karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Han Le tidak membiarkan Lim Hao menang begitu saja. ia mengerahkan tenaga dalamnya ke kakinya membuat langkahnya terasa seringan kapas. Ia menekuk lutut, lalu melesat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.
"Wusss!"
"Twako, bakpao itu akan jadi milikku!" seru Han Le sambil melewati Lim Hao dalam beberapa lompatan besar.
Lim Hao terbelalak.
"Eh? Ilmu meringankan tubuhmu luar biasa, Han Te!" Ia pun mempercepat larinya, otot-otot kakinya yang sudah terlatih bertahun-tahun di Shaolin bekerja maksimal. Keduanya berlari di antara pepohonan bambu, melompati bebatuan besar, dan mendarat di tepian sungai hampir bersamaan.
Byuurrr!
Tanpa membuang waktu, mereka menceburkan diri ke dalam air sungai yang jernih dan dingin. Rasa lelah setelah seharian memanggul air dan membelah kayu dengan kapak tumpul seolah luruh bersama aliran air.
" Ha ha ha, aku dapat ikan twako,"
Han Le tertawa lepas, saat ia berhasil menangkap seekor ikan leehi
" Nanti kita panggang , ini pasti enak rasanya" gumam Han le
" Tok"
" Aduuuh"
"Twako kenapa menjitakku!?" gerutu Han Le
" apa kau tahu aku tak boleh makan makanan yang bernyawa!" dengus Lim Hao kesal, karena Han Le berkata akan memanggang ikan membuatnya meneteskan air liur, sudah hampir setahun ia tinggal di kuil Sholin, tetapi rasa ikan Leehi bakar tentu saja masih teringat
Namun, keceriaan itu tidak berlangsung lama. Saat mereka sedang asyik membasuh diri, Lim Hao tiba-tiba menghentikan gerakannya. Matanya menatap ke arah jalan setapak menuju kuil. Seorang biksu muda dengan wajah serius berdiri di sana.
"Lim Hao, Han Le. Kalian dipanggil segera ke Aula Bodhidarma. Para Tetua telah menunggu," ucap biksu itu dengan nada datar.
Jantung Han Le berdegup kencang. Ia teringat statusnya sebagai "tahanan" tapi ia tak gentar ia mengangguk
" kami akan kesana" Ucap Han Le tanpa keraguan.
Aula Bodhidharma terasa sangat sunyi dan penuh wibawa. Aroma dupa cendana memenuhi ruangan luas yang pilar-pilarnya terbuat dari kayu jati tua yang menghitam. Di depan, duduk berjajar lima orang Tetua Shaolin dengan jubah kuning tua. Di tengah-tengah mereka adalah Tetua Kong Hui, yang wajahnya tampak paling teduh namun memancarkan wibawa yang tak tertandingi.
Han Le masuk dan berdiri menunggu keputusan para tetua. Lim Hao hanya diperbolehkan menunggu di ambang pintu, wajahnya tampak sangat cemas.
"Amitaba ,Han Le, Sudah ku duga kau pasti selamat " suara Tetua Kong Hui memecah kesunyian.
" Terima kasih tetua, semua berkat doamu" sahut Han le tenang
"Sudah satu bulan kau berada di sini. Kami telah mengamati setiap gerak-gerikmu. Kau rajin mengambil air, menebang kayu tanpa mengeluh, dan kau juga mengamati latihan Delapan Belas Jurus Lohan dengan saksama." Ucap tetua Kong Hui
Han Le menunduk lebih dalam. "Maafkan saya, Tetua. Jika saya dianggap mencuri ilmu, saya bersedia dihukum."
Seorang tetua di sebelah kanan Kong Hui, yang berwajah lebih keras bernama Tetua Kong Zhi, angkat bicara.
"Masalahnya bukan itu. Kau telah menelan Pil Bodhi Emas, salah satu pusaka paling berharga di kuil kami yang akan di antarkan pada tetua yang sedang mengasingkan diri. Secara teknis, khasiat pil itu sekarang mengalir di darahmu. Kami tidak bisa memintanya kembali walau mengambil nyawamu."
Ruangan terasa semakin menekan. Han Le merasa nafasnya sesak.
"Namun," Kong Hui melanjutkan dengan senyum tipis, "kami melihat hatimu bersih. Kau mencari obat untuk orang tuamu, dan kau memiliki kebaktian yang dalam. Oleh karena itu, setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk menerimamu sebagai Murid Luar Shaolin."
Mata Han Le membelalak. "Benarkah, Tetua?"
"Ya. Tapi, Shaolin adalah tempat yang menjunjung tinggi keadilan," sahut Tetua Kong Zhi dengan tegas. "Banyak murid kami berlatih puluhan tahun untuk mendapatkan akses ke obat-obatan atau ilmu tinggi. Jika kami membiarkanmu begitu saja setelah menelan pil pusaka, maka disiplin kuil akan hancur. Murid lain akan merasa ada pilih kasih."
