Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Penginapan Murah
"Bapak bercanda kan? Bos perusahaan raksasa menginap di tempat penginapan sekelas kos-kosan mahasiswa begini?" omel Aluna sambil menarik koper kecilnya. Matanya menatap horor pada plang lampu neon bertuliskan Penginapan Hemat Asri yang berkedip-kedip redup di pinggir jalan raya.
Elvano keluar dari mobil sewaan, merapikan kerah kemejanya dengan wajah tanpa dosa. "Ini bukan kos-kosan, Aluna. Ini penginapan fungsional. Ada atap, kasur, bantal, dan air bersih. Apa lagi yang kamu butuhkan untuk sekadar menutup mata selama enam jam ke depan?"
"Fasilitas, Pak! Karpet dan kasur empuk, sarapan prasmanan, bathtub (bak mandi)! Kita ini lagi perjalanan dinas bawa nama Diwantara Group loh! Masa Bapak tidak malu dilihat klien kalau menginap di sini?" protes Aluna sambil mengekor di belakang Elvano menuju meja resepsionis kecil yang dijaga seorang bapak tua.
"Klien tidak akan repot-repot mengecek tempat tidurku. ROI dari tidur di kasur harga lima juta dengan kasur harga seratus ribu itu persis sama. Sama-sama bikin mata dan punggung istirahat," balas Elvano santai. Dia mengetuk meja resepsionis. "Pak, dua kamar standard (standar). Pisah lantai kalau bisa. Jangan ada biaya tambahan yang aneh-aneh."
"Maaf, Pak. Kamar sisa dua dan kebetulan letaknya bersebelahan persis di ujung lorong lantai dua," jawab bapak resepsionis itu sambil menyerahkan dua kunci kuno dengan gantungan kayu besar berbentuk buah mangga.
Aluna buru-buru menyambar satu kunci dari atas meja. "Sebelah juga nggak apa-apa. Pokoknya pisah kamar! Awas kalau Bapak minta patungan bayar tagihan kamar ini. Uang makan dan uang tugasku belum cair serupiah pun, jadi ini murni di luar tanggung jawab dompetku!"
Elvano hanya mendengus sinis. Dia mengambil kunci miliknya lalu berjalan santai menaiki tangga kayu yang berderit pelan. "Kamu pikir aku mau satu ruangan dengan orang yang tidurnya ngorok? Bikin polusi suara dan sangat mengganggu kualitas istirahatku saja."
"Enak aja! Aku kalau tidur elegan ya, Pak! Nggak ada suara sama sekali!" sungut Aluna tidak terima sambil berjalan menghentak mengikuti langkah bosnya.
Sesampainya di kamar masing-masing, Aluna langsung melempar tasnya ke atas kasur berseprai putih tipis. Kamar itu sangat sempit dan sederhana. Hanya ada satu kasur ukuran tunggal, meja kayu kecil kusam, dan kipas angin di langit-langit yang berputar menghasilkan suara mendengung halus. Dindingnya terbuat dari partisi kayu tipis yang dicat putih seadanya.
"Miliarder pelitnya kebangetan," gerutu Aluna sambil memukul bantal yang agak keras dan berbau kapur barus. "Benar-benar perhitungan sampai ke akar-akarnya. Kalau tahu begini mending aku bawa selimut sendiri dari rumah."
Aluna membersihkan diri seadanya di kamar mandi dalam yang untungnya cukup bersih dan airnya mengalir lancar. Dia mengganti bajunya dengan setelan piyama bergambar beruang. Jam di dinding sudah menunjukkan waktu istirahat yang tepat untuk manusia normal.
Tubuhnya sudah remuk redam setelah menempuh perjalanan darat berjam-jam bersama Elvano. Bayangkan saja, bosnya itu menyetir mobil tanpa mau menyalakan pendingin secara penuh demi menghemat konsumsi bahan bakar minyak.
Aluna mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur kecil di dekat meja. Dia menarik selimut tipis itu sebatas dada.
Suasana penginapan itu sangat sepi, sangat mendukung untuk langsung terlelap dan melupakan lelah. Baru saja Aluna memejamkan mata dan nyaris masuk ke alam mimpi yang indah, sebuah suara bariton yang berat dan jelas menembus dinding tipis di sebelah kepalanya.
"Aku tidak mau dengar alasan apapun. Valuasi aset mereka sudah turun dua puluh persen kuartal ini."
Aluna terlonjak kaget sampai posisinya berubah menjadi duduk. Suara Elvano terdengar sangat dekat dan menggema, seolah pria itu sedang duduk bersila di tepi kasur Aluna. Aluna menatap dinding kayu di sebelahnya dengan kening berkerut. Ketebalan dinding pemisah ini sepertinya cuma setebal triplek lemari baju murah.
"Bapak bos robot itu belum tidur?" bisik Aluna pada dirinya sendiri, rasa penasarannya sukses mengalahkan rasa kantuk yang tadi menyerang.
Aluna menempelkan telinganya perlahan ke permukaan dinding kayu yang dingin itu seperti sedang menguping rahasia negara.
"Aku tawarkan delapan ratus miliar cash (tunai). Tidak pakai cicilan. Kalau dewan direksi mereka menolak, biarkan saja perusahaan mereka hancur digilas utang bulan depan," suara Elvano kembali terdengar mantap dari seberang dinding. Terdengar ketukan jari yang konstan di atas meja, khas Elvano saat sedang berpikir keras dan berkuasa penuh.
Aluna melongo menatap dinding kosong itu. Mulutnya terbuka lebar tanpa suara sedikitpun. Angka yang baru saja disebutkan bosnya dengan nada kelewat santai itu membuat bulu kuduk Aluna meremang hebat.
"Delapan ratus miliar?" gumam Aluna pelan, nyaris tak percaya dengan ketajaman pendengarannya sendiri. Uang sebanyak itu kalau dibelikan nasi bungkus bisa memicu inflasi di satu provinsi.
"Iya, aku tahu risikonya cukup tinggi. Tapi aku mau akuisisi secara total. Seratus persen saham milik kita. Persiapkan dokumen legalnya malam ini juga. Aku mau tanda tangan deal (sepakat) itu sebelum pasar modal buka." Suara Elvano terdengar sangat berwibawa, penuh aura intimidasi, dan kekuasaannya begitu menguasai keadaan meski hanya lewat sambungan telepon.
Aluna perlahan menjauhkan telinganya dari dinding. Matanya menatap nanar ke sekeliling kamarnya yang sangat sempit, lalu menatap bantal keras yang dia tiduri barusan.
Di kamar penginapan seharga seratus ribu perak ini, di atas kasur yang pernya terasa menusuk tulang punggung, bosnya yang gila hemat itu sedang melakukan rapat online untuk membeli perusahaan seharga delapan ratus miliar tunai. Kontras yang luar biasa tajam ini membuat kewarasan Aluna nyaris putus seketika.
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