Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan ke Kegelapan
“Aku akan memberimu uang,” bisik suara dingin dari balik kaca. “Tapi kau akan membayarnya dengan jiwamu, Agus.”
Bapak Tirta menjerit, suara yang melengking, jauh dari citra eksekutif yang ia pertahankan. Kaca jendela ruang rapat itu tidak pecah, tetapi retakan-retakan tajam menyebar, seolah-olah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata di dalam ruang hampa. Di pusat retakan itu, wajah Raden Titi Kusumo memudar, meninggalkan aura dingin yang mematikan.
“Ambil! Ambil semua uang itu dan pergi!” teriak Bapak Tirta, tersandung mundur, matanya liar mencari jalan keluar. “Aku tidak mau terlibat dalam kegilaanmu! Ini bukan bisnis, ini sihir!”
Agus tidak perlu disuruh dua kali. Ia menyambar setumpuk uang tunai seratus juta itu dengan satu tangan, sementara tangan yang lain meraih cek lima puluh juta yang tergeletak di meja. Cek itu terasa seperti janji palsu, tetapi ia harus mengambil risiko.
“Terima kasih, Pak,” kata Agus, suaranya tercekat karena ketegangan. Ia berbalik dan berlari keluar dari ruang rapat, meninggalkan Bapak Tirta yang terengah-engah dalam ketakutan.
Ia turun melalui tangga darurat, menghindari lift karena takut entitas itu akan menyerangnya lagi di ruang sempit. Ketika ia mencapai mobilnya di lantai basement, ia membuka pintu dengan panik dan melemparkan uang serta cek itu ke kursi penumpang.
Titi Kusumo telah menunjukkan bahwa ia tidak hanya mengawasi, tetapi juga bertindak. Agus tahu ia tidak punya waktu untuk mencairkan cek itu. Ia harus segera menghubungi Kuskandar dan mentransfer seratus juta tunai, sisanya ia akan gunakan untuk menyogok Mbah Jari secara langsung, berharap dukun itu menerima jaminan cek.
Agus menyalakan mesin mobil yang kini terasa rentan. Ia melaju kencang, meninggalkan gedung mewah itu dengan perasaan jijik terhadap dirinya sendiri dan dunia. Ia baru saja menjual rahasia Lanang Sewu, mempertaruhkan nyawa spiritual Endang, hanya demi seratus lima puluh juta untuk menipu sang Raden.
Dalam dua puluh menit, ia tiba di warung kopi Kuskandar. Kuskandar sedang menunggu, ekspresinya tegang.
“Kau berhasil?” tanya Kuskandar, tanpa basa-basi.
Agus membanting tumpukan uang tunai di meja. “Seratus juta tunai, Kuskandar. Dan ini, cek lima puluh juta. Transfer seratus juta ini segera ke rekening Mbah Jari. Aku akan membawa sisanya dan menyerahkannya langsung saat aku tiba di Pondok Kali Mati.”
Kuskandar menatap uang itu, lalu menatap Agus. “Cek? Mbah Jari tidak menerima cek, Agus. Dia butuh uang tunai yang bersih.”
“Dia harus menerimanya! Katakan padanya ini jaminan bahwa aku akan mencairkannya besok pagi! Sekarang, segera transfer! Titi Kusumo sudah menyerangku di kantor Bapak Tirta! Dia tahu rencanaku!” desak Agus, suaranya hampir pecah.
Kuskandar menghela napas, melihat keputusasaan mutlak di mata Agus. “Baik. Aku akan mencoba membujuknya. Kau pergi sekarang ke Pondok Kali Mati. Kau harus menjemput Sari dari pondok Mbah Jari yang sekarang, dan segera bawa dia ke gudangmu. Mbah Jari akan menunggumu di Pondok Kali Mati untuk ritual penyempurnaan.”
“Aku akan melakukannya,” janji Agus.
“Dan Endang?” tanya Kuskandar, alisnya terangkat. “Dia akan ikut?”
Agus menggelengkan kepalanya. “Tidak. Dia sudah menjadi masalah. Dia sudah ditandai. Jika dia ikut, aura spiritualnya yang rusak akan merusak ritual Topeng Sukma Ganda. Dia akan menjadi penghalang moral. Aku harus meninggalkannya.”
Kuskandar mengangguk, tampak puas. “Keputusan yang bijaksana. Endang yang sudah menolak perjanjian itu adalah magnet bagi murka Titi Kusumo. Biarkan dia terisolasi. Fokus pada Sari.”
Agus meninggalkan Kuskandar untuk melakukan transfer. Ia mengemudi kembali ke rumahnya yang usang.
Ketika ia tiba, Endang masih terduduk di lantai kamar, di tengah pecahan kaca cermin, memeluk lututnya. Bercak hitam di pergelangan tangannya kini terlihat lebih besar dan kering.