"Oleh karena itu," Kong Hui berdiri, "sebagai bentuk penebusan atas 'hutang' pil pusaka tersebut, kau harus menjalani hukuman selama enam bulan di Ruang Penebusan (Cing-Siu-Tian). Di sana, tugasmu adalah menyalin kitab-kitab kuno dan bermeditasi di bawah tetesan air dingin setiap malam. Kau hanya boleh makan satu bakpao sehari."
Han Le menerima keputusan itu dengan lega. Baginya, hukuman ini jauh lebih ringan daripada diserahkan kembali ke biara Dalai Lama. "Saya menerima dengan tulus, Tetua. Terima kasih atas kemurahan hati Para Guru."
Lim Hao yang mendengar dari luar menghela napas panjang. Murid luar? Itu artinya Han Le benar-benar menjadi saudaranya sekarang , meski harus melalui masa sulit di ruang penebusan.
Ruang Penebusan terletak di bagian paling belakang kompleks kuil, menempel pada dinding tebing granit. Ruangannya sempit, hanya ada sebuah meja kayu, satu pelita minyak, dan tumpukan kertas kosong. Di bagian belakang ruangan, ada celah alami di langit-langit gua tempat air gunung yang membeku terus menetes ke atas sebuah batu besar.
"Di sinilah tempatmu selama enam bulan ke depan, Han Te," bisik Lim Hao saat mengantar bekal terakhirnya sebelum pintu besi ruangan itu dikunci dari luar. "Jangan menyerah. Banyak murid yang tidak tahan dengan hawa dingin di sini, tapi aku tahu kau pasti bisa."
"Terima kasih, Twako. Jaga dirimu baik-baik di luar sana," jawab Han Le mantap.
Hari-hari pertama di Ruang Penebusan adalah ujian sesungguhnya bagi Han Le. Tugas menyalin kitab bukanlah hal mudah. Kitab yang harus ia salin adalah Lankavatara Sutra dalam bahasa Sansekerta dan Mandarin kuno. Tangannya yang biasa memegang tongkat kayu kini harus memegang kuas dengan sangat lembut. Jika ada satu titik yang salah, ia harus mengulang seluruh halaman.
Namun, tantangan terberat adalah meditasi malam. Han Le harus duduk bersila di atas batu di bawah tetesan air dingin. Setiap tetesan terasa seperti hantaman palu es di ubun-ubunnya.
Pada malam ketujuh, Han Le mulai merasa menggigil hebat. Tenaga dalam miliknya mencoba memberontak untuk menghangatkan tubuh, namun air dingin itu seolah menyerap energinya.
Tunggu... Han Le teringat sesuatu. Twako Lim Hao pernah berkata, jangan gunakan tenaga penuh, tapi alirkan tenagamu. Biarkan kapak hanya menjadi sarana.
Han Le mulai mencoba mempraktekkan prinsip menebang kayu itu ke dalam meditasinya. Alih-alih melawan dinginnya air dengan hawa panas tenaga dalamnya, ia mencoba "menerima" dingin itu. Ia membiarkan hawa dingin masuk ke pori-porinya, lalu memutarnya mengikuti jalur Qi yang baru ia pelajari dari kitab-kitab yang ia salin di siang hari.
Tanpa ia sadari, sebagian khasiat Pil Bodhi Emas di dalam tubuhnya mulai bereaksi terhadap tekanan hawa dingin ini. Energi pil itu mulai mencair, menyatu dengan tenaga dalam aslinya.
Bulan kedua berlalu. Han Le mulai terbiasa dengan rutinitasnya. Menariknya, saat menyalin kitab-kitab kuno itu, ia menemukan catatan-catatan kecil di pinggir kertas yang sepertinya ditulis oleh murid-murid terdahulu yang pernah dihukum di sana.
Ada satu catatan yang menarik perhatiannya: "Lohan bukan hanya jurus, Lohan adalah nafas. Gerakan satu adalah awal, gerakan delapan belas adalah akhir yang kembali ke awal."
Han Le teringat latihan di pelataran luar yang ia saksikan bersama Lim Hao. Ia mulai menggerakkan jari-jarinya di atas meja, menirukan pola serangan delapan belas Lohan sambil tetap memegang kuas. Ajaibnya, tulisannya menjadi jauh lebih rapi dan bertenaga. Garis-garis kuasnya seolah mengandung napas bela diri.
Suatu malam, Tetua Kong Hui datang berkunjung secara diam-diam. Ia berdiri di balik pintu sel, memperhatikan Han Le yang sedang menyalin kitab dengan gerakan tangan yang sangat stabil, padahal hawa di dalam ruangan itu sudah di bawah titik beku.
Kong Hui tersenyum tipis. Anak ini benar-benar berjodoh dengan Shaolin. Ia tidak hanya menebus kesalahan, ia menemukan kekuatan baru.