NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paksaan Untuk Menikah

Di saat yang sama, di dalam penthouse mewahnya yang menghadap kerlap-kerlip lampu Jakarta, Beatrix van Amgard sedang duduk di sofa beludru merah. Di tangannya, ia memegang sebuah iPad yang menyiarkan rekaman video langsung dari salah satu orang suruhannya di Balai Desa.

Ia melihat Helen yang terhina. Ia melihat Ario yang babak belur.

Senyum di bibir Beatrix perlahan melebar, hingga memperlihatkan barisan giginya yang putih dan sempurna. Ia meletakkan gelas kristalnya, lalu kepalanya mendongak ke belakang, membiarkan tawa yang paling jahat keluar dari kerongkongannya.

"Hahaha! Prachtig! Geweldig!" (Hahaha! Indah! Luar biasa!) jerit Beatrix dalam bahasa Belanda.

Ia tertawa hingga tubuhnya terguncang, seolah-olah ia sedang menonton pertunjukan komedi terbaik di dunia.

"Kijk naar haar... de heilige Helen Kusuma, kruipend op de grond als een gewonde hond!" (Lihat dia... Helen Kusuma yang suci, merangkak di lantai seperti anjing yang terluka!) Beatrix mengusap air mata yang keluar karena saking kerasnya ia tertawa.

Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju jendela kaca besar dengan langkah berdansa.

"Dacht je echt dat je van mij kon winnen, kleine meid?" (Apa kau benar-benar mengira bisa menang dariku, gadis kecil?) ucapnya sambil menempelkan jemarinya di kaca, seolah-olah sedang membelai wajah Helen yang ada di layar. "Ik heb je vader vernietigd, en nu heb ik je ziel vernietigd. De naam Kusuma zal voor altijd geassocieerd worden met schandaal en vuil." (Aku sudah menghancurkan ayahmu, dan sekarang aku sudah menghancurkan jiwamu. Nama Kusuma akan selamanya dikaitkan dengan skandal dan kotoran.)

Beatrix kembali tertawa, kali ini lebih rendah, sebuah tawa yang penuh dengan kepuasan dendam yang telah ia pendam selama puluhan tahun. Baginya, melihat Helen diarak warga jauh lebih nikmat daripada melihat Aditya mati. Karena kematian adalah akhir dari rasa sakit, sedangkan kehinaan adalah rasa sakit yang harus dijalani setiap hari.

****

Kembali di Balai Desa, Pak Lurah tampak ragu. "Ario, jika kalian tidak mau mengakui, kami terpaksa menyerahkan kalian ke kantor polisi dengan tuduhan gangguan ketertiban umum dan dugaan tindakan asusila."

Ario tahu, jika mereka dibawa ke polisi sekarang, orang-orang Beatrix akan mencegat mereka di jalan dan memastikan mereka "menghilang" selamanya.

Ia menoleh ke arah Helen. Helen menatapnya balik. Di tengah kehinaan itu, di tengah bau air parit dan tatapan benci warga, Helen melihat sesuatu di mata Ario yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan dendam, bukan kepentingan, melainkan sebuah pengabdian yang murni.

"Pak Lurah," suara Helen tiba-tiba terdengar stabil, mengejutkan semua orang, termasuk Bu Endang.

Helen berdiri perlahan, meski tubuhnya gemetar. Ia menyeka wajahnya yang kotor dengan punggung tangan.

"Kami tidak berzina," ucap Helen lantang, matanya menatap tajam ke arah Bu Endang. "Tapi jika kalian ingin bukti bahwa kami memiliki ikatan... saya akan mengatakannya di sini. Pria ini... Ario Diangga... adalah calon suami saya. Kami datang ke sini untuk mencari ketenangan setelah kematian Papa. Apakah mencari ketenangan bersama tunangan adalah sebuah kejahatan di desa ini?"

Balai Desa seketika senyap. Bu Endang ternganga, petasan di mulutnya seolah sumbunya basah mendadak.

Ario tertegun. Ia menatap Helen yang berdiri tegak dengan sisa-sisa martabat yang ia miliki. Ia tahu Helen sedang berbohong demi menyelamatkan nyawa mereka berdua, namun kata-kata "calon suami" itu bergetar di dalam hatinya dengan cara yang sangat aneh.

"Benar itu, Ario?" tanya Pak Lurah sangsi.

Ario menarik napas panjang. Ia maju dan berdiri tepat di samping Helen, menggenggam tangan wanita itu yang sedingin es. "Benar. Dia adalah calon istriku. Dan siapapun yang menghinanya malam ini, akan berhadapan denganku di pengadilan setelah semua kesalahpahaman ini selesai."

