"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"
"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."
Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.
"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.
"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 [ Cantika Ingin Ikut Mama ]
Plak!
Tamparan mendarat keras mengenai pipi Cantika, bunyinya menggema di ruangan yang seketika membeku. Udara seolah berhenti berhembus, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Memegangi pipinya yang masih panas, gadis itu terpaku, matanya membesar penuh keterkejutan, seolah tak mampu memproses apa yang baru saja terjadi.
Perlahan, jemarinya meraba bekas tamparan itu perihnya menjalar hingga ke dada, bukan hanya rasa sakit fisik, tetapi juga luka yang jauh lebih dalam. Napasnya tercekat, bibirnya bergetar, namun tak satu kata pun mampu keluar.
Tak percaya… sosok Papa kandungnya lah orang yang dengan teganya memberinya tamparan itu.
Tatapan Cantika beralih, menatap lelaki yang selama ini ia panggil Papa dengan penuh harap dan kasih. Namun kini, yang ia lihat hanyalah wajah dingin yang asing penuh amarah, tanpa sedikit pun kelembutan yang dulu pernah ia kenal.
Dunia Cantika runtuh dalam sekejap, retakannya terasa begitu nyata, menghancurkan sisa-sisa kepercayaannya.
Dadanya naik turun menahan gejolak emosi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha keras menahannya. Ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari sekadar tamparan.
"Sudah cukup! Selama ini Papa sudah cukup menahan banyak kesabaran menghadapi perilaku buruk mu... Kapan... Kapan kamu akan membuat Papa bangga? Kamu Putri kandung Papa... Tapi apa? Kamu hanya bikin masalah dan tidak pernah sekali pun memikirkan bagaimana perasaan Papa? Kamu sudah melewati batas! Papa harus ambil tindakan! Maaf kali ini Papa sudah melewati batas! Ayo bawa dia!"
Pria tua itu memerintahkan kedua satpam, mengangguk keduanya memegangi pergelangan tangan gadis malang itu entah apa yang akan diperbuat dan tindakan apa yang akan Cantika dapatkan.
"Tidak! Papa ingin bertindak apa? Aku berani bersumpah aku tidak salah! Ini kesalah pahaman, aku korban... Dia yang berusaha memp3rkosa aku! Aku tidak salah, Pa! Aku tidak salah!"
Lagi-lagi pembelaannya hanya sebatas angin yang lalu, Cantika dibawa paksa, diseret layaknya sampah bahkan yang lebih menyedihkan lagi dua sosok Lelaki yang seharusnya melindunginya hanya menjadi penonton diatas penderitaannya.
"Tidak... Papa stop! Jangan lakukan itu... Jangan potong rambutku... Papa stop!"
Teriakannya terdengar menggema diluar ruangan yang sangat menyayat hati, didalam ruangan itu hanya ada Cantika dan Papanya tapi tindakan Papanya kali ini seolah-olah memberikan hukuman yang lebih setimpal dan tidak manusiawi, diluar Adrian hanya menjadi penonton ia hanya diam, ia hanya mematung mendengar jeritan didalam ruangan yang sungguh sangat memilukan.
Beberapa detik keluarnya Pria tua itu tak menunjukkan reaksi sedih seolah-olah ada penyesalan yang terdapat dalam dirinya, ia hanya menyerahkan satu buah gunting, sambil ia memerintahkan untuk membereskannya.
Didalam tubuh gadis malang itu bersimpuh di lantai dengan kondisi lantai yang berceceran rambut dimana-mana, air matanya mengalir deras, hatinya sangatlah sakit, luka yang ia derita bukan lagi goresan tapi sudah seperti remukan yang tak terbentuk lagi.
"Rambutku... "
Cantika hanya mampu terisak, memegangi rambut panjangnya yang sudah tak terbentuk cantik seperti sedia kala, ia tak bisa berbuat banyak selain menangis dan menangisi nasibnya yang malang.
Ia bangkit menerobos gerombolan orang-orang yang begitu penasaran ingin tau apa yang terjadi dengannya, ada yang memiliki iba dan kasihan terhadapnya... ada juga yang pada berbisik-bisik dan kembali menyalahkan Cantika.
Berlari keluar meninggalkan kediamannya sendiri dengan kondisinya yang berantakan dan rambutnya yang sudah tak terlihat cantik, ia terisak-isak ditengah-tengah tindakannya yang memutuskan kabur tak ada seseorang yang berusaha mengejarnya karena ia pun tau keberadaannya bahkan tak pernah diinginkan.
