NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - TRY

Rasa lelah tak tergantikan. Selesai acara pernikahan, anggota keluarga menginap di hotel tempat resepsi berlangsung. Nala yang sudah lelah secara fisik dan jiwa, merebahkan tubuhnya setelah memasuki kamarnya. Kasur empuk begitu pelipur rasa lelahnya.

Mencium bau tubuhnya sendiri, Nala memilih mandi terlebih dahulu sebelum tidur. Berendam di air hangat, menghilangkan rasa penatnya. Aroma mawar yang ia campurkan menjadi relaksasi yang begitu ia butuhkan. Sungguh nikmat mana yang bisa ia dustakan.

Namun, bayangannya masih terngiang di acara pernikahan tadi. Pandangan Arya padanya tampak aneh. Cara Arya memandanginya, seolah mereka pernah saling mengenal. Tatapan rindu itu sangat kentara jelas di mata Arya. Hanya saja Nala tak merasa mengenal Arya. Bahkan ini adalah kali pertama mereka saling bertemu.

“Sebenarnya alasan apa yang membuatnya menatapku seperti itu?” gumam Nala sambil memainkan bandul gelang miliknya. Pandangan beralih ke bandul huruf R yang terpasang di tangannya. Gelang itu tampak usang, namun hatinya tak pernah tega jika melepasnya.

Sekelebat bayangan muncul dalam ingatannya. Samar-samar Nala melihat seorang laki-laki berlari-lari mengejar seorang perempuan. Mereka tampak bahagia. Adegan itu tampak nyata. Namun, saat mencoba menyentuh mereka bayangan itu terpecah seperti riak air. Malah rasa sakit di kepalanya menyerang kembali. Secara refleks Nala memukul pelan kepalanya, menghalau sakit yang ia terima. Tangan satunya memegang tepi bathtub dengan erat.

Merasa lebih baik, Nala langsung keluar dari bathtub dan berpakaian. Berjalan perlahan ke tempat tidur, kemudian melompat ke arah kasur empuk itu. Melemparkan dirinya, menyerahkan rasa lelahnya pada kasur itu.

“Enaknya!!”

Sring...

Cahaya kecil pada kalungnya membangun niatnya untuk tidur. Terduduk di atas kasur, Nala memperhatikan kalung pemberian neneknya itu. Saat Nala memegang liontin itu, cahaya kecil itu meredup dan seketika menghilang.

“Aneh. Apakah kalung ini menyuruhnya untuk masuk?”

Rasa penasaran kembali menyerang Nala. Nala masih penasaran dengan ruang dimensi milik kalung pemberian neneknya. Dari sekilas, Nala dapat tau bahwa ruang itu sangatlah luas. Mengingat harta yang terkumpul disana, membuat Mala berpikir untuk hidup berleha-leha menghabiskan harta yang diberikan neneknya kepadanya.

“Masuk,” ucapnya sambil memegang dirinya sendiri.

Nala berhasil masuk dan kembali muncul di dalam gua. Tempat yang sama saat dirinya awal memasuki ruang dimensi ini. Nala masih syok dengan banyaknya harta yang ditimbun di ruang ini. Dari melihat jumlah harta yang ada, kalung ini kemungkinan telah berusia ratusan tahun.

Mendengar gemercik air, Nala menelusuri ruang itu. Nala berjalan jalan setapak hingga berhasil keluar dari gua. Hal yang ia lihat mampu membuatnya tertegun. Hamparan tanah yang luas. Tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Sebuah kolam kecil tampak berkilauan layaknya berlian. Airnya jernih, begitu jernih hingga tampak seperti cermin. Tak jauh dari tempatnya sekarang, tampak sebuah rumah dengan model kuno berdiri dengan kokohnya.

Menelusuri rumah tua itu, Nala terpesona dengan interiornya. Sederhana, namun hangat dan nyaman. Duduk di kursi di bagian teras, menikmati suasana alam yang begitu asri. Teringat akan kolam air itu, Nala kembali. Air itu begitu menggoda, terlihat sangat segar. Mencoba mencicipi, Nala merasakan kesegarannya. Rasanya begitu plong. Ada rasa manis saat mencicipinya. Terasa enak, Nala kembali mengambil air itu dan meminumnya.

