papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.
keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jahilin zavira
Suasana di lapangan basket sangat ceria dan ramai. Seluruh siswa kelas XII IPA ¹ sedang dibagi menjadi dua tim besar untuk bermain basket sesuai perintah Guru BK. Tim putri diketuai oleh Zavira yang terlihat sangat sporty dan energik, sementara tim putra dipimpin langsung oleh Youjin!
"Oke anak-anak, mainnya yang sportif ya! Jangan sampai ada yang jatuh atau berantem!" seru Guru BK dari pinggir lapangan.
Pertandingan berjalan cukup seru. Zavira berlari cepat mengejar bola, matanya fokus menembak ke arah ring. Tapi saat dia sedang berusaha merebut bola, tiba-tiba Gio salah satu teman cowok yang iseng sengaja menyenggol bahunya dengan keras.
BRUK!
"Ups, maaf ya Zavira! Gak sengaja!" seru Gio sambil terkekeh, jelas-jelas itu disengaja.
Zavira kehilangan keseimbangan. Badannya terhuyung ke belakang, mata nya terpejam erat siap-siap jatuh terbentur tanah.
'"Aduh...'"
Namun, sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang tangan kuat dengan sigap menangkap pinggangnya. Zavira membuka mata dan mendapati dirinya kini berada dalam pelukan Youjin.
Waktu seolah berhenti. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Youjin menatap Zavira dengan mata khawatir, sementara Zavira terpaku menatap manik mata cokelat itu.
"lo nggak apa-apa?" tanya Youjin pelan, suaranya lembut sekali. Bahasanya agak terbata-bata karena gugup. "Jatuh... sakit?"
Mereka berdua tetap dalam posisi itu lebih lama dari yang seharusnya. Youjin bahkan tidak segera melepaskan pelukannya, seolah enggan melepaskan gadis itu. Zavira pun merasa jantungnya berdegup kencang, lupa untuk segera berdiri tegak.
Suasana jadi hening sejenak, beberapa siswa mulai melihat ke arah mereka dan mulai berbisik-bisik.
"Ciee... romantis banget sih!"
"Wah, Youjin sigap banget ya!"
Di pojok lapangan, Elvaro melihat pemandangan itu dari jauh. Wajahnya datar, tapi tangannya mengepal kuat. Cemburu dan marah mulai memuncak, tapi dia sadar posisinya sebagai ketua OSIS dan juga suami yang harus menjaga image. Dia tidak boleh menunjukkan emosi berlebihan agar orang lain tidak curiga ada hubungan khusus antara dirinya dan Zavira.
Dengan langkah tenang dan wajah profesional, Elvaro berjalan mendekat ke tengah lapangan.
"Oke, oke, istirahat sebentar!" seru Elvaro dengan suara lantang dan wibawa, seolah-olah dia yang menjadi wasit.
Dia berdiri di antara Zavira dan Youjin, memisahkan mereka secara halus tapi tegas.
"Youjin, sebagai ketua tim cowok harusnya lo tetap jaga profesionalitas dong," kata Elvaro santai tapi menekan. "Bantu teman itu wajar, tapi jangan sampai hold terlalu lama. Nanti malah jadi ganggu permainan dan teman-teman yang lain pada nontonin kalian terus."
Kemudian Elvaro menoleh ke arah Zavira, suaranya tetap dingin dan formal.
"Zavira juga, hati-hati kalau main. Jangan sampai kecelakaan terus, nanti malah tim cewek kekurangan pemain. Cepet kembali ke posisi, permainan lanjut!"
Youjin sedikit kaget dan menggaruk kepalanya. Youjin melepaskan pelukannya perlahan dan membantu Zavira berdiri tegak dengan sopan.
Zavira menghela napas, sedikit kecewa karena momen manisnya terputus, tapi dia sadar Elvaro benar. Kalau dibiarkan terus, pasti orang akan makin curiga.
"Makasih, Jin," bisik Zavira pelan, lalu segera mundur ke tempatnya.
