Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Pertemuan Konseptual.
Langit Seoul tampak cerah pagi itu, tetapi bagi Nala, suasananya justru lebih menegangkan daripada menyenangkan. Taksi yang ia tumpangi berhenti di depan gedung pencakar langit berwarna perak, dengan logo besar LYNX Entertainment terpampang anggun di puncaknya.
Gedung itu seperti simbol dunia lain—megah, dingin, dan tidak ramah untuk orang luar. Nala menarik napas panjang sebelum melangkah keluar, diikuti Davin yang sibuk menenteng map berisi dokumen yang memang di minta sebelumnya.
Nala terlihat anggun namun tidak berlebihan dengan gaun merah maroon dengan potongan lengan pendek yang menggembung, panjangnya hanya sebatas lutut dengan tali di pinggang nya yang mempertegas bentuk tubuhnya, penampilan nya tida berlebihan tapi cukup untuk membuat beberapa orang menatap nya.
Sedangkan Davin tampil sembuh santai lagi, dia hanya mengenakan kemeja putih bersih dan celana bahan tanpa dasi ataupun jas, sebuah kalung dan jam tangan menjadi penyempurna penampilan nya pagi itu.
“Ini tempatnya?” suara Davin datar, tapi matanya menyiratkan rasa kagum.
Nala hanya mengangguk, jari-jarinya menggenggam tali tas dengan kaku.
“Iya. Rasanya… aku mau pingsan,” ujar nya yang membuat Davin terkekeh.
"Kita bahkan belum masuk, jangan sampai bintang utama nya jatuh sebelum sempat bersinar," ujar Davin yang membuat Nala makin tak tenang.
Namun tanpa ragu atau bertanya Davin menggenggam jemari tangan Nala, seolah memberikan kekuatan jika dia tidak sendirian di sana.
Mereka memasuki lobi yang luas dengan lantai marmer putih mengilap. Resepsionis berbalut jas rapi menyambut dengan senyum formal, berbeda jauh dari kehangatan hotel tempat mereka menginap.
“Selamat pagi. Apa Anda Ibu Nala ?” tanya sang resepsionis dalam bahasa Inggris.
“Yes, it’s me,” jawab Nala dengan suara agak bergetar. (Ya, itu saya.
“Please wait a moment, our staff will escort you. (Mohon tunggu sebentar, staf kami akan menjemput Anda.)" ujar nya yang membuat Nala mengangguk pelan. Tak lama kemudian, seorang wanita muda berambut sebahu datang menghampiri.
“Annyeonghaseyo, saya Lee Minji. Saya akan mendampingi Anda ke ruang rapat,” Senyumnya ramah, tapi sikapnya profesional wanita itu berbicara dengan bahasa Korea dan Inggris yang sedikit terbata.
"Terima kasih," Balas Nala.
Mereka dibawa ke lantai sembilan, melewati koridor panjang dengan poster-poster raksasa SOLIX menghiasi dinding. Foto-foto para member tampak sempurna, seolah menatap setiap langkah Nala. Degup jantungnya makin keras—seolah seluruh gedung mengingatkan betapa kecil dirinya di dunia sebesar ini.
"Ini ruangannya, silakan," ujar nya membukakan pintu kayu besar, menampakkan ruangan modern dengan meja oval panjang.
Di sana sudah duduk beberapa orang: dua pria paruh baya dengan jas abu-abu (tim hukum dan kontrak), seorang wanita elegan dengan tablet di tangan (kepala divisi kreatif), dan beberapa staf lain.
“Nala-ssi, welcome to LYNX Entertainment,” ucap kepala divisi kreatif, memperkenalkan diri sebagai Park Eunmi. Suaranya lembut tapi tegas, mencerminkan wibawa seorang eksekutif.
“Terima kasih sudah mengundang saya,” balas Nala dengan bahasa Inggris terkontrol. Senyumannya kaku, tapi ia berusaha menjaga kewibawaannya.
"Silakan duduk," ujar nya mempersilahkan keduanya duduk, Nala duduk di sisi kosong yang ada. Sementara itu, Davin duduk di sebelahnya, siap jika dibutuhkan sebagai penerjemah tambahan kalau Nala gugup atau penengah.