“Aku pergi, Endang,” kata Agus, berdiri di ambang pintu, suaranya keras.
Endang mengangkat wajahnya yang sembab. “Kau mau ke mana? Kau masih mau melanjutkan kegilaan ini?”
“Aku harus melakukannya. Aku sudah mendapatkan uangnya. Aku harus menyelesaikan ritual Topeng Sukma Ganda dengan Mbah Jari. Ini satu-satunya jalan keluar kita,” jelas Agus.
Endang tertawa pahit. “Jalan keluar? Kau baru saja menjual jiwamu dua kali, Gus! Aku sudah ditandai olehnya! Apa yang kau harapkan dari penipuan ini? Bahwa dia akan pergi? Dia akan kembali, dan kali ini dia akan mengambil kita berdua!”
“Kau tidak akan ikut denganku,” potong Agus. “Kau akan tetap di sini. Kau sudah merusak ikatan spiritual. Kau tidak bisa berada di dekat ritual itu.”
Endang bangkit berdiri. “Kau tidak bisa meninggalkanku! Kau sudah berjanji, Gus! Kita hadapi ini bersama!”
“Kau sudah memilih, Endang. Kau memilih prinsip moral palsumu daripada hidup kita!” balas Agus, nada suaranya penuh kekecewaan. “Aku tidak bisa mempertaruhkan kekayaanku, dan nyawaku, karena kau tiba-tiba menjadi pahlawan spiritual. Kau tetap di sini. Aku akan mengunci semua pintu. Jangan buka untuk siapa pun, dan jangan coba-coba memecahkan cermin lain.”
Agus berjalan mendekat, menyambar kunci mobil Endang yang tersisa, dan kunci gudang yang akan ia gunakan untuk mengikat Sari.
Endang menatapnya dengan mata terluka. “Jika kau pergi sekarang, Gus, jangan kembali. Aku tidak akan memaafkanmu karena menggunakan Sari sebagai tameng. Kau tahu dia juga korban, sama seperti kita.”
Agus menghindari tatapan Endang. Ia tahu Endang benar. Sari adalah korban murni dari keserakahan mereka. Tetapi ambisi Agus sudah mengalahkan hati nuraninya.
“Aku akan kembali. Dan saat aku kembali, kita akan kaya raya, Endang. Kau hanya perlu bersabar sedikit,” kata Agus, lalu ia berbalik dan menutup pintu kamar dengan keras. Ia mengunci pintu itu dari luar.
Agus segera melaju ke lokasi pertama Mbah Jari, di pinggiran kota. Ia menemukan Sari dalam keadaan linglung, matanya sayu dan badannya lemas akibat sedatif.
“Ayo, Sari. Ini akan segera berakhir,” bisik Agus, memapah Sari yang nyaris tidak sadarkan diri ke dalam mobil.
Perjalanan ke Pondok Kali Mati dimulai.
Agus mengemudi ke arah selatan, menjauhi hiruk pikuk kota. Jalanan yang ia lewati semakin sempit dan berdebu. Pemandangan berubah dari pemukiman padat menjadi hutan jati yang kering.
Setelah dua jam berkendara, mobil Agus memasuki jalan setapak yang ditutupi oleh ranting-ranting kering. Udara terasa berat, dan bau hangus samar-samar tercium.
Hutan Jati yang Terbakar.
Agus mematikan mesin mobil di batas hutan, takut mesinnya akan mogok seperti terakhir kali. Ia harus berjalan kaki ke Pondok Kali Mati. Ia memapah Sari, yang kini terasa seperti beban mati.
Mereka berjalan menembus semak-semak yang kering. Tiba-tiba, Agus menyadari sesuatu: ia tidak lagi merasakan ketakutan Titi Kusumo. Tidak ada bisikan, tidak ada retakan di udara. Seolah-olah entitas itu menunggu dengan sabar.
Atau, ia sedang memasuki wilayah yang lebih gelap.
Pondok Kali Mati terletak di tepi sungai kering. Tempat itu lebih merupakan gubuk daripada pondok, dibangun dari bambu dan atap ijuk yang reyot. Suasana di sana sunyi, senyap total, hanya suara daun kering diinjak Agus.
Di depan gubuk itu, duduk Mbah Jari. Ia mengenakan jubah hitam lusuh, dan di sampingnya, sebuah kuali besar berisi cairan hitam yang mengepul diletakkan di atas api kecil. Mata Mbah Jari yang tajam menyambut kedatangan Agus.
“Kau datang. Dan kau membawa tumbalnya,” sapa Mbah Jari, suaranya serak.
Agus meletakkan Sari di tanah. Ia mengeluarkan uang tunai lima puluh juta dan cek yang ia dapatkan dari Bapak Tirta.
