ia memapah Nara bangkit dari kursi roda. Nara berdiri dengan sisa kekuatannya, tangannya satu memegang tiang infus sebagai tumpuan, dan tangan lainnya menggenggam tangan Danu yang kokoh.
Keheningan yang sakral jatuh di tempat itu. Bahkan para preman yang tadinya beringas pun terdiam melihat pemandangan tragis namun agung di depan mereka: Seorang wanita hamil yang tampak sekarat, berdiri membela rumah bagi anak-anak yatim.
Nara menarik napas panjang, suaranya yang lembut terdengar jelas karena semua orang mendadak diam.
"Bapak Sukardi... dan kalian semua yang berdiri di belakang mesin-mesin penghancur ini," ucap Nara, suaranya bergetar namun penuh keyakinan.
"Kalian melihat gedung ini sebagai beton dan tanah yang bisa dijual-beli. Kalian melihat angka-angka yang dijanjikan oleh orang yang membenci kami. Tapi pernahkah kalian melihat mata anak-anak itu?"
Nara menunjuk ke arah jendela yayasan di mana anak-anak mengintip dengan wajah ketakutan.
"Jika hari ini kalian meratakan gedung ini, kalian tidak hanya merobohkan tembok. Kalian sedang merobohkan satu-satunya kepercayaan mereka bahwa dunia ini masih punya keadilan.
Kalian menuduh saya penggelap dana? Kalian menuduh saya pencuri?"
Nara melepaskan satu tangannya dari Danu, ia membuka kancing mantelnya, menunjukkan perban di tangannya dan wajah yang kelelahan.
"Saya berdiri di sini, membawa nyawa yang sedang berjuang di dalam rahim saya. Demi Allah, saya tidak akan mempertaruhkan nyawa anak saya dan kehormatan ayah saya untuk sepeser pun uang haram. Jika ada satu saja bukti asli bahwa saya mencuri uang yatim, silakan... hancurkan gedung ini sekarang, dan kubur saya di dalamnya!"
Nara menatap ke arah kamera wartawan yang menyiarkan secara live.
"Dan untuk Anda, orang yang bersembunyi di balik rencana ini... Anda bisa menyerang perusahaan suami saya. Anda bisa menghina saya. Tapi jangan pernah menyentuh hak anak-anak ini. Karena doa mereka yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit mana pun."
Nara tiba-tiba terbatuk, darah tipis merembes dari sudut bibirnya akibat kelelahan luar biasa. Namun ia menolak untuk ambruk. Ia menatap Pak Sukardi.
"Pak Sukardi, apakah uang dari mereka lebih berharga daripada tempat tinggal sepuluh anak yang tidak punya orang tua ini? Jika iya... silakan mulai mesinnya. Saya tidak akan bergeser satu inci pun dari depan pintu ini."
Pak Sukardi tertunduk. Tangannya yang memegang dokumen pengosongan mulai gemetar. Di sisi lain, para preman bayaran mulai saling lirik. Beberapa dari mereka adalah ayah yang juga punya anak. Melihat seorang wanita dalam kondisi kritis berkorban sejauh itu, nurani mereka yang paling dalam mulai terusik.
"Bos... saya nggak bisa kalau begini caranya," gumam salah satu preman, meletakkan pentungannya di tanah. "Ini sudah bukan urusan bisnis lagi."
Satu per satu, para preman itu mundur. Pimpinan mereka mencoba berteriak menyuruh mereka kembali, namun kekuatan moral Nara telah mematahkan rantai intimidasi mereka.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan kecil terdengar dari warga sekitar yang menonton, yang kemudian berubah menjadi sorak-sorai dukungan. Media sosial meledak dengan tagar #SaveCahayaSetianingrum. Dukungan publik mengalir deras hanya dalam hitungan menit.
Pak Sukardi akhirnya mendekati Danu dan Nara. Ia merobek dokumen pembatalan sewa itu di depan semua orang. "Maafkan saya... saya diancam. Tapi saya tidak mau menanggung dosa ini. Tuan Danu, lahan ini milik yayasan sekarang. Saya terima penawaran Anda."
Tepat setelah Pak Sukardi mengucapkan kata-kata itu, kekuatan Nara benar-benar habis. Tubuhnya melemas, matanya terpejam, dan ia jatuh ke belakang.
"NARA!"
Danu menangkap tubuh istrinya sebelum menyentuh tanah. Ia mendekap Nara dengan sangat erat, wajahnya penuh dengan ketakutan yang belum pernah terlihat seumur hidupnya. "Nara!
Bangun! Andra! Siapkan mobil! Dokter! Panggil tim medis sekarang juga!"
Karin berlari mendekat sambil menangis. "Mbak Nara! Maafkan aku!"
Danu tidak mempedulikan sekelilingnya lagi. Ia menggendong Nara menuju mobil SUV-nya, mengabaikan wartawan yang mencoba mendekat. Saat ia berada di dalam mobil, Danu membelai pipi Nara yang dingin.
"Kamu sudah melakukannya, Sayang. Kamu sudah menang," bisik Danu dengan suara pecah.
"Tapi tolong, jangan tinggalkan aku. Aku tidak butuh yayasan, aku tidak butuh perusahaan... aku hanya butuh kamu dan anak kita."
Danu menoleh ke arah Andra yang duduk di kursi depan. Matanya kembali menajam, kali ini dengan niat membunuh yang murni. "Andra. Hubungi pihak keamanan bandara. Jangan biarkan satu pun pesawat keluar atas nama keluarga Reza. Hari ini, aku akan membakar seluruh dunia mereka karena telah membuat istriku seperti ini."
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan, ponsel Danu bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal masuk. Danu mengangkatnya dengan napas memburu.
"Bagaimana rasanya menjadi pahlawan yang sekarat, Danu?" suara Reza terdengar di seberang telepon, tenang dan dingin.
"Aku akan membunuhmu, Reza. Aku akan memastikan kamu membusuk di tempat yang paling gelap," geram Danu.
"Silakan coba. Tapi kau lupa satu hal... saat kau dan semua orang sibuk di yayasan, siapa yang menjaga Bapak Rahardi di paviliunmu?"
Danu terkesiap. Ia baru ingat bahwa ia membawa sebagian besar pengawal terbaiknya ke yayasan dan untuk mengawal Nara kembali. Mansion dalam keadaan paling lemah.
"Jika kau ingin Bapak mertuamu selamat, temui aku di lokasi yang kukirimkan. Sendiri. Tanpa polisi. Tanpa pengawal. Atau kau akan melihat Nara menangis lagi karena kehilangan ayahnya setelah dia kehilangan bayinya."
Danu menatap Nara yang masih pingsan di pangkuannya. Ia berada di persimpangan jalan yang mustahil: menyelamatkan istrinya yang sedang kritis atau menyelamatkan ayah mertuanya dari tangan psikopat.