Tenggorokannya lega, tubuhnya terasa segar dan berenergi. Tak lama, kepalanya terasa berat. Matanya berkunang-kunang, bumi yang ia pijak terasa berputar-putar. Sekelebat bayangan kembali hinggap di kepalanya. Tak hanya sekilas, namun seperti sebuah kaset yang sedang menayangkan sebuah film. Siluet itu terus berdatangan tanpa henti. Tak tahan dengan sakitnya, Nala mencoba kembali ke dunia nyata.

Saat di dunia nyata, rasa sakit itu tak kunjung menghilang. Malah semakin sakit. Siluet itu tetap berdatangan. Nala tak tau itu siluet siapa, namun yang jelas Nala terasa familiar dengan semua itu. Duduk di lantai, Nala memegang kepalanya berharap sakit itu segera menghilang. Rintihan kesakitan terdengar dengan lirih

Drrrttt....

Getaran ponselnya menyadarkannya. Mencoba meraih, meminta pertolongan.

“Tolong, sakit!”

Lirihan itu yang bisa Nala keluarkan. Napasnya terasa sesak. Ingin meraih inhaler, tangannya terasa tak mampu menggapainya. Tak tahan dengan sakitnya, akhirnya Nala pingsan.

 

...****************...

TOK...!

TOK...!

Gedoran pintu yang awalnya perlahan, semakin lama semakin mengeras karena tak mendengar respon dari pemilik kamar.

“Nala, lo ada di dalam kan?”

Zara dan Arsyad yang awalnya ingin mengajak Nala untuk makan malam bersama, namun Nala tak segera membuka pintu. Bahkan ketukan mereka yang keras pun tak ada respon sama sekali.

Tap..!

Tap!!

Langkah kaki tergesa-gesa di lorong itu menggema. Dipta dan Maya berlari-lari dengan terburu-buru menuju kamar Nala.

“Zara, lo disini?” Maya terkejut dengan kehadiran Zara yang berada di depan kamar Nala.

“Gue mau ajak tuh bocah buat makan malam. Tapi gue ketuk nggak ada respon. Dia udah tidur, ya?”

Maya yang mendengar itu segera melihat ke arah Dipta. Melihat ke arah pintu, Maya dan Dipta berubah menjadi pias. Dipta yang sudah kepalang panik segera mendobrak pintu kamar Nala.

BRAK!!

BRAK!!

Dipta mendobrak pintu dengan sangat kuat. Dia khawatir dengan keadaan Nala. Apalagi saat di telepon, suara lirih Nala meminta tolong dan rintihan kesakitan Nala menjadi salah satu penyebab kepanikannya saat ini.

Saat pintu terbuka, Mereka dikejutkan dengan Nala yang telah tergeletak di lantai. Dipta berlari menghampiri Nala yang telah pingsan. Maya segera memeriksa keadaan Nala, menangani pertolongan pertama. Melihat posisi Nala seakan ingin meraih sesuatu, Maya melirik ke arah meja tempat inhaler Nala tergelatak disana. Maya segera memiringkan tubuh Nala ke posisi recovery agar lidahnya tidak menghalangi jalan napas. “Kita harus ke rumah sakit segera!” ujar Maya saat melihat kondisi Nala yang tak baik-baik saja.

Dipta segera menggendong adiknya dan berlari ke luar. Maya berlari mengikuti, begitu juga Arsyad dan Zara.

Di lobi hotel, semua anggota keluarga yang sedang menunggu kedatangan mereka terkejut saat melihat Dipta menggendong Nala keluar dari lift.

“Agas, siapkan mobil!” teriak Arsyad mengode Agas segera ikut dengan mereka.

Keadaan seketika menjadi panik, melihat siapa yang berada dalam gendongan Dipta.

