Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 KEMENANGAN PARA PAHLAWAN
Sorak-sorai membahana dari balik tembok istana ibu kota, menembus debu-debu sisa pertempuran di Gerbang 3. Warga yang tadinya bersembunyi di sekitar istana dan di dalam halaman istana kini keluar, saling berpelukan dan meneriakkan nama pahlawan mereka.
"Hidup Putri Stella! Hidup Jenderal Lytia dan Laksamana Airon!" teriak massa dengan penuh haru. Di balkon istana, Raja dan Ratu mendekap satu sama lain, air mata kelegaan membasahi wajah mereka. Para penasihat kerajaan yang biasanya kaku kini saling menjabat tangan dengan gemetar. Kerajaan Beltrum selamat tanpa satu pun nyawa rakyat yang melayang.
Di tengah reruntuhan yang hancur, mode tempur Lytia dan Airon telah memudar. Mereka kembali ke wujud iblis biasa, kelelahan yang luar biasa menyerang seketika. Lytia tertatih, menyeret kakinya yang terkilir dan bersandar pada sebuah batu besar.
"Ini... seperti mimpi," bisik Lytia sambil menyeka keringat dan debu di wajahnya. "Kita benar-benar menghabisi Fulnox... tanpa korban jiwa sedikitpun."
Airon mengangguk pelan, duduk di tanah sambil memegangi kakinya yang cedera. "Benar, Lytia. Ini adalah kebanggaan terbesar dalam hidup kita. Dan jujur saja... untung ada Zeta yang datang tepat waktu."
Lytia menoleh ke arah Zeta dengan tatapan tulus. "Zeta, terima kasih. Aku"
Belum sempat Lytia menyelesaikan kalimatnya, Putri Stella yang berdiri di samping mereka tiba-tiba goyah. "Syukurlah..." gumamnya lirih dengan senyum tipis, sebelum kesadarannya hilang total karena kehabisan energi sihir.
Zeta dengan sigap menangkap tubuh Stella sebelum menyentuh tanah. Ia membopong sang Putri dalam posisi bridal style (digendong di kedua tangannya). Untuk sesaat, suasana menjadi hening. Zeta menunduk, menatap wajah Stella yang kini tampak tenang dalam pingsannya.
“Tanpa sadar saat betarung dengan fulnox, Putri Stella memberikan sihir penguat ke pada kita Airon Apa kau tidak menyadari nya” ucap Lytia tersenyum ke wajah putri Stella Yang pingsan
“Pantas sajaa walau kita kena banyak serangan dari fulnox kita tidak sampai luka parah, terima kasih putri Stella tanpa sihir penguat mu mungkin aku dan Lytia Sudah Tewas Putri” balas Laksmana Airon dengan melihat Putri Stella yang pingsan
"Hmm kalo di liat liat Dia benar-benar cantik ya... kenapa aku tidak sadar sebelumnya?" batin Zeta. "Mungkin karena selama ini aku hanya kesal dia memanggilku sembarangan ke dunia ini. Tapi melihat tekadnya... mungkin Dewa memang mentakdirkanku di sini karena permohonan tulus dari hati gadis ini. Istirahatlah, Putri. Kau sudah berjuang keras" batin Zeta.
Tanpa sadar, sebuah senyum tipis yang jarang terlihat muncul di bibir Zeta.
"Heeeehh... Zeta?" celetuk Lytia tiba-tiba dengan nada menggoda, meski wajahnya sendiri masih pucat. "Segitunya melihat Putri Stella? Tidak sopan tahu! Atau jangan-jangan... kau terpesona dengan kecantikannya, ya?"
Zeta tersentak dan langsung memasang wajah datar andalannya. "Tidak, Lytia. Aku biasa saja. Aku hanya kagum... dia benar-benar hebat dan berani mengorbankan nyawa demi kalian semua walau dia tidak kuat berdiri dia masih bisa menolong kalian dengan sihir penguatnya"
Lytia tertawa kecil, "Hahaha, jangan malu-malu begitu. Tapi kau benar, dia seperti dewi dengan hati yang luar biasa baik. Itulah alasan aku rela mati demi melindunginya."
"Aku juga," timpal Airon dengan tegas. "Nyawaku adalah miliknya."
Zeta menatap mereka berdua lalu bergumam, "Syukurlah dia punya keluarga yang baik seperti kalian."
Lytia dan Airon tertegun sejenak, lalu menggeleng. "Kami hanya bawahannya, penjaga sang Putri. Bukan keluarganya," ucap Lytia merendah.
Zeta mendecih pelan. "Cih, tega sekali kalian bicara begitu. Kalian tidak menganggapnya keluarga, padahal Putri Stella pernah bilang padaku... kalau Lytia dan Laksamana Airon sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri."
Seketika, Lytia dan Airon terdiam. Mata mereka berkaca-kaca, tak menyangka bahwa di dalam hati sang Putri, posisi mereka begitu istimewa.
Melihat suasana menjadi terlalu emosional, Zeta mencoba mencairkan suasana. "Lagipula, memang benar kata Lytia tadi. Putri Stella sangat cantik. Wajahnya manis, rambut peraknya elegan... dia pasti akan menjadi ratu tercantik di dunia ini suatu saat nanti."
