NovelToon NovelToon
Nero Vano

Nero Vano

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.

Ikuti kisahnya~

Happy Reading ><

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 12: UPGRADE SERVER & KURIKULUM CINTA JARAK JAUH (NERO POV)

Semenjak mobil yang bawa Ainun ilang di tikungan, desa ini berasa kayak kehilangan warnanya. Sepi banget, cuy. Gue yang biasanya males ngapa-ngapain, sekarang malah punya rutinitas baru yang bikin Oma sama Bi Devi geleng-geleng kepala.

Sore ini, gue udah nangkring di teras masjid, nungguin Ustadz Davi selesai ngajar. Gue nggak bawa motor, cuma bawa otak gue yang lagi rebooting. Begitu Davi keluar, gue langsung cegat.

"Dav, boleh ganggu bentar nggak? Gue mau nanya... tapi bukan soal balapan," kata gue sambil garuk kepala yang nggak gatal.

Davi senyum adem kayak biasanya. "Boleh, Ro. Mau nanya apa? Soal fikih lagi?"

"Bukan. Gue mau nanya soal... itu, gimana sih caranya sains sama agama bisa akur? Katanya Ainun mau jadi profesor IPA tapi tetep syariat gitu kan. Emangnya nyambung ya, Dav?"

Mata Davi langsung berbinar. Dia ngajak gue duduk di undakan masjid. "Wah, pertanyaan berat tapi keren, Ro. Kamu tahu nggak? Di Islam itu, menuntut ilmu alam kayak biologi, fisika, astronomi. Itu juga bentuk ibadah. Kita mempelajari ciptaan Tuhan lewat logika sains."

Gue dengerin serius banget, melebihi seriusnya gue pas lagi dengerin instruksi mekanik di pit stop. Davi mulai jelasin soal keajaiban sel, tentang semesta, sampe gimana sejarah ilmuwan-ilmuwan besar yang ternyata religius parah.

"Gue pengen paham, Dav," gumam gue jujur. "Biar nanti kalau dia balik dari Kairo, gue nggak cuma bisa nanya 'apa kabar' atau 'udah makan belum'. Gue pengen nyambung pas dia cerita soal risetnya atau soal mimpinya."

Davi nepuk pundak gue, tatapannya penuh respect. "Nero, niat kamu itu baik. Tapi inget, pelajari ini bukan cuma buat manusia, tapi buat memperluas cakrawala kamu sendiri. Biar kamu paham kalau dunia ini nggak cuma soal nongkrong atau hura-hura."

Hari-hari berikutnya, gue jadi 'asisten' dadakan Davi. Gue pinjem buku-buku soal sejarah peradaban dan dasar-dasar pemikiran yang dia punya. Gue yang dulu pegang stang motor, sekarang pegang buku literatur. Oma sampe kaget pas liat gue malem-malem masih nyalain lampu meja, bukannya keluyuran nyari sinyal buat mabar.

"Mas Nero kesambet apa, Bi?" gue denger Oma bisik-bisik ke Bi Devi di dapur.

"Kesambet cinta jalur Kairo, Oma," jawab Bi Devi sambil ketawa pelan.

Gue cuma bisa nyengir di dalem kamar. Gue mulai sadar, buat deketin Ainun, gue nggak bisa cuma modal tampang atau kekayaan bokap. Gue harus upgrade server otak dan mental gue. Gue pengen jadi Nero yang punya isi, bukan cuma Nero yang jago drifting.

Gue buka HP, ngelihat peta dunia. Jakarta-Kairo itu jauh banget, Man. Tapi lewat buku-buku yang gue baca dan diskusi bareng Davi, gue ngerasa jarak itu pelan-pelan terkikis. Gue lagi bangun jembatan, meskipun gue sendiri belum tahu apakah jembatan ini bakal diizinin buat gue seberangi atau nggak.

"Profesor Ainun," bisik gue sambil natap bintang dari jendela. "Tunggu ya. Pas lo balik nanti, gue janji bakal jadi cowok yang lebih pantes buat sekadar lo ajak diskusi."

.

.

.

Sore berikutnya, otak gue rasanya udah berasap abis diskusi sama Ustadz Davi soal hukum termodinamika dalam perspektif penciptaan. Gue butuh cooling down. Akhirnya gue mutusin buat jalan-jalan masuk lebih dalem ke arah hutan pinus di pinggir desa, nyari tempat yang nggak ada suara manusia sama sekali.

