Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
"Gawat aku melupakan sesuatu!" seruan Elvara membuat Ayasha yang sedang berbaring terkejut.
"Apa Kak?" tanya Ayasha.
"Berkas kerja sama itu, sudah Kakak ambil gawat jika Rayandra dan Ardhanaya tahu akan hal itu, bisa habis kita," ucapnya dengan nada khawatir.
DEGH!
"Jadi berkas sudah Kakak ambil?" tanya Ayasha tak menyangka.
"Tentu, karena meetingnya akan segera di laksanakan dan karena terlalu cinta pada Devon pada akhirnya Elvara asli mengambil itu," kata Elvara dengan nada sedikit kesal dan menyesal.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Ayasha.
"Ayo ikut aku mengembalikan berkas itu ke ruangan Rayandra."
Ayasha setuju dan keduanya segera mengambil berkas itu untuk di kembalikan ke ruang kerja pribadi milik Rayandra.
...****************...
Sedangkan di sisi Rayandra dan Ardhanaya, kedua pria tampan keturunan Mahatara itu sedang minum di tepi kolam renang yang bergelombang kecil dengan pancaran hangat sang bulan.
"Menurut mu apakah Kakak ipar akan mengambil berkas itu, Kak?" Ardhanaya bertanya pada sosok sang Kakak yang nampak tenang dengan segelas wine di tangannya.
Gelas wine itu bergoyang sedikit, untuk menambahkan rasa pekat khas minuman mahal.
"Kak, bagaimana menurut mu sekarang?" Ardhanaya kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
"Dia tidak akan berani, jika dia berani maka Gunawan taruhannya," ucap Rayandra dingin.
Rayandra melirik, dia tersenyum semrik saat melihat sesuatu yang menarik,"Tapi sepertinya bukan hanya Gunawan," ucapan Rayandra membuat Ardhanaya bingung.
"Maksudnya?" tanya Ardhanaya tak paham.
"Lihat di sana! Sepertinya mereka berdua begitu ingin hancur," tatapan Rayandra yang mengarah pada tempat lain membuat tatapan Ardhanaya mengikuti.
Wajahnya tak percaya saat melihat Ayasha turut ikut dalam masalah ini, wajah pria itu memerah dengan emosi yang siap meledak.
"Tunggu! Kita diam dulu!" cegah Rayandra saat melihat Ardhanaya akan menghampiri keduanya.
"Tapi mereka, Kak..." telunjuk Ardhanaya mengarah pada kedua wanita yang sudah naik ke lantai atas.
Rayandra tidak peduli protesan Ardhanaya, sebab menunggu dengan sabar bisa menghasilkan sesuatu yang menakjubkan.
Sedangkan Elvara dan Ayasha dia masuk ke dalam ruangan Rayandra.
"Kak, dimana kemarin kamu mengambilnya?" tanya Ayasha dengan suara pelan.
"Di sana, ayo!" tarik Elvara pada lengan Ayasha.
Keduanya berderap perlahan menuju laci di mana sebuah lampu meja crystal berdiri tegak di sana.
"Ayo Kak letakan!"
Elvara segera meletakkan berkas itu, rasanya mereka lega setelah meletakkan berkas itu di sana.
"Kak ayo pergi!" bisik Ayasha.
Namun, Elvara malah berhenti, dia menoleh dan menemukan sebuah desain yang belum selesai.
"Sebentar!" tahan Elvara.
Kakinya berderap ke arah meja kerja entah milik siapa, sebab di sana ada dua meja kerja yang berjajar rapi.
Melihat desain dan membenarkan letak yang salah itulah yang di lakukan seorang desain.
"Kak, ayo!" desak Ayasha ia takut ketahuan.
"Sebentar!"
Ayasha penasaran, di Melangkah mendekat untuk melihat apa yang Elvara lakukan sekarang.
"Sedang apa, Kak?" tanya Ayasha.
"Ada yang kurang dalam desain ini, dan aku tak suka melihatnya," ucapnya tanpa menoleh.
"Sudah, ayo Kak!" Ayasha mendesak kembali.
"Iya, ayo!" angguk Elvara, dia selesai dan meletakkan kembali pena itu di atas desain yang sudah sempurna menurutnya.
DEGH!
'Gawat!' batin keduanya. Dengan wajah takut, malu dan gelisah.
...****************...
Di tepi kolam, tatapan Rayandra mengunci sosok istrinya bersama istri adiknya yang melangkah menuju ruang kerjanya.
Perlahan, dia dan Ardhanaya berdiri, langkah mereka berat menyusuri koridor yang dingin. “Apa yang akan kau lakukan kalau mereka benar-benar mencuri berkas itu?” tanya Ardhanaya, tanpa berani menatap mata sang kakak.
