“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
Baru saja Pak Darto menurunkan koper besar milik Ratna di sudut ruang tamu, wanita paruh baya itu sudah langsung mengeluh panjang lebar.
“Aduh, badanku pegal semua. Perjalanan dari bandara tadi macetnya keterlaluan, bikin encokku langsung kambuh,” keluh Ratna dengan nada ketus, seolah kemacetan jalanan ibu kota adalah kesalahan total menantunya.
Rania yang sejak tadi menahan rasa pusing yang mendera kepalanya langsung bergerak cepat. Ia mengabaikan denyut di pelipisnya dan mencoba mengulas senyum seramah mungkin.
“Ibu mau makan dulu? Aku udah masak sayur asem sama ikan goreng kesukaan Ibu,” tawar Rania dengan suara selembut mungkin, berharap hidangan hangat bisa sedikit mencairkan suasana hati wanita di hadapannya.
“Ya sudah, cepat siapin di meja. Ibu sudah lapar dari tadi di jalan.”
“Iya, Bu. Sebentar ya,” jawab Rania patuh.
Rania segera melangkah menuju dapur dengan tergesa.
Tak lama kemudian, meja makan sudah dipenuhi dengan uap hangat dari masakan yang ia buat dengan penuh perjuangan sejak subuh. Rania menuangkan teh hangat ke dalam cangkir, lalu meletakkannya di depan ibu mertuanya dengan gerakan yang sangat hati-hati, memastikan tidak ada satu tetes pun air yang tumpah ke taplak meja.
“Silakan dinikmati, Bu,” ucap Rania sopan.
Ratna menarik kursi lalu duduk tegak sambil mengedarkan pandangannya secara menyeluruh ke satu per satu lauk yang tersaji di atas meja.
Sebelum jemarinya menyentuh sendok, penilaian sepihak sudah dijatuhkan.
“Tempenya terlalu kering. Warnanya terlalu cokelat, pasti kamu gorengnya ditinggal-tinggal,” komentar Ratna pedas.
Deg!
Dada Rania berdenyut nyeri. Padahal masakan itu bahkan belum menyentuh ujung lidah sang mertua, namun vonis kegagalan sudah dilemparkan begitu saja.
“Maaf, Bu. Nanti aku gorengin lagi yang baru kalau Ibu kurang suka,” sahut Rania dengan nada mengalah yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.
“Hmm,” gumam Ratna tak acuh.
Wanita tua itu mulai menyuap nasi dan sayur asem ke dalam mulutnya secara perlahan. Sementara itu, Rania tetap berdiri di dekat meja makan seperti biasa.
“Garamnya kurang. Hambar sekali ini sayur, seperti tidak berniat masak,” komentar Ratna lagi setelah kunyahan ketiga, wajahnya berkerut masam.
“Aku ambilin garamnya dulu di dapur,” ucap Rania panik, hendak melangkah balik ke pantry.
“Lain kali belajar masak yang benar. Harsa itu dari kecil sukanya makanan dengan bumbu yang pas, tidak kurang dan tidak lebih. Kamu sudah bertahun-tahun jadi istrinya masa hal begini saja tidak paham?”
Kalimat itu langsung membuat dada Rania terasa dihantam benda tumpul. Rasa perihnya menjalar hingga ke ulu hati.
Tiga tahun pernikahan yang ia jalani dengan penuh pengorbanan, dan tetap saja dirinya masih dianggap tidak cukup baik, tidak cukup kompeten, dan tidak pernah benar di mata wanita ini.
Padahal selama ini, di rumah mereka, Harsa selalu menghabiskan semua masakan yang dibuat Rania tanpa pernah melayangkan satu protes pun.
“Atau jangan-jangan, Harsa sekarang jadi lebih sering makan di luar karena bosan sama masakan kamu yang rasanya tidak jelas begini?” lanjut Ratna dengan nada santai, tanpa menyadari atau mungkin tidak peduli bahwa ucapannya baru saja menusuk tepat di bagian paling rapuh dari hati menantunya.
Rania menunduk cepat, menyembunyikan matanya yang mendadak terasa panas dan berkaca-kaca.
“Maaf, Bu. Nanti aku perbaiki lagi cara masakku.”
“Kamu ini memang terlalu lembek. Dikritik sedikit langsung murung begitu.”
Setelah sesi makan siang yang penuh tekanan itu selesai, Rania kembali merapikan meja, membuatkan segelas teh hangat yang baru, lalu membantu membawa tas-tas kecil milik Ratna menuju kamar tamu yang letaknya di lantai bawah.
