Rani tanpa sadar dijadikan taruhan oleh Wira karena kalah balapan liar dengan Arlo. Arlo rela memberikan motor sport barunya untuk Wira demi untuk mendapatkan Rani.
Arlo memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan makanan Rani. Arlo hampir melecehkan Rani. Tapi sesuatu terjadi.
Rani berhasil melarikan diri bersama seseorang dan mengalami kecelakaan. Rani menghilang. Arlo dan Wira mencari Rani karena mereka takut Rani membocorkan rahasia mereka.
Rahasia apa yang tersembunyi?
Apa yang akan terjadi kepada Rani?
Apakah Wira dan Arlo tidak akan melepaskan Rani?
Ikuti kelanjutan ceritanya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pak Latif, Rama dan Bima masuk ke rumah besar. Letaknya agak jauh dari jalan raya. Jalan yang dilewati kiri kanan dipenuhi pohon-pohon besar.
Orang-orangnya pak Latif sudah mengamankan beberapa pria berotot penuh dengan tato. Tangan mereka terikat di belakang dan duduk di atas lantai.
Ada seorang gadis yang ketakutan duduk di kursi. Dia memandangi pak Latif, Rama dan Bima.
"Siska, apa yang kamu lakuin di sini?" Rama menghampiri Siska.
"Dinda mengirim pesan ke aku Ka. Dia minta dijemput. Tapi, ternyata, aku dijebak. Dinda gak ada," Siska nampak masih ketakutan.
Pak Latif meminta penjelasan kepada salah seorang pria berotot. Apa maksud dan tujuan mereka. Siapa yang membayar mereka. Jika mereka berkata jujur, pak Latif akan melepaskan mereka.
Tidak ada seorangpun yang membuka suara. Pengawal pak Latif mulai mengancam mereka. Pak Latif sekali lagi memberikan mereka kesempatan.
"Tidak ada yang bisa keluar dari sini. Saya pastikan kalian semua menghilang tanpa jejak!" Ancam pak Latif.
Salah satu dari mereka akhirnya mengaku didatangi seorang pemuda. Berperawakan tinggi, wajahnya tidak nampak karena dia memakai masker hitam.
Orang itu menghampiri dan memberikan mereka sejumlah uang. Dia meminta mereka untuk datang ke rumah besar menunggu seorang gadis. Mereka diperintahkan untuk menyandera gadis itu untuk dimintai tebusan.
Orang itu meninggalkan sebuah ponsel dan ponsel itu tidak boleh dipegang siapapun. Setelah melihat Siska yang datang, mereka langsung menangkap dan mengikatnya.
"Saya dihubungi orang itu lewat ponsel ini. Dia bilang, nanti akan ada orang yang mengantarkan uang tebusan. Dia memerintahkan kami setelah uang tebusan diambil, gadis ini diantarkan ke kantor polisi," ujarnya.
Siska semakin ketakutan, dia menghampiri Rama dan berdiri di belakangnya. Keinginan Siska hanya satu, pulang ke rumah dalam keadaan selamat.
Ponsel Rama berdering. Rama mendapatkan kabar, rumah pak Latif kebakaran. Pak Latif, Rama, Bima dan Siska segera meninggalkan rumah besar. Mereka langsung masuk ke mobil menuju rumah pak Latif.
Sesuai janji pak Latif, semua orang bayaran dibebaskan. Orang-orang pak Latif juga pergi ke rumah pak Latif.
Rama ngebut di jalan raya. Rama menerobos beberapa lampu merah. Mobil Rama dikejar mobil patroli polisi. Rama tetap melaju tanpa memperdulikan peringatan dari mobil patroli polisi.
Bunyi sirene mobil patroli mampu membuat pengguna jalan memberikan jalan kepada Rama untuk melaju kencang. Hal ini dimanfaatkan Rama agar bisa sampai dengan cepat ke rumah.
Dari kejauhan sudah terlihat kobaran api. Terdengar juga raungan mobil pemadam kebakaran. Jalan menuju rumah pak Latif mendadak macet.
Rama menepikan mobilnya. Mobil patroli polisi juga menghampiri mereka. Pak Latif langsung menemui petugas polisi. Pak Latif memberikan alasan mengapa mereka ngebut dan menerobos lampu merah.
Petugas polisi juga ikut melihat situasi yang terjadi di rumah pak Latif. Sebagian rumah pak Latif terbakar, api masih membesar. Pemadam kebakaran masih bertarung mematikan api.
Rama histeris saat melihat petugas pemadam membawa keluar Dita, Sekar. Mereka berdua terluka. Serpihan kaca menempel di tangan dan di wajah mereka. Bima dan pak Latif mencari Dinda.
"Bima, Dinda ada di dalam membantu Om dan Tante," kata Dita.