Tepat saat itu, pasukan bantuan dan tim medis kerajaan tiba di lokasi. Lytia tersenyum lebar mendengar pujian jujur Zeta. "Pasukan sudah datang! Zeta, bawa Putri ke istana sekarang, kita akan mengobati luka-luka ini di sana!"
Zeta mengangguk dan mulai melangkah. Namun, ia tidak menyadari satu hal. Di dalam gendongannya, kelopak mata Stella bergetar. Sang Putri sebenarnya sudah sedikit sadar dan mendengar seluruh percakapan itu, terutama pujian "Ratu Tercantik" dari mulut Zeta.
Wajah Stella yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah padam hingga ke telinga. Ia tetap memejamkan mata rapat-rapat, pura-pura pingsan karena terlalu malu dan salting untuk menghadapi tatapan Zeta.
Rombongan tim medis dan para pahlawan akhirnya memasuki gerbang istana. Suasana haru menyambut mereka. Di antara kerumunan, sepasang suami istri berlari kencang menuju Jenderal Lytia.
"Lytia! Syukurlah kau selamat, Nak!" teriak ibunya sambil menghambur memeluk putrinya, disusul oleh sang ayah yang merangkul mereka berdua dengan erat.
Lytia, yang biasanya tampak tangguh sebagai jenderal, akhirnya runtuh. Air matanya mengalir deras. "Ibu... Ayah... aku kembali. Maaf sudah membuat kalian khawatir. Aku lega kalian berdua tidak apa-apa," isaknya di pelukan mereka.
Zeta berdiri diam beberapa langkah di belakang. Melihat pemandangan itu, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya, namun matanya memancarkan kesedihan yang jauh. Ingatannya ditarik paksa kembali ke dunianya sendiri ke sebuah memori kelam saat gempa besar melanda kotanya.
Zeta kecil gemetar sendirian di bawah meja makan. Debu jatuh dari langit-langit, dan suara retakan dinding menghantui telinganya. Ia menunggu pintu terbuka, berharap orang tuanya pulang untuk menyelamatkannya. Namun, hingga gempa mereda, tak ada siapa pun yang pulang kerumahnya ayah mau pun ibu nya. Orang tua Zeta sama sekali tidak mengkhawatirkan Zeta sampai akhirnya Zeta keluar sendirian dari rumah karena rumahnya sudah berantakan bekas gempa ia pun mencari kantor pemadam kebakaran untung mengungsi sementara.
Laksamana Airon, yang sedang mengatur napasnya, melirik ke arah Zeta. Ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal di tatapan Zeta itu
Di sisi lain halaman, Raja Beltrum dengan setia merangkul Ratu yang tampak pucat dan lemah. Begitu melihat sosok putri mereka, mereka bergegas menghampiri.
"Dia sudah berjuang keras sampai sampai kehabisan sihir, kau memang putri kebanggaan ku Stella" ucap Raja dengan suara bergetar dan mengelus rambut Stella yang dimana Stella masih di gendong sama Zeta. Ia kemudian menatap Zeta yang masih menggendong Stella. "Kesatria dunia lain, terima kasih sudah membawa putriku kembali dengan selamat."
Sang Ratu, sambil terbatuk kecil, mengusap lembut wajah Stella yang masih terpejam. "Jadi, kau kesatria yang di panggil oleh putri Stella yah maaf tidak sempat menyambut mu karena aku sedang sakit waktu itu, terima kasih juga sudah mengendong putri ku Dia putri satu-satunya, aku sangat mengkhawatirkannya," ucap Ratu tulus.
Sentuhan hangat tangan ibunya membuat Stella perlahan membuka mata. "Ibu...?" bisiknya lirih.
"Tenang, Stella. Semua sudah baik-baik saja. Kau sudah berjuang keras, Nak," hibur sang Ratu. Zeta kemudian menurunkan Stella perlahan, membiarkan keluarga kerajaan itu berpelukan dalam lingkaran cahaya kebahagiaan.
Tak jauh dari sana, Airon pun tidak luput dari kehangatan. Dua adiknya, seorang pemuda dan gadis remaja, berlari menghampirinya. "Kakak Airon! Syukur Kakak selamat Ayo kita pulang kakak Airon dan makan bersama di rumah!"
Zeta hanya bisa terdiam melihat semua itu. Di kanan dan kirinya, semua orang memiliki tempat untuk pulang. Semua orang memiliki pelukan yang menunggu mereka. Sementara dia? Dia hanya orang asing yang terjebak di dunia yang bukan miliknya.
"Sepertinya aku harus pindah tempat. Rasanya canggung sekali di sini, hehe,"batin Zeta mencoba menghibur diri sendiri. "Apa aku cari makan saja ya? Ah, kedai-kedai pasti tutup setelah serangan naga tadi. Lebih baik aku jalan-jalan sebentar melihat kondisi kota."
Zeta berbalik, melangkah menjauh dari keramaian halaman istana yang hangat. Punggungnya terlihat kesepian di bawah sinar bulan yang mulai muncul.
Stella, yang baru saja dilepaskan dari pelukan ibunya, secara tidak sengaja melihat sosok Zeta yang berjalan menjauh sendirian. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya. Ia merasakan kesedihan yang terpancar dari punggung pemuda itu sebuah perasaan asing yang membuatnya ingin berlari dan menahan Zeta agar tidak pergi.
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