Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"What are you doing here Bro?"
Aruna yang baru menyelesaikan ganti bajunya, Harus dikejutkan dengan sosok Rehan sang kakak yang sudah menginjakkan kaki di rumahnya. Kapan kakaknya ini datang?
Sialan! Apa yang harus Aruna katakan? Ditambah lagi Noah yang terlihat tenang duduk diatas sofa sambil menatap dirinya dan Rehan bergantian. Apa laki-laki itu tidak takut jika Rehan mencurigainya yang tiba-tiba berada disini?
"Harusnya kamu sudah ada di bandara kan? Setahuku aku lihat Cave disana tadi"
"Kamu nggak salah lihat Cave memang sudah di bandara"
"So? What are you doing here dude? Ada urusan apa?"
"Aku hanya mengembalikan travel bag milik Aruna"
Sialan Noah. Dia nggak mungkin akan berkata yang sejujurnya kan? Aruna membatin cemas.
"Travel bag? Kenapa travel bag milik Runa bisa di kamu?"
"Dia melupakannya di klinik latihan tempo hari. Sebenarnya aku ingin menghubungi mu tapi aku nggak menyimpan nomor mu. Apalagi Aruna. Jadi, mumpung aku ingat rumahmu, jadi sekalian saja"
Mungkin kali ini Dewi Fortuna tengah berpihak pada Aruna. Karena terbukti ucapan Shayne yang sedikit masuk akal sebagai alasan itu mampu membuat sang kakak percaya begitu saja.
"Okay. Tapi harusnya kamu nggak perlu --"
"Ngapain kamu kesini? Harusnya kamu dapat jatah liburan kan?!" Aruna bergantian memotong kalimat sang kakak. Bukan tanpa alasan, Aruna hanya sedang mencoba peruntungannya untuk mengalihkan perhatian Rehan.
Dan ... Yap berhasil. Kini kakaknya itu sepenuhnya menetap dirinya. Karena memang bukan tanpa alasan dirinya menginjakkan kakinya di rumah kedua orangtuanya, "Ayah sudah telfon? Perihal tante?"
"Sudah "
"Aku nggak bisa ikut liburan sama team. Dan sudah diberi izin"
"....."
"Yasudah kalau gitu. Aku kesini cuma mau ambil barang-barang ayah sama ibu. Kemungkinan ibu dan ayah disana bisa sebulan lebih Run"
"Kenapa lama sekali?!"
"Run, Fajar sama Erna disana sendirian. Nggak ada lagi sanak saudara selain ibu. Jadi kamu tolong maklumi"
"Aku ikut kesana aja kalau gitu"
"Kasian Arin nggak ada temennya disini. Kamu dan Arin juga ada tanggung jawab disini. Kerja, dan Arin juga nggak bisa ninggalin pendidikannya gitu aja"
"....."
Keterdiaman Aruna sedikit tidak dipedulikan oleh Rehan karena laki-laki itu terlihat buru-buru untuk masuk kedalam rumah. Dan sesaat kemudian kakaknya sudah kembali dengan beberapa tas jinjing yang berada ditangannya.
"Aku tinggal ya Run. Disana nggak ada orang sama sekali. Tamu juga banyak banget"
"Hmm"
Namun baru beberapa langkah Rehan hendak mencapai pintu utama. Kedua kakinya berhenti, ia kembali menatap Aruna yang masih setia berdiri di dekat sofa.
"Run?"
"Apalagi?"
"Kamu libur kerja kan sampai Selasa depan?"
Kenapa kakaknya nya ini bisa tahu kalau ia memiliki libur panjang? Aaah Aruna lupa. Orang tolol juga pasti tahu karena di kalender bulan ini memiliki beberapa tanggal merah kan?
"Kenapa?"
"Kamu mau gantiin kursi penerbangan ku? Sayang banget kalau kosong. Ketimbang kamu keluyuran nggak jelas di rumah nantinya. Kalau kamu mau aku telfon manager team sekarang biar nanti diurus"
"....."
"Ada dua kursi kosong milik ku. Punyaku dan Jihan. Nanti kamu kalau mau pergi sama Arin aja gimana?"
Liburan ke Bali? Dadakan? Sebenarnya bukan ide yang buruk. Aruna juga ingin jalan-jalan di long weekend kali ini. Tapi ke Bali bersama para team kakaknya apa itu ide yang baik?
