menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8: sayap cahaya dan penjaga gerbang
Fajar baru saja menyingsing, menyebarkan cahaya keemasan yang hangat menyelimuti Kingdom of Serenity. Namun hari ini, suasana istana terasa berbeda. Ada ketegangan yang bercampur dengan harapan.
Di halaman utama istana, Raja Xavier telah bersiap sepenuhnya.
Ia tidak mengenakan baju besi yang berat, melainkan hanya mengenakan jubah putih panjang yang disulam benang emas, terlihat gagah namun tetap anggun. Di punggungnya, ia tidak membawa pedang besar, melainkan sebuah kotak kayu kecil yang diukir indah. Di dalamnya terdapat hadiah yang telah ia siapkan dengan penuh cinta—beberapa bunga hasil taman istananya yang paling indah, dan juga informasi tentang bunga favorit Elara yang ia pelajari dari buku.
Para pengawal dan penasihat berkumpul di gerbang utama, wajah mereka cemas namun mereka tidak lagi mencoba melarang. Mereka tahu, tekad Raja mereka sekuat baja.
"Apakah Baginda yakin tidak ingin membawa pasukan pengawal?" tanya Jenderal perang untuk terakhir kalinya.
Xavier tersenyum hangat, lalu menggeleng pelan.
"Tidak. Jika aku datang membawa ribuan tentara, dia akan mengira aku datang untuk berperang. Aku ingin datang sebagai diri sendiri saja. Seorang pria yang ingin bertemu wanita yang dicarinya."
Xavier menatap ke langit yang luas.
"Jagalah kerajaan ini saat aku pergi."
🪽 Terbang Menuju Kegelapan
Tiba-tiba, dari punggung Raja Xavier, muncul sepasang sayap raksasa yang megah.
Sayap itu bukan terbuat dari bulu, melainkan terbuat dari cahaya murni yang berkilau keemasan, bersinar terang seperti matahari itu sendiri. Setiap kepakan sayapnya menciptakan angin sepoi-sepoi yang menenangkan.
Wusssy!
Dengan satu kepakan kuat, tubuh Xavier terangkat ke udara. Ia melambai sebentar pada rakyatnya di bawah, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia mengarahkan pandangannya ke arah utara—arah di mana langit mulai berubah menjadi gelap dan mendung.
Ia terbang sendirian. Melewati gunung, melewati sungai, dan menembus awan.
Semakin ia terbang maju, suasana alam semakin berubah. Warna-warni cerah perlahan memudar, digantikan oleh nuansa ungu dan hitam yang pekat. Akhirnya, ia tiba di wilayah yang disebut Perbatasan Moonlight.
Di hadapannya, terbentang sebuah tembok raksasa yang tinggi menjulang hingga ke awan. Ini adalah batas dunia, pintu gerbang menuju Obsidian Empire.
🐍 Penjaga Gerbang
Xavier mendarat perlahan di depan gerbang batu yang besar dan kuno. Ia menutup sayap cahayanya hingga menghilang kembali ke dalam tubuhnya.
Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, suasana menjadi mencekam.
GRRRR...
Dari balik bayang-bayang bebatuan, muncul beberapa sosok perajurit raksasa. Tubuh mereka setinggi dua kali lipat manusia biasa, terbuat dari batu hitam dan logam gelap, wajah mereka menyeramkan tanpa ekspresi. Mereka memegang tombak raksasa yang menghalangi jalan.
Tapi itu bukan yang paling menakutkan.
Di atas gerbang utama, melingkar panjang adalah seekor makhluk yang sangat besar. Tubuhnya seperti ular raksasa atau naga tanpa kaki, sisiknya berwarna ungu gelap bercampur hitam yang berkilau indah namun mematikan. Matanya menyala merah lembut, menatap tajam ke arah Xavier.
Aura yang dipancarkan makhluk itu sangat kuat, mampu membuat orang biasa langsung pingsan atau lari terbirit-birit.
"Berhenti, Cahaya Kecil..." suara itu bergema bukan dari mulut, tapi langsung terdengar di dalam pikiran Xavier. Suaranya berat, lambat, dan berwibawa.
"Kau berada di gerbang wilayah Obsidian Empire. Tidak ada makhluk hidup yang diizinkan masuk kecuali atas perintah Tuanku. Siapa kau? Dan apa niatmu mengganggu ketenangan Ratu Elara?"
Xavier berdiri tegak, tidak mundur sedikit pun. Ia menatap mata ular raksasa itu dengan tenang.
"Aku Raja Xavier dari Kingdom of Serenity. Aku datang bukan untuk mengganggu, tapi untuk bertemu dengan Ratu Elara."
"Berani sekali!" seru para perajurit batu serentak, mengangkat tombak mereka siap menyerang. "Manusia biasa tidak berhak memanggil nama Tuanku secara langsung! Mati kau!"
Para perajurit itu maju menyerang, namun ular raksasa itu mengibaskan ekornya, menghentikan mereka seketika.
"Tunggu..." desis ular itu, matanya menyipit meneliti wajah Xavier. "Aku merasakan tidak ada niat buruk di dalam hatimu. Tidak ada rasa serakah, tidak ada rasa takut yang berlebihan... hanya ada..."
Ular itu terdiam sejenak, seolah membaca isi hati sang Raja.
"...hanya ada rasa rindu dan rasa ingin melindungi. Sungguh aneh."
Xavier tersenyum tipis. "Siapa namamu, wahai penjaga yang setia?"
"Aku Aetheris, Penjaga Gerbang Utama dan pengawas perbatasan," jawab ular itu angkuh namun mulai kehilangan nada bencinya. "Selama ribuan tahun, semua yang datang ke sini adalah pembunuh, pencuri, atau orang gila yang ingin mati. Tapi kau... kau berbeda."
Aetheris menurunkan kepalanya besarnya, mendekati wajah Xavier hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia mengendus aura sang Raja.
"Cahaya yang murni... Hati yang teguh..." gumam Aetheris. "Mungkin Tuanku juga akan tertarik melihatmu. Karena jarang sekali ada orang yang berani datang ke sini dengan senyuman."
"Jadi... kau mengizinkanku masuk?" tanya Xavier penuh harap.
Aetheris menghela napas panjang, mengeluarkan asap ungu dari mulutnya.
"Gerbang ini tidak bisa dibuka sembarangan. Tapi karena aku melihat takdir yang kuat terikat padamu... aku akan membukanya."
KREEKKKK... BOOM!
Dengan suara gemuruh yang menggetarkan bumi, gerbang batu raksasa itu perlahan terbuka lebar. Para perajurit batu pun menyingkir, menundukkan kepala mereka memberi jalan, menyadari bahwa tamu ini bukan orang sembarangan.
"Masuklah, Raja Kehidupan," ucap Aetheris. "Tapi ingatlah satu hal. Di dalam sana, aturan dunia ini tidak berlaku. Hati-hati dengan langkahmu. Dan jangan pernah menyakiti hati Tuanku, atau bahkan aku tidak akan bisa menyelamatkanmu dari murka-Nya."
"Aku janji," jawab Xavier tegas. "Aku tidak akan pernah menyakitinya."
Xavier melangkah maju. Ia melewati gerbang itu, melewati Aetheris yang megah, dan memasuki wilayah yang selama ini tertutup dari dunia luar.
Perjalanan menuju hati sang Ratu Kematian baru saja dimulai.
Bersambung...