#KARYA ORIGINAL!!!!
Update tiap hari
Dalam pertarungan melawan salah satu beast terkuat, Mo Yuan terbunuh akibat serangan bunuh diri beast itu. Padahal, dia baru saja mengetahui dalang dari insiden terbunuhnya istrinya, namun belum sempat balas dendam. Saat kondisi kritis, gelang peninggalan orang tuanya bersinar dan membangkitkan sebuah sistem!
Untuk menyelamatkan tuan barunya, sistem memutar kembali waktu ke masa saat Mo Yuan baru saja keluar dari panti asuhan diumur 15 tahun.
Karena telah diberikan kesempatan kedua, Mo Yuan bertekad untuk bertambah dan membalas orang yang menjadi dalang pembunuh istrinya. Untuk itu, ia mengumpulkan orang-orang berbakat dan membentuk organisasi rahasia miliknya. Ia berkembang diam-diam sebelum akhirnya menggemparkan dunia.
Dengan informasi dari masa depan dan juga bantuan dari sistem, Mo Yuan berkembang dalam kecepatan luar biasa!
Penasaran dengan kelanjutan, silangkan baca sendiri!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur_Afif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 – Murid kedua
"Panas... Panas... Panas sekali!...."
Seorang pemuda meringkuk kesakitan, ia terus bergumam tanpa henti. Tubuhnya diselimuti oleh api merah yang berkobar ganas.
"Kapan neraka ini akan berakhir?!..."
Tiba-tiba, beberapa ingatan tidak mengenakan terlintas di benaknya. Ia teringat saat tidak sengaja membakar desa hingga hangus tak tersisa dan membunuh semua penduduk, termasuk kedua orang tuanya.
Air matanya keluar tanpa sadar dan mengalir ke pelipisnya. "Maafkan aku ayah... Ibu... Paman... Dan yang lain..."
"Andai saja aku bisa mengendalikan kekuatanku, hal itu pasti tidak akan terjadi!..." gumamnya dengan sedih.
"Maafkan aku, ayah... Ibu... Aku sudah berusaha tapi masih belum mampu... Bahkan sekarang aku tidak tahu apa yang terjadi di luar dan juga tubuhku..."
Tanpa diduga, terdengar seseorang yang memanggil namanya, "Yan Zhu!... Yan Zhu!..."
"Ayah?!... Ibu?!..." Yan Zhu berusaha bangkit walau masih merintih kesakitan. Ia berjalan ke sana-kemari, mencari asal suara. Namun setelah pencarian yang lama, ia tidak menemukan siapapun.
"Yan Zhu!... Yan Zhu!..."
Panggilan itu kembali terdengar, bahkan semakin jelas.
"Egh!... Aku tidak salah dengar!..." ucapnya. Ia kemudian berteriak keras, berharap ada yang menjawab. "Siapa di sana!..."
Namun, hasilnya nihil. Tidak ada jawaban, hanya memanggil namanya. Lagi, lagi dan lagi.
Yan Zhu bertekuk lutut, ia lelah dan pasrah. Akan tetapi, harapan kembali muncul. Api yang menyelimutinya perlahan padam, ia tidak merasakan panas lagi. Semua rasa sakit yang dirasakannya digantikan oleh rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Ada apa ini?!..." Yan Zhu bertanya-tanya. "Ah... Sepertinya aku paham... Tubuhku pasti sudah tidak mampu lagi..." ia berspekulasi yang tidak-tidak.
"Pasti ayah dan ibu yang memanggilku dari tadi..."
Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit yang kosong. Matanya perlahan memejam, ia tidak sabar untuk segera bertemu dengan kedua orang tuanya.
...***...
Di dalam goa, puncak gunung Yanmang.
Mo Yuan mengamati sekujur tubuh pemuda di depannya. "Untungnya tidak separah yang aku duga... Seharusnya masih bisa aku sembuhkan."