Pertemuan dimulai. Tim kreatif menjelaskan bahwa mereka tertarik pada tulisan Nala yang memenangkan kompetisi. Park Eunmi membuka berkas tebal di hadapannya, sementara layar di ujung ruangan menampilkan beberapa cuplikan tulisan Nala—terjemahan dari karya pemenang penghargaan yang baru-baru ini membuat namanya dikenal.
Huruf-huruf itu terpampang jelas di layar: narasi lembut dengan kedalaman emosional yang khas, seperti membawa kehangatan di tengah ruang kaca yang dingin itu.
“Pertama-tama, izinkan kami mengucapkan selamat, Nala-ssi,” ujar Eunmi dengan nada profesional dalam bahasa inggris. “Karya Anda bukan hanya mengandung emosi yang kuat, tetapi juga menampilkan perspektif budaya yang unik. Leader kami, Kim Namjunho, secara pribadi mengajukan proposal untuk melibatkan Anda dalam proyek penulisan lirik mendatang.” Nada ruangan berubah seketika saat nama itu disebut.
Beberapa orang saling bertukar pandang singkat, sebagian masih tampak ragu, sebagian lainnya menatap Nala dengan ketertarikan baru.
“Proyek ini masih dalam tahap konseptual,” lanjut Eunmi, “namun kami mempertimbangkan untuk mengundang Anda sebagai kolaborator tamu dalam tim kreatif SOLIX. Peran Anda tidak hanya menulis, tapi juga memberikan perspektif naratif yang lebih emosional dan humanis—sesuatu yang, menurut kami, sulit ditemukan di industri ini,” ujar nya yang membuat Nala menelan ludah pelan, berusaha menata napas.
“Terima kasih atas kepercayaannya, saya merasa terhormat,” ucapnya lembut. “Namun, saya ingin memastikan satu hal—apakah ini kerja sama jangka pendek atau kemungkinan kolaborasi yang lebih panjang?” lanjut nya yang membuat salah satu pria paruh baya di sisi kanan, mengenakan kacamata tipis, membuka suaranya.
“Itu akan bergantung pada hasil pertemuan dan evaluasi proyek selanjutnya, para petinggi akan mempertimbangkan itu . Tapi sebelum melangkah sejauh itu, kami memiliki beberapa ketentuan penting yang harus dipahami,” ujar nya sembari membuka mapnya, menampilkan lembar-lembar kontrak berbahasa Inggris dan Korea.
“Jika Anda setuju untuk bergabung, baik sementara maupun tetap, maka Anda terikat pada Non-Disclosure Agreement—perjanjian kerahasiaan. Artinya, Anda tidak boleh membocorkan informasi internal terkait artis, proyek, atau strategi perusahaan, bahkan setelah kerja sama berakhir. Pelanggaran sekecil apapun berdampak serius bagi Anda, nona Nala,” ujar nya dengan bahasa inggris yang cukup fasih meskipun logat nya tetap Korea. Wanita lain dari tim hukum menambahkan.
“Selain itu, semua interaksi antara pihak luar dan artis kami akan diawasi langsung oleh manajemen. Termasuk dalam konteks non-profesional, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman publik. Kami melindungi reputasi kedua belah pihak, bukan hanya artis kami,” ujar nya.
Kalimat terakhir itu membuat jantung Nala berdetak lebih cepat. Ia bisa merasakan udara di ruangan itu berubah lebih berat, seolah semua mata kini tertuju padanya. Tapi ia menegakkan punggung, menatap lurus ke arah Eunmi.
“Saya mengerti. Saya sudah terbiasa menjaga privasi dalam dunia profesional. Dunia penerbitan juga menuntut etika yang serupa. Saya tidak akan melanggar kepercayaan yang diberikan,” katanya dengan nada tenang.
Jawaban itu singkat tapi mantap. Tak ada suara setelahnya selama beberapa detik, hanya bunyi halus pendingin ruangan yang mengisi kekosongan. Eunmi menatapnya lama, lalu menutup berkasnya perlahan.
