bukan novel terjemahan!!!
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
latihan keras Lin Feng dan Li mei
Pabrik sebelah lebih besar, pabrik ban bekas dengan ruangan-ruangan luas dan mesin-mesin raksasa yang sudah berkarat. Di tengah ruangan, dua zombie level 3 berdiri saling berhadapan, seperti sedang berkomunikasi.
Mata mereka merah menyala, lebih terang dari zombie level 2. Tubuh mereka lebih kekar, gerakan lebih lincah. Begitu melihat Lin Feng dan Li Mei masuk, mereka langsung menyerang.
"Li Mei, satu untukmu, satu untukku!" teriak Lin Feng.
Ia berlari ke zombie kiri, pedang berayun. Zombie itu menghindar dengan geseran cepat, lalu membalas dengan cakaran. Lin Feng memblok dengan pedang, suara benturan logam terdengar.
Li Mei berhadapan dengan zombie kanan. Ia memukul dengan tinju kanan sampai zombie itu terhuyung, tapi tidak jatuh. Ia memukul lagi, zombie itu mundur beberapa langkah. Tapi kemudian zombie itu menyerang balik, cakar hampir mengenai wajah Li Mei.
"Jangan cuma maju! Hindar dulu, cari celah!" teriak Lin Feng sambil bertarung.
Li Mei mundur, mengatur napas. Ia mengamati gerakan zombie gerakannya lambat di kaki kanan, sering membuka sisi kiri. Ia menunggu, lalu ketika zombie menyerang, ia membungkuk, menghindar, dan memukul perut zombie dengan sekuat tenaga.
BRAAK!
Zombie itu terpental, jatuh ke mesin. Tapi tidak mati. Li Mei berlari mendekat, mengangkat tinju, dan memukul kepala zombie berulang-ulang hingga hancur.
"A-aku berhasil..."
Di sebelahnya, Lin Feng sudah selesai dengan zombienya yang kepalanya terputus, tubuh roboh di lantai.
"Bagus, Li Mei!" Lin Feng mengacungkan jempol.
"K-Kau juga..."
Dari pintu masuk, suara tepuk tangan malas terdengar.
"Lumayan." Lin Yan berdiri di ambang pintu, permen di mulut. "Tapi masih lambat. Kalau ada zombie lain, kalian sudah mati."
"Jie, jangan terlalu keras..."
"Dunia ini keras, Feng." Lin Yan berbalik. "Keluar. Kita lanjut ke area berikutnya."
Sepanjang hari, mereka membersihkan area industri kota timur. Lin Feng dan Li Mei bertarung tanpa henti, sementara Lin Yan duduk di atas mobil, merokok? Tidak, rokoknya masih disita jadi dia cuman makan permen lolipop, kadang memberi komentar sinis.
"Tebasan Lin Feng terlalu lebar! Nanti kena tembok!"
"Li Mei, pukulannya jangan asal! Fokus di kepala!"
"Kalian lambat! Cepetan! Nanti udah mau malam!"
Meskipun komentarnya menyebalkan, Lin Feng dan Li Mei terus bertambah baik. Gerakan mereka lebih efisien, pukulan lebih akurat, dan kepercayaan diri mulai tumbuh.
Sore hari, saat matahari mulai condong ke barat, mereka kembali ke mobil. Lin Feng dan Li Mei kelelahan, pakaian kotor, wajah hitam oleh darah zombie, napas tersengal. Tapi mata mereka bersinar puas.
"Jie, berapa total tadi?" tanya Lin Feng sambil mengatur napas.
"42 zombie level 2. 5 zombie level 3." Lin Yan mengeluarkan permen baru. "Hasil lumayan untuk pertama kalinya."
"Lumayan? Jie, itu luar biasa!"
"Jangan sombong. Lain kali harus lebih banyak."
Li Mei yang duduk di kursi belakang bertanya, "Tuan, besok kita latihan lagi?"
Lin Yan menatapnya sekilas. "Kau mau?"
"Mau!" jawab Li Mei semangat.
"Bagus. Besok jam 6 pagi. Jangan telat."
Lin Feng tersenyum, lalu menyalakan mesin. Mobil militer hitam itu melaju meninggalkan area industri, meninggalkan jejak darah dan mayat zombie di belakang.
Di kastil, Bibi Li sudah menyiapkan makan malam: sop iga sapi, ayam goreng tepung, tumis kangkung, dan sambal terasi. Aroma sedap menyambut mereka begitu pintu kastil terbuka.
"Tuan, Tuan Muda, Nona Li Mei! Silakan makan! Kalian pasti kelelahan!" sapa Bibi Li ramah.
"Makasih, Bibi Li." Lin Feng langsung duduk, mengambil sendok.
Li Mei juga duduk, masih sedikit gemetar karena kelelahan. "Bibi Li, masakannya enak banget."
"Ah, biasa saja. Yang penting kalian pulang selamat."
Lin Yan duduk di kursi utama, mengambil piring, dan mulai makan. Tidak banyak bicara, seperti biasa. Tapi matanya berbinar—puas.
【Senang?】
"Iya. Adikku sudah mulai berkembang. Li Mei juga."
【Kau guru yang baik. Meskipun agak keras.】
"Dunia ini keras. Aku hanya mempersiapkan mereka."
Lin Feng yang sedang makan tiba-tiba bertanya, "Jie, besok kita ke mana?"
"Kota barat. Kabarnya ada zombie level 4 di sana."
Sendok Lin Feng berhenti di mulut. "L-Level 4? Jie, kita belum siap!"
"Kau belum siap. Jie sudah." Lin Yan tersenyum tipis. "Jie yang akan lawan level 4. Kalian bersihkan yang lain."
Lin Feng menghela napas, lalu mengangguk. "Baik, Jie."
Li Mei yang mendengar juga mengangguk, meskipun wajahnya sedikit pucat. Tapi matanya bertekad.
Malam harinya, Lin Yan duduk di balkon lantai tiga, permen lolipop rasa jeruk di mulut. Di bawah, lampu-lampu taman menyala, apartemen dan laboratorium terlihat rapi. Bibi Li masih di dapur, menyiapkan teh jahe. Lin Feng dan Li Mei sedang berbincang di taman, tertawa bersama.
【Apakah hari ini seru?】
"lumayan. Lihat adikku bertarung, rasanya... bangga."
【Kau tidak pernah bilang begitu langsung ke dia.】
"Nanti. Biar dia tetap semangat."
Lin Yan mengisap permennya, menikmati angin malam.
【Lin Yan.】
"Iya?"
【Kau sudah berubah, meskipun kau tidak mau mengaku.】
"Aku tidak berubah. Aku masih malas. Masih psikopat. Masih suka memotong zombie."
【Tapi kau mulai peduli pada lebih dari satu orang.】
Lin Yan diam. Ia menatap ke bawah, melihat cahaya-cahaya dari jendela apartemen. Di dalam, orang-orang yang ia "pungut" sedang menjalani hidup baru. Makan, tidur, bekerja, tertawa.
Dan sekarang, adiknya sedang belajar menjadi pejuang.
"...Mungkin."
Ia berdiri, meregangkan tubuh.
"Tapi untuk sekarang, aku mau tidur. Besok kita ke kota barat."
【Selamat malam, Lin Yan.】
"Selamat malam, sistem."
Lin Yan masuk ke kamar, menutup pintu balkon, dan menjatuhkan diri di ranjang. Di luar, bulan bersinar terang. Di dalam, ia tersenyum puas dengan hari yang ia lalui.
semangat kak