NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:615
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 Dimana Letak Kesalahannya

Jawaban itu benar-benar di luar perkiraanku. Rasanya tidak masuk akal terlalu ganjil untuk diterima begitu saja. Bagaimana mungkin itu hanya sekadar jamu penambah stamina? Jika memang begitu, mengapa justru tubuhku bereaksi seburuk ini, seolah-olah setiap tetesnya meracuni kesadaranku?

Aku menggeleng keras, menatap layar ponsel tempat wajah Zea Helia terpampang. “Mustahil… itu benar-benar tidak mungkin!” suaraku terdengar lebih tajam dari yang kuinginkan. “Reaksi kucingku setelah meminum obat itu sama persis dengan yang kualami lemas, kehilangan kendali, lalu pingsan. Aku melihatnya sendiri, Helia, dengan mata kepalaku sendiri. Jadi bagaimana mungkin obat itu tidak bermasalah?”

Aku berhenti sejenak. Tatapanku terpaku pada layar, namun tiba-tiba lidahku terasa kelu, seolah ada sesuatu yang menahan kata-kata berikutnya keluar.

Helia, yang sejak tadi sudah tampak gelisah, langsung memotong dengan nada tidak sabar, “Katakan saja! Kalau ada yang ingin kamu sampaikan, jangan dipendam. Jangan bikin aku semakin penasaran!”

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya memberanikan diri mengungkapkan kecurigaanku. “Kamu… yakin orang yang kamu tugaskan itu benar-benar bisa dipercaya?” tanyaku pelan, namun sarat keraguan. Satu-satunya waktu obat itu berada di luar pengawasanku adalah saat berada di tangan orang tersebut. Dan itu cukup untuk membuatku tidak tenang.

“Seratus persen yakin!” jawab Zea Helia tanpa ragu sedikit pun. Nadanya tegas, seolah tidak memberi ruang bagi bantahan. “Dia itu sepupunya Wilona!”

“Wilona?” Jantungku serasa jatuh ke dasar perut. Nama itu memicu kegelisahan yang sulit dijelaskan.

“Iya!” Helia tertawa kecil, meski terdengar agak dipaksakan. “Kamu juga tahu kan, untuk urusan seperti ini kita nggak bisa sembarangan pilih orang. Jadi tenang saja, dia pasti aman.”

Aku terdiam. Alih-alih merasa lega, hatiku justru semakin dipenuhi tanda tanya. “Kalau begitu… aneh sekali,” gumamku lirih, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada Helia. Aku memilih tidak melanjutkan pertanyaan. Percuma jawaban yang kudapat mungkin tidak akan mengubah apa pun.

Kepalaku mulai berdenyut, semakin lama semakin kuat, seolah ada sesuatu yang berusaha menembus dari dalam. Kulit kepalaku meremang, dingin menjalar hingga ke tengkuk. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan tanpa bisa kutahan. Mungkinkah mereka sudah menyadari bahwa aku sebenarnya telah siuman? Jika tidak, mengapa efek obat itu terasa begitu janggal?

Tiba-tiba, bayangan wajah Dean Junxian muncul di benakku senyum tipisnya yang licik, penuh perhitungan. Seketika bulu kudukku berdiri.

“Helia,” panggilku dengan suara yang lebih rendah, namun tegas. “Tolong selidiki ke mana saja Dean Junxian pergi selama dua hari terakhir ini. Aku butuh detail sekecil apa pun semakin lengkap, semakin baik.” Aku berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius. “Dan satu lagi… carikan aku seseorang yang benar-benar ahli di bidang komputer. Aku harus masuk ke komputer Dean Junxian. Dia sudah mengganti kata sandinya, dan sekarang aku sama sekali tidak punya akses.”

“Baik, serahkan saja padaku. Aku akan cari cara,” jawab Zea Helia tanpa banyak tanya. “Kamu yang penting hati-hati, ya.”

Sambungan telepon pun terputus. Layar ponselku kembali gelap, meninggalkan bayanganku sendiri yang tampak pucat dan gelisah. Namun di balik itu semua, satu hal semakin jelas apa pun yang sedang terjadi, ini bukan sekadar kebetulan.

Setelah panggilan video itu terputus, aku tidak langsung beranjak. Aku duduk terpaku, memutar kembali setiap kejadian barusan di dalam pikiranku dengan cermat, seolah takut melewatkan detail sekecil apa pun. Semua langkah yang kuambil sejauh ini sudah kupastikan penuh perhitungan. Aku bergerak hati-hati, bahkan nyaris tanpa cela. Jadi, rasanya mustahil jika ada kesalahan yang cukup besar untuk membongkar penyamaranku.

Namun, sebuah kemungkinan tiba-tiba menyelinap masuk ke benakku.

