NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kusuma Bangsa

Mbah Sidik terdiam lama. Kali ini, ia tidak menatap Ahmad, melainkan menatap kosong ke arah tanah, seolah-olah lantai rumah ini telah berubah menjadi tanah Margarana yang basah oleh darah puluhan tahun silam. Suaranya berubah, tidak lagi berapi-api, melainkan dalam, tenang, dan sangat syahdu.

"Perintah itu, Ahmad... adalah perintah paling indah yang pernah Bapak dengar dalam hidup," bisik Mbah Sidik.

"Saat I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar gugur, saat itulah segalanya berubah. Komandan Ngurah Rai tidak lagi melihat musuh sebagai target, tapi sebagai jalan menuju surga. Beliau berdiri tegak di tengah kepulan asap, lalu berteriak satu kata yang membuat tentara NICA yang maju perlahan terhenti karena kaget: "PUPUTAN....!!!!!'"

Teriakan itu bukan teriakan orang yang putus asa. Itu adalah teriakan pembebasan. Sisa pasukan Ciung Wanara, termasuk Bapak, bangkit dari sisa-sisa pertahanan. Kami tidak lagi merayap, kami tidak lagi bersembunyi. Kami berdiri, keluar dari area pertahanan, dan menatap lurus ke mata musuh yang ketakutan.

"Kami bergerak maju sambil menembak. Kami tidak punya lagi ruang untuk mundur, maka kami menjadikan musuh sebagai satu-satunya tujuan. Itu adalah aksi patriotik yang paling murni, Ahmad. Kami berjalan menembus hujan peluru dengan dada membusung. Bapak melihat kawan-kawan satu persatu jatuh, tapi tidak ada satu pun yang menjerit. Semuanya jatuh sebagai kusuma bangsa."

I Gusti Ngurah Rai berada di barisan paling depan. Sampai peluru terakhir menembus tubuhnya, beliau tidak pernah menurunkan senjatanya. Kami, yang tersisa, terus mendampinginya hingga saat-saat terakhir.

"Sore itu, Margarana sunyi. Tidak ada lagi suara senapan. Kami, 96 orang pasukan Ciung Wanara, termasuk lima kawan pejuang dari Jepang yang memilih mati bersama kami, akhirnya rebah sebagai saksi sejarah. Empat ratus tentara NICA tewas di tangan kami sebelum akhirnya mereka bisa merangsek masuk."

Mbah Sidik menunduk, menyeka sudut matanya yang lembap. "Lucunya, Ahmad, bahkan setelah kami semua gugur, mereka—tentara NICA yang bersenjata lengkap dan dilindungi pesawat tempur itu—masih gemetar. Mereka tidak berani memeriksa tubuh kami tanpa membawa rakyat desa Marga sebagai perisai hidup. Mereka takut pada tubuh-tubuh kami yang sudah tak bernyawa. Mereka takut pada kehormatan kami yang masih hidup."

***

Senja jatuh di Margarana, membawa napas terakhir,

Teriakan "Puputan" memecah sunyi, membawa takdir.

Mereka keluar dari persembunyian, berdiri di bawah langit,

Menjemput ajal dengan senyum, tanpa sedikit pun pahit.

Sembilan puluh enam jiwa, lima di antaranya dari jauh,

Berjanji pada bumi, bahwa semangat takkan pernah luruh.

Empat ratus nyawa musuh menjadi teman perjalanan,

Menuju pintu surga dalam satu derap perjuangan.

Ahmad, jangan kau tangisi tubuh mereka yang terkubur tanah,

Sebab mereka mati bukan karena kalah, tapi karena tabah.

Jadilah bunga yang tumbuh di atas pusara Margarana,

Jadilah saksi bahwa Indonesia lahir dari cinta, bukan dari bencana.

*

Mbah Sidik kemudian mengembuskan napas panjang, seolah beban berat yang ia pikul selama puluhan tahun perlahan terangkat. Ia memegang tangan Ahmad dengan mantap.

"Bapak selamat karena saat itu, Komandan sempat memerintahkan Bapak untuk membawa pesan terakhir ke pusat perlawanan di Jakarta, tepat sebelum kepungan terakhir itu menutup rapat. Bapak selamat dengan membawa jiwa kawan-kawan yang telah gugur di hati Bapak. Bapak hidup sampai hari ini untuk memastikan cerita ini sampai padamu."

Ahmad tertegun, baru menyadari mengapa bapaknya begitu mencintai tanah ini. "Jadi, mereka semua benar-benar gugur sampai titik darah penghabisan?"

"Ya, Ahmad. Mereka tidak mati. Mereka hanya pindah ke dalam jantung setiap orang Indonesia yang masih mencintai kemerdekaan. Sekarang, giliranmu. Jika Bapak sudah tidak ada, apakah kau akan tetap menjaga api itu agar tidak padam?"

Ahmad terdiam, matanya berkaca-kaca menatap garis cakrawala malam yang membentang di atas sawah-sawah Kota Jepara.

Pertanyaan bapaknya bukan sekadar kalimat tanya, melainkan sebuah estafet jiwa yang kini terasa berat namun terhormat di pundaknya.

Ia meraih tangan Mbah Sidik yang kasar dan penuh guratan sejarah, lalu menggenggamnya erat.

"Bapak," suara Ahmad bergetar namun mantap, "selama darah ini masih mengalir, api itu tidak akan pernah padam. Aku mungkin tidak memegang senapan seperti Bapak di Margarana, tapi aku akan menjaga tanah ini dengan cara yang Bapak ajarkan: dengan kejujuran dan rasa cinta."

Mbah Sidik tersenyum, sebuah senyuman yang paling tulus yang pernah Ahmad lihat. Seolah-olah beban ribuan peluru dan memori pedih tentang rekan-rekannya yang gugur menguap begitu saja tertiup angin malam.

Beliau bangkit perlahan, melangkah menuju tepian teras sambil memandang jauh ke arah kegelapan sawah.

"Dengar, Ahmad. Tanah ini bukan hanya tempat kita berpijak, tapi tempat di mana harapan ditanam," pesan Mbah Sidik,

"Setiap butir padi yang tumbuh adalah pesan dari mereka yang telah tiada, bahwa kemerdekaan harus dirawat dengan kerja keras, bukan hanya dirayakan dengan upacara."

Di kejauhan, kunang-kunang mulai bermunculan, terbang rendah di antara sela-sela batang padi. Cahaya mereka yang kecil dan redup tampak seperti nyawa para ksatria Ciung Wanara yang datang untuk memberi restu pada janji sang pemuda.

Mbah Sidik menunjuk ke arah rembulan yang kini bersinar penuh,

"Lihatlah bulan itu. Meskipun ia sendirian di tengah kegelapan, ia tetap memberi cahaya. Jadilah seperti itu, Ahmad. Meski dunia di sekitarmu mungkin lupa akan sejarah, kau harus tetap menjadi pengingat. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, karena itulah arti merdeka yang sesungguhnya."

Ahmad berdiri di samping bapaknya, bahu mereka bersentuhan. Ia merasa seolah-olah kekuatan dari 96 pejuang Margarana itu kini mengalir masuk ke dalam dirinya, memberinya keberanian untuk menghadapi hari esok yang penuh tantangan.

Di bawah jubah malam yang sunyi dan syahdu,

Janji terucap antara anak dan bapak yang merindu

Bukan lagi tentang darah yang tumpah di atas tanah,

Tapi tentang bakti yang takkan pernah berubah menjadi lelah.

Ahmad menatap bintang, mencari jejak sang ksatria,

Berjanji menjaga api agar tetap menyala di dada nusantara.

Margarana mungkin jauh di seberang samudera,

Namun semangatnya kini bersemi di Jepara yang mesra.

Mbah Sidik mengangguk, tugasnya kini telah tuntas,

Mewariskan marwah pada jiwa yang berani dan bebas.

Sebab kemerdekaan adalah nafas yang harus terus dijaga,

Hingga tiba saatnya kita semua berkumpul di gerbang surga.

**

Mbah Sidik menepuk bahu Ahmad dua kali, sebuah tanda kasih sayang yang jarang beliau tunjukkan. "Masuklah, Ahmad. Malam sudah terlalu dingin. Besok, kita masih punya banyak pekerjaan di sawah. Tanah ini masih butuh tangan-tangan kuat untuk merawatnya."

Ahmad mengangguk. Saat ia melangkah masuk ke dalam rumah kayu yang sederhana itu, ia menoleh sekali lagi ke arah kegelapan malam. Ia tahu, mulai malam ini, ia bukan lagi sekadar anak angkat seorang veteran, melainkan penjaga api yang akan terus berkobar sepanjang masa.

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!