Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama
“Papa.”
Bayu menoleh. “Ada apa, Sayang?” tanyanya kepada istrinya.
“Papa tahu di mana keberadaan Diana?” tanya Iren balik.
Bayu mengerutkan keningnya, lalu menggeleng pelan.
“Tidak. Kenapa kamu bertanya tentang wanita kampung itu? Apa ada masalah?”
“Tidak sih, Pa. Tapi aku hanya penasaran dengan dia, katanya dia tidak tinggal lagi di kontrakannya,” jawab Iren.
“Terus apa masalahnya, Sayang? Bagus dong dia pergi, dia tidak mengganggu hubungan Samuel dan Citra lagi.”
“Bukan Papa yang menyuruh dia pergi?” ucap Iren sambil menatap dalam suaminya.
“Tidak.”
Bayu menjawab tegas.
“Sebelumnya sih memang iya, Papa ingin membuatnya pergi sejauh mungkin.”
Ia menjeda ucapannya sejenak.
“Takut Samuel terus menghampirinya dan hubungannya dengan Citra berantakan,” jelas Bayu.
“Menurut anak buahku, wanita kampung itu sudah pergi dari kontrakannya.”
Iren terdiam sesaat mendengar jawaban suaminya.
Entah kenapa hatinya justru semakin gelisah.
“Kalau begitu... ke mana dia pergi?” gumamnya pelan.
Bayu mengangkat bahu acuh. “Papa tidak peduli dia pergi ke mana. Selama dia tidak muncul lagi di hadapan Samuel, itu bukan urusan kita.”
Bayu memperhatikan raut wajah istrinya.
“Memangnya ada apa sih, Mah?”
Sebelum menjawab, Iren menghela napas berat.
“Banyak pelanggan toko yang mencari wanita kampung itu, Pa. Katanya kue buatannya lebih enak dibandingkan koki pastry yang baru. Hampir semua pelanggan di cabang mencari kue buatan wanita kampung itu.”
“Jadi itu yang membuat Mama murung?”
Iren mengangguk pelan.
“Tidak usah dipikirkan, Mah. Uang bulanan Mama juga sudah banyak. Tidak perlu terlalu memikirkan toko itu,” ucap Bayu dengan santai.
Iren langsung menatap tajam suaminya.
“Tidak bisa seperti itu, Pa. Toko itu adalah usaha Mama dari dulu,” jawabnya dengan nada kesal.
“Terus maunya Mama apa?”
Iren menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Aku ingin toko itu kembali ramai seperti dulu,” ucapnya dengan nada frustrasi.
Bayu menghembuskan napas pelan.
“Lalu?”
“Aku tidak peduli di mana Diana berada sekarang, dan aku juga tidak ingin berurusan lagi dengan wanita itu.” Suara Iren terdengar dingin.
Bayu menatap istrinya lekat-lekat.
“Bagus. Papa juga tidak ingin nama wanita itu muncul lagi.”
Iren mengepalkan tangannya.
“Tapi aku tidak bisa membiarkan toko ku hancur hanya karena satu pembuat kue pergi.”
“Jadi rencana Mama apa?” tanya Bayu.
Tatapan Iren berubah tajam.
“Aku akan mendatangkan pastry chef terbaik dari luar negeri.”
Bayu menaikkan sebelah alisnya.
“Luar negeri?”
“Iya.” Iren mengangguk tegas. “Kalau pelanggan menyukai rasa premium, maka aku akan berikan sesuatu yang jauh lebih mahal dan lebih mewah dari buatan Diana.”
Bayu tersenyum tipis.
“Nah, itu baru istri Papa.”
Iren menyandarkan tubuhnya.
“Aku akan rebranding semua menu toko.”
“Berapa pun biayanya, papa bantu.”
Senyum tipis muncul di bibir Iren, tetapi matanya tetap dingin.
“Aku akan membuktikan kalau tokoku tetap bisa berdiri tanpa wanita kampung itu.”
°°••°°
Samuel menatap Citra yang terlihat lemas setelah pergulatan malam pertama mereka.
Tatapannya kemudian beralih pada seprei yang tampak bersih. Tidak ada bercak darah seperti saat ia merenggut keperawanan Diana.
Bahkan, kewanitaan Citra tidak terasa sakit saat tubuh mereka menyatu begitu mudah.
Yang terdengar justru erangan nikmat keluar dari mulut Citra.
Saat itu juga Samuel sadar, ini bukan pertama kalinya Citra melakukan hal tersebut.
Inikah calon istri yang Mama dan Papa banggakan? Ternyata tidak jauh berbeda dari wanita murahan, gerutu Samuel dalam hati.
Samuel ikut merebahkan tubuhnya di samping Citra setelah membersihkan diri.
Samuel menatap langit-langit kamar dengan sorot mata kosong. Entah kenapa, ia tidak merasakan kebahagiaan seperti yang dibayangkan semua orang.
Di saat seperti ini, bayangan Diana justru kembali muncul di kepalanya.
Samuel mengumpat pelan.
“Sial... kenapa harus dia lagi?”
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Mpusss...