Gue nemu sungai kecil yang airnya jernih banget, asli kayak kristal. Nggak pake mikir dua kali, gue lepas kemeja linen gue, nyisain celana pendek, terus langsung jump in.

"Anjir, dingin parah!" teriak gue ke arah langit. Tapi seger banget. Gue ngerasa semua beban gue, rasa bersalah gue ke bokap, dan rasa kangen gue yang nggak jelas ke Ainun ikut hanyut dibawa arus air.

Pas gue lagi ngeringin badan di pinggir sungai sambil nunggu matahari bener-bener tenggelam, gue ngelihat sesuatu yang aneh di antara semak-semak lembap deket pohon besar. Ada tanaman dengan kuncup bunga yang bentuknya unik banget, eksotis, dan kayak punya aura 'mahal' padahal tumbuh liar.

"Mas Nero? Belum balik?"

Gue nengok, ternyata ada Mang Arif, warga lokal yang lagi nyari kayu bakar. Beliau ngelihat ke arah tanaman yang lagi gue perhatiin.

"Wah, Mas Nero beruntung. Itu bunga Wijayakusuma liar. Di sini jarang-jarang ada yang tumbuh sebagus itu," kata Mang Arif sambil benerin pikulannya.

"Wijayakusuma? Kok kuncupnya lemes gitu, Mang?" tanya gue kepo.

"Dia mah emang gitu, Mas. Sombong. Dia cuma mau mekar pas tengah malem doang. Pas orang-orang udah tidur, dia baru pamer cantiknya, terus subuh udah layu lagi. Makanya sering disebut bunga misterius," Mang Arif ngejelasin sambil jalan pergi.

Gue matung di depan bunga itu. Tengah malem doang? Gue langsung kepikiran Ainun. Dia itu kayak bunga ini. Cantik banget, tapi nggak sembarangan orang bisa liat. Dia punya waktu sendiri, punya aturan sendiri, dan nggak sembarang mata bisa nikmatin indahnya tanpa izin.

Gue mutusin buat nggak balik dulu. Gue pengen liat sendiri. Gue bikin api unggun kecil, duduk nyender di pohon, nungguin waktu berganti.

Tepat pas jam nunjukin angka dua belas malem, di bawah sinar rembulan yang tembus dari celah pohon, bunga itu mulai gerak pelan. Kelopak putihnya yang bersih (sebersih wajah Ainun) mulai kebuka satu-satu. Wanginya... gila, wangi banget! Harumnya elegan, lembut, tapi kuat banget menusuk hidung.

"Gila... lo cantik banget," bisik gue ke bunga itu.

Gue langsung kepikiran, kalau Ainun ada di sini, dia pasti bakal jelasin secara ilmiah kenapa bunga ini cuma mekar malem hari. Dia pasti bakal bahas soal circadian rhythm atau nocturnal pollinators. Tapi buat gue yang lagi bucin parah begini, bunga ini cuma ngingetin gue satu hal.

Sesuatu yang berharga itu emang butuh perjuangan buat dilihat. Sesuatu yang indah itu nggak harus dipamerin ke semua orang setiap saat.

Gue ambil HP gue, gue foto bunga itu meski sinyal ampas, seenggaknya gue punya buktinya. Gue pengen simpen foto ini. Nanti, kalau Ainun balik dari Kairo, ini bakal jadi bahan obrolan pertama gue.

"Nun, gue nemu bunga yang sifatnya mirip lo. Misterius, cantik, tapi susah didapetin," gumam gue sambil senyum sendiri di tengah gelapnya hutan.

-------

Bunga Wijayakusuma:

1
한스Hans
semangat ya ☕
Thinker Bell ><: yetts, thanks😄👍
total 1 replies
Jeje Bobo
Nama neneknya keren pasti funky bebs
Thinker Bell ><: kan mantan sosialita kota, yang sengaja tinggal di kampung buat ngabisin sisa umur. biasa orang kaya.... 😄
total 1 replies
Jeje Bobo
Turun kasta 🫠 sedihnya untuk cm di novel yh say
Thinker Bell ><: nanti juga balik lagi kok ke kota/Shhh/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!