Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria bertopeng
Para pengawal selir Evelin makin banyak yang bermunculan. Wajah-wajah keras mereka memancarkan kekejaman atas perintah wanita jahat di belakang sana. Roel berjuang mati-matian melawan mereka. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, napasnya memburu dan berat.
Meski ia pengawal terlatih dan cukup tangguh, melawan puluhan orang sendirian jelas bukan hal mudah. Tenaganya perlahan terkuras, lengannya yang terkena pukulan mulai terasa pegal dan nyeri, namun ia tak boleh mundur selangkah pun. Ia harus melindungi nyawa ibu dan anak itu walau harus menukarnya dengan nyawanya sendiri.
"Serahkan saja anak itu! Kalian tidak akan bisa lari ke mana-mana!" seru Evelin dengan suara melengking, tersenyum puas melihat Roel yang mulai kewalahan.
Matanya yang berkilat jahat menatap tajam ke arah Orion yang bersembunyi ketakutan di balik punggung Azura. Salah satu pengawal berhasil melewati pertahanan Roel. Lelaki itu menerjang ke arah Azura dengan kasar, tangan besarnya mencengkeram lengan wanita itu kuat-kuat hingga Azura meringis kesakitan, berusaha menahan diri agar tidak melepaskan pelukannya pada Orion. Bocah kecil itu menjerit ketakutan, memeluk pinggang ibunya semakin erat, tubuhnya gemetar hebat.
"Mamaaa! Takut... Mamaa!!" teriaknya histeris.
Azura berusaha menendang dan meronta sekuat tenaga, matanya menatap tajam ke arah pengawal itu.
"Lepaskan aku! Jangan sentuh anakku!"
Saat pengawal itu hendak menarik paksa Orion keluar dari pelukan ibunya, dan saat Roel sudah tersungkur tak berdaya setelah dipukuli beramai-ramai, tiba-tiba sebuah bayangan hitam melesat masuk ke dalam kerumunan dengan kecepatan tinggi. Angin berhembus kencang seiring pergerakan tubuh orang itu.
Wush! Wush!
Tanpa suara, tanpa peringatan, sosok bertopeng itu bergerak seperti hantu. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit bergerak cepat, menghantam leher, perut, dan persendian setiap pengawal yang berani menghadangnya. Gerakannya sangat terlatih dan penuh kekuatan mematikan. Gaya bertarung yang hanya dimiliki oleh pasukan elit atau seseorang yang sudah bertempur bertahun-tahun. Dalam sekejap, tubuh-tubuh kekar itu berjatuhan, mengerang kesakitan tak mampu bangkit kembali.
Evelin terpaku di tempatnya, senyum kemenangannya lenyap seketika berganti rasa takut. Ia mundur perlahan, matanya membelalak tak percaya melihat orang-orang andalannya dikalahkan begitu saja oleh satu orang bertopeng.
Sosok misterius itu tidak berhenti. Ia terus bergerak maju, membersihkan jalan di depan Azura dengan gerakan cepat dan berbahaya. Tak ada satu pun pengawal yang mampu berdiri setelah di serang olehnya. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, puluhan pengawal yang tadinya mendesak mereka kini tergeletak di lantai, merintih kesakitan.
Lelaki bertopeng itu berbalik cepat menatap Azura, suaranya rendah dan tegas namun sedikit terubah karena ditutupi kain.
"Ikut aku! Sekarang!"
Tanpa banyak bertanya, insting bertahan hidup Azura mengambil alih. Ia menggendong tubuh Orion yang masih lemas dan demam ke dalam pelukannya seerat mungkin. Roel yang baru saja bangkit berdiri dengan susah payah, segera berlari mengikuti mereka dari belakang, melindungi punggung majikannya.
Mereka berlari menyusuri lorong-lorong gelap dan sempit yang hanya diketahui oleh sedikit orang, jalan-jalan tikus yang jarang dilewati penghuni istana. Sosok bertopeng itu memimpin jalan dengan sangat yakin, seolah ia sudah hafal setiap sudut dan tikungan di tempat terkutuk ini.
