Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEVEN
Malam itu, kediaman Herlos terasa begitu sunyi namun hangat. Della berdiri di dapur, baru saja selesai mengaduk segelas susu hangat. Ia teringat bekas luka di tangan Aksa tadi siang. Meski pria itu mencoba membunuhnya semalam, entah mengapa ada bagian dari hati Della yang merasa bertanggung jawab untuk menjaga kewarasan pria itu.
Ia berjalan menuju lorong dan berpapasan dengan Zacky yang sedang membawa beberapa dokumen.
"Zacky, di mana Aksa?" tanya Della.
"Tuan Muda berada di ruang baca, Nyonya Muda. Beliau sedang mempelajari beberapa berkas sejak tadi sore," jawab Zacky dengan sopan, meski matanya masih menunjukkan sedikit rasa heran melihat Della yang begitu tenang.
Della mengangguk dan melangkah menuju ruang baca. Saat pintu kayu jati yang berat itu terbuka sedikit, Della terpaku di ambang pintu. Di sana, di balik meja kerja yang diterangi lampu meja yang temaram, duduk Dayaksa Herlos.
Aksa mengenakan kacamata berbingkai tipis. Rambutnya yang biasanya berantakan kini tersisir rapi ke belakang. Ia tampak begitu fokus pada buku di tangannya, wajahnya terlihat sangat dewasa, dingin, dan penuh wibawa. Tidak ada jejak anak kecil yang merajuk, tidak ada jejak monster yang haus darah.
Sebenarnya pria ini memiliki berapa kepribadian? batin Della heran. Setiap kali aku melihatnya, dia bisa menjadi sosok yang sangat berbeda. Apakah ini efek dari trauma, ataukah ini sisi aslinya yang selama ini terkubur?
Della masuk perlahan, mencoba tidak mengejutkannya. "Suamiku, apanya yang kamu baca seserius itu? Sudah malam, ayo kita tidur."
Della meletakkan gelas susu di meja. Aksa mendongak, menatap Della melalui lensa kacamatanya. Tatapannya begitu tajam hingga membuat jantung Della berdegup sedikit lebih cepat. Tanpa sepatah kata pun, Aksa meraih gelas itu dan meminumnya sampai habis, menyisakan sedikit bekas susu di bibir atasnya.
Della hendak mengambil gelas kosong itu, namun tiba-tiba tangan kuat Aksa menarik pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan sentakan yang mantap, Della tertarik dan jatuh tepat di pangkuan Aksa.
"Eh? Aksa!" Della terkesiap, tangannya refleks bertumpu pada bahu lebar suaminya.
"Tidak, tidak bisa tidur terlebih dahulu," ucap Aksa. Suaranya tidak lagi melengking gila, tapi berat dan penuh penekanan.
"Kenapa? Kamu masih mau membaca?"
Aksa menatap Della dengan sangat serius, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Della. "Kita sudah menikah. Kata orang, karena sudah menikah, seharusnya setiap malam kita membuat anak, bukan?"
Della hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Matanya membulat sempurna. "Membuat anak? Darimana kamu tahu istilah seperti itu, Aksa?!"
Aksa meraih sebuah buku tebal yang tadi ia baca. Di sampulnya tertulis: Panduan Menuju Keluarga Bahagia dan Harmonis. Ia membuka salah satu halaman yang sudah ia lipat ujungnya.
"Dari buku ini," ucap Aksa dengan polos namun wajahnya tetap terlihat dewasa. "Kata Zacky, karena aku sudah menikah, aku harus membaca buku seperti ini untuk menjadi suami yang baik. Lihatlah di sini, bab ini menjelaskan tentang 'Reproduksi dan Kewajiban Suami-Istri'. Di sini ada banyak panduannya, Della."
Sialan Zacky! Beraninya dia meracuni pikiran polos suamiku! umpat Della dalam hati. Ia membayangkan Zacky yang memasang wajah kaku namun sebenarnya menyembunyikan sisi jahiliyah yang luar biasa. Awas saja kamu, Zacky. Akan kupastikan gajimu dipotong bulan depan!
Della mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Aksa di bawahnya. Untuk menggoda pria itu kembali, Della memajukan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan. Hembusan napas Aksa yang beraroma susu hangat menerpa wajahnya.
"Lalu... apakah Tuan Muda Aksa yang pintar ini sudah tahu bagaimana caranya membuat anak, hemm?" goda Della dengan suara serak yang sensual. Ia ingin melihat apakah kepolosan itu benar-benar murni atau hanya kedok.
Aksa terdiam sejenak, ia tampak berpikir keras seperti sedang mengerjakan soal matematika rumit. Kemudian, ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak sepenuhnya tahu. Di buku ini gambarnya kurang jelas. Tapi... Della bisa mengajarkan caranya bagaimana cara membuat anak, bukan? Kamu kan istriku."
Tanpa memberi kesempatan Della untuk menjawab, Aksa tiba-tiba berdiri sambil menggendong Della dalam posisi bridal style. Tenaganya sangat besar, seolah tubuh Della seringan kapas.
