Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Tiga Tahun Seakan Tidak Berbekas
Bismillah....karya baru. Semoga bisa menghibur pembaca, dan pembaca banyak yang suka karya saya.
Lettu Sus Ardana, S.Psi., Psikolog, berdiri tegap di depan kaca, merapikan kerah seragam lorengnya untuk yang terakhir. Punggungnya yang lebar, memberi kesan betapa gagah dan tampannya pria itu. Seragam loreng yang kini melekat di tubuhnya, mengkilap terkena pantulan cahaya lampu, di langit-langit kamar. Menandakan begitu rapi dan licin seragamnya bak kaca tanpa goresan.
Nayra berdiri di belakangnya, memegang salah satu sepatu lars yang baru saja selesai ia semir sampai mengkilap, sembari menatap punggung itu lalu mengukir senyum bangga dan penuh cinta. Sikap seperti itu yang sering Nayra perlihatkan, ketika melihat suaminya sudah siap dengan seragam kerjanya.
Sepatu lars itu ia letakkan di lantai dengan hati-hati, lalu ia mendekat dan perlahan memeluk Ardana penuh kelembutan dan kerinduan.
"Mas Ardana...." bisiknya lembut, berharap pelukan itu mendapat balasan.
Ardana meraih pelan lengan kanan Nayra, lalu melepaskannya pelan juga. "Nayra, seragamku bisa kusut, dong," tegurnya sembari memutar tubuhnya perlahan.
Nayra buru-buru menjauhkan kedua tangannya dari Ardana, ia seperti baru sadar kalau suaminya memang sangat ingin terlihat perfect dengan penampilannya. Terlebih dengan seragam yang kini melekat di tubuhnya.
"Oh, maaf. Nay lupa."
"Jangan dibiasakan," tegurnya lagi dingin, sembari meraih sepatu lars atau sepatu PDL yang sudah disemir mengkilap oleh Nayra.
Ardana selesai menggunakan sepatu PDL nya, ia dengan cepat membalikkan badan menuju pintu kamar, diikuti Nayra. Tiba di pintu depan, Nayra segera meraih tangan Ardana seperti biasa. Meskipun Ardana selalu terlihat enggan Nayra melakukan itu.
"Mas...."
"Tidak perlu ada kejutan apa-apa, aku tidak suka. Lagipula aku pastikan pulang larut malam. Jadi, kamu tidak perlu menunggu. Ada pasien gangguan mental yang perlu aku tangani sore nanti di RSAU," ujarnya menyambar kalimat yang tadinya mau Nayra ucapkan.
Nayra terpaku, matanya tertunduk ke bawah, wajahnya mendadak murung seketika. "Iya, Mas. Tidak apa-apa. Tapi, nanti bisa dipastikan akan pulang jam berapa?"
"Aku tidak tahu. Ya sudah, aku harus segera berangkat," ujarnya lalu bergegas menuju mobilnya.
Tanpa aba-aba atau kode apapun, Ardana pergi begitu saja, membawa mobilnya membelah jalanan kota menuju kesatuan di SeskoAU.
Nayra menatap kepergian mobil berwarna navy itu dengan kecewa. Kecewa yang entah keberapa kali, ia pun tidak sempat menghitungnya.
Helaan napas dalam terdengar, Nayra menutup kembali pintu depan itu perlahan.
"Non Nayra, tamannya bisa saya bersihkan sekarang, kan?" Tiba-tiba sebuah suara perempuan paruh baya terdengar, menahan langkah kaki Nayra.
"Bi Mimin? Boleh Bi, lagian tamannya sudah banyak ditumbuhi rumput liar. Taman belakang saja dulu, Bi," balas Nayra dengan sikap ramah.
Bi Mimin merupakan ART paruh waktu, yang dibutuhkan sewaktu-waktu saja. Atau setiap dua minggu sekali diperbantukan di rumah ini untuk membantu Nayra membersihkan rumah. Sedangkan memasak dan mencuci pakaian serta menyetrika baju, Nayralah yang melakukan. Termasuk seragam loreng milik Ardana tadi.
"Baik, Non." Bi Mimin segera bergegas menuju samping kanan rumah, menuju taman belakang.
Nayra kembali melanjutkan langkahnya, ia menaiki tangga menuju kamarnya.
Nayra termenung di bibir ranjang, hari ini adalah tepat tiga tahun usia pernikahannya bersama Ardana. Dulu, satu dan dua tahun usia pernikahan, Nayra selalu memberikan kejutan anniversary terhadap Ardana. Membuat kue anniversary berkarakter cinta dengan lilin berwarna pink di atasnya, kemudian menyiapkan makan malam romantis atau candle light dinner berdua.
Namun, di kedua anniversary itu, sikap Ardana sama saja. Sama sekali tidak memperlihatkan bahagia. Ia tidak suka dengan surprise yang dianggapnya hanya buang-buang waktu dan tenaga. Nayra pikir, Ardana memang bukan tipe suami romantis, ia tidak suka merayakan moment penting, seperti ulang tahun pernikahan. Dia menganggapnya terlalu lebay.
Dan tahun ini, tahun ketiga pernikahan mereka. Tidak ada lagi kejutan itu, yang biasa Nayra lakukan.
"Aku tidak butuh kejutan seperti itu, hanya buang waktu dan duit. Mending kalau kamu beri aku kejutan, kehamilan misalnya," cetus Ardana tahun lalu dengan wajah tetap tidak berubah, dingin.
