NovelToon NovelToon
Kemampuan Tak Pernah Sama

Kemampuan Tak Pernah Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Geb Lentey

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Tidak menyerah karena ditolak oleh Kayla, Arga semakin semangat untuk mengejar wanita idamannya itu. Hari-hari di SMP semakin berwarna. Selain belajar, sekolah juga mulai membuka berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Suatu siang, pengumuman ditempel di papan:

“Pendaftaran Ekstrakurikuler Drumband Dibuka”

Salsa langsung menarik tangan Kayla.

"Kay! Kita daftar yuk!" ajak Salsa

Kayla ragu.

"Aku? Emang bisa?" tanya Kayla meragukan kemampuannya

"Bisa lah! Kita coba aja dulu!" kata Salsa semangat.

Akhirnya Kayla memutuskan untuk mencoba. Hari pertama latihan drumband pun tiba. Lapangan sekolah dipenuhi siswa dari berbagai kelas. Suasana ramai dan penuh energi. Kayla berdiri di barisan pemula. Masih canggung, masih kaku. Namun matanya tertuju pada satu sosok di depan. Seorang kakak kelas yang berdiri tegap memegang tongkat mayoret dengan percaya diri.

Itu Arga. Kayla sedikit terkejut.

"Kak Arga…?" gumam Kayla

Arga adalah mayoret drumband. Pemimpin barisan. Latihan dimulai. Arga memberikan aba-aba dengan suara tegas.

"Satu… dua… tiga… mulai!" suara Arga dengan keras

Gerakan mereka harus serempak. Langkah harus tepat. Kayla mencoba mengikuti. Namun beberapa kali ia salah langkah.

"Aduh…" gumamnya pelan.

Tiba-tiba suara Arga terdengar,

"Yang di barisan belakang, fokus ya!"

Kayla langsung merasa tersindir. Latihan dihentikan sebentar. Arga berjalan mendekati barisan Kayla.Dan berhenti tepat di depannya.

"Kamu masih kaku," kata Arga.

Kayla menunduk sedikit.

"Iya, Kak…" jawab Kayla dengan suara yang pelan

Namun berbeda dari sebelumnya suara Arga tidak terdengar mengejek.

"Gapapa," lanjutnya.

"Semua juga mulai dari nol." tegas Arga pada semuanya

Kayla sedikit terkejut.

"Yang penting kamu mau belajar," kata Arga sambil tersenyum kecil.

Kayla mengangguk.

"Iya, Kak." jawab Kayla dengan semangat.

Sejak hari itu Arga sering memperhatikan latihan Kayla. Kadang memberi arahan, kadang memperbaiki gerakannya. Dan tanpa disadari ia tidak benar-benar menjauh. Suatu sore setelah latihan, Arga menghampiri Kayla.

"Kamu serius ya ikut drumband?" tanya Arga pada Kayla

Kayla mengangguk.

"Iya, aku mau coba hal baru." jawab Kayla dengan penuh kepercayaan diri.

Arga tersenyum, baginya Kayla sangat mengemaskan.

"Bagus." kata Arga

Beberapa detik hening. Lalu Arga berkata pelan,

"Aku juga masih suka sama kamu." bisik Arga

Kayla terdiam.

"Aku gak maksa kamu jawab sekarang," lanjutnya dengan suara yang lembut.

"Tapi aku gak akan langsung nyerah."

Jantung Kayla berdegup cepat. Ini berbeda. Arga tidak memaksa tapi juga tidak mundur. Kayla menatapnya.

"Kak… aku masih sama kayak dulu," katanya pelan.

"Aku mau fokus dulu." dengan tegas Kayla berkata

Arga mengangguk.

"Iya… aku tahu." sambil tersenyum Arga menjawab

"Tapi aku juga mau tetap kenal kamu lebih dekat. Jadi aku harap kamu ngak menjauh yah" lanjut Arga

Kayla tidak langsung menjawab.

Di satu sisi ia menghargai kejujuran Arga. Di sisi lain ia takut kehilangan fokusnya. Malam itu, Kayla duduk di meja belajarnya. Namun pikirannya tidak sepenuhnya di buku. Ia memikirkan Arga, latihan drumband dan dirinya sendiri.

"Aku harus gimana ya…?"

Namun kemudian ia tersenyum kecil.

"Aku gak harus jawab sekarang."

Ia membuka bukunya kembali. Karena untuk saat ini ia masih tahu satu hal yang paling penting. Ia tidak ingin kehilangan dirinya lagi. Dan di lapangan drumband di antara suara langkah dan irama cerita Kayla dan Arga pun mulai berjalan perlahan namun pasti.

Latihan drumband semakin intens. Setiap sore, lapangan sekolah dipenuhi suara langkah, ketukan, dan aba-aba. Kayla mulai terbiasa. Gerakannya tidak sekaku dulu.

Ia bahkan mulai menikmati setiap latihan.

Namun di balik itu semua, sesuatu mulai berubah. Awalnya hanya bisikan kecil.

Pelan.

Hampir tidak terdengar.

"Eh, itu Kayla kan?"

"Iya… yang deket sama Kak Arga…"

"sok kecantikan banget yah ternyata"

"Iya apa sih yang bikin kak Arga tertarik"

Bisikan beberapa orang saat melihat Kayla. Kayla tidak terlalu memikirkan. Ia menganggap itu hanya kebetulan. Namun hari demi hari bisikan itu semakin jelas.

Suatu sore, saat istirahat latihan, Kayla duduk bersama Salsa di pinggir lapangan. Tiba-tiba, dua siswi drumband lewat di depan mereka.

"Enak ya… baru masuk udah deket sama mayoret," kata salah satu dari mereka.

