NovelToon NovelToon
Hubungan Tanpa Status

Hubungan Tanpa Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Kartini Quen

Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KENCAN YANG TAK DI RENCANAKAN

Lampu restoran memantul lembut di lantai marmer mengilap.Musik piano mengalun pelan di sudut ruangan. Para tamu bercakap dengan elegan, gelas-gelas kristal beradu pelan.

Namun bagi Keano… semua suara itu mendadak terasa jauh.

Tatapannya hanya tertuju pada satu orang.

Senja.

Gadis itu berdiri canggung di dekat pintu masuk bersama neneknya dan Arelina. Gaun sederhana berwarna cream yang dipakainya terlihat sangat biasa dibanding para tamu lain.

Tapi anehnya— justru itu yang membuat Keano sulit mengalihkan pandangan.

Senja terlihat… hangat nyata.

Dan berbeda dari semua kemewahan di ruangan ini.

"Keano?"

Suara Nara membuat Keano sedikit tersadar.

"Hm?"

"Kamu dari tadi ngeliatin pintu terus."

Keano langsung mengalihkan pandangan singkat. "bukan urusan lo."Jawabannya pendek.

Tapi terlambat.

Nara sudah lebih dulu mengikuti arah mata Keano.

Dan begitu melihat Senja berdiri di dekat pintu bersama neneknya— raut wajah Nara langsung berubah tipis. tidak suka.

Sementara itu, Senja tampak salah tingkah sendiri. Tangannya sibuk merapikan ujung gaun sederhana yang ia pakai.

"Aku jadi gak enak…" bisiknya pelan ke Arelina.

"Kenapa?"

"Semua orang keliatan mewah banget."

Arelina baru ingin menjawab ketika seseorang lebih dulu mendekat.

Langkah tenang. Jas abu-abu. Tatapan yang tidak pernah lepas.

Keano berhenti tepat di depan mereka.

Deg.

Senja langsung menegang.

" Kamu kok ada di sini?"

Kalimat sederhana itu keluar pelan dari bibir Keano. Tapi entah kenapa terdengar berbeda.

Seolah ia benar-benar senang melihat Senja ada di sana.

Arelina langsung menahan senyum jahil. "Anjay ternyata pangeran jalanan ada di sini juga."

Keano mengabaikannya. Tatapannya tetap ke Senja.

Dan itu membuat jantung Senja makin kacau.

"Nenek sehat?" tanya Keano sopan.

Nenek tersenyum hangat. "Sehat, Nak. Apa restoran ini punya kamu?"

"Bukan Nek, tapi punya Mama saya."

Arelina membulatkan matanya..

" what.. Tunggu, lo serius ?"

keano mengangguk. Restoran ini baru saja di buka, ada menu gratis juga loh."

"Oh… pantas bagus sekali." Keano mengangguk kecil lalu tanpa sadar menarik kursi kosong untuk nenek Senja duduk.

Hal kecil. Tapi cukup membuat Senja diam memperhatikannya.

Walaupun di sekolah keano terlihat ramah dan gampang bergaul dengan siapa saja tapi soal perhatian dia jarang menunjukkan namun sekarang… ia justru terlihat sangat perhatian.

Dari kejauhan, Nara memperhatikan semuanya dengan rahang menegang, tangannya mengepal kecil lalu ia berjalan cepat menghampiri Mama Ranti yang sedang berbicara dengan beberapa tamu penting.

" Ma."

Mama Ranti menoleh. “Iya, Sayang?”

Nara tersenyum tipis, tapi nada suaranya dibuat hati-hati.

"Keano lagi sama seseorang."

"Maksudnya?"

Nara melirik ke arah Senja. " kayak nya teman sekolahnya…"

Mama Ranti mengikuti arah pandangnya.

Dan untuk pertama kali— ia melihat Senja dan neneknya.

Tatapan Mama Ranti berubah tipis.

Bukan marah. tapi jelas menilai.

Gaun sederhana. Tas lama milik nenek. Penampilan yang sangat kontras dibanding tamu-tamu elit malam itu.

"Oh…" gumamnya pelan.

Nara menunduk sedikit. "Aku takut nanti kalau tamu-tamu salah paham…"

Kalimat itu cukup.

Mama Ranti akhirnya berjalan menghampiri mereka bersama Nara.

Sementara di sisi lain, Senja yang sedang berbicara pelan dengan neneknya tidak sadar mereka sedang diperhatikan.

Sampai akhirnya—"Keano."

Suara Mama Ranti membuat semua menoleh.

Keano langsung berdiri tegak. "Ma."

Mama Ranti tersenyum tipis. Senyum sosial khas kalangan atas.

Lalu matanya beralih ke Senja dan neneknya.

"Oh…Kamu undang teman sekolah mu.."

Nada bicaranya halus. Namun terasa dingin.

Senja langsung berdiri sopan. " Selamat malam Tante..kita Memeng teman sekolah nya Keano."

Mama Ranti mengangguk kecil. Tatapannya turun sekilas memperhatikan penampilan Senja dan neneknya sebelum kembali tersenyum tipis.

"Kalian datang karena undangan siapa ya?"

Deg

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tapi cukup membuat suasana langsung berubah tidak nyaman.

Nara tersenyum tipis. Senyum kemenangan.