“Baik. Saya senang mendengar itu. Kejujuran dan integritas adalah hal yang paling kami hargai di sini,” katanya akhirnya, senyum kecil muncul di wajahnya.
Beberapa staf di sisi kiri saling bertukar pandang, dan meskipun mereka tidak berkomentar, ekspresi mereka berubah — dari skeptis menjadi penuh pengakuan. Salah satu di antaranya, seorang produser muda yang sejak tadi diam, berpikir dalam hati:
“Jadi ini alasannya... Sudut pandangnya jernih, kalimatnya sederhana tapi mengandung kedalaman. Tidak heran Junho begitu bersikeras ingin wanita ini di timnya,” batin nya memandang Nala dengan tatapan kagum.
Rapat berlanjut ke pembahasan teknis: kemungkinan jadwal, sistem kerja, hingga honorarium dan hak cipta. Namun di sela-sela semua itu, Nala tetap menjaga ekspresinya stabil. Dalam dirinya, masih ada rasa gugup yang berputar di dada, tapi juga—entah mengapa—ada secuil kehangatan, perasaan bahwa dirinya untuk pertama kalinya diterima bukan hanya karena prestasi, tapi karena cara pandangnya.
Sementara Davin di sampingnya diam memperhatikan, sedikit tersenyum, seolah berkata dalam hati: lihat? aku bilang juga ini jalannya.
Dan di ujung ruangan, Lee Soojin yang sejak awal hanya menjadi pengamat, mencatat sesuatu di tabletnya lalu menatap Nala dengan ekspresi samar. Ia tahu, keputusan hari ini bukan sekadar formalitas; ini awal dari sesuatu yang lebih besar entah itu kesuksesan atau kegagalan.
“Apa Anda merasa sanggup menulis dalam bahasa lain, atau akan menulis dalam bahasa ibu Anda?” tanya salah satu staf pria dengan nada tajam. Nala menelan ludah, tapi menjawab dengan tenang.
“Saya bisa menulis dalam bahasa Inggris, dan saya yakin bisa bekerja sama dengan tim penerjemah untuk menyempurnakan detail bahasa Korea. Tapi, yang lebih penting, saya percaya emosi manusia universal. Rasa sakit, cinta, kehilangan—semuanya bisa dimengerti tanpa batas bahasa,” ujar nya yang Nala.
Sejenak, ruangan terdiam. Lalu Eunmi mengangguk pelan, seolah puas dengan jawaban itu.
"Baik lah kami rasa cukup sampai di sini, kita sudah banyak melihat sudut pandang Anda, dan kami harus menyampaikan hasil pertemuan ini dulu untuk evaluasi lanjut. Nona Nala, jika anda berkenan, anda bisa menunggu lebih lama dan menunda kepulangan ada ke negara asal anda?" Tanya nya yang membuat Nala mengernyit, ucapan itu terdengar ambigu dan tidak ada kepastian.
"Eum... Saya bisa menunggu tentu saja, tapi minta waktu tidak lebih dari dua Minggu, karena saya memang ada sedikit pekerjaan di negara saya, saya mohon pertimbangkan permintaan saya," ujar Nala yang membuat semua orang di ruangan berbisik. Dan seorang ketua rapat mengangguk.
"Tentu saja Nona, kita akan pertimbangkan jika lewat dari tenggat anda dengan berat hati kami membatalkan rencana kerja sama ini," ujar nya yang membuat Nala mengangguk setuju.
Semua orang berdiri begitu juga dengan Nala dan Davin yang akhirnya keluar dari ruangan itu. Pertemuan hari itu berakhir dengan formalitas. Tidak ada kontrak yang ditandatangani hari , hanya janji akan pertemuan berikutnya. Saat keluar dari ruangan, Davin menyenggol lengan Nala.
“Kau sadar, kan? Kau barusan membuat seluruh ruangan bungkam hanya dengan satu kalimat,” ujar nya yang membuat Nala tersenyum tipis, masih sulit percaya.
“Aku hanya berkata jujur. Itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan,” ucap nya. Dan di balik pintu tertutup, para staf membicarakan nama Nala dengan serius.