Bahkan sosok Lelaki yang baru sehari menjadi Suaminya ia pun tak keberadaannya bahkan tak pernah diinginkan.
POV Cantika
Apa sebenarnya arti hidup ini... Kapan pula penderitaan ini akan usai... Kapan aku mendapatkan kebahagiaan yang setara dan sebanding dengan penderitaan yang telah aku dapat... Mama... Tolong Cantika... Bantu Cantika mengakhiri semua derita ini... Tolong Cantika... Cantika sudah tidak kuat, Cantika ingin ikut Mama... Panggil Cantika... Cantika mohon...
Suara itu menggema dalam batinnya, berulang-ulang seperti gema tak berujung yang menghantam dinding hatinya yang sudah retak. Setiap kata seakan berubah menjadi luka baru, mengiris lebih dalam dari luka sebelumnya, menyisakan perih yang tak lagi bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Iya! Gadis cantik berambut panjang, dan berkulit putih, bermata indah sekaligus hidung yang mancung membuat siapa pun orang yang melihat pasti akan menyukainya.
Namun, kecantikan itu tak pernah menjadi penyelamat. Justru sebaliknya, seolah menjadi topeng sempurna untuk menyembunyikan kehancuran yang ia simpan rapat di dalam dada. Senyum yang dulu tulus kini hanya bayangan samar, tergantikan oleh tatapan kosong yang kehilangan arah.
Berjalan tanpa adanya tenaga yang kuat sekaligus tujuan yang akan ia tuju, gadis itu melihat sebuah jembatan yang bawahnya sudah teraliri sungai yang sangat deras. Lantas dirinya tak menunggu lagi mulai menghampiri sungai tersebut.
Langkahnya goyah… namun pasti. Seolah tubuhnya sudah menyerah, sudah pasrah, tapi jiwanya justru menemukan tujuan untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Angin sore membelai wajah pucat nya yang basah oleh air mata. Suara gemuruh sungai di bawah sana terdengar seperti panggilan… seperti janji akan akhir dari semua rasa sakit.
"Apa artinya hidup ini jika tak ada seorang pun orang yang peduli padaku... Cantika kangen sama Mama... Cantika ingin ikut sama Mama... Cantika akan datang dan memeluk Mama... tapi Mama tenang saja hanya menghitung menit maka kita akan berkumpul, tunggu Cantika...."
Gadis cantik itu terucap dengan tangisannya yang tersedu-sedu
Setiap kata yang keluar terasa seperti perpisahan terakhir. Air matanya jatuh tanpa henti, bercampur dengan suara isak yang pecah, seakan seluruh beban hidupnya luruh dalam detik itu. Tidak ada lagi harapan yang tersisa, yang ada hanya kerinduan mendalam yang menyesakkan dalam hatinya.
Berdiri tepat diatas batu besar dan berdiri diatas sungai yang mengalir dengan sangat deras, Cantika melambaikan kedua tangan yang kemudian ia memejamkan kedua mata dengan tersenyum lepas, hingga tinggal selangkah lagi gadis itu melangkah, sungai ini akan jadi saksi tiadanya seorang wanita cantik yang berambut panjang cantik tersebut.
Waktu seakan melambat. Detik demi detik terasa begitu panjang… seolah dunia menahan napas, menunggu keputusan terakhir dari gadis yang hampir kehilangan segalanya itu.
Akan tetapi niat yang Cantika rencanakan telah gagal total, setelah ada seseorang yang tiba-tiba menarik tangan Cantika dari belakang dengan tarikan kerasnya membuat gadis itu berbalik terjatuh.
Bruak...
Tubuhnya terhempas keras ke tanah. Rasa sakit menjalar, namun kalah jauh dibanding kekacauan yang kembali menghantam hatinya. Matanya membelalak, antara kaget, marah, dan putus asa yang kembali dipaksa hidup. Suara benturan itu menggema di antara derasnya aliran sungai.
Melihat dirinya gagal melakukan tindakan bunuh diri yang hendak ia lakukan barusan. Cantika menatap balik sosok seseorang yang berdiri tegak didepannya
Sosok Lelaki bertubuh kekar, tinggi dan sosoknya itu menunjukkan aura yang berwibawa dan cukup disegani, berbalut jas hitam rapi dan setelan dalamnya merah, auranya memancarkan ketertarikan setiap kaum perempuan yang pasti akan tergoda, tapi tidak untuk Cantika... Baginya Lelaki dihadapannya hanyalah seorang yang cukup membuatnya kesal lantaran akibat Lelaki itu, ia gagal mengakhiri deritanya.
BERSAMBUNG