Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Pelarian Arsen & Caspian
Malam itu, bulan purnama menggantung rendah di langit, menerangi atap-atap istana dengan cahaya perak yang dingin. Di dalam kamar pribadinya di Sayap Timur, Arsen tidak tidur. Dia berdiri di depan jendela, menatap ke arah gerbang utara yang dijaga ketat oleh pasukan Kaelia.
Di tangannya, tergenggam erat sebuah surat kusut. Surat itu datang melalui merpati pos rahasia—burung kecil berwarna abu-abu yang mendarat di balkonnya sore tadi. Tulisan di dalamnya singkat, ditulis dengan tinta yang hampir pudar:
Kakak,
Ibu tahu kau masih hidup. Dia mengirim "Pembersih" ke Mobelle. Mereka akan tiba dalam tiga hari. Jika kau tetap di sana, mereka akan membunuhmu dan membawa pulang mayatmu sebagai peringatan bagi pemberontak. Atau worse, mereka akan menyiksamu sampai kau mengaku memberikan rahasia militer Floren.
Aku tidak bisa melindungimu dari sini. Isolde sudah mencurigai kesetiaanku. Aku hanya punya satu kartu truf: Caspian. Dia berhasil menyusup keluar dari Aethelgard dengan bantuan faksi reformis. Dia sedang dalam perjalanan ke perbatasan Mobelle. Temui dia. Kabur bersamanya. Jangan kembali ke Aethelgard. Jangan kembali ke istana Floren jika kau ingin hidup.
Selamat tinggal, Kakak. Maafkan aku karena menjadi anak yang lemah.
- C
Arsen meremas surat itu hingga hancur. Jantungnya berdebar kencang. Caspian. Adik bungsunya. Satu-satunya anggota keluarga yang tidak pernah menghakiminya. Satu-satunya yang selalu membawakan buku-buku terlarang saat Arsen dikurung di kamarnya.
Jika Caspian datang ke Mobelle, dia dalam bahaya besar. Pasukan "Pembersih" Isolde tidak main-main. Mereka adalah pembunuh bayaran elit yang dilatih untuk menghilangkan jejak tanpa sisa.
"Arsen?"
Suara lembut terdengar dari balik pintu. Itu bukan suara penjaga. Itu suara Floren.
Arsen tersentak. Dia cepat menyembunyikan remahan surat di saku bajunya dan membuka pintu.
Floren berdiri di sana, mengenakan jubah malam sederhana. Di belakangnya, Julian dan Kaelia berdiri dengan ekspresi serius.
"Kami perlu bicara," kata Floren. Suaranya datar, tapi matanya tajam. "Kaelia mendeteksi aktivitas sihir ilegal di perbatasan utara. Sinyal itu... berasal dari garis darah kerajaan Aethelgard."
Arsen menelan ludah. "Apa maksud Anda?"
Julian melangkah maju, memegang sebuah kristal deteksi yang berkedip merah. "Ada seseorang dengan darah royal Aethelgard yang mencoba menembus blokade sihir kami. Bukan serangan. Tapi permohonan masuk. Dan sinyal itu... sangat mirip dengan energimu, Arsen."
Wajah Arsen memucat. "Caspian."
Floren menyipitkan mata. "Adikmu?"
"Dia dalam bahaya," kata Arsen cepat, kata-kata keluar tanpa filter. "Ibuku... Ratu Isolde... dia mengirim pembunuh. Jika Caspian tertangkap di perbatasan, dia akan dibunuh. Atau worse, digunakan sebagai umpan untuk menjebak saya."
Kaelia menggeram, tangannya bergerak ke gagang pedangnya. "Jadi ini jebakan? Kau memanggil adikmu ke sini untuk menciptakan kekacauan?"
"Tidak!" bantah Arsen tegas. Matanya berkaca-kaca, penuh keputusasaan. "Saya tidak memanggilnya! Dia datang karena dia mencoba menyelamatkan saya! Tolong... Yang Mulia, Floren... Anda harus membantu dia. Jangan biarkan pasukan Anda menangkapnya. Biarkan dia masuk, lalu sembunyikan dia."
Hening panjang menyelimuti koridor.