"Kamu diam berarti kamu mau. Aku kirim pesan ke manager mas kalau gitu, Noah titip Aruna ya disana. Aku pergi sekarang Bye Run. Kamu hati-hati ya, Kalau ada apa-apa kabari saja "
Aruna benar-benar dibuat tidak habis pikir kali ini. Apa-apaan kakaknya nya itu? Kenapa suka sekali mengatur hidupnya? Ia tidak boleh ikut ke rumah saudaranya tapi kakaknya itu malah menyuruhnya liburan untuk menggantikan dirinya? Keanehan macam apa ini?
.
.
.
.
.
Butiran pasir itu mengubur separuh telapak kaki Aruna. Gadis itu menarik seutas senyum ketika percikan air pantai menyapu pasir yang menenggelamkan kedua kakinya.
Iya, dengan segala pertimbangan dan tentunya bujukan dari Noah Patingga Aruna kini sudah berada di Bali. Lengkap dengan sang adik Arina yang saat ini entah kemana gadis itu. Padahal pamitnya membeli minum tapi sudah setengah jam berlalu adiknya itu tak kunjung kembali.
Jadilah ia sendirian di tepi pantai dengan beberapa kali ombak kecil yang menyapu kedua kakinya. Ditambah angin pantai yang menerbangkan beberapa anak rambutnya. Sebenarnya ia sudah diajak oleh para teman kakaknya tadi untuk bergabung bersama. Namun, Aruna menolak dengan dalih ingin jalan-jalan sebentar.
"Hai"
Kepala Aruna reflek menoleh. Ia mendapati Marinos yang kini sudah berdiri di samping kirinnya, "Hai"
"I'm glad to see you again Run"
Marinos brengsek! Kamu nggak tahu apa kalau jantungku rasanya mau lepas setiap kali Lihat kamu, Kamu nggak tahu apa kalau lihat kamu rasa sakit itu muncul begitu aja?!! Laki-laki bajingan ... Tapi aku ... Juga nggak memungkinkan untuk membenci kamu Rinos. Biar bagaimanapun kita pernah mengukir kebahagiaan walau berakhir sebagai kenangan.
Tentu saja unek-unek itu tidak berani Aruna keluarkan. Aruna hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda membalas kalimat Marinos barusan.
"How's your day Run?"
"Good. Seperti yang kamu lihat. Gimana kamu sendiri?"
"Never better than"
"Kamu nggak ikut sama yang lain?"
"Mereka masih makan dan sibuk kencan dengan pasangan masing-masing "
"Rinos?"
"Aruna?"
"Kamu duluan!"
"No! You first Run"
"Lupakan aja. Kamu mau bicara apa?"
"Thank you karena nggak membenciku"
"Kenapa aku harus membencimu?"
"Run you know semua sikap ku ke kamu. Sulit di maafkan"
"Semuanya udah berlalu. Biarkan aja mengalir seperti seharusnya "
"Aku akan kembali lebih cepat. Mungkin nanti malam. Anak-anak menungguku di rumah"
"Ya. Hati-hati dan ... Mmm salam untuk mereka"
Really Run? Haloo Aruna Prameswari apa kamu baik-baik saja?
Aruna mengumpat sesekali dalam hatinya. Kenapa ia bisa dengan mulusnya mengatakan hal konyol tadi. Bukankah Aruna terkesan seperti memberi harapan pada hubungannya dengan Marinos? Aaah semoga saja pikiran Marinos tidak sama dengan apa yang ia pikirkan.
"Akan ku sampaikan. Aku harus pergi sekarang Run, See you next time. Aku ingin peluk kamu boleh?"
"....."
"Run?"
"I-iya!"
Dan tepat ketika kepergian Marinos, nafas Aruna yang sempat tertahan berhembus pelan. Ia memejamkan matanya sebentar bersamaan dengan itu dua bulir air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Aruna jatuh terduduk begitu saja diatas pasir dengan isakan yang sedikit memekakkan telinga.
Setidaknya, setelah ini Aruna berharap tidak ada lagi bayang-bayang Marinos di hidupnya. Biarkan saja semua berjalan sebagaimana mestinya. Meski Aruna tahu jalannya akan seberat apa nantinya. Melupakan cinta pertama terlalu sulit mungkin.
Namun, Aruna tetap optimis dengan apa yang akan ia hadapi nantinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...