"Aksa! Tunggu! Kita mau ke mana?"
"Ke kamar. Kita belajar praktik sekarang," jawab Aksa tegas sambil melangkah keluar dari ruang baca menuju kamar utama.
Bruk!
Tubuh Della dilemparkan ke atas ranjang yang empuk. Sebelum Della sempat berguling untuk melarikan diri, Aksa sudah merangkak naik dan berada di atas tubuhnya, mengunci Della di antara kedua lengannya yang kekar.
Lampu kamar yang redup memberikan bayangan yang dramatis pada wajah Aksa. Kacamata pria itu sudah terlepas, menyisakan mata elang yang menatap Della dengan penuh rasa ingin tahu.
Pantas saja semalam pria gila ini hanya sibuk berciuman tanpa melakukan apapun, pikir Della sambil menahan napas. Suamiku ini benar-benar polos. Dia mengira membuat anak itu semudah membalik telapak tangan atau seperti belajar merakit lego.
Aksa mendekatkan wajahnya,
menatap bibir Della, lalu pindah ke matanya. "Ayo, ajari aku bagaimana cara membuat anak, Istriku..."
Kedua mata Aksa berkedip-kedip, menunjukkan binar kepolosan yang begitu kontras dengan posisinya yang sangat intim saat ini. Tangannya mulai meraba leher Della, menyentuh bekas kemerahan yang ia buat semalam dengan rasa bersalah yang tersirat di matanya.
"Della... kenapa kamu diam saja? Apa aku harus membuka baju dulu?" Aksa mulai memegang kancing kemejanya sendiri dengan kikuk.
Della panik. Ia belum siap untuk melakukan "praktik" yang sesungguhnya dengan pria yang kondisi mentalnya masih naik-turun seperti roller coaster. Apalagi luka-luka di tubuhnya masih terasa linu.
"Membuat anak?? Tu-tung-gu... Tunggu, Aksa!" Della meletakkan tangannya di dada Aksa, menahan pria itu agar tidak semakin mendekat.
"Kenapa? Bukunya bilang ini waktu yang tepat."
"Aku-aku... aduh! Aduh, perutku!" Della tiba-tiba memasang wajah meringis kesakitan, tangannya berpindah memegangi perutnya sendiri. "Aksa, aku sakit perut! Iya... iya, perutku sakit sekali!"
Aksa menghentikan gerakannya, wajahnya berubah cemas dalam sekejap. "Sakit perut? Kenapa? Apa karena susu tadi? Tapi kan aku yang minum susunya."
"Bukan! Bukan karena susu! Mungkin... mungkin karena tadi aku makan paha ayam terlalu banyak saat makan malam!" Della mulai berakting lebih dramatis, ia berguling sedikit ke samping. "Aduh... benar-benar sakit! Besok-besok saja ya membuat anaknya! Besok aku ajari kalau perutku sudah sembuh, oke? Iya, besok..."
Aksa tampak kecewa, namun rasa cemasnya lebih besar. Ia turun dari tubuh Della dan duduk di sisi ranjang. "Benarkah sesakit itu? Apa aku harus panggil dokter?"
"Tidak usah panggil dokter! Aku hanya perlu istirahat. Tolong, ambikan air hangat saja," pinta Della sambil terus memegangi perutnya.
Aksa berdiri dengan patuh, namun sebelum ia melangkah, ia berbalik dan menatap Della dengan tatapan curiga yang cerdas. "Kamu tidak sedang membohongiku lagi kan, Della? Kamu tahu kan apa yang terjadi pada pembohong?"
Della menelan ludah. Mengingat cekikan semalam, ia langsung menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak bohong! Ini benar-benar sakit! Aduh... aduh..."
Aksa menghela napas, ia menarik selimut dan menutupi tubuh Della hingga ke dada dengan sangat hati-hati. "Baiklah. Malam ini kita tunda. Tapi besok, setelah perutmu sembuh, kamu harus menepati janjimu. Aku ingin menjadi suami yang baik seperti kata Zacky."
Aksa kemudian merebahkan diri di samping Della, namun ia tidak melakukan apapun selain memeluk pinggang Della dengan posesif dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Della. "Tidur sekarang. Semoga perutmu cepat sembuh, Istriku."
Della terdiam, merasakan detak jantung Aksa yang tenang di punggungnya. Ia menghela napas lega sekaligus merasa bersalah. Di satu sisi, ia gemas dengan kepolosan suaminya, namun di sisi lain, ia tahu bahwa ia sedang bermain api dengan seorang pria yang bisa berubah menjadi monster kapan saja.
Zacky... besok kau benar-benar akan tamat, batin Della sebelum akhirnya kelelahan membawanya ke dalam mimpi, sementara di luar sana, bayang-bayang keluarga Gauta dan Adryan Juardi mulai menyusun rencana untuk menghancurkan kedamaian semu ini.
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua