NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Di meja makan yang sederhana namun penuh cinta itu, Marsha merasa seluruh energinya kembali pulih. Di luar sana, mungkin ada ancaman dari putra mafia atau kerumitannya sebagai ahli waris Halvard, tapi di dalam sini, ia hanyalah Marsha, putri kesayangan Erlan dan Shafira yang sedang menikmati sayur lodeh dengan perasaan paling aman di dunia.

Tawa renyah Erlan pecah, memenuhi ruang makan yang hangat itu. Ia membayangkan bagaimana wajah serius Marsha di rumah sakit tadi alis yang berkerut tajam dan nada bicara yang dingin namun mematikan, sangat kontras dengan sosok manja yang sekarang sedang mengeluh di depannya.

"Setipis tisu, ya?" Shafira menaikkan alisnya sambil meletakkan semangkuk sayur lodeh yang mengepul di tengah meja. Ia melirik Erlan dengan pura-pura tersinggung. "Wah, Daddy cari masalah ini. Tapi ya, Daddy benar. Marsha kalau sudah menghadapi orang bebal memang tidak bisa pakai basa-basi."

Marsha mendengus, namun sudut bibirnya ikut terangkat. "Habisnya, Mom... Dia pikir luka di kepalanya bisa sembuh sendiri pakai uang? Untung saja tanganku tadi tidak 'sengaja' jahitnya miring-miring."

"Huss, Dokter tidak boleh begitu," tegur Erlan lembut namun penuh canda. Ia mengambilkan nasi untuk Marsha, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali putrinya pulang. "Tapi Daddy bangga. Kamu tetap profesional meskipun tensimu tadi pasti naik ke ubun-ubun."

Shafira duduk di samping Marsha, mengusap punggung tangan putrinya. "Itu namanya *boundaries*, Sayang. Meskipun kamu sedang berproses mengenal keluarga Halvard yang penuh dengan kekuasaan dan materi, kamu tetap tidak membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirimu sebagai dokter. Itu yang paling penting."

Suasana makan malam itu terasa sangat intim. Tidak ada pelayan berseragam, tidak ada protokol makan yang kaku, hanya suara denting sendok dan obrolan ringan tentang keseharian mereka. "Oh ya, tadi Daddy sempat lihat mobil Archio di depan," Erlan membuka percakapan sambil menyuap makanannya. "Dia sepertinya sangat menjagamu, Marsha. Meskipun caranya sedikit... berlebihan bagi kita, tapi Daddy lihat mereka benar-benar ingin menebus waktu yang hilang."

Marsha terdiam sejenak, menatap kuah lodeh di piringnya. "Iya, Dad. Mereka baik, dengan cara mereka sendiri. Tapi tetap saja, pas sampai di depan pagar rumah ini, rasanya nafasku baru bisa plong sepenuhnya."

Erlan dan Shafira saling berpandangan, tersenyum penuh arti. Mereka tahu, meski dunia luar mulai menarik-narik Marsha ke dalam pusaran kekayaan dan bahaya, bagi Marsha, rumah tetaplah tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu menjadi formal.

"Makan yang banyak, Dokter," ucap Erlan hangat. "Besok ada jadwal operasi lagi, kan? Kamu butuh tenaga ekstra untuk menghadapi pasien 'arogan' lainnya."

Tawa mereka kembali pecah, menghapus sisa-sisa ketegangan yang dibawa Marsha dari rumah sakit. Di luar sana, dunia mungkin sedang mengincar Marsha, tapi di dalam ruang makan ini, ia adalah penguasa mutlak di hati Erlan dan Shafira.

Di kediaman Halvard yang megah, suasana justru terasa sunyi dan dingin berbanding terbalik dengan kehangatan di rumah keluarga Dominic. Lampu-lampu gantung kristal yang mewah seolah tidak mampu menerangi mendung yang menggelayut di wajah Andreas.

Archio melangkah masuk, meletakkan kunci mobilnya di atas meja marmer, dan mendapati ayahnya masih duduk di kursi yang sama sejak Marsha pergi. Di depan Andreas, masih ada cangkir teh yang sudah mendingin dan buku ensiklopedia lama yang sempat dipeluk Marsha tadi malam.

"Ayah, jangan sedih," ucap Archio pelan, mendekat dan duduk di kursi seberang ayahnya. "Dia hanya pulang untuk istirahat di tempat yang menurutnya nyaman saat ini. Nanti di akhir pekan, Marsha akan menginap lagi di sini. Aku sudah memastikan dia sampai dengan selamat."

Andreas mendongak, matanya yang biasa tajam kini terlihat lelah. "Dia memanggil Erlan dengan sebutan 'Daddy', Archio. Suaranya terdengar begitu renyah saat mengucapkan nama itu. Sedangkan padaku... dia masih tampak ragu, seolah aku adalah orang asing yang tak sengaja ia kenali."

Archio tersenyum tipis, mencoba menghibur ayahnya dengan logika. "Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar, Yah. Dokter Erlan adalah orang yang mengajarinya berjalan dan mengobati luka pertamanya. Tapi Ayah lihat sendiri tadi pagi, kan? Dia memakan bubur buatan Ayah sampai habis. Dia merespons cinta Ayah, meski butuh waktu untuk hatinya benar-benar sinkron dengan rumah ini."

Andreas mengusap permukaan buku tua di depannya. "Ayah tahu. Ayah hanya takut waktu tidak memberiku kesempatan yang cukup untuk menebus semuanya."