Ia jongkok dan memegang salah satu tangan Yan Zhu yang sudah gosong. Tangan Mo Yuan bersinar kehijauan, "Wood Manipulation!"
Perlahan tapi pasti, tangan Yan Zhu kembali pulih seperti semula. Semua luka bakarnya menghilang tanpa sisa, seperti tidak pernah ada.
"Fyuh!..." Mo Yuan sedikit lega. "Ini lebih menguras tenaga dari yang aku perkirakan. Aku masih lemah sekali, untuk hal sepele seperti ini saja kesusahan!" ia mengepal erat tangannya, "Aku harus bertambah lebih kuat!"
Setelah istirahat sebentar, Mo Yuan menuju lengan yang lain untuk disembuhkan. Kemudian, ia menyembuhkan kedua kaki Yan Zhu yang tidak kalah parahnya.
"Hah... Hah..." Mo Yuan terengah-engah. "Akhirnya selesai!... Tapi ini masih penanganan pertama...."
Ia menatap tangan sendiri, "Kekuatanku yang sekarang belum mampu untuk menyembuhkannya penuh."
"Sekarang... Tinggal menunggu bocah ini bangun..." ucapnya. Yah, itu kurang tepat untuk memanggilnya bocah, padahal dia lebih muda. Setidaknya umur mentalnya lebih tua.
Mo Yuan menunggu Yan Zhu bangun sekaligus beristirahat. Bahkan disaat seperti ini, ia masih tidak melepas pemberat yang dikenakannya. Sungguh latihan yang totalitas.
Satu jam kemudian.
Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Mo Yuan mendekati Yan Zhu yang masih belum bangun.
"Ada apa dengan bocah ini? Jelas-jelas kondisinya sekarang sudah stabil, tapi kenapa tidak bangun-bangun?!" gumam Mo Yuan.
"Yan Zhu!... Yan Zhu!..." panggilnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yan Zhu. Tapi itu masih belum membangunkannya.
Mo Yuan kembali memanggil, kali ini ia sambil menampar pipi, "Yan Zhu!... Yan Zhu!..."
Dan lagi-lagi, Yan Zhu masih tidak bangun. Mo Yuan kembali memanggil dan menggunakan berbagai cara untuk membangunkannya, namun tetap saja tidak ada hasil.
Merasa kesal, Mo Yuan bangkit dan hendak pergi. Tapi tiba-tiba...
Mata Yan Zhu terbuka secara sekejap, tatapannya menunjukkan kebingungan. "Di mana ini? Kenapa kabur sekali!..." mungkin karena efek samping kehilangan kendali, pandangannya sedikit kabur.
"Akhirnya kau bangun bocah!" ucap Mo Yuan sedikit lega.
Mendengar suara itu, Yan Zhu menoleh dan mendongakkan kepalanya. Karena pandangannya masih kabur, ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang yang didepannya.
Tanpa sadar, air matanya menetes, "A-ayah!..." Yan Zhu memeluk kaki Mo Yuan dengan erat dan tidak mau melepasnya.
Mo Yuan tidak berdaya melihatnya, ia hanya berdiam diri. Sampai akhirnya, Yan Zhu melepaskan pelukannya sendiri.
"Ayah, dimana ibu?" tanya Yan Zhu.
"Siapa yang kau panggil ayah, bocah nakal?!..." ucap Mo Yuan.
"Huh...?!" Yan Zhu terkejut. "Kalau diingat-ingat, suara ayah terdengar lebih berat." pikirnya dalam hati.
"Siapa kau?!..." tanyanya. "Mata sialan, kenapa buram segala!..."
"Aku mastermu!" ucap Mo Yuan dengan tegas namun juga santai.
"Master?! Sejak kapan aku punya master?!" pikir Yan Zhu. Ia mengucek matanya agar pandangannya kembali jelas.
Setelah pandangannya kembali, ia mendongak keatas untuk melihat wajah orang yang didepannya. "Seorang anak kecil?" satu kalimat yang terlintas di benaknya saat melihat Mo Yuan.
Mendengar itu, Mo Yuan sedikit jengkel. Namun ia tidak bisa menyangkalnya, bagaimanapun itu faktanya. Umur tubuhnya sekarang hanyalah 15 tahun.
"Kenapa anak kecil bisa ada di sini? Bagaimana kau bisa sampai di sini nak?" tanya Yan Zhu sambil berdiri.
Mo Yuan makin jengkel, "Walau aku masih anak kecil, tapi aku cukup kuat untuk menghajar mu sampai babak belur."
Mendengar itu, bukannya takut, Yan Zhu malahan terkekeh kecil. "Iya iya..." ucapnya sambil mengelus kepala Mo Yuan.
Tinggi badannya sekitar 180 cm, jadi mudah saja untuk mengelus kepala Mo Yuan yang tingginya hanya 160 cm.
"Tidak percaya?! Mau coba?!.." ucap Mo Yuan dengan jengkel.
"Haha..." Yan Zhu tertawa. "Iya, sini pukul ka–"
Sebelum sempat selesai berbicara, tubuhnya sudah terbang.
Swish!... Dbrak!...
"???" jelas ia kebingungan. "Egh!..."
"Apa yang terjadi?" gumam Yan Zhu tidak percaya melihat apa yang sudah terjadi. Ia menoleh ke arah Mo Yuan dan menatapnya dengan kebingungan, "Dari mana ia mendapatkan kekuatan sebesar itu dari tubuh kecilnya?!"
Mo Yuan berjalan mendekat, "Sekarang sudah paham?!"
Yan Zhu hanya mengangguk.
Tangan Mo Yuan sedikit terangkat, menggunakan skill Wood Manipulation untuk menyembuhkan luka calon murid keduanya.
"Karena sudah paham, bisa kita bicara sekarang?" ucap Mo Yuan tenang. Tangannya melambai sedikit dan tanah terangkat membentuk meja beserta dua kursi. Mereka berdua duduk berhadapan.
"Aku langsung ke intinya, jadilah muridku!" kata Mo Yuan.
"!!!!" Yan Zhu sangat terkejut. "Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, tapi ada satu yang paling penting. Apa keuntungannya bagiku?!"
"Aku sudah menyegel Core-mu!" satu kalimat singkat, tapi itu sudah cukup untuk menjawab banyak pertanyaan Yan Zhu.
"Jadi itu alasan kenapa aku tidak bisa merasakan Veyra-ku dan ability-ku tidak lepas kendali lagi!" pikir Yan Zhu. "Dia tidak hanya sudah menyelamatkanku, tapi juga menghilangkan mimpi burukku!"
Mo Yuan menambahi, "Aku juga bisa menyelesaikan masalahmu dan membuatmu menjadi kuat!"
"Hah..." Yan Zhu menghela napas. "Kondisiku sekarang sudah cukup. Aku tidak ingin lepas kendali dan melukai orang-orang tidak bersalah!"
"Kau yakin?" tanya Mo Yuan. "Apa kau pikir orang tuamu dan warga desa menginginkan kau hidup seperti itu?"
"!!!" Yan Zhu semakin terkejut, ia menundukkan kepalanya. "Seberapa banyak yang kau tahu?" tanyanya pelan.
"Hanya itu yang aku tau, tidak banyak," jelas Mo Yuan. "Jadi, bagaimana keputusanmu?"
"Apa yang kau bicarakan itu beneran?!" tanya Yan Zhu dengan serius.
Mo Yuan tersenyum tipis, "Aku mempertaruhkan harga diriku!"
Mendengar itu, Yan Zhu langsung bangkit kemudian bersujud, "Murid bertemu master!" ia bersujud sebanyak tiga kali sebagai penghormatan.
"Tolong buat saya menjadi kuat dan melepaskan diri dari kutukan ini! Saya ingin bebas dan membayar dosa saya!" ucapnya dengan penuh semangat.
Mo Yuan tersenyum, "Aku suka semangatmu!"