Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINAMIKA DOMESTIK DAN DIAGNOSA AYAH BARU
Kehidupan pasca-kelahiran Arlo ternyata jauh lebih kompleks daripada prosedur kraniotomi tersulit yang pernah dilakukan Devan. Jika di rumah sakit Devan adalah penguasa mutlak yang perintahnya dituruti dalam hitungan detik, di rumah, ia hanyalah seorang asisten yang sering kali mendapatkan "malpraktik" domestik.
Pukul dua pagi, suasana apartemen yang biasanya sunyi berubah menjadi arena konser tangisan bayi. Devan, yang baru saja memejamkan mata setelah sif malam yang panjang, langsung duduk tegak dengan mata merah.
"Kania, frekuensi tangisannya ada di kisaran 400 hertz. Secara teori, itu menandakan ketidaknyamanan pada area abdominal atau popok yang sudah mencapai kapasitas maksimal," gumam Devan dengan suara serak, matanya masih setengah tertutup.
Kania, yang rambutnya sudah menyerupai sarang burung karena kurang tidur, hanya menyodorkan botol susu yang sudah kosong ke arah suaminya. "Dokter... tolong jangan kasih kuliah statistik sekarang. Tolong cek popoknya aja. Aku... aku mau pingsan lima menit."
Dengan langkah gontai, sang dokter bedah saraf ternama itu berjalan menuju boks bayi. Di sana, Arlo kecil sedang menendang-nendang dengan semangat. Devan menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Ia membuka popok Arlo dengan ketelitian yang sama seperti saat ia membuka selaput otak.
"Oke, Arlo. Kita lakukan dekompresi popok sekarang. *Scalpel*... maksud saya, tisu basah," ucap Devan pada dirinya sendiri.
Namun, tepat saat ia baru saja membuka popok yang lama, Arlo memutuskan untuk memberikan "hadiah" tambahan berupa pancuran air seni yang tepat sasaran mengenai kemeja kerja Devan yang belum sempat ia ganti.
Devan mematung. "Kontaminasi biologis terdeteksi," bisiknya datar.
Kania, yang tadinya mau tidur, mendadak tertawa terpingkal-pingkal dari balik selimut. "Tuh kan! Arlo tahu kalau Papanya terlalu kaku. Dia cuma mau kasih Dokter sedikit 'penyegaran'!"
Minggu-minggu awal menjadi orang tua baru adalah ujian sesungguhnya bagi pernikahan mereka. Devan tetap harus bekerja di rumah sakit karena kekurangan tenaga spesialis, sementara Kania mulai merasakan kejenuhan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu di sela-sela cuti asisten legalnya.
Suatu sore, Devan pulang membawa sebuah kotak besar. Ia menemukan Kania sedang duduk di lantai, dikelilingi oleh tumpukan cucian bayi dan buku hukum yang terbuka setengah. Wajahnya tampak sangat lelah.
"Kania, saya membawa sesuatu," ucap Devan lembut. Ia meletakkan kotak itu di meja.
"Apa itu, Dok? Alat medis baru lagi?" tanya Kania tanpa minat.
"Bukan. Ini adalah sistem pemantauan bayi terintegrasi yang saya kembangkan dengan tim IT rumah sakit. Kamera ini memiliki sensor suhu, deteksi gerakan pernapasan, dan analisis tangisan. Dengan ini, kamu tidak perlu terus-menerus cemas saat Arlo tidur di kamar sebelah, dan kamu bisa mulai membaca kembali berkas-berkas kantormu."
Kania menatap alat itu, lalu menatap Devan. Air matanya tiba-tiba tumpah.
"Eh? Kenapa menangis? Apa ada kesalahan pada spesifikasinya?" Devan langsung panik, berlutut di depan istrinya.
"Enggak, Dok... makasih. Dokter emang kaku, tapi Dokter selalu tahu cara nyelametin aku dari kegilaan," Kania memeluk leher Devan erat-erat. "Aku kangen kerja, Dok. Aku kangen debat sama orang di pengadilan. Tapi aku juga nggak mau ninggalin Arlo."
