NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi Masa Depan

Kami pulang sekolah dengan berjalan kaki. Jarak sekolah ke rumah butuh waktu lima belas menit jika kami berjalan cepat. Keluarga kami hanya memiliki satu sepeda motor butut yang digunakan Ayah untuk bekerja, jadi kami hanya diantar saat berangkat. Saat pulang, aspal panas adalah kawan setia kami.

​Setibanya di rumah, aku menetapkan aturan baru: dua jam belajar setiap hari. Aku meminta tolong pada Bian, si jenius kecil itu untuk mengulas kembali pelajaran kelas satu yang menjadi kisi-kisi ujian. Percayalah, meskipun aku membawa jiwa wanita tiga puluh empat tahun, kecerdasanku tetap tidak bisa melampaui Bian.

Prestasiku dulu biasa saja, tak pernah tembus sepuluh besar, hanya bertahan agar tidak tersingkir dari urusan dua puluh besar.

​Sore harinya, aku menyeret Bian berkeliling desa. Meski ia berkali-kali menolak, aku memaksanya menemaniku membawa sebuah buku catatan kecil.

Aku mengamati beberapa bidang tanah yang saat ini masih berupa semak belukar dan dijual dengan harga yang sangat murah.

​Ingatanku melesat ke masa depan. Sepuluh tahun dari sekarang, tanah-tanah ini akan berubah menjadi perumahan elit dengan harga yang melonjak minimal delapan kali lipat, sesuatu yang mustahil didapatkan hanya dari bunga tabungan bank.

​Aku tahu, meski orang tuaku hidup sangat sederhana, mereka adalah penabung yang gigih. Mereka hanya menghabiskan tiga puluh lima persen penghasilan untuk biaya hidup. Tabungan itu baru aku ketahui setelah lulus SMA dulu. dana yang mereka siapkan agar kami bertiga bisa ikut kursus singkat. Bagi mereka, menguliahkan tiga anak sekaligus adalah mimpi yang terlalu mewah, karena Ayah dan Ibu bahkan tidak lulus sekolah dasar. Mereka tidak ingin memilih salah satu di antara kami, karena itu tidak adil.

​Namun, di tahun 2012 ini, dengan pengetahuan dari masa depan, aku mulai menyusun strategi. Aku berpacu dengan waktu yang tidak tahu sampai kapan kumiliki di sini.

​"Mbak, buat apa sih mencatat tanah orang?" tanya Bian bingung melihatku sibuk menulis koordinat sederhana.

​"Ini bukan cuma catatan tanah, Bian," gumamku sambil menatap sepetak lahan di depan kami. "Ini tiket masa depan kita."

​Aku mulai mempertimbangkan antara investasi saham perusahaan belanja online, ojek online ataupun beberapa saham bluechip, atau membeli setidaknya satu kavling tanah di area strategis ini. Aku harus meyakinkan Ayah dan Ibu untuk memindahkan tabungan mereka ke aset yang lebih bernilai.

Malam itu, cahaya lampu pijar di ruang tengah terasa lebih kuning dari biasanya. Aku duduk bersila di hadapan Bapak dan Ibu, sementara Bian dan Cinta menyimak dari balik pintu kamar. Di tanganku, sebuah buku tebal tentang pasar modal—hasil pinjamanku dari meja Guru BK siang tadi—tergeletak sebagai "senjata" untuk memperkuat argumenku.

​Aku harus membawa mereka keluar dari sini. Bukan karena aku tidak mencintai rumah ini, tapi karena aku muak dengan riwayat tanah warisan seluas satu hektar ini. Di atas tanah yang ditempati bersama - sama saudara kandung Ibu hingga para sepupu, setiap jengkalnya seolah menjadi bahan gunjingan. Aku lelah mendengar sindiran bahwa Bapak dan Ibu mendapat jatah lebih banyak.

​Aku ingat betul racun yang keluar dari mulut mereka di masa depan, mereka yang menyebutku perawan tua, bergosip aku penyuka sesama jenis, hingga fitnah keji bahwa perjalanan bisnisku ke luar kota hanyalah kedok sebagai wanita simpanan.

Saudara sedarah, namun lidah mereka lebih tajam dari sembilu. Aku ingin membebaskan orang tuaku dari lingkaran setan ini. Prioritas mereka harus berubah: bukan lagi tabungan kursus, biaya pernikahan anak - anaknya,  atau acara peringatan leluhur yang jor-joran, melainkan kebebasan finansial dan tempat tinggal yang mandiri.

​"Pak, Bu, Ara mau bicara serius," aku memulai, suaraku tenang namun tegas.