Yang satunya tertawa kecil.

"Iya… mungkin karena cantik kali ya."

Kayla langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya. Salsa menatap mereka dengan kesal.

"Tuh orang apaan sih…" kata Salsa dengan kesal

Kayla mencoba tersenyum.

"Udah, gak apa-apa…"

Tapi dalam hatinya itu tidak sesederhana itu. Hari berikutnya, saat latihan berlangsung, Kayla merasa berbeda. Beberapa orang mulai melihatnya dengan cara yang aneh. Ada yang berbisik, ada yang melirik. Bahkan saat ia melakukan kesalahan kecil.

"Aduh, fokus dong… jangan cuma lihat mayoret aja," terdengar suara seseorang.

Beberapa orang tertawa pelan. Kayla menunduk. Tangannya sedikit gemetar. Ia mencoba tetap fokus. Namun pikirannya mulai terganggu.

"Mereka ngomongin aku ya…?"

Setiap langkah terasa lebih berat. Setiap gerakan terasa diperhatikan. Setiap kesalahan terasa diperbesar. Latihan selesai. Kayla langsung mengambil tasnya.Namun sebelum ia pergi, Arga memanggilnya.

"Kayla." Panggil Arga sambil berlari ke arah Kayla

Kayla berhenti.

"Iya, Kak?" jawab Kayla

"Kamu kenapa? Dari tadi kelihatan beda." tanya Arga penasaran

Kayla terdiam. Ia ingin jujur tapi juga ragu.

"Gak apa-apa, Kak… capek aja," jawabnya akhirnya.

Arga menatapnya sejenak. Seperti tahu itu bukan jawaban sebenarnya.

"Kalau ada apa-apa, bilang ya," katanya pelan.

Kayla mengangguk. Namun saat ia berjalan pergi, ia mendengar lagi suara itu.

"Tuh kan… deket banget."

"Udah kayak pacaran aja."

bisikan demi bisikan gosip terdengar oleh Kayla, Kayla mempercepat langkahnya. Malam itu, Kayla duduk di kamarnya. Buku terbuka di depannya tapi tidak satu pun yang ia baca. Kata-kata itu terus terulang di kepalanya.

"Baru masuk udah deket…"

"Cuma karena cantik…"

"Kayak pacaran…"

Ia memeluk lututnya. Perasaan yang dulu sempat hilang kini kembali. Rasa tidak nyaman. Rasa takut dinilai. Rasa ingin menjauh.

"Apa aku salah ya…?" pikir Kayla

Ia mengingat kembali ia hanya ingin ikut drumband, belajar hal baru. Ia tidak pernah bermaksud menjadi pusat perhatian.

Air matanya jatuh.

Keesokan harinya Kayla datang ke sekolah dengan perasaan berbeda. Ia lebih diam. Lebih menjaga jarak. Saat latihan drumband, ia berusaha tidak terlalu melihat ke arah Arga. Saat Arga mendekat ia justru mundur sedikit. Arga mulai merasa ada yang berubah. Setelah latihan, ia kembali menghampiri Kayla.

"Kamu kenapa sih?" tanyanya langsung.

Kayla terdiam.

"Kamu jadi menghindar dari aku" lanjut Arga.

Kayla menunduk.

"Aku… gak enak, Kak…" jawab Kayla

"Kenapa?" tanya Arga

Kayla menarik napas dalam.

"Orang-orang ngomongin kita…"

Akhirnya ia jujur. Arga terdiam.

"Mereka bilang macem-macem…"

Suara Kayla mulai bergetar.

"Aku cuma mau latihan… tapi sekarang jadi gak nyaman…"

Beberapa detik hening. Arga menghela napas.

"Maaf…" katanya pelan.

Kayla langsung menatapnya.

"Bukan salah kamu sepenuhnya," lanjut Arga.

"Tapi mungkin karena aku terlalu sering deket kamu." lanjut Arga sambil menatap mata Kayla

Kayla tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku gak mau kamu jadi gak nyaman," kata Arga.

Suasana terasa berat.

"Aku juga gak mau kamu berhenti karena ini," tambahnya.

Kayla menggigit bibirnya.

"Aku juga gak mau berhenti…" katanya pelan.

Arga mengangguk.

"Yaudah… kita hadapi aja."

Kayla menatapnya.

"Hidup gak akan pernah bebas dari omongan orang," lanjut Arga.

"Tapi kita bisa pilih… mau berhenti atau tetap jalan."

Kalimat itu membuat Kayla terdiam. Ia mengingat dirinya yang dulu yang sering menyerah karena tekanan. Ia menarik napas dalam.

"Aku… mau tetap lanjut," katanya akhirnya.

Arga tersenyum kecil.

"Itu Kayla yang aku kenal." sambil mengusap kepala Kayla

Hari-hari berikutnya gosip itu belum sepenuhnya hilang. Masih ada bisikan, masih ada lirikan. Namun kali ini Kayla tidak menunduk. Ia tetap latihan. Tetap fokus. Jika salah, ia memperbaiki. Jika lelah, ia istirahat. Namun ia tidak berhenti. Salsa berdiri di sampingnya.

"Kita hadapin bareng-bareng ya," katanya.

Kayla tersenyum.

"Iya."

Di tengah suara langkah dan irama di tengah bisikan dan penilaian Kayla belajar satu hal yang penting. Bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah sakit. Tapi tetap berjalan meskipun banyak yang mencoba menjatuhkan.Dan kali ini, Kayla memilih untuk tetap berdiri. Karena ia tahu ia tidak lagi sendiri. Dan ia tidak akan kembali menjadi dirinya yang dulu.

1
Ditzz
semangat buat kakaknya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!