Nala.

Kondisi Nala yang lemas, membuat siapapun akan merasa ikut merasakan sakitnya. Citra segera membantu dengan membukakan pintu belakang.

“Ayo cepat!” desak Agas

Dipta masuk dengan Maya di kursi belakang. Dipta memangku Nala dan Maya terus mengecek keadaan Nala. Di kursi depan, Agas menyetir dan Citra yang memandu jalan. Agas yang menyetir dengan kecepatan tinggi. Melihat kondisi Nala, Agas tampak tak tega.

Di belakang mobil Agas, ada beberapa mobil juga mengikuti. Mereka semua khawatir dengan keadaan Nala.

Sesampainya di rumah sakit, Agas segera berlari masuk dan meminta brankar pasien. Dipta meletakkan Nala secara perlahan ke brankar. Kemudian mendorong brankar ke ruang perawatan.

Semua menunggu dengan harap-harap cemas. Mereka semua tak habis pikir, bagaimana Nala tampak begitu lemah padahal saat acara berlangsung Nala tampak baik-baik saja.

Dipta duduk di kursi sambil menunduk. Dia begitu mencemaskan Nala. Nala adalah keluarganya yang tersisa setelah ayahnya gugur, kakek dan neneknya meninggal. Ibunya tak mengharapkannya, hanya Nala yang tersisa.

“Mas, kamu tenang dulu. Nala pasti baik-baik saja. Kamu yang tenang mas,” Maya tau saat ini suaminya sedang khawatir. Apalagi melihat kondisi terakhir Nala, pasti suaminya berpikir yang macam-macam.

Ceklek

“Dengan keluarga pasien?”

“Saya dok, saya kakaknya!” Dipta segera berdiri saat dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

“Mari kita bicara dulu pak!” Dipta berjalan mengikuti dokter.

Sembari menunggu kabar dari dokter, semua melihat Nala yang tertidur dari balik jendela ruang pemeriksaan.

Setelahnya kembali, Dipta terduduk lemas. Kabar dari dokter menjadi pukulan yang menyakitkan sekaligus melegakan. Lega karena ingatan adiknya kemungkinan mulai kembali sedikit demi sedikit. Namun dirinya juga merasa takut jika kesakitan adiknya akan kembali diingat.

“Mas, gimana?”

Dengan keadaan lemas, Dipta mendongak ke arah istrinya, Maya. Kemudian memeluk istrinya dengan erat.

“Kata dokter, kemungkinan ingatan Nala mulai kembali, May,” lirihnya yang teredam dalam pelukan. Meskipun terdengar pelan, namun masih terdengar jelas.

Zara, Citra dan orang tua Maya mendengar itu mengucap syukur. Ingatan Nala akan kembali. Ingatan tentang keluarganya dan memori penting Nala akan segera kembali.

“Aku senang, May. Tapi aku takut jika Nala teringat masa itu. Bagaimana jika tak kuat? Nala udah bahagia dengan hidupnya kini. Kenapa ingatan itu kembali!” Dipta tak terima. Dipta takut jika adiknya akan merasakan sakit kembali. Ingatan dulu mungkin ada yang indah. Namun, Nala juga mengalami masa kelam. Siksaan itu? Bagaimana Nala menanganinya nanti?

“Ini takdir, mas. Nala nggak sendirian. Ada kita, kita yang bakalan jadi penopang Nala ketika jatuh, hm.”

Semua yang belum tau keadaan Nala yang sebenarnya hanya mampu terdiam dan menjadi pendengar. Mereka tak berani menyela.

Hanya satu orang yang tampak senang mengenai kabar Nala, Arya. Arya tak menyangka ingatan Nala kemungkinan akan kembali. Harapannya untuk kembali bersama terbuka semakin lebar. Diam-diam Arya tersenyum. Dia tak ingin menampilkan rasa sukanya di saat suasana duka. Hanya saja, dalam benaknya sudah merancang berbagai rencana untuk mengingatkan Nala akan kenangan mereka terdahulu.

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!