Elvaro menyeringai tipis dalam hati. " gue makin curiga kalo zavira,cewek yang Lo maksud batinnya.
***
Mobil mewah itu berhenti di halaman rumah. Elvaro masuk ke dalam dengan langkah pelan. Rumah terasa sepi dan tenang, berbeda dengan suasana hatinya yang sedang kacau.
Saat melangkah masuk ke ruang tamu, matanya langsung tertuju pada sosok yang sedang berbaring santai di sofa panjang. Zavira.
Gadis itu sedang meringkuk dengan selimut tipis, matanya fokus menatap layar televisi yang sedang menayangkan adegan romantis dari sebuah Drakor. Popcorn ada di sebelahnya, dan wajahnya terlihat sangat tenang, jauh dari ekspresi marah atau tajam yang biasa dia tunjukkan.
Elvaro berhenti sejenak di ambang pintu, memperhatikan istrinya itu dari kejauhan.
"Hm... akhir-akhir ini dia berubah ya," batin Elvaro.
Dulu, setiap kali mereka bertemu, yang ada hanyalah cekcok, kata-kata tajam, dan saling menyakiti. Tapi belakangan ini, Zavira jadi lebih pendiam, jarang mengejeknya, bahkan sikapnya terlihat biasa saja seolah tidak ada masalah besar di antara mereka.
Anehnya, perubahan itu justru membuat hati Elvaro terasa ada yang kurang. Ada rasa aneh yang menjalar di dadanya... rasa rindu akan keributan mereka dulu? Atau rindu akan perhatian Zavira, walau itu perhatian dalam bentuk marah-marah?
Elvaro menghela napas pelan, lalu berjalan mendekat dan duduk di sofa seberang, tetap menjaga jarak. Matanya ikut menatap layar TV.
Di sana, terlihat aktor utama Drakor itu sedang bersikap sangat manis dan protektif kepada pasangannya. Wajahnya tampan, senyumnya menenangkan, dan perlakuannya sangat lembut.
"Pantesan aja cewek-cewek pada klepek-klepek," pikir Elvaro sinis tapi mengakui kenyataan. "Emang sih, tampan, baik, perhatian... siapa juga yang nggak suka tipe cowok kayak gini."
Tiba-tiba, otak Elvaro menghubungkan satu pemikiran. Matanya menyipit melihat layar TV, lalu menoleh lagi ke arah Zavira yang sedang tersenyum-senyum sendiri melihat adegan itu.
"Youjin..."
Nama itu muncul begitu saja di kepalanya. Youjin adalah teman dekatnya, teman sekelasnya, dan dia asli keturunan Korea. Secara fisik, Youjin juga tampan, matanya sipit, kulitnya putih, dan... ya, sikapnya juga sangat mirip dengan oppa di TV itu. Lembut, perhatian, dan selalu baik pada semua orang.
Bedanya mungkin cuma satu, Youjin kadang terlihat cuek dan bahasanya masih sering belepotan. Tapi secara keseluruhan... Youjin adalah tipe "Oppa" idaman yang nyata.
Elvaro menelan ludah, dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
"Zavira kan juga suka banget sama hal-hal Korea..."batinnya mulai bertanya-tanya. "Jangan-jangan... dia juga suka sama produk Korea yang satu ini? Yang udah tinggal satu negara, satu sekolah, bahkan satu kelas sama dia?".
Bayangan bagaimana Youjin menolong Zavira di lapangan tadi, bagaimana mereka sering terlihat tertawa berdua, dan bagaimana Zavira terlihat bahagia saat bersama pemuda itu... semua itu berputar di kepala Elvaro.
"Em..." Zavira bergeser sedikit, masih belum sadar kalau suaminya sudah lama memperhatikannya.
Elvaro segera membuang muka, berpura-pura sibuk mengambil HP-nya, tapi pikirannya masih terus menerornya sendiri.
Elvaro mendengus kesal melihat Zavira yang begitu terbuai dengan adegan romantis di TV. Tanpa pikir panjang, tangannya dengan santai meraih remot yang ada di meja depan mereka.
