NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Maafkan saya

​Beberapa bulan berlalu sejak insiden berdarah di sumur desa.

Nama Lu Ming tidak lagi dibisikkan dengan ketakutan yang mentah, melainkan dengan rasa hormat yang bercampur dengan ngeri yang halus.

Desa Bambu Hitam, yang dulunya hanyalah pemukiman layu di ambang kehancuran karena tekanan bandit dan kemiskinan, perlahan mulai bernapas kembali.

​Penyebab utamanya bukan hanya karena kehadiran Lu Ming, tetapi karena bocah itu telah menjadi "Dinding Pelindung" yang tak terlihat bagi penduduk desa.

​Wilayah di sekitar hutan bambu itu sebenarnya berada di bawah cengkeraman kelompok bandit "Gagak Merah".

Mereka biasa datang setiap bulan purnama untuk merampas hasil panen, ternak, bahkan menculik anak-anak desa untuk dijual ke pasar budak di kota-kota besar.

Namun, sejak Lu Ming mencapai puncak Ranah Pengerasan Dasar, peta kekuatan di lembah itu berubah total secara diam-diam.

​Malam itu, bulan purnama menggantung pucat di langit, menerangi desa dengan cahaya perak yang dingin.

Suara tapak kuda yang menderu keras memecah kesunyian malam.

Sekitar dua puluh orang bandit dengan pakaian kulit kasar dan wajah beringas menyerbu masuk, dipimpin oleh seorang pria bermata satu yang memegang gada berduri besar yang masih berlumuran sisa darah hewan hutan.

​"Keluarkan semua gandum kalian! Dan serahkan sepuluh gadis malam ini, atau desa ini akan menjadi abu sebelum fajar menyentuh tanah!" teriak si pemimpin bandit dengan suara menggelegar.

​Warga desa gemetar ketakutan di dalam rumah mereka yang gelap. Guntur dan kawan-kawannya, yang dulu merasa paling jagoan di desa itu, kini hanya bisa meringkuk di balik pintu kayu mereka dengan napas tertahan.

​Namun, di tengah jalan desa yang berdebu, sebuah pemandangan ganjil tersaji. Seorang remaja duduk dengan tenang di atas sebuah bangku kayu kecil yang sederhana.

Di depannya terdapat sebuah meja rendah dengan kuas, batu tinta, dan gulungan kertas kuning yang kasar. Di bawah temaram cahaya obor jalan, Lu Ming sedang menulis dengan khusyuk.

​"Berhenti di sana, Tuan-tuan," ucap Lu Ming tanpa mendongak dari kertasnya. Suaranya tenang, nyaris lembut, namun anehnya sanggup menembus hiruk-pikuk suara ringkikan kuda dan teriakan bandit. "Kalian mengganggu rima puisi yang sedang kususun. Bisakah kalian pergi dengan tenang? Saya akan sangat berterima kasih jika kalian tidak membuat keributan lebih jauh."

​Pemimpin bandit itu terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak hingga suaranya serak. "Puisi? Bocah gila! Kau ingin mati dengan kuas di tanganmu daripada pedang?"

​Pria itu mengayunkan gadanya dengan kekuatan penuh, berniat menghancurkan kepala Lu Ming dalam satu serangan brutal. Namun, dalam sekejap mata, Lu Ming menghilang dari bangkunya.

​Sret!

​Lu Ming muncul di belakang kuda sang pemimpin seolah-olah ia baru saja keluar dari bayangan.

Pedang pendeknya telah keluar dari sarungnya tanpa suara. Dengan gerakan yang sangat efisien dan mematikan, ia menebas tendon kaki kuda dan leher penunggangnya dalam satu tarikan napas.

​"Maafkan saya... darah Anda mengotori tinta saya," bisik Lu Ming tepat saat kepala pria bermata satu itu jatuh ke tanah dengan bunyi bug.

​Sembilan belas bandit lainnya, yang tersadar dari keterkejutan mereka, menyerang serentak dari segala arah.

Namun bagi Lu Ming yang telah memadatkan Qi ke dalam setiap serat otot dan sumsum tulangnya, gerakan mereka tampak lambat, seperti siput yang merangkak di musim dingin.

1
Dhewa Iblis
Laaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Karya yang sangat mengesankan...
Dhewa Iblis
Maannttap...
Dhewa Iblis
Maaannttaapp...
Dhewa Iblis
Keereenn Thor, Lanjutkan.
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!