NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.

Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.

Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.

Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.

Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Silsilah yang Dicoret

Kegelapan pekat menyelimuti seluruh ruangan. Hanya cahaya merah samar yang menjadi penanda arah pintu.

Endric segera membalikkan tubuhnya, siap menghadapi ancaman apa pun yang datang.

"Siapa di sana? Keluar!" teriak Endric tegas.

Suara gemuruh rendah terdengar dari dinding. Bukan suara manusia, melainkan suara gesekan benda keras.

"Rek, tenang dulu. Jangan main pukul," bisik Gandhul cepat.

"Ini bukan mau makan kita. Ini cara desa ngasih peringatan atau ngasih petunjuk lebih lanjut."

"Petunjuk apa? Ngunci orang hidup-hidup itu cara kasih tahu yang benar?" sahut Endric ketus.

Tiba-tiba, sebuah panel di dinding bergeser perlahan. Cahaya putih menyala terang tepat di hadapan mereka.

Di situ tergantung sebuah gulungan kain putih besar yang terbentang rapi. Itu adalah silsilah keluarga lengkap.

Endric melangkah mendekat. Matanya menyapu baris demi baris nama yang tertulis rapi.

"Ini silsilah lengkap klan pendiri," ucap Gandhul pelan.

"Lihat baik-baik Rek. Urutannya dari atas ke bawah, dari leluhur pertama sampai keturunan terakhir."

Endric mengangguk. Ia mulai membaca nama-nama asing yang anehnya terasa akrab di lidah.

Sampai ia mencapai satu baris di tengah gulungan itu. Tangannya berhenti tepat di sana.

Nama leluhurnya tertulis besar dan jelas. Namun, tinta hitamnya dicoret berkali-kali hingga sobek kainnya.

"Kenapa dicoret?" tanya Endric. Suaranya terdengar berat.

"Itu tandanya pengusiran. Tandanya nama itu dibuang dari keluarga, dilarang disebut, dan dianggap Gak pernah ada."

Endric memegang bagian yang dicoret itu. Jemarinya merasakan tekstur kain yang rusak parah.

"Jadi leluhur gue diusir dari desa ini? Dihukum karena kesalahan apa?"

"Biasanya karena pengkhianatan, atau karena menolak aturan utama desa," jawab Gandhul.

"Atau mungkin karena mereka mau menyelamatkan sesuatu yang dilarang disimpan."

Ningsih berdiri di samping Endric. Ia menatap gulungan itu dengan tatapan dalam.

"Mas Endric punya darah yang sama dengan mereka. Itu sebabnya Mas bisa bertahan di sini."

"Tapi karena garis keturunan ini dicoret, status gue jadi apa?" tanya Endric.

"Jadi orang terbuang. Jadi yang Gak diakui. Tapi justru itu keuntungan lo sekarang, Rek."

Gandhul melayang berputar di depan gulungan itu.

"Karena lo Gak diakui, sistem desa Gak punya wewenang penuh atas lo. Lo jadi hantu di tengah warga resmi."

"Berarti gue musuh bagi dua pihak? Bagi desa, dan bagi keluarga sendiri?"

"Bisa dibilang begitu. Lo lahir dari garis yang memberontak dulu."

Endric menarik napas panjang. Ia mulai menyusun potongan-potongan teka-teki di kepalanya.

Ia teringat ucapan orang tuanya dulu bahwa nenek moyang mereka berasal dari tanah yang jauh dan misterius.

Ia kira hanya dongeng biasa. Ternyata itu semua fakta.

"Jadi gue ada di sini bukan karena kebetulan. Gue ditarik karena darah ini. Karena darah orang yang pernah dikhianati dan dicoret."

"Betul sekali. Desa ini butuh keturunan terakhir lo buat nutupin dosa masa lalu, atau buat jadi tumbal penebusan."

Endric mengepalkan tangannya. Garis hitam di lengannya berdenyut kencang.

"Mereka pikir gue bakal nurut begitu saja? Mereka pikir gue bakal pasrah jadi korban cuma karena nama leluhur gue dicoret?"

"Tentu Gak, Rek. Lo kan cucu pemberontak. Darah lo panas, kepala lo keras."

"Gue bakal balikin nama ini lagi. Gue bakal hapus coretan ini dengan cara gue sendiri."

"Tapi bahaya banget Rek. Selama ratusan tahun Gak ada yang berani sentuh gulungan ini."

"Karena dulu belum ada yang punya nyali sama gue."

Endric mengulurkan tangannya, siap menyentuh dan memperbaiki tulisan itu dengan kekuatannya.

Ningsih segera menahan lengan Endric. Tatapannya sangat serius.

"Jangan sentuh, Mas. Itu bukan sekadar coretan tinta. Itu segel kutukan."

"Kalau gue buka, apa yang bakal terjadi?"

"Segel akan pecah. Segala sesuatu yang terkunci di dalamnya akan keluar. Seluruh desa akan tahu bahwa keturunan yang hilang sudah kembali."

"Biarkan mereka tahu! Gue capek sembunyi! Gue capek jadi mainan mereka!"

"Mas belum siap menghadapi amarah seluruh desa," ucap Ningsih lembut namun tegas.

"Dengar saya dulu. Kita simpan informasi ini dulu. Kita cari tahu kenapa leluhur Mas diusir. Kita cari bukti lain."

Gandhul mengangguk setuju. "Bener rek. Buru-buru itu nggak baik. Kita main aman dulu."

Endric menurunkan tangannya perlahan. Ia menatap gulungan itu dengan penuh determinasi.

"Oke. Gue turunin dulu. Tapi ingat ini, Ningsih. Gandhul."

"Suatu hari nanti, gue bakal nulis ulang sejarah ini. Gue bakal pastikan nama keluarga gue berdiri tegak lagi tanpa ada yang berani coret."

"Siap, Tuan Muda!" seru Gandhul semangat.

Tiba-tiba, gulungan kain itu bergetar hebat. Tulisan-tulisan di atasnya seakan ingin bergerak sendiri.

Suara ratusan orang berbisik bersamaan terdengar jelas di telinga mereka.

"Dia kembali... Dia kembali..."

"Yang dicoret... datang untuk menuntut haknya..."

Lantai di bawah kaki mereka retak. Sebuah tangan kerangka mencuat keluar dari celah lantai, menggenggam erat selembar kertas kuning.

Endric meraih kertas itu dengan cepat.

Isinya adalah peta kuno dengan tanda silang merah besar di satu titik.

"Tanda ini..." Endric membelalakkan mata.

"Itu lokasi rumah leluhur gue yang sebenarnya."

"Dan di situ... ada sesuatu yang harus gue ambil sebelum semuanya terlambat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!