Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Mengambil Hati Rendra
Danara melangkah mundur secara perlahan dari balik pintu. Wajahnya mengeras setelah melihat pemandangan yang menyulut amarah. Saran yang sempat dilontarkan pada kakak iparnya tidak digubris sama sekali. Pikirannya kalut, segala kemungkinan buruk berseliweran di benaknya.
Dia mencari tempat untuk bersembunyi saat Surti dan Razna keluar dari ruangan dengan menggendong Finza. Tubuhnya merapat ke dinding, menahan napas dan memastikan keberadaannya tidak diketahui siapa pun. Begitu langkah mereka terdengar menjauh, dia melihat untuk memastikan keadaan aman terkendali.
"Wanita itu terlalu cepat masuk ke dalam kehidupan Rendra. Kamu tidak akan bisa merebut hatinya Rendra. karena Rendra akan selamanya menjadi milikku setelah kakakku meninggal. Jangan sampai usahaku selama ini sia-sia..." gumam Danara dalam hati bibirnya mengembang, tersenyum sinis.
Tanpa menunggu lama, Danara masuk ruangan dengan wajah yang tiba-tiba berseri, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di dalam ruangan, Moana sedang duduk di pangkuan papanya. Dia tertawa kecil sambil memainkan jari tangan pria itu. Sesekali papanya menggelitik perut Moana sehingga anak kecil itu tertawa lepas.
"Moana sayang, jadi nih mau jalan-jalan, kok belum berangkat?" sapa Danara mendekati keduanya yang sedang asik bercengkrama. Seraya meletakkan tas kecilnya di atas meja sofa.
"Jadi dong Tante." jawab Moana singkat.
"Kamu? Biasakan kalau masuk ruang kerjaku, ketik pintu dulu!" protes Rendra dingin.
"Iya maaf. Nanti ngga kuulangi lagi deh," jawabnya santai, senyumnya manis mengembang.
"Kak, aku ikut jalan-jalan bareng kalian ya! Aku bosan di rumah terus," ucapnya dengan nada manja.
Rendra menatap Moana yang masih duduk di pangkuannya.
Moana hanya mengangkat bahunya, lucu.
Rendra menghela napasnya, " Kenapa nggak pulang aja ke rumah Mama?"
"Iih kakak ini. Di sana capek tahu. Disuruh nyapu, ngepel, bantuin masak, sampe gempor nih badan. Aku maunya jalan-jalan," rengek Danara sambil menyentuh lengan kiri Rendra.
Rendra menghela napas panjang, "Ya sudah kalau kamu capek, istirahat saja. Tidur sana!"
"Ih ogah lah .." ia menggeleng cepat. " Aku tuh maunya pergi sama kakak sama Moana juga,"
Tambahnya sambil menunjuk anak kecil dengan dagunya.
Rendra terdiam sejenak, dia mengangkat Moana lalu mendudukkannya ke atas sofa.
"Danara...Danara kamu tuh kapan dewasanya sih? Kalau kamu terus-menerus kayak gini kapan kamu mau dapat jodoh?"
"Jodoh mah ga usah dicari kak. Kan jodoh Danara ada di depan mata..."
Uhuk
Uhuk
Rendra terbatuk-batuk, seraya menatap Danara dengan tajam.
"Becanda..." seloroh Danara mengibaskan tangannya, setelah menyadari ucapannya. Dia tidak boleh gegabah menunjukkan perasaannya pada pria pujaan itu.
"Tante mau ikut bareng kita?" tanya Moana senang.
"Iya dong. Masa Moana diajak, Tante engga sih. Ga adil itu."
"Benar juga tuh Pa. Ngga adil." ujar Moana sambil mengangkat telunjuknya dengan wajah serius.
Danara tersenyum lebar sambil mengerlingkan matanya ke arah Moana. Setidaknya, dia mampu merebut hati keponakannya itu.
Rendra menatap keduanya secara bergantian, lalu tersenyum tipis, tidak berdaya menolak ajakan mereka. Walaupun sebenarnya dia hanya ingin jalan berdua saja dengan putri tercintanya, namun karena Danara ngotot ingin ikut akhirnya dia harus menuruti keinginannya, apalagi Moana sudah setuju begitu.
"Kalian ini, bisa saja merayuku..."
Dia mengusap wajahnya sebentar, lalu mengangguk, "Ya sudah. Tapi sebentar saja,"
"Yeeeey ....kita mau pergi bertiga!" sorak Moana bertepuk tangan dengan riang.
"Hayu kita pergi! Sudah siap kan?"
Danara dengan senang hati segera meraih tas kecil miliknya yang tergeletak di atas meja. Dia memang sudah bersiap sebelumnya. Senyum kemenangan tersamar di wajahnya, meski matanya diam-diam menatap Rendra penuh arti.
"Papa, Moana mau pakai sepatu yang ada lampunya!" seru Moana tiba-tiba sambil melompat turun dari sofa.
"Ya ampun, ribet banget anak Papa satu ini. Sini Sayang Papa bantu," gumam Rendra pelan, tetapi tangannya sudah lebih dulu mengambil sepatu kecil berwarna merah muda milik putrinya.