“Seratus juta sudah ditransfer oleh Kuskandar. Dan ini, sisanya. Lima puluh juta tunai dan cek jaminan. Mulai ritualnya, Mbah. Sekarang juga!” desak Agus.
Mbah Jari tidak menyentuh uang itu. Ia hanya menatap Sari, lalu mengalihkan pandangannya ke Agus.
“Ritual sudah dimulai, sejak kau menipu Titi Kusumo, Agus. Topeng Sukma Ganda tidak bisa dilakukan di sini,” kata Mbah Jari. “Aku hanya melakukan persiapan akhir.”
“Persiapan akhir apa? Kita butuh penyamaran astral itu sekarang!”
Mbah Jari tersenyum dingin. “Penyamaran astral hanya bisa dilakukan jika fisik korban benar-benar kosong. Sari masih memiliki kesadaran. Aku harus mengosongkannya. Kau pikir untuk apa kuali ini?”
Mbah Jari menunjuk ke kuali yang mengepul. Ia kemudian meraih Sari, yang kini menjerit kecil dalam ketidaksadarannya, dan menyeretnya ke tepi kuali.
Agus mundur, ngeri. “Apa yang kau lakukan? Jangan lukai dia! Aku butuh dia utuh!”
“Kau butuh dia kosong, Agus. Agar sukma Endang yang palsu bisa masuk,” Mbah Jari berujar, lalu ia mengambil sebuah gayung kecil dari samping kuali, menciduk cairan hitam pekat yang mengepul, dan tanpa peringatan, ia menyiramkan cairan panas dan amis itu ke wajah Sari.
Sari menjerit kesakitan, jeritan yang menusuk, tetapi jeritan itu tiba-tiba terhenti, digantikan oleh keheningan total.
Mbah Jari tertawa. Ia menoleh ke Agus.
“Sekarang, dia kosong. Siapkan gudangmu, Agus. Aku akan membawanya ke sana. Tapi kau harus tahu, ini bukan hanya tentang penyamaran,” bisik Mbah Jari, matanya berkilat merah. “Ini tentang… pengorbanan yang disempurnakan.”
Mbah Jari menunjuk ke dada Sari, tepat di jantungnya.
“Agar Topeng Sukma Ganda berhasil, aku harus memastikan bahwa Titi Kusumo tidak hanya mendapatkan tiruan, tetapi ia harus mendapatkan tiruan yang telah mengalami penderitaan tulus. Sari harus mati dengan keyakinan bahwa dia adalah Endang yang terhukum. Itu adalah rahasia terbesar Lanang Sewu, Agus. Penipuan yang tulus.”
Mbah Jari mengarahkan jarinya yang panjang ke arah Agus, tepat ke cek lima puluh juta yang masih dipegang Agus.
“Dan untuk penderitaan yang sempurna itu, aku butuh uang tunai, bukan cek jaminan. Kau harus segera mencairkannya, atau kau akan kehilangan segalanya, bahkan Sari yang sudah kukosongkan—”
Tiba-tiba, Mbah Jari terdiam. Matanya melebar, menatap ke belakang Agus.
Agus berbalik, tetapi tidak melihat apa-apa.
“Ada apa, Mbah?” tanya Agus, panik.
Mbah Jari tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke sungai kering di belakang Agus.
Di dasar sungai kering itu, di antara bebatuan yang retak, muncul sesosok wanita berpakaian pengantin Jawa kuno, wanita yang sama persis dengan hantu yang ditemui Agus di mobilnya.
Wanita itu perlahan berjalan mendekat. Gaunnya yang usang tampak basah oleh lumpur kering.
“Siapa itu?” bisik Agus.
Mbah Jari tersentak, gemetar hebat, ia mencoba menarik Sari menjauh dari kuali, tetapi ia sudah terlambat.
Wanita pengantin itu menunjuk ke Mbah Jari dengan jari yang panjang dan kurus.
“Kau telah mengkhianati Lanang Sewu. Kau telah mencemari tumbalnya,” suara wanita itu terdengar melengking, seperti ratapan dari masa lalu.
Sebelum Mbah Jari sempat mengucapkan mantra pertahanan, wanita pengantin itu menghilang. Namun, di tempatnya berdiri, kini muncul siluet Raden Titi Kusumo, dalam wujud bangsawan yang sempurna, tetapi dengan kemarahan yang membekukan.
“Mbah Jari. Kau telah melanggar sumpah kuno,” suara Titi Kusumo kini dingin, mematikan. “Dan kau, Agus, kau menipuku dua kali.”
Titi Kusumo melangkah maju, dan dengan satu gerakan tangan, ia mencabut keris yang terselip di pinggangnya. Keris itu menyala, dan ia mengarahkannya tepat ke Sari yang kini tergeletak tak berdaya.
“Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, dan menghukum kalian berdua untuk penghinaan ini!” teriak Titi Kusumo.