Julian menatap Arsen, lalu menatap Floren. "Jika kita menyembunyikan putra mahkota Aethelgard yang kabur, itu sama saja dengan deklarasi perang terhadap Isolde. Dia akan menggunakan itu sebagai alasan untuk invasi total."
"Saya tahu risikonya," kata Arsen pelan. Dia berlutut di hadapan Floren. Gerakan yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. "Tapi saya tidak bisa membiarkan Caspian mati. Dia satu-satunya keluarga yang saya miliki. Jika Anda membantu saya, saya akan berutang nyawa pada Anda. Saya akan melakukan apa pun. Menjadi apa pun. Asal Caspian selamat."
Floren menatap Arsen yang berlutut. Dia melihat ketulusan di mata pria itu. Bukan tipu daya politik. Tapi cinta saudara yang murni.
Floren menghela napas panjang. Dia menoleh pada Kaelia.
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan pasukan 'Pembersih' untuk mencapai perbatasan?" tanya Floren.
"Estimasi dua hari lagi, Yang Mulia," jawab Kaelia. "Tapi jika sinyal sihir itu sudah terdeteksi, mereka mungkin sudah lebih dekat."
"Julian," panggil Floren. "Bisakah kamu memblokir sinyal deteksi sihir Aethelgard untuk sementara? Buatlah Caspian terlihat seperti warga sipil biasa di mata sensor mereka?"
Julian mengerutkan kening, berpikir cepat. "Itu sulit. Tapi... jika saya menggunakan ilusi tingkat tinggi pada aura magisnya saat dia melewati gerbang, mungkin bisa. Tapi itu akan menghabiskan banyak energi saya. Dan jika ketahuan, saya akan kelelahan selama berhari-hari."
"Lakukan," perintah Floren.
Dia menoleh kembali pada Arsen. "Bangun, Arsen. Kita tidak punya waktu untuk dramatisasi."
Arsen bangkit, wajahnya penuh harap. "Anda... Anda akan membantu?"
"Aku tidak melakukannya untuk kamu," kata Floren dingin, meski matanya sedikit melunak. "Aku melakukannya karena Isolde adalah ancaman bagi stabilitas kawasan. Dan karena... aku percaya pada nilai keluarga. Bahkan keluarga yang rusak seperti milikmu."
Dia menatap Kaelia. "Siapkan tim ekstraksi diam-diam. Temui Caspian di Titik Buta Utara. Bawa dia ke Gudang Lama di distrik bawah. Jangan bawa dia ke istana. Julian akan menyiapkan ruang sihir tersembunyi di sana."
"Dan saya?" tanya Arsen.
"Kau tetap di sini," kata Floren tegas. "Jika kau menghilang bersama Caspian, Isolde akan tahu kami terlibat. Kau harus tetap terlihat sebagai 'tahanan' yang patuh. Bermain peranmu, Arsen. Ini adalah ujian terbesar bagimu."
Arsen mengangguk kuat-kuat. Air mata mengalir di pipinya, tapi dia tersenyum. "Terima kasih, Floren. Terima kasih."
Floren berbalik, jubahnya berkibar. "Jangan berterima kasih dulu. Jika rencana ini gagal, kita semua akan menghadapi murka Aethelgard. Dan aku tidak akan ampuni siapa pun yang membuat kesalahan."
Mereka bubar dengan cepat. Julian segera menuju menara sihir untuk mempersiapkan ritual ilusi. Kaelia memberi isyarat pada beberapa agen rahasianya untuk bergerak.
Arsen tetap berdiri di koridor, menatap punggung Floren yang menjauh. Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa dia tidak sendirian dalam perjuangan ini. Floren mungkin dingin, kalkulatif, dan kadang menakutkan. Tapi dia juga memiliki hati. Dan malam itu, hati itu berdetak untuk menyelamatkan seorang adik yang terlantar.
Di luar, angin malam bertiup lebih kencang. Badai politik sedang berkumpul. Tapi di tengah badai itu, sebuah benih solidaritas telah tumbuh. Arsen kini bukan lagi sekadar tawanan. Dia adalah bagian dari jaringan rahasia Floren. Dan dia siap melakukan apa pun untuk melindungi keluarganya yang baru ditemukan.