NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 Pertemuan yang Tidak Pernah Dibayangkan

Pintu café terbuka perlahan.

Ana keluar sambil membawa dua kotak cake pesanan pelanggan di tangannya. Rambut panjangnya diikat sederhana, mengenakan cardigan krem dan apron putih yang masih menempel di tubuhnya.

Namun langkah wanita itu langsung berhenti saat melihat tiga orang berdiri tidak jauh dari pintu café.

Kotak cake di tangannya hampir jatuh.

Tubuh Ana membeku.

“A… Ajeng?”

Suara Ana terdengar sangat pelan.

Sementara Ajeng sendiri berdiri diam seperti patung. Matanya membulat besar menatap wanita di depannya tanpa percaya.

Wajah itu…

Wajah yang selama ini hanya ia lihat lewat foto lama milik ayahnya.

“Kak… Ela?”

Suara Ajeng langsung bergetar.

Ana refleks mundur satu langkah. Napasnya mulai memburu.

Tidak.

Ini terlalu cepat.

Ia belum siap bertemu siapa pun dari keluarga Raespati.

Raka yang melihat perubahan wajah Ana langsung mendekat pelan.

“Ela…”

Namun sebelum pria itu selesai bicara, Ajeng tiba-tiba berlari dan langsung memeluk Ana erat sampai kotak cake di tangan wanita itu jatuh ke lantai.

“KAK ELA!”

Tangisan Ajeng pecah begitu saja.

“Aku pikir Kakak udah meninggal…”

Ana langsung membeku di tempat.

Tubuhnya kaku saat merasakan pelukan hangat dari adik kecil yang dulu selalu ia jaga diam-diam.

Ajeng menangis semakin keras.

“Kenapa Kakak ninggalin aku…”

Ana perlahan memejamkan mata.

Dan untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun… tembok dingin yang ia bangun perlahan mulai retak.

Tangannya bergerak pelan membalas pelukan Ajeng.

“Aku baik-baik aja…” bisiknya lirih.

Raka dan Mita hanya bisa diam melihat pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca.

Sementara dari dalam café, Dylan dan Sabine yang mendengar suara ribut langsung keluar.

“Mima?”

Dylan langsung berhenti saat melihat ibunya dipeluk seorang gadis asing yang menangis.

Sabine juga terlihat bingung.

“Siapa itu?” bisiknya pelan ke Dylan.

Ajeng yang sadar ada dua pasang mata menatapnya langsung melepaskan pelukan Ana perlahan.

Matanya langsung tertuju pada Dylan dan Sabine.

Dan entah kenapa… dadanya langsung terasa hangat melihat keduanya.

“Kak…” Ajeng menatap Ana dengan mata merah. “Ini… anak Kakak?”

Ana terlihat gugup sesaat namun akhirnya mengangguk kecil.

“Iya.”

Ajeng langsung menatap Dylan dan Sabine berbinar.

“Ya ampun lucu banget…”

Sabine langsung bersembunyi di belakang Ana.

“Kamu siapa?” tanyanya polos.

Ajeng langsung menunjuk dirinya sendiri cepat.

“Aku tante kalian!”

“HAH?!”

Dylan dan Sabine kompak melotot.

Ana langsung memijat pelipis pusing.

“Ajeng…”

Namun gadis itu malah tersenyum lebar sambil mendekat ke Sabine.

“Kamu cantik banget sih mirip Kak Ela.”

Sabine yang biasanya jutek malah langsung malu sendiri.

Sementara Dylan mulai memperhatikan semuanya dengan serius. Ia tidak bodoh. Dari cara orang-orang ini bicara… jelas mereka mengenal masa lalu Mima yang selama ini disembunyikan.

Tak lama Ana akhirnya mengajak semuanya masuk ke dalam café karena menjadi pusat perhatian orang sekitar.

Suasana café mendadak canggung.

Ajeng justru sibuk melihat sekeliling dengan kagum.

“Kakak tinggal di sini?”

Ana mengangguk kecil sambil membuat teh hangat untuk mereka.

“Bagus banget…” gumam Ajeng tulus.

Tidak ada kemewahan seperti rumah Raespati. Namun tempat itu terasa hangat. Sangat hidup.

Berbeda dengan rumah besar mereka yang megah tapi dingin.

Sabine dan Dylan duduk memperhatikan Ajeng yang terlalu cepat akrab. Bahkan gadis itu sudah sibuk memakan cheesecake sambil mengobrol dengan Sabine.

“Kamu suka ice skating juga?” tanya Ajeng antusias.

Sabine langsung mengangguk cepat.

“Mima dulu jago banget.”

Ajeng langsung menoleh ke Ana dengan mata berbinar.

“Aku tau! Kak Ela dulu keren banget!”

Ana hanya tersenyum tipis canggung.

Beberapa jam berlalu tanpa terasa.

Dan masalah baru muncul saat Raka berdiri.

“Nona, kita harus ke hotel.”

Ajeng langsung menggeleng cepat.

“Gamau.”

Raka langsung pasrah.

“Nona…”

“Aku mau nginep di sini!”

“Hah?!” Ana langsung tersedak tehnya sendiri.

Ajeng langsung memeluk lengan Ana manja seperti dulu waktu kecil.

“Please Kak Ela…”

“Aku kangen…”

Ana terlihat panik.

“Ajeng, ini rumah kecil…”

“Gapapa!” jawab Ajeng cepat. “Aku bisa tidur sama Bine!”

Sabine langsung melotot.

“Loh kok aku?”

Ajeng malah tertawa sambil memeluk gadis itu.

“Karena kamu lucu.”

Mita langsung menahan tawa melihat wajah syok Sabine.

Sementara Raka memijat kepala frustasi.

Dan Ana…

Wanita itu hanya bisa diam sambil menatap Ajeng yang tersenyum cerah di sampingnya.

Senyum yang dulu sangat sering ia rindukan.

Mungkin…

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah kecilnya tidak lagi terasa sesepi biasanya.

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!