KLIK!
Dengan satu gerakan cepat, saluran TV diganti. Gambar oppa tampan yang tadi sedang menyatakan cinta langsung hilang, berganti dengan adegan ledakan bom, tembakan meriam, dan tentara yang sedang berperang habis-habisan. Suara dorr-dorr ledakan langsung memekakkan telinga.
"HEH?!"
Zavira yang tadinya tersenyum-senyum malu langsung melompat duduk. Matanya membelalak menatap layar TV yang berubah total, lalu menatap tajam ke arah Elvaro.
"LO GILA YA, El ?!" teriak Zavira sambil meremas bantal sofa. "GUE LAGI ASIK NONTON SWEET SCENE, NGAPAIN SIH LO GANTI GITU AJA?!"
Elvaro menyandar santai, kakinya disilangkan, dan melempar remot sembarangan ke atas meja. Wajahnya terlihat sangat puas dan sedikit menggoda.
"Bosen ah nonton cium-ciuman melulu. Lebih bagus ini, seru. Ada aksinya," jawab Elvaro santai padahal hatinya lagi cemburu buta.
"Seru apanya?! GANTI BALIK CEPET! ITU EPISODE PALING ROMANTIS ,LO TAU GAK?!" Zavira langsung beranjak dan mencoba merebut remot dari tangan Elvaro.
Tapi Elvaro lebih cepat dan lebih kuat. Dia menahan tangan Zavira dengan mudah.
"Udah ah, nonton ini aja. Gue juga mau nonton," kata Elvaro menolak.
"GAK MAU! GANTI BALIK!!" Zavira makin geram. Emosinya meledak. Dia mendorong bahu Elvaro dengan kuat, mencoba mengambil alih.
"LEPASIN! JANGAN NGEGANGGU HIDUP GUE!"
"LO SENDIRI YANG NGEGANGGU GUE!"
Akhirnya, terjadilah keributan kecil di ruang tamu. Mereka saling tarik-menarik remot, saling dorong, dan saling berebut kekuasaan atas TV. Zavira memukul pelan lengan Elvaro, sementara Elvaro tertawa mengejek tapi tetap berusaha mempertahankan saluran itu.
"ARGH SIALAN LO!" Zavira benar-benar sudah naik darah. Wajahnya memerah padam karena emosi.
Dalam keributan itu, Elvaro akhirnya berhasil menahan kedua pergelangan tangan Zavira agar tidak memukulinya lagi. Posisi mereka sekarang sangat dekat, napas mereka memburu karena capek berkelahi.
Zavira masih meronta-ronta, matanya melotot penuh kebencian. "LEPASIN GUE ELVARO! LO ITU NYESELIN BANGET SIH"
Elvaro menatap mata Zavira dalam-dalam, suaranya turun jadi rendah dan tegas.
"Udah, diem dulu!" bentak Elvaro pelan. Lalu dengan nada yang penuh kepemilikan, dia berkata, "INI KAN RUMAH GUE! TV JUGA MILIK GUE! JADI GUE BERHAK GANTI SALURAN KEMANA AJA YANG GUE MAU!"
Zavira tertekan sejenak mendengar kalimat itu. Benar juga, dia tinggal di rumah Elvaro, semua fasilitas ini milik suaminya yang sombong itu.
Tapi bukannya takut, Zavira malah makin kesal.
"HUUH SOMBONG! MENDING GUE MASUK KAMAR AJA DARIPADA LIAT MUKA LO YANG BIKIN EMES!"
Zavira melepaskan tangannya dengan kasar, lalu berbalik badan dan berjalan cepat menuju kamar sambil membanting pintu sekuat tenaga.
DUG!
Elvaro tersenyum miring sendirian di ruang tamu.
"Nah, gini kan enak. Jadi inget lagi siapa bosnya di sini," gumamnya, tapi entah kenapa setelah Zavira pergi, dia malah tidak fokus nonton film perangnya. Matanya malah menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
\*\*\*
jangan lupa di vote ya gaisyy.
lanjut bab selanjutnya 🤗