Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Sementara itu, di ujung koridor . Ia melihat ke arah anak laki-laki yang sedang berteriak dengan wajah penuh kepanikan itu, lalu secara tidak sengaja memejamkan matanya sebentar.
Ketika ia membuka matanya kembali, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.
Abram merasakan hal yang liat biasa. Matanya melebar lebar karena tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Di balik tubuh anak laki-laki yang sedang berjongkok di samping ranjang ayahnya, ia bisa melihat dengan jelas struktur tubuh anak laki-laki itu, mulai dari pembuluh darah yang berdenyut cepat, jantung yang berdebar kencang, hingga organ dalam lainnya yang terlihat seperti gambar dalam buku kedokteran 3D.
Bahkan ia bisa melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda pada bagian otak Raihan sebuah bercak merah di dalam lobus temporalnya.
"Ehhh apa aku nggak salah lihat, aku bisa melihat organ tubuh anak itu?"
Abram bisik sendiri dengan suara gemetar, segera menutup mulutnya dengan tangan untuk menghindari suara teriak keluar.
Ia menggosok-gosok matanya berkali-kali, lalu melihat kembali ke arah anak laki-laki itu. Tapi kali ini, apa yang dilihatnya hanya tubuh anak laki-laki yang biasa saja. Seolah-olah apa yang terjadi tadi hanyalah ilusi akibat kelelahan.
Namun, saat dokter utama datang dan mulai memeriksa Bapak Jaya, Abram merasakan getaran aneh di dalam dirinya. Ia melihat kembali ke arah Bapak Jaya, dan tanpa sengaja memejamkan mata lagi, kali ini ia bisa melihat dengan jelas bahwa jantung pria itu sudah berhenti berdenyut, dan ada pendarahan pembuluh darah utama di otaknya ya yang pecah.
"Nak, ayah mu telah meninggal dunia," kata dokter itu membuat anak laki-laki itu menangis histeris.
"Aku... bisa melihat semuanya?" tanya Abram tak percaya sambil melihat kedua tangannya yang kini tampak menerawang kulit dan otot di bawahnya.
Cahaya samar melintas di sekitar ujung jarinya, seolah ia bisa merasakan aliran energi yang mengalir di dalam tubuhnya sendiri.
Saat ia beranjak untuk keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju pintu keluar, di samping ruangnya ada ruang rawat darurat, dan ia mendegar sebuah suara tangisan.
Di ruangan perawatan darurat sebelah, ia melihat sejumlah dokter dan perawat sedang menutupi tubuh seorang pria paruh baya dengan kain putih.
Abram kembali melihat Cahaya merah pekat mengelilingi tubuh pria itu, warna yang menandakan adanya nyawa yang masih ada meskipun sangat kritis.
Berbeda dengan warna hitam yang ia lihat mengelilingi tubuh pasien lain yang benar-benar meninggal di kamar mayat.
"Pasien dinyatakan meninggal dunia, karena gagal operasi. Kondisi awal sudah tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan medis yang efektif," ujar dokter muda kepada keluarga pasien yang sudah menangis terisak-isak.
Wanita yang tampaknya istri pasien hampir tidak bisa berdiri, disangga oleh anaknya yang masih muda.
Namun Abram melihat lebih jauh. Di dalam kepala pasien, ada gumpalan darah yang menghalangi pembuluh utama, membuat aliran darah tidak dapat mencapai jantung dengan lancar.
Jantung berhenti bekerja bukan karena kerusakan organ, melainkan karena kurangnya pasokan oksigen akibat penyumbatan tersebut.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya