NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Cemburu yang Tak Berhak

​Jalanan sempit di kawasan Glodok pada pukul dua dini hari tidak pernah benar-benar tertidur. Hujan sisa badai telah mereda, menyisakan genangan air kotor yang memantulkan pendar lampu neon berkedip dari papan-papan nama toko yang mulai berkarat. Udara di sini sangat tebal, dipenuhi aroma campuran antara dupa dupa murah, rempah obat tradisional Tiongkok yang menyengat, dan bau pesing selokan yang tersumbat.

​Aku menarik tudung jaket hoodie flanelku lebih dalam, menyembunyikan wajahku dari sorotan kamera pengawas jalanan yang mungkin telah diretas oleh pihak kepolisian. Bahuku yang terluka berdenyut pelan, bergesekan dengan kain jaket setiap kali aku mengambil napas panjang.

​Di sampingku, Komisaris Herman berjalan dengan langkah tegap namun waspada. Tangan kanannya tak pernah lepas dari balik jaket kulitnya, siaga menggenggam gagang pistol revolver Taurus miliknya.

​"Gudang farmasi ilegal itu ada di balik toko obat herbal 'Sinse Makmur' di ujung gang sana," bisik Herman tanpa menoleh padaku. Suaranya serak, bersaing dengan rintik gerimis. "Pemiliknya bernama Koh Bong. Dia adalah kartel pemasok obat-obatan Restricted dan Controlled Drugs tingkat satu di pasar gelap Jakarta. Dia tidak akan mudah bicara pada polisi, apalagi pada buronan sepertimu."

​"Aku tidak butuh dia bicara pada polisi, Komisaris," balasku dengan nada suara yang membeku. "Aku hanya butuh dia bicara pada pisau bedahku."

​Kami tiba di depan pintu rolling door toko obat yang setengah tertutup. Herman mengetuk pintu logam itu dengan pola yang sangat spesifik—dua kali cepat, jeda, lalu tiga kali lambat.

​Sebuah panel intip terbuka. Sepasang mata sipit menatap kami dengan curiga dari balik jeruji besi kecil.

​"Toko tutup. Obat kuat habis," gerutu suara parau dari dalam.

​"Aku bukan mencari obat kuat, Bong. Buka pintunya, atau aku akan melaporkan kontainer ekstrak Ephedrine milikmu di pelabuhan besok pagi," ancam Herman dengan otoritas seorang perwira tinggi.

​Terdengar suara umpatan kasar dalam bahasa Hokkien, diikuti oleh bunyi rentetan kunci mekanis yang ditarik. Pintu rolling door didorong ke atas, membiarkan kami masuk ke dalam ruangan yang pengap.

​Bagian depan toko ini memang terlihat seperti etalase obat tradisional biasa dengan deretan toples berisi akar-akaran dan ginseng. Namun saat Bong—seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan tato naga yang melilit di lehernya—menggiring kami melewati rak buku geser di bagian belakang, pemandangan berubah drastis.

​Sebuah laboratorium farmasi bawah tanah yang canggih terpampang di depan mataku. Deretan lemari pendingin bersuhu minus dua puluh derajat celcius berjejer rapi, dipenuhi oleh ampul-ampul obat bius, racun sintetis, hingga cairan kimia karsinogenik yang sangat dibatasi peredarannya oleh negara.

​Bong duduk di atas kursi putarnya, menyalakan sebatang rokok elektrik (vape) dan mengembuskan asap tebal beraroma karamel yang aneh ke udara.

​"Kau membawa buronan nasional ke sarangku, Herman. Kau tahu berapa nilai kepala dokter wanita ini di luar sana sekarang?" Bong terkekeh sinis, matanya memindai tubuhku dengan tatapan merendahkan.

​"Aku tidak datang ke sini untuk menjual kepalaku," aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Tanganku bergerak cepat menyambar rokok elektrik dari mulut Bong, lalu melemparkannya ke atas meja stainless steel hingga berderak keras.

​"Hei! Apa-apaan kau, pelacur—"

​Tangan kiriku mencengkeram kerah kemeja sutra murahan milik Bong, sementara tangan kananku—dengan kecepatan refleks seorang dokter forensik—menancapkan sebuah jarum suntik medis tepat di lekukan pembuluh vena leher karotidnya.

​Bong membeku seketika. Matanya terbelalak horor menatap tabung suntik berisi cairan bening di tanganku. Komisaris Herman bahkan terkesiap di belakangku, tidak menyangka aku akan mengambil tindakan seagresif ini.

​"Kau menghirup Etomidate melalui rokok elektrikmu, bukan?" bisikku tepat di telinganya. Suaraku mendesis seperti ular derik. "Aroma manis karamel itu tidak bisa menutupi bau zat anestesi keras itu. Kau sedang melakukan micro-dosing untuk sensasi high (melayang), sebuah tren bodoh yang baru saja masuk dari pasar gelap Makau. Pupil matamu melebar dan otot lenganmu mengalami kedutan mikro."

​Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengucur dari dahi Bong. Jakunnya naik turun.

​"Tahukah kau, Bong? Etomidate yang diinhalasi secara kontinu menyebabkan kelumpuhan otot pernapasan akut. Dan di dalam jarum suntik ini..." aku menekan ujung plunger suntikan hingga setetes cairan bening keluar dari ujung jarum yang menembus lapisan kulit lehernya, "...ada sepuluh miligram Kalium Klorida. Jika aku menekan ini, kau akan mengalami fibrilasi ventrikel. Jantungmu akan bergetar lalu berhenti secara instan. Dokter forensik mana pun yang mengotopsi mayatmu besok pagi hanya akan menuliskan 'Kematian akibat overdosis komplikasi Etomidate' dalam laporan mereka."

​"O-oke! Oke! Cukup, Dokter gila!" suara Bong pecah, gemetar dalam ketakutan yang absolut. "Apa yang kau inginkan dariku?!"

​Aku tidak menarik jarum itu. Aku mempertahankan posisi jarum tepat satu milimeter di atas pembuluh darahnya. "Aku mencari catatan transaksi penjualan cairan ekstrak Digoxin tingkat kemurnian sembilan puluh persen, tertanggal sekitar dua tahun yang lalu."

​Bong menelan ludah. Matanya bergerak gelisah menatap Herman lalu menatapku. "Itu... itu barang sangat langka. Hanya ada satu pesanan untuk dosis lethal sebesar itu dalam lima tahun terakhir."

​"Siapa pembelinya?" tuntutku, menekankan ujung jarum sedikit lebih dalam.

​"Seorang pengacara! Nona Maia Anindita!" jerit Bong panik. "Aku menyimpannya! Catatan crypto-ledger-nya ada di dalam server brankasku! Lepaskan aku, dan aku akan memberikannya padamu!"

​Aku mencabut jarum suntik itu dengan satu tarikan bersih. Bong tersungkur ke depan, terbatuk-batuk sembari memegangi lehernya seolah ia baru saja lolos dari tiang gantungan. Dengan tangan bergetar, ia membuka brankas digital di bawah mejanya, mengeluarkan sebuah hard drive eksternal berwarna hitam, dan menyodorkannya pada Herman.

​"Itu catatan transaksinya. Tidak bisa dihapus, dienkripsi menggunakan blockchain," gerutu Bong sambil mengusap keringat di lehernya.

​Aku mengambil hard drive itu dari tangan Herman. Jantungku berdetak dengan ritme kemenangan. Inilah novum (bukti baru) yang kami cari. Bukti transaksi langsung atas nama Maia untuk pembelian racun yang membunuh kakek Ghazali.

​"Satu hal lagi," Bong bergumam pelan, menatapku dengan sorot mata yang campur aduk antara benci dan simpati. "Kau benar-benar mempertaruhkan nyawamu untuk pria itu, ya?"

​Aku menghentikan langkahku. "Maksudmu?"

​"Ghazali Mahendra," Bong menyeringai tipis, memperlihatkan giginya yang menguning karena nikotin. "Dua tahun lalu, Nona Maia tidak datang ke gudangku sendirian saat melakukan penjajakan untuk membeli obat itu. Dia datang bersama suamimu itu."

​Darah di nadiku seolah berhenti mengalir. "Ghazali datang ke sini bersamanya?"

​"Oh, ya. Mereka adalah pasangan paling mematikan yang pernah menginjakkan kaki di duniaku," Bong menyandarkan tubuhnya ke kursi, mengingat masa lalu. "Si pengacara licik yang memegang uang, dan sang Jaksa Penuntut Umum muda yang memberikan perlindungan bayangan. Mereka bergandengan tangan, berciuman di depan pintu itu, terlihat seperti raja dan ratu kegelapan yang sempurna. Suamimu bahkan membelikan Maia sebotol parfum mawar hibrida mahal dari salah satu penyelundup Perancis di pelabuhan hari itu."

​Kata-kata itu menghantam rongga dadaku layaknya peluru artileri.

​Sempurna. Berciuman. Raja dan Ratu kegelapan.

​Sebuah visualisasi yang sangat jernih tergambar di otakku. Ghazali, dengan jas mahalnya, tersenyum dan memeluk Maia di tempat sekotor ini. Pria yang selama ini menatapku dengan kedinginan pualam, ternyata pernah membakar dunia dengan cinta yang begitu membara untuk wanita iblis itu.

​Rasa sesak yang luar biasa tiba-tiba mencengkeram paru-paruku. Perih di bahuku kini merambat naik, mengiris-iris katup jantungku. Tanganku yang memegang hard drive itu mengepal begitu kuat hingga ujung kuku-kukuku menusuk telapak tangan.

​Aku cemburu.

​Di tengah pelarianku dari kejaran hukum, di tengah statusku sebagai buronan yang kehilangan laboratorium dan kariernya, aku berdiri di gudang kumuh ini dan merasakan cemburu yang begitu menyiksa. Aku cemburu pada masa lalu Maia. Aku cemburu pada kenyataan bahwa Maia pernah memiliki versi Ghazali yang utuh, Ghazali yang tertawa dan mencintai tanpa beban sandiwara, sementara aku hanya mendapatkan Ghazali yang hancur, Ghazali yang penuh luka, Ghazali yang menyembunyikan perasaannya di balik hinaan demi melindungiku.

​"Dokter Keana?" teguran Herman menyentakkan lamunanku. Perwira itu menatapku dengan tatapan khawatir. "Abaikan omongan bajingan ini. Mari kita pergi."

​Aku memaksa otot-otot wajahku untuk kembali menjadi patung es. "Kau benar, Komisaris. Masa lalu hanyalah bangkai yang sudah membusuk. Yang penting adalah siapa yang akan mengendalikan masa depan."

​Kami berbalik dan berjalan cepat keluar dari toko obat itu, kembali ke dalam mobil sedan perak yang terparkir di gang gelap. Begitu pintu tertutup, keheningan mencekam mengisi kabin mobil.

​Aku menyandarkan kepalaku ke kaca jendela yang berembun, memejamkan mata rapat-rapat. Air mata panas mengalir di sudut mataku.

​Cemburu yang tak berhak.

​Kata-kata itu berputar-putar di dalam kepalaku bagaikan mantra kutukan. Aku adalah istri sahnya di atas kertas hukum. Namun di mata dunia, dan di dalam jejak sejarah hidup pria itu, aku hanyalah sebuah catatan kaki darurat yang dipaksakan oleh wasiat seorang kakek tua. Bahkan lencana emas yang kini berada di saku jaketku, apakah Ghazali memberikannya padaku sebagai tanda cinta, atau sekadar sebagai tanggung jawab untuk membersihkan namanya?

​Tiba-tiba, sebuah ponsel burner (sekali pakai) yang dibeli Herman berdering keras di atas dasbor. Herman menyambarnya, menekan tombol speaker agar aku bisa ikut mendengarnya.

​"Komisaris? Ini aku, Adrian."

​Suara asistenku terdengar sangat tegang, diselingi suara keyboard yang diketik dengan terburu-buru.

​"Adrian! Kau di mana? Apakah kau aman?" tanyaku segera, mencondongkan tubuh ke depan.

​"Aku bersembunyi di ruang arsip lama lantai basement rumah sakit, Dok. Polisi masih menyisir area ini, tapi mereka tidak tahu lorong ini," jawab Adrian dengan napas memburu. "Dok, aku berhasil meretas sistem jaringan televisi dari server rumah sakit. Kau harus menyalakan layar ponsel Komisaris Herman sekarang. Saluran berita nasional."

​Herman dengan sigap menekan tombol navigasi di layar dasbor mobil yang telah dimodifikasi, mengubahnya menjadi siaran televisi digital.

​Di layar kecil beresolusi rendah itu, terpampang ruang konferensi pers langsung dari Mabes Polri. Latar belakang ruangan itu dipenuhi oleh kilatan flash kamera.

​Dan di tengah mimbar, duduklah Maia Anindita.

​Ia mengenakan blazer putih elegan. Rambutnya disisir rapi, dan wajahnya dipulas dengan riasan make-up tipis yang membuatnya terlihat lelah, sendu, dan luar biasa berduka. Di sampingnya, duduk Nyonya Ratna Mahendra yang sesekali menghapus air mata buaya dengan saputangan sutranya.

​"Sebagai kuasa hukum utama sekaligus perwakilan keluarga besar Mahendra," suara merdu Maia mengudara dari speaker mobil, menembus keheningan Tanjung Priok, "Kami ingin mengklarifikasi berita liar yang disebarkan oleh Dokter Keana Elvaretta pagi ini."

​Maia menarik napas panjang, menatap kamera dengan sorot mata terluka yang sangat meyakinkan. Akting tingkat dewa yang akan membuat siapa pun bertekuk lutut.

​"Faktanya, Dokter Keana adalah seorang individu yang menderita gangguan delusi kecemburuan yang parah (Othello Syndrome). Karena Jaksa Ghazali Mahendra telah menggugat cerai dirinya, ia menjadi kalap. Ia merusak properti keluarga, mencuri barang-barang pribadi dari makam keluarga, dan menyebarkan fitnah keji menggunakan data laboratorium palsu demi menghancurkan reputasi pria yang tidak lagi menginginkannya."

​"Jalang itu memutarbalikkan diagnosis medis untuk membunuh karaktermu di depan publik!" geram Herman, memukul setir mobil dengan keras.

​Namun, bukan fitnah itu yang membuat jantungku serasa diremas oleh tangan raksasa. Melainkan kalimat Maia selanjutnya.

​"Malam tadi, saudara Ghazali Mahendra hampir meregang nyawa akibat kecelakaan di laboratorium rumahnya sendiri. Saat ini, beliau masih dalam keadaan koma di ICU. Dan sebagai pengacara sekaligus... seseorang yang sangat mengerti isi hati beliau sejak bertahun-tahun yang lalu..." Maia menundukkan wajahnya, membiarkan setetes air mata palsu jatuh ke pipinya, "Kami dari pihak keluarga memohon doa agar beliau segera pulih, sehingga beliau bisa secara langsung menandatangani pemecatan dan tuntutan hukum terhadap mantan istrinya yang berbahaya itu."

​Siaran beralih menampilkan rekaman B-roll di mana Maia berdiri di depan pintu kaca ICU, menatap tubuh Ghazali dari luar dengan tatapan penuh cinta dan air mata. Televisi menyiarkan narasi betapa heroiknya Maia melindungi keluarga Mahendra dari "istri sosiopat" yang sedang buron.

​Layar dasbor itu kutatap dengan pandangan kosong.

​"Dokter Keana?" panggil Adrian dari sambungan telepon, suaranya kini melunak, dipenuhi oleh kepedihan dan simpati yang mendalam. "Mereka... mereka secara resmi menghapus statusmu sebagai istrinya di depan publik. Maia telah mengambil alih peran itu secara de facto."

​"Aku mendengarnya, Adrian," bisikku hampa.

​"Kenapa kau masih bertarung untuknya, Keana?" kali ini, Adrian tidak lagi memanggilku 'Dokter'. Suara pemuda itu bergetar oleh amarah dan emosi yang tertahan. "Pria itu menyeretmu ke dalam pusaran neraka keluarganya! Dia membiarkan mantan kekasihnya itu berdiri di samping ranjang sakitnya sementara kau harus berdarah-darah menjahit kulitmu sendiri di gudang kumuh! Dia tidak pantas mendapatkan pengorbananmu!"