Danara memperhatikan pemandangan itu dengan rahang mengeras sesaat. Cara Rendra memperlakukan Moana begitu lembut dan penuh perhatian. Seharusnya perhatian dan kebahagiaan itu bisa menjadi miliknya juga. Menjadi seseorang yang selalu diprioritaskan Renda tanpa perlu meminta dan selalu diutamakan dalam segala hal. Kalau saja anak kecil itu tidak ada di rumah, justru perhatian dan kebahagiaan akan selalu menjadi miliknya.
"Biar aku saja yang bantuin, kak," ujar Danara cepat mengambil alih seraya berjongkok di depan Moana.
"Yeay! Tante baik banget," Moana memeluk leher Danara sekilas.
Rendra hanya mengamati interaksi mereka tanpa komentar apapun. Namun tatapannya sempat menyipit ketika melihat Danara tersenyum sumringah. Ada sesuatu yang terasa aneh akhir-akhir ini dari adik iparnya itu, tetapi ia lebih memilih mengabaikannya.
Tidak lama kemudian mereka berjalan keluar menuju halaman depan rumah. Danara menuntun tangan Moana. Sedangkan Rendra berjalan duluan menghampiri sebuah mobil hitam yang sudah terparkir di depan rumah.
Mona melepaskan tangan Tantenya, lalu berlari kecil menghampiri mobil sambil tertawa riang.
"Papa, Moana mau duduk di depan sama Papa ya!"
Danara langsung cemberut mendengar rengekannya. Namun raut wajahnya berubah ceria ketika Rendra menolak dengan tegas.
"Tidak boleh. Anak kecil harus duduk di belakang sama Papa." Tegasnya
"Yaaah...memangnya yang nyupir bukan Papa?"
"Bukan Sayang. Pak Ali yang nyupir. Jadi Tante Danara duduk di depan sama Pak Ali,"
Mata Danara langsung membulat, menatap Rendra tak percaya.
"Huh....aku sudah dandan cantik begini malah harus duduk bersebelahan sama sopir? Ya ampun....tenang Danara, ikuti saja kemauan kakak iparmu itu. Pasti akan indah pada waktunya. Sabar...sabar...." gumamnya dalam hati sambil menarik nafas panjang dan tersenyum tipis.
"Tante Danara....Ayo cepat naik!" seru Moana antusias dari kursi belakang.
"Kamu mau ikut, atau tetap berdiri di situ?" tanya Rendra datar, yang sudah duduk di samping Moana sambil memangku tas kecil milik putrinya.
Danara mendengus pelan sebelum akhirnya membuka pintu depan mobil. Dengan gerakan malas-malasan, ia duduk di samping Pak Ali.
"Selamat siang, Nona Danara," sapa Pak Ali sopan.
Danara memaksakan untuk tersenyum, "Siang, Pak Ali," seraya memalingkan wajahnya ke jendela.
Rasa kesal karena tidak sesuai dengan ekspektasi. Dia pikir dia akan pergi bertiga saja tanpa sopir.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan Moana terus berceloteh riang, sesekali menunjuk ke luar jendela melihat berbagai hal yang menarik di jalan.
"Papa! Lihat balon besar itu, gede banget!" serunya heboh.
"Iya Sayang, Papa lihat," jawab Rendra dengan sabar menanggapi celotehan putrinya sambil mengusap pucuk kepala putrinya dengan lembut.
Danara yang duduk di depan hanya bisa melihat interaksi mereka melalui kaca spion. Hatinya sedikit iri melihat kedekatan keduanya. Namun di sisi lain, ia merasa hangat melihat sisi lembut Rendra yang jarang ditunjukkan pada orang lain.
"Tante, nanti kita naik komidi putar ya!" ajak Moana secara tiba-tiba.
"Tentu dong. Tante mau banget. Tante mau nemenin Moana naik semuanya,"
"Waaah seru, nanti kita naik bertiga, termasuk naik balon udara ya!" Moana bertepuk tangan dengan girang.
Rendra menggeleng pelan melihat tingkah keduanya. Menghela napas panjang lalu memberi ultimatum untuk keduanya.
"Tidak boleh banyak naik wahana yang ekstrim. Nanti kalau pusing malah repot sendiri, lagi pula anak kecil belum boleh naik begituan," katanya datar.
"Huh..Papa ga asik," ujar Moana cemberut.
Danara langsung menoleh cepat. "Iya juga sih, kalau anak kecil jangan naik yang ekstrim bahaya. Nanti biar Tante sama papa aja yang naik berdua, kalau Tante pusing kan papa yang bakal jagain, iya kan Pah?"
Rendra menatapnya sekilas, menggelengkan kepalanya tegas.
"Kalau Tante Danara pingsan gampang, biar Pak Ali yang mengantar pulang," jelas Rendra tegas.
"Yaaah...tega banget sih punya kakak ipar, ga ada pekanya sedikit pun," gerutu Danara pelan.
Moana dan Pak Ali malah terkikik geli mendengar jawaban Rendra.
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...