Jantung Azura berdebar kencang, bercampur rasa lega, bingung, dan rasa ingin tahu yang besar. Siapa pria itu? Kenapa dia menolong mereka? Dan bagaimana dia tahu mereka ada di sana? Ia merasa cara berjalan oria itu familiar, juga tubuh tegap dan gagah itu. Mengingatkannya pada seseorang
Mereka terus berlari keluar dari bangunan itu, dan berhenti di tempat yang aman, tersembunyi di balik rimbunan pepohonan besar di taman istana yang sepi. Di sana, aman dari kejaran siapa pun, lelaki itu akhirnya berhenti. Ia berdiri membelakangi mereka sebentar, menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya.
Azura menatap punggung lebar itu lekat-lekat, tangannya masih memeluk Orion yang sudah mulai tenang namun masih terlelap karena kelelahan dan demam. Roel berdiri di sampingnya dengan sikap waspada.
"Terima kasih ... Sudah menolong kami," ucap Azura pelan, suaranya bergetar.
"Kalau boleh tahu, kau siapa? Kenapa menolong kami?"
Lelaki itu diam sejenak, bahunya bergerak naik turun perlahan. tangan kanannya terangkat ke sisi wajah, mencengkeram pinggiran kain hitam yang menutupi identitasnya itu. Begitu topeng itu terbuka, wajah lelaki itu langsung terlihat jelas di bawah cahaya remang.
Azura menahan napas, matanya terbelalak
Xavier? Bagaimana laki-laki itu tahu dia datang ke istana ini?
Rahang lelaki itu mengeras menahan berbagai emosi yang bergemuruh di dadanya. Matanya yang tajam dan abu-abu itu menatap Azura dengan pandangan yang begitu tajam.
Ia tidak berkata apa-apa, namun tatapannya seperti pedang bermata dua.
Lalu pandangan tajam itu beralih pada sosok kecil yang terlelap damai dalam pelukan wanita itu. Xavier menatap Orion. Menatap wajah kecil yang masih berbekas sisa air mata, menatap dahi yang panas dan berkeringat, menatap fitur wajah yang... Entah kenapa ia merasa sangat mirip dengannya waktu kecil.
Tapi bukan itu yang penting. Yang paling penting sekarang adalah... Fakta bahwa Azura memiliki seorang anak.
"Kau ..." Xavier bahkan tidak sanggup meneruskan kata-katanya karena terlalu syok.
Azura menelan ludah. Ia tahu apa yang pria itu maksud.
"Putri, tubuh pangeran kecil gemetaran." ucap Roel. Fokus Azura langsung teralihkan. Xavier juga bukannya laki-laki egois yang akan menuntut jawaban dan membiarkan seorang anak sekarat.
"Ikut aku." katanya lalu berjalan lebih dulu.
Azura dan Roel mengikuti pria itu. Mereka melewati jalan yang bahkan Azura saja tidak tahu ada jalan itu di istana ini. Yang pasti itu jalan yang terhubung langsung ke luar istana. Di luar sana, ia melihat Hugo dan beberapa pengawal Xavier. Mereka memasuki sebuah tempat tak jauh dari situ. Entah tempat apa itu, tapi sepertinya tempat ini berisi semua orang-orang Xavier. Sejak kapan pria itu menempatkan mata-matanya dekat istana?
Begitu sampai di sebuah kamar yang ada di tempat itu, Azura langsung membaringkan tubuh Orion ke tempat tidur dan memeriksa kondisi sang putra. Untung dia sudah belajar ilmu medis jadi bisa memeriksa keadaan putranya sendiri tanpa menunggu dokter datang.
Sepanjang ia memeriksa Orion, Xavier yang berdiri di belakang tidak pernah berhenti menatap ini dan anak itu bergantian. Jelas saja marah, merasa dirinya terus dibodohi oleh wanita ini.
Ia harus berterimakasih pada Hugo menemukan jejak ke mana wanita itu pergi. Kalau tidak, dia tidak akan menemukan fakta kalau Azura, sang Putri Agung kerajaan utara ternyata sudah memiliki seorang anak.
ditunggu yaa kelanjutannya author
kan ga ada yg bisa kendalikan Xavier di kerjaan Utara skalipun...
ayooo xavier bantu Azura&Orion😭
Seorang ibu tdk akan rela,anak disakiti dan telantarkan,sungguh biadab mereka.