— ❖❦ ❦ ❦❖ —
Sementara itu, di sebuah rumah mewah milik keluarga Kim, di ruang tamu utama yang luas dan berlangit-langit tinggi, dua keluarga besar itu sedang duduk dengan anggun—layaknya keluarga bangsawan yang terbiasa menjaga wibawa di setiap gerak dan kata.
Di sana ada Han Minseo, ibu Junho; Jung Ji-Hye, istri dari Kang Dae-Hyun; dan Kang Sooyeon, wanita yang sejak lama disebut-sebut sebagai calon yang akan dijodohkan dengan Junho.
Aroma teh hangat memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi kayu dari furnitur mahal yang mengilap di bawah cahaya lampu gantung kristal.
“Sudah lama tidak bertemu. Rasanya rumah ini masih sama seperti dulu,” ujar Ji-Hye sembari mengangkat cangkir tehnya dengan elegan. Gerakannya halus, nyaris seperti ritual yang sudah dilakukan ratusan kali.
Ia melirik putrinya yang duduk anggun di sampingnya.
“Eomma benar. Semuanya masih sama, hanya saja sekarang terasa lebih sunyi,” ujar Sooyeon pelan. Suaranya lembut, tapi ada nada penilaian halus yang terselip di dalamnya.
Mendengar itu, Han Minseo menoleh.
“Itu benar. Karena sekarang di rumah ini hanya ada aku dan suamiku,” ujarnya tenang, meski ada sedikit kelelahan yang tersirat di balik senyumnya yang sopan.
Ji-Hye mengangguk pelan, meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas piring kecil dengan bunyi porselen yang nyaris tak terdengar.
“Bagaimana keadaan Hyunseok dan istrinya?” tanya Ji-Hye kemudian.
Pertanyaan itu membuat Minseo menoleh cepat, seolah topik tersebut langsung menarik perhatiannya.
“Mereka baik-baik saja,” jawabnya. Namun setelah jeda singkat, ia menambahkan dengan nada lebih berat, “Tapi aku masih tidak suka pada wanita itu. Entah kenapa aku merasa dia membawa pengaruh buruk untuk Hyunseok.” Ia menghela napas pelan, seakan perasaan itu sudah lama ia simpan.
“Pengaruh buruk?” tanya Ji-Hye dengan alis sedikit terangkat.
Minseo mengangguk.
“Bukan pengaruh buruk dalam arti sebenarnya. Lebih tepatnya… pengaruh budaya.” Ia berhenti sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati. “Kalian tahu, budaya yang dia bawa dari negara asalnya perlahan juga diikuti oleh Hyunseok. Aku tidak menjelekkan negara itu, tentu saja. Tapi dalam keluarga kami… cara dia hidup terasa agak bersimpangan.”
Han Minseo sejak tadi duduk tegak di kursi utamanya—posturnya sempurna, seperti wanita yang sejak muda dididik untuk selalu menjaga martabat keluarga. Kimono pastel yang ia kenakan disulam tangan dengan motif bunga halus, menambah kesan elegan yang nyaris aristokrat.
Di hadapannya, Jung Ji-Hye—wanita dengan kalung mutiara besar yang tampak lebih berharga dari mobil biasa—tersenyum tipis, seolah memahami keluhan itu tanpa perlu banyak komentar.
Sementara Kang Sooyeon duduk dengan keanggunan yang nyaris terasa dibuat-buat. Kakinya disilangkan dengan rapi, punggungnya tegak, dan jemari halusnya sesekali menggulir layar ponsel mahal di tangannya.
Namun matanya tidak benar-benar fokus pada layar.
Ia mendengarkan. Dan dari sudut bibirnya yang sedikit terangkat, jelas bahwa percakapan ini—tentang keluarga Kim, tentang tradisi, tentang siapa yang pantas dan tidak—jauh lebih menarik baginya daripada notifikasi apa pun di ponselnya.
“Budaya memang hal yang sensitif,” ujar Ji-hye akhirnya, dengan nada yang seolah bijak namun bernuansa condescending. “Terutama ketika menyangkut tradisi keluarga besar. Kadang perempuan dari luar negeri sulit menyesuaikan diri, bukan?” lanjut nya yang membuat Minseo tersenyum kecil, tapi senyum itu dingin.