Di sisi lain Arelina langsung ikut bicara.

" Hai Tante selamat malam,Saya Arelina Santoso, saya anak dari pak Adi Santoso, kebetulan saya bawa undangan nya, Papa meminta saya untuk mewakili nya, karena beliau berhalangan hadir, maaf kalau saya ajak teman dan Nenek juga "

Ia menyerahkan kartu undangan dengan percaya diri.

Mama Ranti menerimanya.

Matanya membaca nama di kartu itu.

Ekspresinya berubah sepersekian detik.

"Oh… Santoso Group."

Nada suaranya langsung lebih hangat.

Ia mengangguk pelan. "Tentu saja. Saya kenal baik ayahmu."

Arelina tersenyum sopan. "Papa juga menyampaikan selamat untuk grand opening restoran Tante."

Mama Ranti tersenyum lebih lebar sekarang. Aura formalnya kembali elegan.

"Terima kasih. Senang sekali kamu bisa datang."

Nara yang berdiri di sampingnya sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Arelina datang sebagai tamu penting.

Sementara itu Keano diam memperhatikan.

Tatapannya sekilas beralih ke Senja.

Ia tahu… beberapa detik sebelumnya gadis itu hampir dipermalukan.

Mama Ranti lalu kembali menoleh ke Senja dan neneknya.

"Oh, jadi ini teman kamu?"

Nada suaranya kini lebih ramah— meski masih terasa berjarak.

Nenek Senja tersenyum hangat. "Iya, kami hanya ikut menemani."

Mama Ranti mengangguk. "Silakan dinikmati acaranya."

Kalimatnya sopan. Namun tidak benar-benar mengundang kedekatan.

Ia lalu menarik Nara pelan. "Ayok, keano, Nara. kita masih banyak tamu."

" Aku di sini dulu ma" ucap Keano

Mama Ranti mengangguk."Jangan lama-lama."

keano tak menjawab. Dan akhirnya mama Ranti dan Nara berjalan menjauh. Begitu Mama Ranti pergi—

Keano menghela napas pelan. Rahangnya sedikit menegang.

Ia menoleh ke Senja.

"Lo gapapa?"

Senja tersenyum kecil. "Aku gak apa-apa."

Tapi Keano tahu itu bukan senyum yang jujur.

Di sisi lain, Nara yang berjalan bersama Mama Ranti menoleh sekilas ke belakang.

Melihat Keano masih berdiri dekat Senja.

Dan rasa tidak nyaman di dadanya semakin jelas.

Malam ini… bukan lagi sekadar acara keluarga.

Ini sudah berubah menjadi medan perasaan.

Suasana kembali dipenuhi musik dan percakapan tamu.

Namun bagi Keano, fokusnya tetap tertahan di satu tempat. Di depan Senja.

Ia memperhatikan bagaimana Senja berusaha tetap tersenyum, berbicara santai dengan neneknya seolah tidak terjadi apa-apa, tapi Keano melihatnya.

Cara jari Senja saling menggenggam. Cara matanya sesekali menunduk.

Ia tahu gadis itu tidak nyaman.

"Lo mau duduk di luar aja?" tanya Keano pelan.

Senja menoleh. "Hah?"

"Di taman belakang. Lebih sepi, tempat nya juga nyaman."

Senja ragu sebentar. Namun sebelum ia menjawab—

Arelina langsung menyenggol bahunya pelan. "Pergi sana."

"Rel!"

"Gue yang temenin Nenek," bisik Arelina cepat sambil senyum jahil.

Nenek Senja malah ikut mengangguk. "Iya, Nak. Kamu ngobrol saja."

Senja akhirnya berdiri pelan.

Keano memberi isyarat kecil, lalu berjalan lebih dulu menuju pintu kaca samping restoran.

Lampu taman luar memantul hangat. Udara malam terasa lebih tenang dibanding dalam ruangan.

Begitu mereka sampai di luar—

Keano berhenti.

Beberapa detik ia tidak bicara. Seolah mencari kata yang tepat.

"Apa Mama gue tadi yang bikin lo gak nyaman?"

Senja terdiam.

Ia tersenyum kecil. "Enggak kok."

Keano menghela napas pendek. "Lo gak bisa bohong."

Senja tertawa pelan." ternyata kamu perhatiin aku ya."

Keano menatapnya. "Ya, gue selalu perhatikan Lo."

Deg.

Senja langsung mengalihkan pandangan ke taman.

Angin malam meniup rambutnya pelan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu— suasana di antara mereka terasa lembut.

Tenang.

Nyaris seperti… kencan tanpa direncanakan.

Namun dari balik kaca restoran—

Nara berdiri memperhatikan mereka.tatapannya tidak lagi sekadar cemburu.

Ada sesuatu yang mulai berubah.

Tekad. Karena ia sadar satu hal—

Kalau ia diam saja, Keano mungkin benar-benar akan pergi menjauh darinya.

" kira-kira apa yang akan di lakukan oleh si sayur Nara ini 🤔..."yukkk ikuti terus ...

1
Kartini Quen
yuk ikutin terus kisah keano dan Senja...di jamin bikin baperrrr..🥰🥰
Kartini Quen
yuk baca cerita senja dan keano....di jamin bikin baperrrr🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!