"Dia adikku, Yah. Darah Halvard yang mengalir di tubuhnya itu keras kepala," lanjut Archio dengan nada jenaka yang sedikit dipaksakan. "Lihat saja tadi di UGD, dia berani membentak putra Theodore tanpa kedip. Dia punya keberanian Ayah, tapi punya kelembutan yang dia pelajari dari keluarga itu. Kita hanya perlu bersabar."

Andreas menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak di dadanya. "Akhir pekan, katamu? Berarti tiga hari lagi?"

"Tiga hari lagi," Archio mengangguk pasti. "Dan kali ini, aku akan memastikan tidak ada drama 'mafia' atau interupsi bisnis yang mengganggu. Kita akan menjadi keluarga yang dia inginkan, meski harus pelan-pelan."

Andreas akhirnya mengangguk kecil. Ia berdiri, meski langkahnya masih terasa berat. "Baiklah. Beritahu koki untuk menyiapkan bahan makanan terbaik untuk akhir pekan nanti. Dan Archio terima kasih sudah menjaganya dari jauh tadi."

Archio hanya mengangguk, menatap punggung ayahnya yang berjalan menuju kamar. Ia tahu, perjuangan ayahnya untuk memenangkan hati Marsha sepenuhnya baru saja dimulai. Di sisi lain, Archio sendiri mulai menyadari bahwa menjaga Marsha bukan hanya sekadar tugas dari ayahnya, tapi sudah menjadi misi pribadinya untuk memastikan "permata" bungsu mereka tidak akan pernah hilang lagi.

Pagi itu, rumah sakit kembali ke ritme sibuknya yang khas. Marsha melangkah menyusuri selasar dengan jubah putih yang terkancing rapi, stetoskop melingkar di leher, dan papan klip di tangan. Meskipun tidurnya di rumah keluarga Dominic sangat nyenyak, ia tetap membawa kewaspadaan penuh saat memasuki bangsal perawatan pasca-kecelakaan beruntun kemarin.

Bagi Marsha, setiap pasien adalah teka-teki medis yang harus dipecahkan dengan presisi, tidak peduli siapa mereka di luar sana.

Marsha memulai visitnya dari pasien-pasien di kelas menengah dan bangsal umum, ia berhenti di samping tempat tidur seorang ibu yang mengalami patah tulang rusuk. "Bagaimana napasnya pagi ini, Bu? Masih terasa nyeri saat menarik napas dalam?" tanya Marsha lembut, sangat kontras dengan nada tajamnya kemarin di UGD.

"Sudah mendingan, Dok. Terima kasih ya, kemarin saya panik sekali," jawab pasien itu dengan tulus.

Marsha memeriksa grafik monitor dan memberikan instruksi pada perawat pendamping untuk penyesuaian dosis analgetik. Di sini, Marsha adalah sosok yang hangat; ia mendengarkan keluhan pasiennya dengan sabar, memastikan mereka merasa aman di bawah perawatannya.

Langkah kaki Marsha akhirnya sampai di depan pintu ruang VVIP nomor satu. Ia menghela napas pendek sebelum masuk. Di dalamnya, Liam putra mahkota Theodore sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan tablet di tangannya. Perban di kepalanya masih putih bersih, hasil jahitan tangan Marsha yang sangat rapi.

Begitu Marsha masuk, asisten Liam yang kemarin segera berdiri tegak, tampak segan.

"Selamat pagi, Tuan Liam," ucap Marsha datar, matanya fokus pada layar monitor parameter vital di samping tempat tidur. "Bagaimana sakit kepalanya? Ada mual atau pandangan kabur?"

Liam meletakkan tabletnya, menatap Marsha dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sedikit rasa hormat yang dipaksakan, namun keangkuhannya tetap mengintip dari balik matanya.

"Jahitanmu tidak buruk," gumam Liam, suaranya masih serak. "Tapi kepalaku masih terasa seperti dipukul palu godam."

Marsha mendekat, melakukan pemeriksaan reflek pupil dengan lampu senter kecil. "Itu wajar untuk gegar otak ringan, tekanan darah Anda sedikit tinggi, kemungkinan karena stres atau memang karakter Anda yang temperamental, saya sarankan Anda kurangi berteriak hari ini."

Liam mendengus sinis. "Kau satu-satunya orang yang berani menyuruhku diam, Dokter Halvard."

Marsha berhenti sejenak, menatap Liam dengan tajam. "Di gedung ini, nama belakang saya tidak ada gunanya. Saya memeriksa Anda sebagai dokter, bukan sebagai anggota keluarga Halvard. Jika Anda kooperatif, Anda bisa pulang lebih cepat."

Saat Marsha hendak keluar dari ruangan, asisten Liam menyusulnya ke pintu dengan ragu.

"Dokter Marsha... Tuan Theodore menitipkan pesan," bisik asisten itu dengan suara rendah. "Beliau berterima kasih karena Anda telah menangani putranya dengan sangat baik. Beliau bilang, jika keluarga Halvard memerlukan 'bantuan' apapun di masa depan, jangan ragu untuk menghubungi kami."

Marsha hanya mengangguk kecil, wajahnya tetap tidak berekspresi. "Sampaikan pada Tuan Theodore, tugas saya adalah menyembuhkan, saya tidak butuh imbalan selain kepatuhan pasien saya terhadap instruksi medis."

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!