​Bapak meletakkan korannya, menatapku heran. "Bicara apa, Ra? Tumben mukamu tegang begitu?"

​"Ara ingin Bapak dan Ibu pindah haluan soal tabungan. Ara tahu Ibu punya simpanan yang cukup banyak di buku tabungan itu," ucapku. Ibu tersentak, wajahnya memucat karena rahasia dapurnya kuketahui.

"Jangan tanya Ara tahu dari mana, yang jelas jumlahnya cukup untuk beli satu kavling tanah di area bawah dan sisanya untuk investasi saham."

​"Saham? Tanah lagi?" Ibu menggeleng cepat. "Nduk, tabungan itu untuk kursus kalian nanti, untuk biaya kalian menikah. Tanah di sini kan sudah ada, buat apa beli lagi?"

​"Tanah di sini hanya bawa sakit hati, Bu," sahutku cepat. "Kita dikelilingi orang-orang yang terus menghitung jatah kita. Ara ingin kita punya tempat sendiri. Dan soal tanah juga saham, Ara dengar langsung dari obrolan guru-guru saat kunjungan Pak Bupati kemarin. Mereka bilang perusahaan belanja online akan maju,   karena produknya kita pakai sehari-hari,  sahamnya itu bakal naik berkali-kali lipat harganya."

​Bapak mengkerutkan dahi, menatap buku pasar modal di depanku. "Tapi kita ini orang kecil, Ra. Bapak tidak sekolah tinggi, mana paham urusan begitu? Modal dari mana?"

​"Gunakan tabungan itu, Pak. Sisakan saja untuk dana darurat sebulan. Percayalah pada Ara sekali ini saja," aku menatap mata Bapak dalam-dalam, menggunakan kedewasaan wanita tiga puluh empat tahun untuk meyakinkannya.

"Kalau uang itu cuma mengendap di bank, nilainya akan habis dimakan zaman. Tapi kalau kita belikan tanah di tempat yang strategis dan saham perusahaan besar, sepuluh tahun lagi Bapak dan Ibu tidak perlu pusing memikirkan biaya apa pun."

​Ibu tampak ragu, jemarinya meremas ujung daster. "Tapi, Ra... tetangga dan saudara apa katanya nanti kalau kita nggak bikin acara besar-besaran buat leluhur?"

​"Biarkan saja mereka bicara, Bu. Mulut mereka tidak akan memberi kita makan saat kita susah," balasku dingin. "Kita harus egois untuk kebahagiaan kita sendiri. Ara mau Bapak dan Ibu masa tuanya tenang, punya rumah sendiri yang nggak diganggu siapa-siapa."

​Bapak terdiam lama, menatap langit-langit rumah. Ada pergulatan batin di wajah tuanya. Namun, melihat kegigihan di mataku—sesuatu yang belum pernah ia lihat pada sosok Ara yang lama—beliau akhirnya menghela napas panjang.

​"Bapak akan pikirkan, Ra. Tapi kamu harus bantu Bapak mengurusnya. Bapak benar-benar buta soal ini."

​Aku tersenyum tipis. Satu langkah besar telah terlewati. Aku sedang berpacu dengan waktu, dan aku tidak akan membiarkan masa depan yang pahit itu terulang kembali.

Pagi itu, aku memutuskan untuk tidak mengenakan seragam putih abu-abuku. Dengan izin satu hari dari sekolah, aku menemani Bapak melangkah menuju bank untuk membuka rekening pasar modal, lalu melanjutkan agenda yang jauh lebih krusial: survei tanah yang menjadi incaran semalam.

​Aku terus memacu semangat Bapak, membisikkan bahwa lahan ini sedang menjadi incaran banyak orang. "Kita harus cepat, Pak. Sebelum investor dari kota melirik ke sini," ujarku meyakinkan.

​Bapak, dengan naluri seorang pria yang lebih percaya pada sesuatu yang bisa dipijak daripada angka digital di layar ponsel, akhirnya mengambil keputusan besar. Beliau memilih untuk membeli dua kavling sekaligus. Baginya, urusan tanah jauh lebih masuk akal dan nyata dibandingkan saham yang masih terasa asing dan abstrak.

​Aku tidak mendebatnya. Sebaliknya, aku tersenyum puas. Dua kavling tanah di area ini adalah investasi emas. Sambil menunggu harganya meroket sepuluh tahun ke depan, lahan ini bisa digarap untuk ditanami sayuran atau palawija—memberi kesibukan yang produktif bagi Bapak dan Ibu.

Strategiku jelas: kelak saat harga tanah ini naik delapan kali lipat, mereka bisa menjual satu kavling untuk membangun rumah sederhana yang mandiri di pekarangan lain yang lebih tenang, jauh dari hiruk-pikuk tanah warisan yang menyesakkan.