“Benar. Aku tidak menyalahkannya sepenuhnya, hanya saja… keluarga Kim dibangun di atas nilai, etika, dan tata krama. Sementara wanita itu tumbuh dengan kebebasan yang mungkin tidak sejalan dengan cara kami melihat dunia,” ujar nya .
“Ah…” Ji-hye meletakkan cangkir tehnya perlahan. “Tentu, tentu. Aku paham betul maksudmu. Perempuan dari Barat memang memiliki pandangan yang berbeda—kadang terlalu bebas, kadang terlalu menonjol. Tidak semua orang bisa menerima karakter seperti itu,” lanjut nya yang membuat Sooyeon menatap ibunya sekilas, lalu ikut menimpali dengan nada lembut tapi penuh perhitungan.
“Namun bukankah Hyunseok oppa tampak bahagia? Aku melihat beberapa liputan majalah saat mereka menghadiri gala di London. Mereka terlihat... harmonious, menurutku.” Nada terakhirnya seperti penekanan terselubung—antara pujian dan sindiran. Minseo menatap gadis itu, lalu tersenyum tipis.
“Bahagia di foto tidak selalu berarti bahagia di rumah, Sooyeon-ah. Kau masih muda, nanti akan paham perbedaannya ketika kau menjadi seorang istri,” ujar nya yang membuat Ji-hye terkekeh kecil, menyamarkan cibiran di balik senyuman nya.
“Kau benar-benar masih tajam seperti dulu, Minseo-ssi. Tapi aku bisa mengerti kekhawatiranmu. Seorang ibu tentu ingin yang terbaik bagi putranya—terutama jika anak bungsumu belum juga menikah, bukan?” Nada itu disengaja, ucapan yang terdengar ringan tapi memiliki lapisan makna: menyentuh topik Junho.
Han Minseo meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas piring kecil berpinggiran emas. Suara porselen yang beradu terdengar lembut namun tegas—seperti tanda bahwa topik berikutnya tak akan sekadar obrolan santai.
"Benar, itu juga yang sudah aku dan suamiku bahas sejak awal, dia belum menikah dan kami ingin dia segera menikah, tapi itu sulit... Junho terlalu berambisi pada pekerjaan, dia selalu berlindung di balik nama penggemar dan ke-propesionalan kerja, padahal hidup tidak selamanya berjalan dalam garis lurus," ujar nya yang membuat Ji-Hye terkekeh pelan.
"Sama seperti putri ku, Sooyeon juga terlalu pokus pada karier nya sendiri, aku dan Dae-hyun sampai lelah menyuruh nya menikah," ujar nya dengan nada manis namun menyimpan ribuan makna lain.
Sooyeon yang sejak tadi diam hanya mengangkat alis, suaranya lembut namun beracun manis.
"Bukan seperti itu Eomma, aku bukan tidak mau menikah tapi aku tidak ingin terburu-buru menikah, aku belum menemukan orang yang cocok untuk ku," katanya dengan nada datar.
Jung Ji-hye menoleh pada putrinya dan tersenyum bangga, seolah ucapan itu adalah pujian yang pantas disambut tawa kecil. Han Minseo menghela napas panjang, meski senyum di wajahnya tak luntur.
“Persis seperti Junho, prinsip hidup mu cocok dengan nya," ujar nya yang membuat Ji-Hye menatap Minseo sejenak.
"Aku dan suamiku sudah setuju dengan lamaran itu minseo-ssi, aku juga ingin Sooyeon segera menikah, harapan kita sama aku juga ingin melihat putriku bahagia, dan bersanding dengan Junho mungkin cara terbaik nya," sahut Ji-hye cepat, nadanya penuh kehormatan namun juga terselip kebanggaan diri.
"Sebenarnya pilihan ini di tentang oleh Junho karena dia memang menolak keras untuk menikah, tapi aku dan suamiku takut dia jatuh pada orang yang salah. Sudah cukup Hyunseok, aku tidak ingin Junho mengikuti jejak kakaknya," ujar nya yang membuat ji-Hye terkekeh pelan.
“Makanya, Minseo-ssi,” lanjutnya dengan nada setengah berbisik, “kalian harus hati-hati juga dengan Namjunho. Ia bungsu, dan terkadang bungsu cenderung terlalu... idealis dalam memilih pasangan. Kau tahu, bukan? Mereka selalu berpikir cinta bisa mengalahkan garis darah,” Ucapan itu menggantung di udara seperti asap dupa mahal—wangi tapi menusuk.
Han Minseo menegakkan duduknya, menatap sahabat lamanya itu dengan senyum yang tak sepenuhnya ramah.
“Junho berbeda. Ia tidak akan membuat keputusan yang gegabah. Dan jika pun ia harus menikah, aku lebih memilih seseorang yang berasal dari keluarga yang mengerti nilai dan posisi. Seseorang seperti Sooyeon, misalnya. Itu lah sebab nya aku dan suamiku setuju tentang ini,” ujar nya yang membuat Sooyeon menunduk sedikit dengan senyum anggun yang terlatih sempurna.
“Terima kasih, tante. Tapi tentu aku tidak akan memaksa Junho oppa jika dia tidak berkenan. Aku hanya...” ia menatap teh di hadapannya, lalu menambahkan lembut, “mengagumi caranya bekerja. Dia... luar biasa, meski agak dingin jika dia tidak mau padaku aku juga tidak akan memaksa nya, aku tidak bisa memaksa masuk kedalam hati yang menolak ku,” ujar nya terdengar begitu tenang seperti air yang mengalir di musim kemarau.
“Dingin itu bukan kekurangan, sayang, itu tanda kedewasaan dan pengendalian diri. Pria yang terlalu hangat mudah terbakar oleh emosi. Pria seperti Junho justru... aman,” potong Ji-Hye cepat.
Kata aman itu diucapkan seperti sebuah kemenangan kecil—dan Minseo menangkapnya. Ia menatap Ji-hye dengan tatapan penuh perhitungan, lalu meneguk tehnya perlahan.
“Aku tidak menentang ide perjodohan itu, Lagipula keluarga kita sudah saling mengenal lama. Tapi Junho anak yang keras kepala. Ia tidak mudah digiring seperti Hyunseok,” ujarnya akhirnya, nada suaranya tenang tapi sarat makna. Ji-hye menyilangkan kaki dengan anggun, tubuhnya sedikit condong ke depan.
“Itulah sebabnya, Minseo-ssi, mengapa langkah ini harus dilakukan dengan halus. Tidak perlu paksaan, cukup arahkan situasi agar tampak alami. Jika mereka sering bertemu, sering bekerja dalam satu lingkaran sosial... cinta bisa tumbuh dari kebiasaan, bukan?” ujar nya yang membuat Han Minseo terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata itu.
Ia tahu Ji-hye benar—di kalangan mereka, pernikahan bukan urusan cinta, tapi kesinambungan nama dan status. Namun, jauh di dalam pikirannya, ada sesuatu yang mengganggunya: wajah Junho akhir-akhir ini selalu terlihat sibuk, sering melamun, seolah ada rahasia yang tidak ia bagi pada siapa pun.
“Baiklah, kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti. Aku akan mengatur pertemuan nya Minggu depan, aku sudah bicara padanya beberapa hari lalu. Tapi aku tidak ingin terlihat seolah memaksakan. Keluarga Kim tidak pernah meminta, kita hanya memilih,” ucap Minseo akhirnya, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Sooyeon tersenyum, lesung pipit kecil muncul di pipi kirinya—senyum yang memancarkan kepastian.
“Kalau begitu, Imo, biarkan aku melakukan sisanya. Aku tahu bagaimana cara membuat pria seperti Junho memperhatikan,” ujar Nya yang membuat Minseo mengangguk setuju.
Suara tawa lembut terdengar dari kedua wanita yang lebih tua, menggema halus di ruang tamu besar itu. Cangkir-cangkir teh kembali diangkat, porselen beradu lagi—dan obrolan yang tampak santai itu sesungguhnya adalah awal dari permainan yang jauh lebih besar.