Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, menebar cahaya oranye yang hangat di sepanjang jalan kampus. Suasana ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang, tapi di salah satu sisi taman yang teduh, Alya dan Arka berjalan perlahan, langkah mereka hampir serasi.
Alya membawa tas besar berisi buku catatan. Hatinya campur aduk: lega karena beberapa hari terakhir ia bisa lebih dekat dengan Arka, tapi juga ada rasa cemas karena hubungan mereka berawal dari keterpaksaan. Ia menatap Arka sekilas, melihat mata tegasnya yang menyembunyikan kelembutan.
“Alya, kau terlihat lelah. Bagaimana kuliah hari ini?” tanya Arka sambil tersenyum tipis.
“Lumayan, Pak. Ada banyak tugas yang harus diselesaikan, tapi aku bisa mengatur waktuku,” jawab Alya sambil tersenyum malu.
Mereka berhenti di bangku taman. Daun-daun bergoyang diterpa angin sore, menciptakan suasana tenang yang membuat Alya sedikit lega.
“Alya, aku ingin bicara jujur. Aku tahu awalnya hubungan ini terasa dipaksakan, tapi aku ingin kita saling memahami. Aku… ingin kau merasa nyaman bersamaku,” kata Arka, suaranya lembut tapi tegas.
Alya menelan ludah, menatap matanya. “Pak… aku… aku juga ingin mencoba. Aku ingin belajar menerima keadaan ini. Meski awalnya terpaksa, aku mulai merasa nyaman dengan perhatian Bapak.”
Arka tersenyum tipis. “Bagus… aku senang mendengar itu. Aku tahu ini perjalanan panjang, tapi aku yakin kita bisa melangkah perlahan, saling memahami satu sama lain.”
Setelah itu, Arka mengantar Alya pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, mereka berbicara ringan tentang tugas kampus, teman-teman, dan hal-hal kecil yang membuat mereka tersenyum. Perlahan, Alya mulai menyadari sisi lain Arka: bukan hanya dosen tegas, tapi juga manusia yang hangat, perhatian, dan mampu membuatnya merasa aman.
Keesokan harinya, Arka mengundang Alya ke rumahnya untuk makan siang. Orang tua Arka sudah menunggu dengan senyum hangat.
“Alya, senang kau datang. Semoga kau merasa nyaman di sini,” kata ibu Arka sambil menyodorkan kursi.
“Terima kasih, Bu. Saya merasa diterima,” jawab Alya sopan, hatinya sedikit lega.
Bapak Arka menambahkan, “Kami tahu ini semua tidak mudah. Tapi yang penting adalah saling menghargai. Jangan terburu-buru, fokus saja pada saling memahami.”
Makan siang berlangsung hangat. Mereka berbicara tentang makanan favorit, cerita masa kecil Arka, dan kebiasaan sehari-hari. Alya merasa semakin dekat dengan keluarga Arka. Setiap tawa dan cerita membuatnya melihat Arka dari sisi lain: tegas tapi hangat, serius tapi mampu tersenyum, pendiam tapi penuh perhatian.
Setelah makan siang, mereka duduk di ruang tamu. Arka menatap Alya dengan lembut.
“Alya, aku tahu ini semua masih terasa sulit. Tapi aku ingin kau tahu, aku peduli padamu. Aku ingin kau merasa aman dan dihargai,” kata Arka.
Alya menunduk, hatinya hangat. “Aku… aku mulai memahami dan menghargai Pak. Meski awalnya terpaksa, aku ingin mencoba.”
Hari demi hari, kedekatan mereka semakin nyata. Arka mulai menawarkan bantuan dengan tugasnya, menanyakan kabar, dan sesekali tersenyum tipis ketika Alya tersenyum. Alya mulai merasa nyaman, hatinya perlahan terbuka.
Malam itu, sebelum Alya pulang, Arka menatapnya di depan pintu.
“Alya, aku ingin kau tahu… aku ingin kita melangkah perlahan tapi pasti. Aku ingin setiap langkah kita saling menghargai, bukan karena kewajiban, tapi karena kita ingin memahami satu sama lain.”
Alya tersenyum tipis. “Aku juga, Pak. Aku merasa lebih tenang sekarang.”
Di rumahnya, Alya duduk di kamar, merenung. Ia sadar hubungan ini dimulai dari keterpaksaan, tapi perhatian Arka membuatnya merasa dihargai. Hatinya mulai menerima bahwa meski awalnya terpaksa, ada kemungkinan perasaan tulus tumbuh di antara mereka.
Beberapa hari kemudian, orang tua Arka mengundang Alya lagi. Suasana makan malam hangat.
“Alya, kau semakin terlihat nyaman di sini,” kata ibu Arka sambil tersenyum.
“Terima kasih, Bu. Saya belajar menghargai keadaan ini,” jawab Alya.
Bapak Arka menambahkan, “Yang penting adalah kalian saling memahami dan bersabar. Cinta bisa tumbuh dari pengertian, bukan hanya dari perasaan saja.”
Malam itu, Alya pulang dengan perasaan lega dan bahagia, menyadari bahwa perjodohan ini bukan sekadar formalitas ada perhatian, pengertian, dan rasa nyaman yang perlahan tumbuh.
Dan Arka, menatap langit malam dari balkon rumahnya, tersenyum pelan. Ia sadar perjalanan ini tidak mudah, tapi setiap langkah kecil yang mereka lalui bersama percakapan hangat, perhatian diam-diam, dan pengertianbmembuatnya yakin hubungan ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang tulus dan bertahan lama.
maaf lancang🙏🙏🙏