"Saya tahu. Karena itu, saya sudah bicara dengan atasanmu. Kamu bisa bekerja secara remote tiga hari seminggu. Dan untuk dua hari sisanya, saya akan mengatur jadwal operasi saya agar saya bisa menjaga Arlo. Kita adalah tim, Kania. Tidak ada yang boleh merasa berjuang sendirian."
Namun, tantangan sebenarnya muncul saat dr. Sarah datang berkunjung untuk urusan pekerjaan yang mendesak. Ia membawa tumpukan dokumen riset yang harus ditandatangani Devan segera.
Saat Sarah masuk ke apartemen, ia melihat pemandangan yang sangat kontras. Devan sedang memakai celemek bermotif bunga milik Kania, menggendong Arlo dengan kain jarik, sambil mencoba membaca dokumen riset di tangannya.
"Devan? Kamu... memakai celemek?" Sarah hampir tidak bisa menahan ekspresinya.
"Ini efisien, Sarah. Menjaga baju saya tetap bersih dari gumoh bayi sambil tetap bisa menjalankan kewajiban domestik," jawab Devan tenang, seolah-olah ia sedang memakai jas operasi yang paling bergengsi.
Kania keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi teh dan camilan. "Eh, ada Dokter Sarah. Silakan duduk, Dok. Maaf ya, rumahnya lagi kayak kapal pecah."
Sarah menatap Kania, lalu menatap Devan yang sedang menimang Arlo dengan sangat telaten. Ada rasa perih yang sempat melintas di hatinya, namun ia segera menepisnya. Ia melihat betapa Devan yang sekarang jauh lebih "hidup" daripada Devan yang dulu ia kenal.
"Kalian benar-benar berubah ya," ucap Sarah lirih. "Dulu aku pikir Devan akan berakhir di laboratorium selamanya."
"Perubahan itu bagian dari evolusi, Sarah. Dan saya rasa, saya menyukai versi saya yang sekarang," sahut Devan sambil mengecup dahi Arlo yang mulai tertidur.
Malam harinya, setelah Sarah pulang dan Arlo sudah nyenyak, Devan dan Kania duduk di balkon seperti biasa.
"Dok, makasih ya buat semuanya hari ini," bisik Kania.
"Sama-sama. Tapi Kania, ada satu hal yang mengganggu pikiran saya."
"Apa itu?"
"Analisis tangisan Arlo tadi sore. Sepertinya dia memiliki tipe vokal yang sangat kuat. Saya khawatir jika dia besar nanti, dia tidak hanya akan berdebat dengan saya, tapi juga dengan seluruh sistem di rumah sakit ini."
Kania tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Ya bagus dong! Berarti dia bakal jadi pembela kebenaran yang hebat. Kayak Papanya, tapi versi yang lebih pinter ngomong."
Devan menarik Kania ke dalam pelukannya. Di bawah langit malam Jakarta, ia menyadari bahwa kebahagiaan bukan lagi soal angka keberhasilan operasi atau plakat penghargaan. Kebahagiaan adalah saat ia bisa pulang ke rumah, melihat istrinya tersenyum, dan merasakan jemari kecil putranya menggenggam kelingkingnya.
"Janji kelingking, Kania?"
"Janji apa lagi, Dok?"
"Janji kalau kita akan selalu seperti ini. Berisik, kacau, tapi penuh dengan oksitosin."
Kania tertawa dan mengaitkan kelingkingnya. "Janji, Dokter Es!"
Namun, momen romantis itu terputus saat suara tangisan kencang kembali terdengar dari dalam kamar.
"Diagnosa baru: Arlo lapar lagi," desah Devan sambil bangkit berdiri.
"Ayo, Pak Dokter! Tugas negara memanggil!" Kania mendorong punggung Devan dengan ceria.
Perjalanan mereka masih sangat panjang, penuh dengan popok kotor, malam-malam tanpa tidur, dan perdebatan konyol. Namun bagi Devan, ini adalah kasus paling indah yang pernah ia tangani sepanjang hidupnya.