Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
Para Peri masih berusaha mendekat.
Wajah-wajah kecil yang terbuat dari cahaya itu dipenuhi kecemasan. Mereka memahami sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Jika segel itu benar-benar terbuka sepenuhnya, dunia mungkin tidak akan pernah kembali sama.
"Lady Lisa, mohon hentikan!" seru salah satu Peri."Kekuatan itu terlalu besar!"
"Jika mereka menyadari keberadaan Anda—"Lisa menghela napas pelan.Ia tidak membalas.
Tanpa menoleh sedikit pun, ia hanya mengangkat satu tangan dan menggerakkannya perlahan, seperti menyingkirkan helaian debu yang melayang di udara. Gelombang energi yang lembut menyebar.Tidak ada ledakan. Tidak ada benturan.Namun para Peri langsung terdorong mundur puluhan meter. Mereka melayang tak terkendali sebelum akhirnya berhenti di udara.Mereka saling berpandangan.Tidak ada kemarahan dalam tindakan Lisa.
Justru itulah yang membuat mereka semakin takut.
Karena mereka tahu kekuatan sejati tidak perlu menunjukkan amarah untuk ditaati."Maafkan aku," kata Lisa lirih. "Tapi jangan halangi jalanku." Setelah itu, pandangannya kembali tertuju pada Dewa Iblis Darah.
Makhluk raksasa itu masih terkapar di tanah. Retakan memenuhi tubuhnya, sementara ketakutan terlihat jelas di matanya.Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun hidupnya, ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya.
Lisa melangkah maju.Namun kakinya tidak lagi menyentuh tanah.Tubuhnya perlahan terangkat ke udara.
Seragam akademi yang selama ini dikenakannya mulai berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang satu demi satu.
Sebuah gaun putih keemasan muncul menggantikannya.
Kainnya berkilau lembut seperti cahaya fajar yang menyelimuti dunia setelah malam panjang. Hembusan angin membuat ujung gaun itu bergerak perlahan, seolah menyatu dengan langit dan awan.
Dari kedua pundaknya, sepasang sayap raksasa terbentang.
Bukan sayap bulu.Bukan pula sayap energi biasa.
Di dalamnya tampak gugusan bintang, kabut nebula, dan kilauan galaksi yang terus berputar seperti alam semesta mini yang hidup.Kemudian sebuah mahkota cahaya muncul di atas kepalanya.Sederhana.Namun kehadirannya membuat langit seolah tunduk.
Saat itulah semua orang akhirnya menyadari satu hal.
Lisa bukan sekadar makhluk kuat.
Ia adalah keberadaan yang berdiri di atas konsep kekuatan itu sendiri. Dewa Iblis Darah gemetar.
"Tidak... tidak mungkin..."
"Aku pernah mendengar legenda itu..."
"Kau sudah disegel!"
"Kau seharusnya belum ada di dunia ini!"
Lisa tidak menjawab.Tatapannya tetap tenang.
Namun ketenangan itu justru terasa lebih menakutkan daripada amarah.
Perlahan ia mengangkat tangan kanannya.
Tubuh Dewa Iblis Darah langsung terangkat ke udara.
Makhluk raksasa itu berusaha memberontak.
Aura merah darah meledak dari tubuhnya.Ribuan simbol sihir kuno muncul di sekelilingnya.Langit kembali memerah.Tanah bergetar.
Sungai darah raksasa muncul dari kehampaan dan melesat menuju Lisa.Itu adalah serangan terkuat yang dimilikinya.
Serangan yang pernah menghancurkan sebuah kerajaan dalam satu malam.Namun ketika aliran darah itu mendekati Lisa...Segalanya berhenti.Benar-benar berhenti.
Seolah ruang dan waktu menolak membiarkan kekuatan itu menyentuhnya.Kemudian sungai darah tersebut pecah menjadi jutaan partikel cahaya dan menghilang.
Tidak ada benturan.Tidak ada ledakan.Hanya lenyap.
Wajah Dewa Iblis Darah berubah pucat.
Harapan terakhirnya baru saja dihancurkan.
"Kau suka membuat penjara, bukan?" tanya Lisa.
Suaranya terdengar lembut.Namun gema kalimat itu mengguncang seluruh Domain Merah.Seketika retakan muncul di langit.
Dinding dimensi yang diciptakan Dewa Iblis Darah mulai pecah.
Kegelapan yang selama ini menyelimuti wilayah itu runtuh seperti kaca.
Dalam hitungan detik, Domain Mutlak miliknya hancur total.
Langit biru kembali terlihat.
Udara yang sebelumnya berbau darah berubah segar.
Pepohonan yang mati mulai tumbuh kembali.
Tanah yang rusak perlahan pulih.
Seolah dunia sendiri sedang memperbaiki luka yang selama ini dideritanya.
Lisa menatap lurus ke arah iblis itu.
Matanya yang berisi galaksi tampak seperti lautan bintang tanpa akhir.
"Kau telah membunuh ribuan nyawa."
"Kau menghisap energi manusia."
"Kau merusak keseimbangan dunia."
Suaranya tetap tenang.Namun setiap kata terasa seperti putusan hukum yang tidak bisa dibantah.
Lalu tatapannya menjadi lebih dingin.
"Dan kau mengancam orang-orang yang kusayangi."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Lisa berubah.
Bukan marah.Melainkan kecewa.Dan perasaan itu jauh lebih mengerikan.
Dewa Iblis Darah mulai berteriak.
"Ampun!"
"Aku akan pergi!"
"Aku bersumpah tidak akan kembali!"
"Tolong!"
Lisa mengangkat tangannya ke langit.
Awan putih langsung berubah menjadi hitam pekat.
Petir keemasan menari di antara awan seperti naga cahaya raksasa.Seluruh dunia bergemuruh.
" Hukuman Dewa."
"Tiga Pukulan Petir Penghancur Jiwa dan Raga."
KRAAAKKK!!!
Sambaran pertama turun.
Petir emas menghantam dada Dewa Iblis Darah.
Tubuhnya langsung retak.Energi darah yang selama ribuan tahun ia kumpulkan terbakar habis dalam sekejap.
Jeritannya mengguncang langit.
KRAAAKKK!!!
Sambaran kedua turun.Kali ini mengenai kepalanya.
Tanduk-tanduk hitamnya hancur.
Aura iblis yang menyelimuti tubuhnya menguap seperti kabut diterpa matahari.Tubuh raksasanya mulai memudar.
Namun hukuman belum selesai.Petir ketiga perlahan terbentuk.Jauh lebih besar.Jauh lebih terang.
Bahkan langit tampak tidak mampu menampung kekuatannya.
Dewa Iblis Darah menangis ketakutan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memahami bagaimana rasanya menjadi makhluk yang benar-benar tidak berdaya.Lisa menurunkan tangannya.
DUNGGG!!!
Petir terakhir jatuh.
Dunia seolah berhenti sesaat.
Cahaya keemasan memenuhi seluruh cakrawala.
Ketika cahaya itu menghilang...
Dewa Iblis Darah telah lenyap.Tidak ada tubuh.Tidak ada abu.
Tidak ada jejak energi.Seolah ia tidak pernah ada.
Keheningan menyelimuti medan pertempuran.
Awan hitam yang sebelumnya memenuhi cakrawala telah lenyap tanpa bekas. Tidak ada lagi aura darah. Tidak ada lagi tekanan mengerikan yang menyesakkan dada. Dunia yang rusak perlahan kembali tenang.
( Lisa masih melayang di udara.)
Sayap galaksi yang membentang di punggungnya memancarkan cahaya lembut. Mahkota cahaya di atas kepalanya tetap bersinar, sementara gaun putih keemasan yang dikenakannya bergerak perlahan mengikuti hembusan angin.
Di bawah sana, tidak ada lagi jejak Dewa Iblis Darah.
Makhluk itu benar-benar telah lenyap.Bukan sekadar mati.
Melainkan dihapus dari keberadaan.Lisa memejamkan mata sesaat.
Amarah yang tadi memenuhi hatinya perlahan mereda. Kemudian ia menoleh.
Tatapannya jatuh kepada Floyen, Wu-Yuan, Carl Fredrin, Ji-Na, dan Xio-Yan.
Tubuh mereka masih terbaring.Luka mereka masih terlihat.
Napas mereka sangat lemah.
Meskipun telah selamat dari serangan terakhir Dewa Iblis Darah berkat perlindungannya, kondisi mereka tetap berada di ambang kematian.
Dan saat melihat itu...Tatapan dingin seorang Dewi perlahan menghilang.Yang tersisa hanyalah rasa khawatir.
Rasa khawatir seorang kakak.
Seorang sahabat.Lisa perlahan turun dari langit.
Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, seluruh bunga liar di sekitar medan pertempuran mulai bermekaran.
Rumput-rumput yang sebelumnya hangus kembali menghijau.
Tanah yang retak pulih dengan sendirinya.Seolah dunia menyambut kehadirannya.
Lisa berjalan mendekati mereka.Langkahnya ringan.
Namun setiap langkah memancarkan kehidupan.
Ia berlutut di samping Floyen terlebih dahulu.Wajah adiknya tampak pucat.Tubuhnya penuh luka.
Melihat kondisi itu, mata Lisa sedikit bergetar .Perlahan ia mengulurkan tangan.
Menyentuh dahi Floyen.Cahaya putih keemasan muncul.Awalnya kecil.Lalu semakin terang.
Energi hangat mengalir ke seluruh tubuh gadis itu.
Luka-luka terbuka mulai menutup.Tulang yang patah kembali tersambung.Energi kehidupannya yang hampir padam menyala kembali.
Setelah memastikan Floyen aman, Lisa berdiri.Kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit.
"Hukum Penciptaan."
Suaranya bergema lembut.
"Pemulihan Absolut."
Seketika cahaya keemasan memenuhi seluruh area.
Jutaan partikel bercahaya turun dari langit seperti hujan bintang.Saat partikel-partikel itu menyentuh tubuh Wu-Yuan dan yang lainnya, keajaiban terjadi.
Luka menghilang.
Racun lenyap.
Kelelahan memudar.
Tubuh mereka dipulihkan hingga kondisi terbaiknya.
Bahkan bekas luka lama yang telah bertahun-tahun mereka miliki ikut menghilang.
Para Peri yang menyaksikan semua itu terdiam.
Mereka tahu Lisa mampu menghancurkan dunia.
Namun setiap kali melihatnya menciptakan kehidupan, mereka tetap merasa takjub.
Karena inilah alasan mengapa ia ditakuti sekaligus dihormati.
Ia bukan hanya Penghancur. Namun Ia juga ...
Beberapa saat kemudian...
Jari Floyen bergerak.Kelopak matanya perlahan terbuka.
Hal pertama yang dilihatnya adalah langit biru.
Kemudian wajah seseorang yang sangat dikenalnya.
"Kak..."
Suaranya lemah.
Lisa tersenyum kecil.
Senyum yang sangat jarang terlihat sejak segelnya terbuka.
"Aku di sini."
Mata Floyen mulai fokus.Lalu ia melihat wajah sangat berbeda wajah itu sungguh cantik seperti malaikat...
Mahkota cahaya.
Gaun putih keemasan.
Senyumnya perlahan menghilang.
"Kak...?"
Pada saat yang sama, Wu-Yuan juga mulai sadar.
Disusul Carl Fredrin.
Ji-Na.
Dan Xio-Yan.
Mereka semua perlahan bangkit.
Namun begitu melihat sosok yang berdiri di hadapan mereka...
Mereka semua menatapnya tanpa berkata apa-apa.Tidak ada yang bersorak.Tidak ada yang bergerak..
Lisa merasakan tatapan itu.
Untuk pertama kalinya sejak segelnya terbuka, hatinya terasa lebih berat daripada saat menghadapi Dewa Iblis Darah.
Musuh telah dihancurkan.Dunia telah diselamatkan.
Namun kini muncul pertanyaan yang jauh lebih sulit untuk dijawab.
Setelah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya...
Apakah mereka masih akan memandangnya sebagai Lisa?
Bersambung...