Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkinkah ini cinta?
"Ibu sama ayah kemana?" Ikhram ikut duduk di meja pantri dengan satu cup es krim di tangannya. Rambutnya yang setengah kering sesekali ia gosok dan uraikan dengan jemari.
Berada di jakarta beberapa hari, ia merasa seperti pengangguran dan beban untuk Rinjani. Di saat semua orang sibuk, dia hanya tinggal di rumah atau sekedar mengantar jemput istrinya kerja. Siklus menyenangkan itu sudah terjadi selama seminggu.
Lirikan Ikhram tertuju pada semangkuk mie yang menjadi fokus Rinjani sampai tidak mengidahkan pertanyaanya.
"Sayang, ibu dan ayah mana?"
Uhuk
Buru-buru Ikhram menuangkan air ke gelas dan memberikan pada Rinjani. Tetapi usahanya tidak membuat wanita itu senang, ia bahkan mendapatkan tatapan sinis.
"Nggak usah sembarangan kalau bicara."
"Lagian ditanya nggak nyahut, giliran dipanggil sayang kaget." Kali ini tangan Ikhram bergerak, meraih tisu-membersihkan sudut bibir Rinjani yang terkena noda kuah.
"Ibu sama ayah ada perjalanan bisnis."
"Berdua saja dong kita." Ikhram kembali mengacak-acak rambutnya agar kering sempurna.
"Ya terus?"
"Cuma bilang aja padahal."
Itulah sifat asli Ikram, suka sekali mengjahili Rinjani.
"Kalau ibu dan ayah lagi perjalanan bisnis biasanya kamu sama siapa?"
"Sendiri tapi di apart, atau lembur di kantor." Rinjani mengikuti langkah Ikhram ke ruangan tidak terlalu luas tetapi nyaman untuk bersantai.
Sebuah sofa panjang berwarna cream seet tiga orang. Di samping kanan sofa ada meja di sertai vas bunga imitasi.
"Mau nonton? Saya tadi nemu film bagus."
Alih-alih menjawab, Rinjani melirik jarum jam. Ternyata sudah tengah malam, aneh sekali rasanya dia lapar di jam-jam seperti itu. Apalagi tadi pikirannya dipenuhi mie dan mie.
"Boleh deh." Rinjani duduk di sofa menghadap tv lebar yang sedang menyala. Menunggu Ikhram mencari film yang dimaksud. Tidak lupa mematikan lampu ruangan agar lebih fokus.
Ekor mata Rinjani mengikuti gerak Ikhram, sesuai prediksi pria itu duduk di sampingnya hampir tanpa jarak. Ia bergeser sedikit dan berdehem. Sejujurnya keberadaan Ikhram di jakarta mendistrak pikiran Rinjani dari rasa sakit dan cintanya pada Ardian.
Di dekat Ikhram, hatinya seolah tidak mampu memikirkan pria lain. Mungkinkah ... oh Rinjani berharap itu tidak terjadi.
"Sebelum saya pulang, kita ke dokter dulu ya?"
"Kamu jadi pulang?" Entah kenapa Rinjani merasa kecewa mendengar Ikhram akan pulang ke desa.
"Iya, saya dapat panggilan lusa. Ke dokter dulu ya? Biar saya tenang perginya."
"Tenang saja, saya nggak apa-apa kok." Rinjani tertawa.
"Tapi seharian ini kamu hanya di rumah dan terlihat pucat."
"Ikhram ...."
"Jani ...."
Keduanya sama-sama menoleh hingga retina mereka bertemu. Ada debaran aneh di dada Rinjani melihat retina itu. Tatapan Ikhram akhir-akhir ini mengusik ... tidak, lebih tepat mengacak-acak hati dan pikirannya.
"Ba-baiklah." Memutus tatapan lebih dulu.
Film pun ditayangkan dan espektasi Rinjani jatuh sejatuh-jatuhnya. Dia menyesal mengiyakan ajakan nonton bareng Ikram. Pria mana yang mengajak istrinya nonton film horor di rumah? Hanya Ikhram.
Anehnya, film horor itu tidak membuat keduanya berteriak meski mata fokus pada layar dan tangan tanpa sadar saling mengenggam. Hantu yang muncul di layar tidak ada harga dirinya dihadapan sepasang manusia aneh itu.
Film terus berputar, adengan-adengan menakutkan dan menyeramkan terus ditayangkan. Entah terlalu fokus atau sengaja, Rinjani tidak mengeluarkan protes saat Ikhram menyandarkan kepalanya pada pundak.
"Entah kenapa saya merasa gelisah."
Terdengar helaan napas panjang dari Ikhram.
"Saya selalu berharap masalah saya segera selesai dan kembali mengajar anak-anak di sekolah ... Tapi jika itu terjadi kita benar-benar tepisah jarak dan sepertinya saya nggak mampu mengingat saya sudah terbiasa denganmu."
"Saya bisa berkunjung sesekali. Saya kan bos."
Kepala Ikhram meneleng dan Rinjani pun melakukan hal yang sama. Nafas hangat keduanya beradu untuk beberapa saat.
"Jangan mengorbankan apapun untuk sesuatu yang nggak pasti. Gelar itu mati-matian kamu dapatkan. Jangan melepasnya hanya karena seorang wanita ...."
Tapi Ikhram, saya berharap kamu meninggalkan segalanya dan tetap berada di sini .... Tentu keiginan Rinjani akan sangat egois jika dia menyuarakannya.
.
.
.
Yah baru juga mulai dekat Ikhram mau pulkam😰
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,