Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi di ambang keberangkatan
Suasana di dalam rumah utama Pesantren Al-Arjun belum juga mendingin. Meski Shaheer baru saja mengantar Adeeva pulang dengan cara yang paling terhormat melalui pintu depan, ketegangan justru berpindah ke ruang makan. Abi duduk dengan wajah kaku, sementara Umi hanya bisa mengaduk tehnya tanpa niat untuk meminumnya.
Adeeva berdiri di sudut ruangan, masih dengan jaket denim yang tersampir di bahu abayanya. Ia menatap Shaheer yang baru saja pamit untuk pulang setelah memastikan dirinya aman. Begitu deru mobil Shaheer menghilang, Adeeva langsung meledak.
"Aku tetap tidak mau! Kalian semua pikir ini apa? Tukar guling? Karena Kak Adiba tidak bisa, lalu aku yang jadi tumbalnya?" suara Adeeva meninggi, memecah keheningan malam.
"Jaga bicaramu, Adeeva! Shaheer itu pria baik. Dia mau menerimamu setelah tahu semua kelakuan burukmu. Harusnya kamu bersyukur!" sahut Abi dengan nada yang tak kalah tajam.
"Bersyukur untuk apa, Bi? Untuk masuk ke penjara baru? Dari penjara pondok ke penjara asrama militer? Aku mau kuliah desain, aku mau bebas menentukan hidupku sendiri! Menikah dengan Kapten itu berarti aku harus bangun jam empat pagi, ikut organisasi istri tentara, dan diatur-atur seumur hidup. Aku tidak mau!"
Adeeva berbalik, berniat lari ke kamarnya, namun langkahnya terhenti saat melihat Adiba berdiri di depan pintu kamar. Wajah kakaknya itu tampak sangat pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa gadis itu tidak tidur selama berhari-hari.
"Deeva, bisa kita bicara berdua?" tanya Adiba lirih.
Adeeva mendengus, namun ia tetap mengikuti kakaknya masuk ke dalam kamar. Begitu pintu tertutup, Adiba langsung memegang kedua tangan Adeeva. Tangannya dingin dan bergetar.
"Aku mohon, Deeva... terimalah lamaran Kapten Shaheer," bisik Adiba.
Adeeva menarik tangannya dengan kasar. "Kamu juga, Kak? Kamu mau mengorbankan aku supaya kamu bisa pergi ke Mesir dengan tenang? Egois sekali!"
"Ini bukan soal egois, Deeva! Dengarkan aku dulu," Adiba menarik napas panjang, mencoba menahan air mata. "Jadwal keberangkatanku ke Mesir sudah turun. Tanggal sepuluh bulan depan aku harus sudah ada di Kairo. Abi tidak akan pernah mengizinkanku pergi kalau rumah ini masih kacau. Abi bilang, dia baru akan melepasku kalau dia tahu kamu sudah ada yang menjaga, sudah ada yang membimbing."
Adeeva terdiam, namun matanya masih menatap tajam. "Lalu kenapa harus aku yang menikah? Kenapa bukan kamu saja yang menikah dengannya lalu bawa dia ke Mesir?"
"Dia seorang perwira aktif, Deeva. Dia tidak bisa meninggalkan tugasnya begitu saja untuk menemaniku kuliah di luar negeri. Lagipula, kamu lihat sendiri kan? Dia tidak menginginkanku. Dia melihatmu. Dia tahu siapa yang dia mau sejak awal." Adiba menatap adiknya dengan tatapan memohon yang sangat dalam. "Kalau kamu menolak, Abi akan membatalkan keberangkatanku. Abi akan menyuruhku tinggal di sini, menikah dengan orang lain pilihan Abi, dan mimpiku untuk belajar di Al-Azhar akan musnah selamanya."
Adeeva membuang muka. "Jadi ini harganya? Kebebasanku ditukar dengan mimpimu?"
"Bukan begitu, Deeva. Shaheer itu berbeda. Dia membelamu di depan Abi tadi. Dia bilang dia tidak ingin mengubahmu menjadi orang lain. Dia hanya ingin menjagamu. Tidakkah kamu lelah terus-menerus dikejar Revian yang tidak jelas itu? Atau terus-menerus bertengkar dengan Abi?"
Adeeva terdiam. Kata-kata Adiba ada benarnya. Revian adalah ancaman nyata, dan Abi adalah tembok yang tidak mungkin ia lompati tanpa luka. Namun, membayangkan dirinya menjadi istri seorang tentara yang kaku adalah mimpi buruk yang lain.
"Aku tidak mencintainya, Kak. Aku bahkan baru bertemu dia dua kali," ucap Adeeva lebih pelan.
"Cinta bisa tumbuh, Deeva. Tapi kesempatan untuk menyelamatkan masa depan kita berdua tidak datang dua kali. Kalau kamu terima, aku bisa pergi belajar, dan kamu... kamu akan punya pelindung yang bahkan Abi pun segan padanya. Kamu tidak akan lagi ditekan oleh Abi karena sekarang kamu adalah tanggung jawab suamimu."
Adeeva menatap paspor dan berkas-berkas kakaknya yang tertata di atas meja. Ia tahu betapa keras Adiba belajar untuk mendapatkan beasiswa itu. Ia juga tahu bahwa selama ini, Adiba selalu menjadi tamengnya setiap kali Abi marah besar.
"Satu bulan," gumam Adeeva.
"Maksudmu?"
"Bulan depan kamu berangkat, kan? Kalau aku terima pernikahan ini, pastikan Abi tidak akan menghalangi langkahmu sedikit pun. Tapi jangan harap aku akan menjadi istri yang manis untuk Kapten itu. Kalau dia tidak tahan denganku, itu urusannya," Adeeva berkata dengan nada getir.
Adiba langsung memeluk adiknya erat-erat. "Terima kasih, Deeva... Terima kasih banyak."
Adeeva tidak membalas pelukan itu. Matanya menatap kosong ke arah jendela. Ia merasa seperti burung yang baru saja menyerahkan sayapnya untuk ditukar dengan kunci kandang yang lebih mewah. Ia tidak tahu, bahwa di markasnya, Shaheer sedang menatap formulir pengajuan izin nikah dengan satu nama yang sudah ia tulis dengan mantap: Adeeva Zamira Arjunka.
Bagi Shaheer, ini bukan sekadar pernikahan pengganti. Ini adalah misi penyelamatan yang paling serius dalam hidupnya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...