​Sepatu tuaku dan sandal jepit Bapak menginjak rerumputan liar di lahan yang masih berupa semak belukar itu. Bapak berdiri berkacak pinggang, memandang hamparan tanah merah di depannya dengan binar mata yang belum pernah kulihat sebelumnya—binar penuh harapan.

​"Benar di sini, Ra? Bapak rasanya masih tidak percaya uang tabungan Ibu selama belasan tahun akan jadi tanah ini," gumam Bapak, suaranya sedikit bergetar.

​"Di sini, Pak. Percayalah, sepuluh tahun lagi, Bapak tidak akan menyesal pernah berdiri di sini hari ini," jawabku mantap.

​Aku mengeluarkan buku catatan kecil dari tas, mencatat posisi patok-patok kayu yang menjadi pembatas. Di dalam kepalaku, aku sudah menggambar denah masa depan. Aku tidak hanya sedang membeli tanah; aku sedang membeli ketenangan masa tua Ibuku.

Aku sedang membangun benteng agar Ibu tidak perlu lagi menelan obat penenang hanya untuk sekadar merasa aman dari gunjingan saudara.

​Matahari mulai meninggi saat kami menyelesaikan urusan administrasi dengan pemilik lahan. Ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dadaku. Di tahun 2012 ini, aku baru saja mengubah garis kemiskinan dan keterpurukan keluargaku.

Jika waktu memang harus menarikku kembali ke tahun 2029 nanti, setidaknya aku tahu bahwa aku meninggalkan jejak yang akan menyelamatkan mereka.

Sore harinya, saat kami melangkah masuk ke ruang tamu, aroma bumbu dapur menyambut kepulangan kami. Ibu sedang duduk di kursi kayu sembari melipat tumpukan baju, namun matanya terus tertuju ke arah pintu. Begitu melihat Bapak membawa map biru berisi kuitansi dan salinan surat tanah, Ibu langsung meletakkan pekerjaannya.

​Wajahnya tampak tegang, perpaduan antara cemas dan rasa tidak percaya.

​"Sudah jadi, Pak? Beneran uangnya sudah diserahkan?" suara Ibu bergetar kecil. Baginya, angka di buku tabungan itu adalah hasil keringat dingin dan penghematan luar biasa selama belasan tahun. Kehilangan angka-angka itu dalam sehari terasa seperti melepas separuh nyawanya.

Bapak mengangguk mantap, lalu meletakkan map itu di atas meja. "Sudah, Bu. Dua kavling. Ara yang bantu urus tadi di bank dan ketemu pemiliknya."

​Ibu terdiam, jemarinya yang kasar perlahan mengusap permukaan map biru itu. "Dua kavling... itu kan banyak sekali, Pak. Apa kita nggak bakal kelaparan bulan depan? Tabungan kursus anak-anak, tabungan nikahan..."

​Aku segera mendekat, duduk di samping Ibu dan menggenggam tangannya yang dingin. "Bu, percaya sama Ara. Uang itu tidak hilang, cuma berubah bentuk jadi tanah. Kalau Ibu simpan di bank, harganya tetap segitu. Tapi tanah ini? Beberapa tahun lagi, tanah ini bisa membiayai kursus kami sepuluh kali lipat."

​Ibu menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ibu cuma takut, Ra. Ibu nggak pernah pegang harta sebanyak ini. Ibu takut saudara-saudara tahu dan makin sinis sama kita."

​"Justru itu, Bu," sahutku tegas, menatap matanya dalam-dalam. "Kita beli tanah ini supaya kelak kita punya tempat pelarian. Supaya kalau mereka bicara menyakitkan lagi, Ibu punya dinding rumah sendiri yang nggak menempel dengan mereka. Ibu nggak perlu lagi merasa berutang budi karena tinggal di tanah warisan."

​Mendengar itu, pertahanan Ibu runtuh. Ia menangis sesenggukan. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kelegaan yang luar biasa.

Beban batin yang ia pikul selama tinggal di tanah warisan yang penuh drama itu seolah terangkat sebagian.

​"Mbak Ara hebat," celetuk Cinta yang tiba-tiba muncul dari balik tirai kamar, matanya berbinar melihat map itu. "Berarti kita bakal punya rumah baru yang ada taman bunganya ya, Mbak? Yang nggak ada tetangga cerewetnya?"

​"Iya, ta. Doakan saja, sekarang udah ada tanahnya. Kita sabarin dulu tinggal disini sampai nanti waktunya tiba untuk pindah ketempat milik kita sendiri," jawabku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!