Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.
Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
"aku harus gimana sekarang." Gumam nya, sembari terus melihat ke arah suami yang berada di samping nya.
Bahkan kini Qiandra tidak tahu lagi, harus bagaimana dan melakukan apa? Akhir nya felix pun benar benar tertidur pulas, Qiandra menarik puting nya dari dalam mulut suami nya yang menganga. Untuk melepas kan puting yang tadi ada di dalam mulut suami nya.
Qiandra melirik ke arah jam dinding yang memang ada di dalam kamar milik Felix.
"astaga, aku udah membuang waktu selama 3 menit, bagaimana ini? Nyonya Julia pasti akan sangat marah ke pada ku," ucap Qiandra semakin memasang wajah bingung. Lalu diri nya merapi kan baju yang dia sedang kena kan.
Setelah itu dia bangun dari atas ranjang, dan berdiri di bagian sisi samping suami nya.
Akhir nya dia pun membuka kancing satu per satu piyama yang di kenakan oleh suami nya.
Qiandra merasa tangan suami nya itu ber gerak, tapi kata mamah mertua nya kalau suami nya itu koma dan ada masalah pada otak nya, seperti nya tidak mungkin juga bukan kalau dia bangun dan bisa merespon gerakan nya.
Pipi Qiandra memerah kala melihat dada bidang nan six pack, milik suami nya itu, tanpa sehelai benang.
Bahkan lebih mirip seperti sebuah roti sobek. Ber kali kali Qiandra menelan ludah nya yang kelu.
Puk
Puk
"Sadar lah, apa yang ada di pikiran mu! Kenapa pikiran mu itu begitu jorok dan juga kotor? Ayo Qiandra jangan buang waktu mu," ucap Qiandra sembari menepuk nepuk pipi nya, guna untuk menyadar kan diri nya sendiri dari pikiran kotor yang kini yang ada di dalam otak nya.
Lagi lagi dia bingung, dia teringat. Kan biasa nya kalau orang yang sedang sakit, pasti semua baju yang di kenakan akan di copot semua saat di bersihkan.
"Apa aku lepas dulu, celana nya ya? Tapi kalau aku lepas, ntar dia benar benar polos lagi, apa aku harus memakai kaca mata kuda, agar mata ku ini tidak ternodai," Ucap Qiandra polos.
1 menit
2 menit
Qiandra ber fikir dengan keras, untuk menentu kan, apa kah dia harus melepas kan celana yang suami nya itu kenakan atau tidak. Saking lama nya ber fikir, bulu kuduk bagian dada suami nya itu, terlihat berdiri. Seperti orang yang kedinginan.
"Ya udah, deh! Lebih baik aku bersihkan bagian atas, terus aku pakaikan baju dulu, lalu baru deh. Celana nya aku lepas, aku bersihkan bagian bawah."
Akhir nya Qiandra pun memutus kan, walau pun kepala nya mengeluarkan asap, akhir nya dia memilih untuk tidak melepas kan celana yang suami nya yang kini suami nya kena kan, Qiandra mulai mengambil air yang ada di baskom, sebuah air panas yang kini sudah berubah suhu menjadi air dingin.
Qiandra pun mulai mengusap kan waslap basah dengan air yang sudah mendingin itu, ke tubuh suami nya bagian atas. Tiba tiba suami nya itu seperti orang kejang dan mengigil.
"Apa dia kedinginan ya?" Qiandra pun melanjut kan mengusap usap tubuh suami nya, setelah memastikan bagian gigi suami nya itu tidak menyatu. Karena jika kejang dalam keadaan gigi menyatu itu akan sangat berbahaya untuk syaraf syaraf suami nya yang lain. Jadi Qiandra menyimpul kan, Jika suami nya itu tampak kejang, karena kedinginan.
Jika Felix tampak seperti orang yang menggigil kedinginan, sungguh berbeda dengan keadaan Qiandra yang kepanasan, dia merasa sekujur tubuh nya terasa begitu panas.
Kini Qiandra sedang menepuk nepuk tubuh suami nya dengan halus, dengan handuk kering yang memang sudah di sedia kan oleh mamah mertua nya.
Tapi saat memakai kan suami nya baju, Qiandra terlihat begitu cekatan, karena dia sudah pernah tau cara mengganti baju pasien, dengan infus yang menempel di salah satu tangan nya.
Qiandra pun lalu beralih ke bagian tubuh bawah milik suami nya.
Dia menarik dengan gerakan yang terlihat begitu lembut, tanpa sengaja Qiandra menyentuh bagian keramat milik suami nya.
Membuat benda keramat itu yang tadi nya mengecil seperti squisi sekarang terlihat keras bahkan tegak berdiri.
"Apa aku harus melepas kan bagian celana dalam juga. Aduh aku bingung." Saat ingin menghenti kan aksi nya, Qiandra tiba tiba teringat oleh prosedur operasi kulit yang akan di lakukan oleh adik nya.
"Aku harus melaku kan nya, demi 100 juta perbulan. Demi biaya untuk operasi yang akan di lakukan untuk adik ku, saudara satu satu nya yang aku punyai di dunia ini," ucap Qiandra dengan nada yakin.
Tapi saat tangan nya ingin menyentuh ke bagian celana yang berisi benda keramat milik laki laki.
Keyakinan Qiandra yang awal nya tinggi, lama lama berubah menjadi menciut.
Bahkan tangan nya yang sudah menyentuh bagian kain keramat itu, dia tarik lagi.
Lagi lagi dia melirik ke arah jam yang ada di dinding.
"Waktu nya mepet sekali, gak ada pilihan lain!" Ucap Qiandra yang akhir nya tetap melepas kain yang menutup benda keramat milik suami nya.
Sekarang bagian bawah tubuh suami nya itu, benar benar polos.
Blusing
Dengan cekatan, Qiandra memeras waslap yang sudah dingin di dalam baskom berisi air. Lalu dengan gerakan lembut, dia membersih kan bagian kaki bahkan benda keramat milik suami nya. Terlihat begitu keras dan juga panjang.
Qiandra lalu membersih kan bagian keramat itu, dengan menggeser benda keramat tidak ber tulang ke arah kanan dan juga kiri. Untuk memastikan kalau bagian sensitif itu benar benar bersih.
"Karena Tuan Felix sudah ada asupan asi yang masuk ke dalam tubuh nya, aku harus memakai kan Pampers ini, takut kalau dia nanti malah mengompoli ku." Qiandra lalu memakai kan Pampers celana dewasa ke suami nya. Lalu memakai kan celana suami nya.
"Akhir nya selesai juga!" Ucap Qiandra dengan keringat yang bercucuran di pelipis nya. Lalu Qiandra menyemprot kan parfum yang memang di sedia kan oleh ibu mertua nya. untuk di semprot kan ke tubuh felix.
"Oh iya, aku malah lupa bagian wajah, tapi ini air nya udah kotor," ucap Qiandra melihat ke arah sekeliling.
"Aku ganti air nya dulu deh, ke kamar mandi!" Qiandra terus berbicara pada diri nya sendiri.
Dia membuka sebuah pintu di sisi kanan yang berada di depan ranjang suami nya.
Qiandra kecewa karena itu bukan kamar mandi, lalu dia membuka pintu bagian tengah. Lagi lagi dan lagi. Itu bukan kamar mandi, tapi ruang kerja milik suami nya. Akhir nya dengan wajah yang lesu dan kecewa.
Qiandra membuka pintu bagian pojok sebelah kiri. Dan benar itu adalah kamar mandi.
Qiandra sengaja tidak menutup pintu, kamar mandi, dia takut kalau diri nya tiba tiba terkunci di dalam kamar mandi, seperti film film di tv yang pernah dia lihat. Saat di berada di dalam kamar mandi mewah.
Qiandra mendengar banyak langkah yang masuk ke dalam kamar suami nya. Bahkan banyak suara yang saling berbincang satu sama lain di dalam kamar nya itu.
"Rio, beri kan lah maaf pada saudara sepupu mu itu, sampai kapan kamu akan membenci nya. Padahal sudah berkali kali dia meminta maaf pada mu, lihat lah keadaan nya sekarang! Apa kamu gak kasihan pada nya," bola mata Qiandra membulat sempurna , kala mendengar ibu mertua menyebut nama Rio.
'mungkin itu Rio yang lain, kan nama Rio di dunia ini banyak,' batin Qiandra dalam hati. Masih mencoba berfikir positif.
"Dia pantas mendapat kan nya, mungkin ini adalah sebuah karma," ucap Rio dengan nada mencibir.
Bak sambaran petir di siang hari bagi Qiandra.