Hati Nayra tercubit, entah yang keberapa kalinya Ardana membahas tentang kehamilan yang tidak kunjung datang. Padahal baik dirinya dan Ardana dinyatakan sehat.
"Bagaimana bisa kehamilan itu cepat terjadi, kalau hubungan saja kami jarang?" curhatnya suatu kali di sebuah buku diary. Nayra tidak pernah bercerita mengenai masalah rumah tangganya pada siapapun, termasuk pada kedua orang tua maupun kakaknya. Baginya pantang bercerita urusan rumah tangga, toh yang menjalankan adalah mereka berdua.
Siang berganti senja, saat Bi Mimin berpamitan karena pekerjaannya sudah purna. Taman belakang dan depan sudah dibersihkannya dari rumput liar.
"Non Nayra, Bi Mimin pulang dulu. Terimakasih makanannya," ucap Bi Mimin berpamitan dengan bahagia, terlebih di tangannya selain memegang uang ia juga memegang kantong kresek berisi makanan dari Nayra.
Malam pun datang. Tepat jam sembilan malam, Nayra yang belum bisa memejamkan mata, menuruni ranjang. Ia bergegas menuju dapur karena kehausan. Nayra tidak sedang menunggu Ardana, sesuai pesan pria itu.
Setelah rasa haus itu hilang, sebelum tubuhnya berbalik menuju ruang tengah, Nayra mendengar deru halus mobil milik suaminya di halaman depan. Nayra terkejut, tadinya ia berpikir Ardana akan pulang lebih larut, tapi nyatanya tidak. Langkah Nayra memelan, bahkan ia sengaja membiarkan agar Ardana sampai lebih dulu di ruang tengah.
Suara Ardana terdengar, seperti sedang menerima sebuah panggilan.
Nayra berjalan mendekati tangga. Untuk menuju tangga, ia melewati ruang makan dan tengah. Saat suara Ardana semakin jelas di ruang tamu, tiba-tiba Nayra tergelitik penasaran, ingin menguping apa yang suaminya katakan.
"Besok bisa berjumpa lagi di jam istirahat. Mas istirahat dulu, ya. Bye Tiana," ujarnya, mengakhiri sambungan telpon itu dengan bahagia. Kemudian ponsel yang sudah Ardana jauhkan dari telinganya itu, ia tatap dalam-dalam dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Tiana...." desahnya penuh kerinduan.
Nayra menutup mulutnya kuat-kuat, dadanya bergemuruh hebat dan jantungnya berdetak kencang, air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja.
Baginya, kalimat yang suaminya ucapkan pada sosok Tiana itu seperti tidak biasa. Sementara ia, selama ini belum pernah mendapat perlakuan manis dari Ardana. Jangankan senyuman, sapaan lembut saja belum pernah.
"Siapakah Tiana?" gumamnya lirih, bertanya pada dirinya sendiri dengan perasaan sangat sedih.
"Nayra, kamu di sini? Kan sudah aku bilang tidak perlu menunggu aku pulang. Kamu ini keras kepala," ucap Ardana tiba-tiba.
Nayra sempat kaget, karena ia tidak sadar kalau Ardana sudah berada di ruang tengah. Ardana berlalu begitu saja setelah ia menyapa Nayra barusan. Tidak ada sikap manis apapun yang dilakukan Ardana, kecuali dingin.
Hari ulang tahun pernikahan yang ketiga ini, sepertinya tidak berbekas sama sekali bagi Ardana. Dia bahkan melewati Nayra begitu saja.
NB: Hai...selamat datang di karya baru saya. Pasti kalian bertanya-tanya, kenapa belum selesai kisah Syafira dan Haraz, sudah bikin karya baru?
Saya jawab, ya: "Kisah Syafira akan tetap saya upload sampai retensi benar-benar tercapai, sementara di statistik per bab 20, Noveltoon dengan cepat sudah menampilkan retensi karya saya dengan jumlah 0,57. Jauh dari kata terjangkau, harusnya 0,65. Selisihnya banyak banget, sehingga saya pesimis karya itu bakal lolos bab 20 terbaik.
Seandainya dalam tiga hari ke depan retensi masih jeblok, maka saya menyerah. Karena jujur saja, karya saya akan sia-sia dan tidak akan mendapatkan reward, meskipun kalian masih setia membaca.
Sebagai penulis yang pembaca dan pengikutnya masih minim kaya saya, sedih melihat ini. Bukan saya tidak mau bertanggung jawab pada kalian sebagai pembaca, tapi saya sebagai penulis butuh penghargaan dari Noveltoon. Bisa sih saya lanjutkan kisah itu sampai 80 bab, tapi jujur saja, saya hanya akan buang-buang kuota begitu saja. Terlebih kuota IM3, saat ini sangat mahal. Ya Allah, sampai segitunya saya curhar.
Tapi tenang, karya Syafira kalau masih belum tercapai retensi juga, maka insya Allah akan saya pindahkan ke akun saya yang lain, tapi menunggu satu bulan, baru saya up kembali di akun saya yang satunya lagi. Mohon pengertian kalian. Saya hanya seorang penulis yang masih minim pembaca, yang berharap karya saya ini dihargai Noveltoon.
Tolong, dukung karya baru saya, ya. 🙏🙏🙏🙏😢😢😢😢
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...