Bima ingin masuk menerobos api, tapi demi keselamatan, petugas polisi melarangnya. Terdengar kembali bunyi ledakan di dalam rumah. Api menyambar apa saja setelah ledakan terjadi.
Dentuman keras itu menghantam tiang rumah. Lantai dua rumah pak Latif amruk. Semua orang berteriak histeris karena Dita terus memanggil Dinda, Damin dan Mira yang masih berada di dalam rumah.
Pemadam kebakaran terus berupaya memadamkan api. Dengan taruhan nyawa, mereka perlahan menerobos api mencari anggota keluarga yang masih berada di dalam rumah.
Kerja keras, perjuangan pantang menyerah, membuahkan hasil. Petugas pemadam kebakaran membawa keluar Damin, Mira dan Dinda. Mereka terluka parah dan dalam keadaan pingsan.
Damin, Mira, Dinda, Sekar dan Dita dibawa ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Sekar dan Dita diberikan pengobatan. Damin, Mira dan Dinda dimasukkan ke ruangan operasi.
Kaki Damin mengalami keretakan pada sendi, tulang kakinya bergeser. Begitu juga dengan Mira yang mengalami nasib yang sama. Sedangkan Dinda, bagian punggungnya ditimpa sesuatu yang berat sehingga mengalami luka bakar yang parah.
Di luar ruangan operasi, Sekar dan Dita cerita kepada Latif, Rama dan Bima. Setelah Latif, Rama dan Bima pergi, pengawal Latif tidak ada yang berjaga di depan rumah. Mereka semua ikut Latif. Ada kurir datang mengantarkan paket untuk Rama.
Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Dita masuk ke rumah membawa paket dan menaruhnya di meja tamu. Tidak lama setelah itu, paket itu meledak.
"Paket untukku?" Rama mengernyit.
"Ayah yakin, semua ini sudah direncanakan. Rama, tolong antarkan Siska pulang. Siska, Om akan meminta izin ke sekolah. Kamu berisitirahat dulu beberapa hari di rumah," ucap pak Latif.
Rama mengantar Siska pulang dengan mobilnya. Sebelumnya di rumah sakit, Siska juga diperiksa kesehatannya. Siska mengalami perasaan kaget yang hebat.
Dalam diam Siska mengingat kembali kejadian beberapa hari ini. Siska selalu saja mengalami kesialan. Kehilangan dompet, buku harian. kejadian itu selalu saja ada hubungannya dengan Dinda.
Siska berpikir, apakah kejadian ini ada hubungannya dengan Kenzo. Selama ini, yang sering membuat masalah di kelas X DKV 2 adalah Kenzo.
"Siska, Siska!" Rama menepuk pundak Siska.
"Iya!" Sontak Siska.
"Maaf, kaget ya? Di mana alamat kamu?"
"Jalan Lavender Blok A No 33," sahut Siska.
Rama perlahan keluar dari halaman rumah sakit. Rama memperhatikan Siska yang masih gemetaran. Rama juga tidak sengaja mendengar perut Siska berbunyi. Siska memegangi perutnya dan menyembunyikan wajahnya karena malu.
Rama mencari tempat makan yang cepat saji. Rama yakin, saat ini Siska tidak ingin bertemu orang-orang asing. Rama melihat di depan ada warung tenda yang jualan nasi goreng. Rama menepikan mobilnya.
"Siska tunggu sebentar ya. Aku mau pesan makanan," Rama membuka pintu mobil.
Siska waspada penuh. Siska memperhatikan sekitar. Situasi di sana ramai. Lalu lintas juga padat karena masih jam 8 malam. Siska mengirim pesan ke orang tuanya karena pulang telat.
Rama perlahan membuka pintu mobil. Rama memberikan sekotak nasi goreng dan air mineral kepada Siska. Sebelum pulang, Siska harus mengisi perutnya agar tidak masuk angin.
Siska sangat lahap menghabiskan makanan begitu pula dengan Rama. Rama kembali melajukan mobilnya di jalan raya.
Rama berterima kasih karena Siska dengan suka rela mau membantu Dinda. Rama juga meminta maaf karena Siska dijadikan sandera.
Siska mengangguk dan bilang semua itu dia lakukan untuk menebus kesalahannya pada Dinda. Siska ikhlas membantu Dinda.
Dan di saat itu, Rama menoleh ke arah Siska. Sebelumnya Siska sempat salah paham kepada Dinda.
Rupanya sekarang mereka sudah menjadi teman baik, batin Rama.
Rama malam ini mengagumi Siska. Rama tidak fokus dengan setirnya. Siska melihat seseorang di depan sana hendak menyeberang jalan. Rama masih memandangi dirinya.
"Kak Rama, awaaaaaaaas!" Tunjuk Siska.
Rama menoleh ke depan. Rama dengan cepat menginjak pedal rem mobilnya.
CIIIIIIIIIT!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...