Tatapan Ario begitu tajam dan mematikan, membuat beberapa warga yang tadi paling keras berteriak kini mulai mundur selangkah. Otoritas yang terpancar dari tubuh Ario tidak bisa dipalsukan.

"Jika memang tunangan, kenapa tidak lapor?" gumam Bu Endang ketakutan, namun suaranya tak lagi melengking.

"Kami lari dari ancaman pembunuhan, Bu Endang," desis Ario. "Atau Anda ingin menjadi bagian dari komplotan pembunuh itu?"

Wajah Bu Endang pucat pasi. Ia segera mundur dan menghilang di balik kerumunan warga. Pak Lurah menghela napas lega, ia punya alasan untuk meredam massa.

Namun, meskipun mereka berhasil lolos dari amukan warga malam itu, Helen tahu bahwa harga yang ia bayar sangat mahal. Ia telah mengikatkan nasibnya pada Ario di depan umum. Dan di balik itu semua, ia tahu Beatrix sedang menonton setiap detik kehinaannya.

Saat mereka dilepaskan dan kembali ke rumah tua itu di bawah pengawalan beberapa warga yang merasa bersalah, Helen melepaskan pegangan tangannya dari Ario.

"Maafkan aku, Ario," bisik Helen saat mereka masuk ke rumah yang sudah berantakan itu. "Aku terpaksa berbohong agar kita tidak dibawa ke kantor polisi."

Ario terdiam, menatap tangannya yang tadi digenggam Helen. Ia bisa merasakan sisa kehangatan di sana.

"Tidak perlu minta maaf, Helen," jawab Ario pelan. "Hanya saja... sekarang dunia percaya kau adalah milikku. Dan Beatrix tidak akan berhenti sampai ia membuktikan bahwa pertunangan ini adalah palsu."

Di kejauhan, sirine mobil polisi mulai terdengar mendekat. Beatrix rupanya tidak puas hanya dengan pengadilan rakyat. Ia ingin pertunjukan ini berakhir di penjara.

"Lari, Helen," ucap Ario sambil menarik tangan wanita itu menuju pintu belakang yang tembus ke arah hutan pinus. "Perang ini baru saja naik ke level yang lebih berdarah."

****

Malam yang seharusnya menjadi pelarian menuju hutan pinus itu berubah menjadi mimpi buruk yang kian pekat. Belum sempat kaki Ario dan Helen menyentuh rimbunnya semak, cahaya senter yang menyilaukan kembali mengepung mereka. Bu Endang, dengan wajah yang kini lebih mirip iblis yang haus akan penghakiman, kembali muncul dengan napas tersengal-sengal dan jari yang menunjuk-nunjuk penuh kebencian.

"Mau kabur ke mana kalian?!" teriak Bu Endang, suaranya yang melengking memecah keheningan hutan. "Pak Lurah! Lihat! Kalau mereka benar tunangan dan mau menikah, kenapa mereka lari seperti maling? Ini pasti akal-akalan mereka saja supaya tidak diarak!"

Massa yang tadinya sempat mereda kembali tersulut. Fitnah yang disebarkan Bu Endang layaknya bensin yang disiramkan ke atas bara api. Pak Lurah, yang berada di bawah tekanan massa yang kian beringas dan takut nama baik desanya tercemar oleh skandal perzinaan, akhirnya mengambil keputusan yang paling gila.

"Cukup!" Pak Lurah berdiri di antara massa, wajahnya keras. "Untuk membuktikan kalian tidak membohongi warga dan demi membersihkan nama desa kami dari noda zina, kalian harus menikah. Sekarang juga!"

Helen terkesiap, dunianya seolah berhenti berputar. "Menikah? Sekarang? Pak Lurah, ini tidak benar! Kami punya prosedur hukum, kami punya keluarga—"

"Keluarga mana?!" sahut Bu Endang dengan tawa mengejek yang menjijikkan. "Keluarga yang mengusirmu? Atau keluarga yang mencarimu karena pencurian? Jangan banyak alasan! Nikah atau kami serahkan kalian pada massa yang sudah membawa bensin di depan sana!"

Ario mencengkeram tangan Helen, matanya menatap tajam ke arah Pak Lurah, mencoba mencari sisa-sisa akal sehat di sana. Namun ia sadar, di belakang Pak Lurah, orang-orang suruhan Beatrix berdiri dengan seringai kemenangan. Ini adalah jebakan. Beatrix ingin mengikat Helen secara sah dengan pria yang "hancur" agar ia bisa menghabisi mereka berdua dalam satu paket.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!