Rayandra melangkah pelan ke depan, sorot matanya membara penuh tekad. “Seperti yang sudah kubilang, taruhannya adalah keluarga Gunawan.”
Ardhanaya menggeleng pelan, suaranya bergetar samar, “Aku bukan itu maksudku... Apa kau benar-benar akan menceraikannya?”
Langkah Rayandra terhenti, membiarkan hening menggantung di antara mereka. Perlahan ia menoleh, tatapan tajamnya menusuk seakan ingin menyayat hati Ardhanaya. “Jaga ucapanmu, Ardhanaya. Kau tahu persis itu mustahil terjadi dan begitu juga dengan kamu, bukan?” Alisnya terangkat sinis, menantang.
Ardhanaya menggaruk pangkal hidungnya tanpa alasan, tawa kecilnya pecah, “Hehehe... Maaf, Kak. Aku cuma bertanya.”
Namun di balik candaan itu, ada gelombang ketegangan yang tak bisa dipungkiri seolah dunia mereka sedang menggantung di ujung pisau, menunggu waktu untuk runtuh.
Langkah kaki mereka terhenti di ambang pintu ruang kerja, keheningan menyelimuti tanpa sepatah kata yang terucap.
Namun apa yang mereka lihat di depan mata membuat mereka bertanya-tanya dalam hati masing-masing.
Rayandra menatap penuh curiga saat Elvara tengah menggenggam pena, tangan kecilnya lincah menari di atas desain yang belum selesai ia kerjakan.
'Apa yang sedang dia lakukan? Apakah wanita itu sedang merusak desainku?' batinnya dalam hati, Tatapan Rayandra menjadi tajam bak panah yang siap melesat menghunjam.
...****************...
Di sisi lain, Ayasha mendesak sang kakak untuk segera pergi, ia menarik lengan kakaknya dengan panik, berharap segera pergi sebelum mereka ketahuan.
Elvara, dengan senyum tipis di bibirnya, menutup pena setelah menambahkan detail terakhir di desain itu yang dianggap sempurna
Saat keduanya membalikkan badan, langkah mereka terhenti membeku seketika.
Di depan pintu, dua sosok pria berdiri tegap, mata mereka membara penuh amarah, menatap mereka tanpa berkedip seolah ingin menembus kejujuran yang tersembunyi.
Suasana seketika berubah menjadi perang senyap yang tak ada kata maaf.
"Apa yang kalian lakukan di ruang kerjaku?" Suara Rayandra menggema, dingin dan penuh ketegangan, menusuk ke relung hati Elvara dan Ayasha.
Kedua gadis itu menunduk takut. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik Ayasha pelan, matanya mencari jawaban pada kakaknya.
Elvara menghela napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian yang hampir habis.
Dia melangkah maju, suaranya gemetar namun berusaha meyakinkan, "Aku datang mencarimu, Rayandra. Kupikir kau ada di ruang kerja ini."
Ayasha mengangguk perlahan, ikut menyambung, "Iya, aku juga mencarimu Ardhanaya. Kami kira kalian berdua ada di sini."
Rayandra menyipitkan mata, tatapannya seperti mata elang yang tajam menelusuri setiap gerak-gerik mereka. "Oh? Kalian mencari kami? Tapi yang kulihat tadi… kamu merusak desainku?" Tuduhan itu menghujam tanpa tedeng aling-aling.
Elvara terpaku, darahnya hampir membeku. "Aku? Aku hanya menambahkan sedikit sentuhan pada desain gaun pengantin itu, bukan merusaknya! Jangan fitnah aku begitu!" jawab Elvara dengan suara yang mulai bergetar, namun berusaha tetap kuat mempertahankan harga dirinya.
Rayandra menatap dalam ke mata Elvara, mencari celah kebohongan. Tapi yang terlihat justru mata yang bening,ada ketakutan yang samar, namun juga kebenaran yang tulus. Sebuah pertaruhan yang membingungkan antara keteguhan dan keraguan.
Ardhanaya masuk ke dalam ruangan itu, menuju ke meja kerja sang kakak, mengambil desain yang sebelumnya di sentuh Elvara.
" ini kak, coba kakak lihat apa ada yang salah dengan desain itu." ucap Ardhanaya menyerahkan desain tersebut.
Rayandra menerima kertas tersebut, dan melihat desain miliknya, ia mengerutkan keningnya ada yang berbeda dari yang ia buat sebelumnya.
Jantung Elvara dan ayasha berdebar kencang, takut jika mereka membuat kesalahan lagi.