“Kamarnya pengap sekali. Apa tidak pernah dibuka jendelanya?” tanya Ratna sinis.
“Nanti aku nyalain diffuser sama buka ventilasinya lebih lebar ya, Bu,” jawab Rania tegar.
Ratna kemudian menggeser tubuhnya dan duduk di tepi ranjang sambil mengusap-usap betisnya yang tampak agak bengkak akibat perjalanan. Ia menatap Rania dengan pandangan memerintah.
“Pijitin Ibu sekarang. Badan Ibu rasanya mau remuk.”
Rania tidak membantah. Ia langsung mengambil posisi jongkok di lantai, tepat di bawah kaki ibu mertuanya tanpa banyak bicara.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, jemari tangannya yang mulai mendingin mulai memijat kaki kaki tua itu perlahan-lahan, mengurutnya dari pergelangan kaki naik ke betis.
“Aduh, pelan dikit! Sakit tahu!” sergah Ratna tiba-tiba, menarik kakinya sedikit karena merasa pijatan Rania terlalu menekan.
“Maaf, Bu. Aku kurangi tekanannya,” cicit Rania.
“Eh, tapi jangan terlalu pelan juga! Kalau begitu namanya cuma diusap-usap, tidak kerasa apa-apa!” serang Ratna lagi, membolak-balikkan perkataannya sendiri.
“Kamu kelihatan pucat sekali,” komentar Ratna tiba-tiba, memecah keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara detak jam dinding.
Rania sedikit terdiam, gerakan tangannya memijat agak melambat. Ia tidak menyangka mertuanya akan menyadari perubahan fisiknya.
“Jangan bilang kamu sekarang lagi hamil.”
Pertanyaan itu seketika membuat jantung Rania mencelos. Tangan Rania langsung berhenti bergerak sama sekali.
Ratna yang melihat reaksi menantunya justru mendengus kecil, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela dengan raut kecewa.
“Kalau hamil ya syukur sih. Daripada sudah nikah lama tapi belum juga bisa kasih Ibu cucu. Keluarga kita ini butuh penerus, bukan cuma pajangan rumah.”
Kalimat lugas itu mengudara, terasa seperti sebilah pisau kecil yang diasah tajam lalu ditusukkan perlahan-lahan, tepat ke tengah dada Rania.
Rania segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajah agar rona kesedihan dan genangan air di pelupuk matanya tidak terbaca oleh Ratna.
“Iya, Bu… mohon doanya saja,” bisik Rania parau, nyaris tak terdengar.
“Harusnya kamu mencontoh Wulan. Dia itu perempuan hebat. Baru menikah sebentar saja sudah langsung bisa kasih cucu, si Gavin yang pintar itu.”
Nama itu lagi. Nama yang belakangan ini menjadi momok paling menakutkan dalam hidup Rania. Selalu Wulan yang disebut. Selalu Wulan yang diagungkan. Dan selalu dirinya yang ditarik ke bawah untuk dibandingkan sebagai pihak yang gagal.
“Wulan itu tipe perempuan pintar yang serba bisa,” lanjut Ratna dengan nada bangga. “Ngurus anak dia jago, ngurus urusan suami dan rumah tangga juga sangat becus dulu waktu suaminya masih ada.”
Rania memilih untuk tetap menutup rapat mulutnya. Tangannya kembali bergerak memijat pelan betis Ratna, meskipun kini kepalanya mulai dirayapi rasa pening yang luar biasa, membuat pandangannya agak mengabur sejenak.
“Makanya tidak heran kalau Harsa betah sekali bantuin dia sampai sekarang,” sambung Ratna dengan santai. “Kalau perempuannya bisa diandalkan dan tahu cara menyenangkan hati, laki-laki juga pasti bakal merasa nyaman dan tidak akan berpaling ke mana-mana.”
Jadi, bahkan ibu mertuanya pun menganggap kedekatan dan perhatian berlebih yang diberikan Harsa kepada Wulan selama ini adalah hal yang lumrah dan sepenuhnya wajar?
padahal Harsa sdh mulai sadar naif dan manipulatif nya seorang wulan eh dia dgn bangga nya memerkan tentang dia sebagai calon istri dan lgsg bertabrakan dgn pemilik oerusahaan🤣dasar wulan bodoh masih pede lg bilang calon istri🤣🤣
kemiskinannya😌😌