Apa mungkin karena aku sempat memperlihatkan bekas luka di kulit kepalaku pada Zhiyi Pingkan? Apakah itu membuatnya curiga… atau bahkan terkejut hingga memilih menghentikan rencananya?

Aku menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran itu. Tidak. Aku tidak boleh membiarkan situasi ini berjalan di luar kendaliku. Jika aku terus ragu, aku hanya akan semakin terjebak. Aku harus bergerak lebih dulu mengambil inisiatif sebelum mereka melangkah lebih jauh.

Tanpa membuang waktu, aku meraih ponsel dan membuka aplikasi pemantau CCTV, beralih ke tampilan real-time. Malam sudah larut. Cahaya lampu lorong yang redup menjadi satu-satunya sumber penerangan, menciptakan bayangan panjang yang membuat suasana terasa dingin dan sunyi. Tidak ada pergerakan. Sepertinya seluruh penghuni rumah telah terlelap dalam tidur mereka.

Aku lalu memutar ulang rekaman sebelumnya.

Di layar, terlihat Dean Junxian sedang menggendong Sonika menuju kamar anak. Gerakannya tampak biasa saja, nyaris tanpa cela. Namun begitu ia keluar dari kamar itu, langkahnya tidak berhenti. Tanpa ragu, ia berjalan lurus menuju kamar Zhiyi Pingkan… lalu masuk ke dalam.

Dadaku terasa sesak.

Meski aku sudah lama mempersiapkan diri dan menerima kemungkinan terburuk bahwa Dean Junxian berselingkuh menyaksikan kenyataan itu dengan mata kepala sendiri tetap terasa seperti tamparan keras. Tanganku mengepal tanpa sadar, tubuhku bergetar menahan amarah yang meluap, bercampur dengan rasa muak dan kecewa yang sulit dijelaskan.

Aku menahan diri. Dengan sisa kesabaran yang kupunya, aku terus menatap layar, mengikuti rekaman demi rekaman berikutnya. Namun hingga video itu berakhir, tidak sekali pun terlihat ia keluar dari kamar tersebut.

Keheningan terasa semakin menekan.

“Dean Junxian…” gumamku lirih, suaraku hampir tak terdengar. “Sepuluh tahun… sepuluh tahun kita bersama sebagai suami istri, dan semua itu ternyata tidak berarti apa-apa bagimu.” Bibirku bergetar menahan emosi. “Kau bahkan rela merendahkan dirimu sendiri dengan berselingkuh bersama pengasuh rumah tangga. Kalau hanya itu… mungkin aku masih bisa menutup mata.” Aku berhenti sejenak, napasku memburu. “Tapi kau melangkah lebih jauh. Kau mencoba mencelakaiku. Itu bukan lagi kesalahan… itu kejahatan.”

Mataku mengeras. “Perbuatanmu tidak akan pernah bisa kumaafkan. Dan aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja.”

Dengan gerakan kasar, aku menyingkap selimut yang menutupi tubuhku, lalu turun dari tempat tidur tanpa mengenakan alas kaki. Lantai yang dingin menyentuh telapak kakiku, namun aku mengabaikannya. Dengan langkah pelan dan berjinjit, aku keluar dari kamar menuju ruang kerja.

Aku yakin… ada sesuatu di sana. Sesuatu yang selama ini disembunyikan dariku.

Setibanya di depan pintu ruang kerja, langkahku terhenti sejenak. Aku memandangnya dalam diam. Suasana di sekeliling begitu sunyi, nyaris mencekam. Bahkan suara detak jantungku sendiri terdengar jelas di telinga.

Perlahan, aku mengangkat tangan dan mendorong pintu itu.

Gelap.

Ruangan di dalam tampak sepenuhnya tanpa cahaya. Aku menyelinap masuk, berhati-hati, membiarkan pintu tertutup perlahan di belakangku. Seberkas cahaya dari lorong yang tadi menemaniku kini lenyap, membuat kegelapan di dalam ruangan terasa semakin pekat dan menyesakkan.

Aku baru saja hendak melangkah lebih jauh dengan kaki telanjang

Klik.

Lampu tiba-tiba menyala terang, menyilaukan mata.

Secara refleks, aku mengangkat tangan menutupi wajah. Beberapa detik kemudian, aku menurunkannya perlahan.

Dan saat itulah.

Jantungku seolah berhenti berdetak.

Aku membeku di tempat, seperti disambar petir.

Di sana, duduk dengan santai di atas sofa, Dean Junxian menatap lurus ke arahku. Tatapannya tajam, dalam, dan sulit ditebak seolah ia sudah menungguku sejak tadi.

Pikiranku seketika kacau.

Bukankah… seharusnya dia berada di kamar Zhiyi Pingkan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!