​"Adrian, cukup," tegur Herman.

​"Tidak, Komisaris! Aku harus mengatakannya!" teriak Adrian dari seberang sana. "Keana... lupakan dia! Lupakan bukti itu! Aku bisa membantumu melarikan diri ke luar negeri. Kita bisa memulai hidup baru. Aku... aku tidak akan pernah membiarkanmu menjadi bayangan dari wanita lain. Aku tidak akan pernah membiarkanmu mencium bau kematian di ranjangmu sendiri!"

​Pengakuan cinta yang mendadak dan putus asa dari asistenku itu mengudara di dalam kabin mobil yang sunyi.

​Aku terdiam. Perbandingan ini kembali menyerang kewarasanku. Di satu sisi, ada Adrian. Pria yang selalu ada di sampingku, pria yang menawariku keamanan mutlak, yang dengan tulus memuja profesiku tanpa pernah mengeluhkan bau formalin di kulitku.

​Di sisi lain, ada Ghazali. Pria yang menyisakan ranjang dingin, pria yang masa lalunya masih berkuasa penuh atas masa kiniku, pria yang bahkan secara publik telah menceraikanku.

​Namun, saat aku memejamkan mata, bukan wajah aman Adrian yang terlintas. Melainkan wajah Ghazali yang memerah menahan sakit saat Asam Hidrofluorik itu membakar kulit tangannya di ruang bawah tanah. Wajah pria yang meneteskan air mata di video rahasia itu, mengatakan bahwa ia memuja setiap jengkal keberadaanku di balik tatapan bencinya.

​Cemburu yang tak berhak.

​Aku membuka mata. Sebuah ketegasan absolut yang hanya dimiliki oleh seorang panglima perang membakar habis semua keraguanku. Maia boleh memiliki masa lalu Ghazali. Maia boleh memiliki panggung konferensi pers dan simpati publik yang murah itu.

​Tapi aku? Aku adalah wanita yang memegang kunci untuk masa depannya.

​"Terima kasih, Adrian," jawabku tenang, memecah keheningan panjang itu. Suaraku tidak lagi bergetar. "Aku sangat menghargai perasaanmu. Tapi seperti yang pernah kukatakan di ruang otopsi... bagiku, anatomi kebenaran jauh lebih menarik daripada janji keamanan yang palsu."

​"Keana..."

​"Tetaplah bersembunyi, Adrian. Karena besok pagi, aku akan kembali ke rumah sakit itu," potongku tajam. "Jika Maia ingin memonopoli narasi di depan pintu ICU suamiku, maka aku akan datang dan membedah kepalsuannya secara langsung dengan hard drive ini."

​Herman menoleh padaku dengan mata terbelalak. "Kau gila? Jika kau menampakkan diri di rumah sakit besok pagi, satuan Brimob akan langsung menembak lututmu dan menyeretmu ke sel penjara Bareskrim! Surat perintah penangkapanmu itu nyata, Keana!"

​"Maka kita harus membuat pertunjukan penangkapan yang lebih masif dari konferensi pers murahan mereka," aku mematikan sambungan telepon dengan Adrian, menatap lurus ke jalanan aspal yang basah di depan kami.

​Aku merogoh saku hoodie-ku, mengeluarkan lencana timbangan emas milik Ghazali, dan menggenggamnya erat-erat hingga tepian logamnya meninggalkan bekas di telapak tanganku. Rasa sakit kecil ini menyadarkanku bahwa aku sepenuhnya sadar akan apa yang kulakukan.

​"Komisaris Herman," aku menoleh menatap perwira polisi itu dengan senyum yang tidak mencapai mata. "Hubungi pengacaraku, Leo Sastra. Katakan padanya untuk menyewa semua billboard digital di sepanjang jalan Sudirman yang mengarah ke Mabes Polri besok jam delapan pagi. Sang Dokter Forensik akan menyerahkan diri."

​Jika mereka mengira mereka telah menghancurkan sang Istri Buangan, mereka salah besar. Mereka baru saja membangunkan seorang janda yang tidak memiliki apa pun lagi untuk dihilangkan. Dan orang yang tidak memiliki rasa takut kehilangan, adalah orang yang paling berbahaya di dunia ini.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!