NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikut Saya Ke Yogjakarta

Waktu berlalu begitu cepat sejak pagi tadi. Tanpa terasa, jarum jam kini sudah menunjuk angka sebelas siang.

Setelah berjam‑jam sibuk berpindah dari satu titik ke titik lain untuk memeriksa dan menata, Rhea akhirnya bisa menarik napas sedikit lebih lega.

Meja pendaftaran sudah hampir siap digunakan, perlengkapan peserta tersusun rapi di dalam kotak‑kotak yang berlabel jelas, sedangkan area penyokong acara yang berulang kali mengalami perubahan selama beberapa hari terakhir akhirnya rampung dan sesuai dengan denah yang disepakati.

Meski masih terlihat beberapa panitia yang kesana kemari membawa perlengkapan tambahan, sebagian besar persiapan sudah memasuki tahap akhir.

Rhea berdiri diam di depan panggung utama yang kini menjulang kokoh di tengah lapangan kampus. Matanya perlahan menyapu seluruh area acara...pemandangan yang tampak begitu berbeda dibandingkan beberapa minggu lalu saat tempat ini masih kosong dan penuh tanda tanya.

Panggung sudah berdiri tegak lengkap dengan hiasannya. Barisan kursi untuk peserta tertata rapi hingga ke barisan paling belakang. Spanduk dan latar panggung juga sudah terpasang kokoh di tempatnya masing‑masing.

Rhea mengembuskan napas panjang yang terasa melepaskan segala penat di dada.

“Semoga semuanya berjalan lancar tanpa halangan apa pun…” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri, sambil terus menatap bangunan panggung di hadapannya.

“Harus lancar. Kita semua sudah menyiapkannya sebaik mungkin.”

Rhea seketika menoleh saat mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya itu.

Dito berjalan mendekat dari arah area penyokong acara, map tebal yang sejak tadi ia bawa kini terselip rapi di bawah lengannya. Pria itu berhenti tepat di samping Rhea, lalu ikut mengalihkan pandangannya ke arah panggung yang sama.

“Kamu istirahat saja dulu,” katanya setelah hening sejenak. “Atau kalau rasanya sudah cukup lelah dan mau pulang lebih awal, juga tidak apa‑apa. Kamu sudah bekerja sangat keras selama ini.”

Rhea langsung menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

“Bukan cuma aku yang bekerja keras, Mas. Ini hasil usaha dan kerja keras kita semua, seluruh panitia yang tak kenal lelah menyiapkannya.”

Ada ketulusan yang terlihat jelas di wajah gadis itu saat mengucapkannya. Dito terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk seolah menyetujui setiap kata yang diucapkan.

Tanpa aba‑aba lebih dulu, tangannya terangkat perlahan ke arah atas. Rhea yang masih menatap panggung refleks berkedip bingung saat telapak tangan Dito mendarat ringan di atas kepalanya.

“Kenapa, Mas?” tanyanya pelan.

Dito tak langsung menjawab. Jari‑jarinya dengan lembut menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel berantakan di dahi Rhea karena terkena keringat dan angin siang.

Setelahnya, punggung tangannya bergerak perlahan mengusap pelipis gadis itu sekilas, seolah turut menghapus rasa lelah yang menumpuk di sana.

Rhea seketika membeku di tempatnya selama beberapa detik, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang tanpa sebab yang jelas. Baru setelah tangan itu ditarik, ia tanpa sadar ikut menyentuh dahinya sendiri seolah masih merasakan sentuhan hangat tadi.

“Topimu mana?” tanya Dito dengan nada santai, seolah tak baru saja melakukan hal yang membuat jantung gadis itu bergejolak.

Rhea beberapa kali mengerjap untuk menenangkan diri sebelum akhirnya menjawab.

“Aku tinggal di meja sekretariat tadi, Mas,” jawabnya sambil menunjuk asal ke arah gedung tempat ruang kerja mereka. “Tadi aku lepas sebentar soalnya gerah.”

“Hmm…” Dito mengangguk pelan. “Ya sudah, kamu istirahat dulu di dalam.”

“Iya, Mas.”

Rhea baru saja hendak melangkah menjauh saat ponsel di dalam saku celananya tiba‑tiba berdering nyaring. Ia segera merogohnya, lalu menatap layar yang menyala itu beberapa saat. Nama yang tertera di sana membuat raut wajahnya sedikit berubah.

Pak Arga.

Rhea segera menekan tombol hijau dan mendekatkan perangkat itu ke telinga.

“Halo…”

“Rhea, ke ruangan saya sebentar sekarang.”

“Baik, Pak. Saya ke sana.”

Panggilan terputus sepihak. Rhea memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu kembali menoleh ke arah Dito yang masih menunggu tak jauh dari tempatnya.

“Mas, aku pergi sebentar ya,” ucapnya.

Dito yang sejak tadi diam menunggu mengangkat sedikit alisnya.

“Mau ke mana?”

“Ke ruangan Pak Arga sebentar.” jawabnya jujur.

“Begitu ya…” Pria itu mengangguk pelan. “Ya sudah, hati‑hati.”

...****************...

Setelah berpamitan dengan Dito, Rhea segera meninggalkan area acara dan berjalan menuju gedung fakultas.

Siang itu lapangan kampus masih dipenuhi kesibukan. Beberapa panitia terlihat membawa perlengkapan dari satu tempat ke tempat lain, sementara para vendor masih melakukan pengecekan terakhir sebelum acara dimulai.

Rhea melangkah melewati semuanya sambil sesekali membalas sapaan yang ditujukan padanya.

Semakin jauh ia meninggalkan area CIS, suasana di sekitarnya perlahan berubah lebih tenang.

Suara musik untuk uji coba panggung yang sejak tadi terdengar samar mulai menghilang. Digantikan derap langkah mahasiswa yang berlalu-lalang di koridor gedung fakultas.

Begitu sampai di depan ruangan Arga...Rhea mengetuk pintu ruangan itu pelan sebelum perlahan mendorongnya terbuka.

"Permisi..."

Begitu melangkah masuk, langkahnya seketika terhenti sejenak. Di sana, Arga berdiri tegak di samping jendela besar, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dari posisinya itu, seluruh pemandangan lapangan dan area persiapan acara terlihat jelas seolah ada di telapak tangan.

"Pak Arga memanggil saya?"

"Hmm."

Jawaban itu terdengar singkat, datar, tanpa membuat pria itu sedikit pun mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar kaca.

Rhea mengernyitkan dahi kecil, merasa ada ketegangan yang tak terucap menggantung di udara.

"Ada apa ya, Pak?"

Barulah Arga perlahan menoleh. Tatapannya jatuh tepat menatap wajah Rhea, meneliti diam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang yang terdengar berat.

"Duduk."

Rhea menurut. Ia berjalan mendekat lalu duduk di atas sofa yang terletak tak jauh dari meja kerja. Begitu ia duduk, suasana ruangan itu mendadak terasa makin sunyi, seolah udara di dalamnya ikut menahan napas.

"Apakah menyibukkan diri adalah cara yang kamu anggap paling tepat untuk menjauh dan menghindar dariku selama beberapa hari terakhir?"

Pertanyaan itu begitu langsung dan tajam hingga seketika seluruh tubuh Rhea menegang.

"Eh..."

"Saya kan memang benar‑benar sibuk, Pak," jawabnya berusaha terdengar meyakinkan, meski suara itu sedikit bergetar.

"Saya tahu kamu sibuk." Arga berbicara tenang, namun matanya tak lepas menatapnya. "Tetapi saya juga tahu betul kapan seseorang berusaha menjaga jarak, menciptakan alasan, dan berusaha menghilang agar tak perlu berhadapan."

Rhea menunduk dalam. Jujur saja, ucapan itu benar adanya. Ia memang sengaja menghindar. Bukan karena ia membenci atau menaruh rasa tidak suka pada Arga.

Justru sebaliknya...ia tak tahu lagi bagaimana harus bersikap, apa yang harus dikatakan, dan bagaimana menata perasaan itu kembali ke tempatnya semula setelah percakapan mendalam mereka beberapa waktu lalu.

"Saya hanya-..."

"Hanya apa?" desak Arga saat ia diam tak melanjutkan kalimatnya.

Rhea membuka mulutnya, berusaha menyusun kata yang tepat. Namun tak satu pun jawaban yang mampu keluar. Semuanya terasa tersekat di kerongkongan.

Arga tertawa pendek... suara yang terdengar kering, jauh dari kesan gembira atau santai.

"Lupakan saja."

Pria itu berbalik badan, lalu berjalan perlahan menuju meja kerjanya.

"Waktumu sebagai asisten dosen saya tinggal tiga hari lagi, bukan?"

"I-Iya, benar Pak," jawab Rhea pelan, masih menunduk.

"Besok ikut saya ke Yogyakarta. Saya diundang menjadi pembicara dalam seminar di salah satu Universitas di sana."

Rhea seketika mendongak, matanya membelalak tak percaya.

"Hah? Ke Yogyakarta? Besok, Pak?"

"Iya."

"Tapi... saya kan sekarang menjadi panitia pelaksana acara besar ini, tidak mungkin saya pergi gitu aja..."

"Saya sudah berbicara dan meminta persetujuan Pak Surya pagi tadi."

Mata Rhea makin melebar, tak menyangka hal itu sudah diatur diam‑diam tanpa sepengetahuannya.

"Tinggal satu hal yang harus kamu lakukan...pergi minta izin pada ketua panitiamu itu."

"Pak, tunggu dulu, saya mohon..." Rhea buru‑buru berdiri sedikit condong ke depan. "Ini terlalu mendadak..."

Arga kembali mengangkat pandangannya, tatapannya tegas dan tak memberi ruang untuk tawar‑menawar.

"Lakukan saja seperti yang saya katakan."

"Tapi saya-..."

"Ini tugas terakhirmu sebagai asisten dosen saya."

Nada bicaranya tetap tenang, terukur, dan tak berubah sedikit pun... namun justru ketenangan itulah yang membuat Rhea makin bingung dan merasa terjepit.

"Begitu tugas ini selesai, kewajibanmu, tanggung jawabmu, dan segala urusanmu bersamaku pun selesai sepenuhnya."

Deg.

Kalimat itu menohok tajam hingga terasa sampai ke ulu hatinya. Entah mengapa, mendengarnya membuat dadanya terasa sempit, sesak, dan tak nyaman seolah ada sesuatu yang berharga baru saja direnggut paksa.

"Pak Arga..."

"Apa lagi?"

Rhea menatap wajah pria itu lama sekali, berusaha mencari jejak emosi di balik ekspresi yang kembali tertutup rapat itu. Tanpa sadar, pertanyaan yang sejak tadi bergelayut di kepalanya akhirnya meluncur begitu saja.

"Pak Arga... kenapa sebenarnya? Kenapa bersikap begini?"

Arga terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Rhea masuk ke ruangan itu, raut wajahnya sedikit berubah...ada pergolakan samar yang sempat terlihat sekilas, namun secepat kilat ia sembunyikan kembali.

"Tak ada apa‑apa. Saya bersikap biasa saja."

"Kalau benar tak ada apa‑apa, kenapa Pak Arga kayak lagi marah?"

"Saya tidak marah."

"Bohong."

Alis Arga perlahan terangkat ke atas, terkejut mendengar penyanggahan tegas itu keluar dari mulut Rhea yang biasanya selalu hati‑hati.

Suasana ruangan kembali tenggelam dalam keheningan yang berat. Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya Arga kembali mengembuskan napas panjang, seolah kehabisan tenaga untuk terus mempertahankan pertahanannya.

"Cepat pergi minta izin. Setelah semuanya beres, hubungi saya lagi."

Nada suaranya kini tegas dan tak lagi memberi ruang untuk berdebat.

"Dan satu hal lagi... saya akan menghubungi orang tuamu untuk meminta izin secara langsung."

1
Wawan
Salam kenal untuk Rhea ✍️
Nia Nara
Lanjut thor
Nia Nara
Si dosen panas itu 🤣
Nia Nara
Pak dosen kayaknya uda ada rasa nih.. Gak pernah deh dulu waktu jadi asdos aku diajak makan pak dosen 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!