"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insting Detektif
Posisi mereka yang begitu dekat membuat jantung Sisil berdetak lebih kencang. Apalagi parfum yang dikenakan Alvin, sukses masuk dan terendus oleh hidung gadis itu. Aroma maskulin pria yang usianya 13 tahun lebih tua darinya, sukses membuat hatinya tak karuan.
Kegugupan jelas terlihat di wajah Sisil. Apalagi ketika dia melihat bibir Alvin yang kemerahan karena tidak pernah tersentuh zat nikotin. Seketika otaknya langsung berkelana. Bagaimana rasanya kalau Alvin menciumnya.
“Kamu lupa pakai sabuk pengaman,” ujar Alvin membuyarkan lamunan Sisil. Pria itu menarik tali sabuk pengaman, kemudian memasangkannya. “Kenapa kamu gugup kaya gini?” tanya Alvin dengan mimik wajah menggoda.
“Eh … ehm … habisnya Om bikin kaget aja.”
“Katanya kamu mau bikin Om gatal-gatal,” Alvin melanjutkan godaannya.
“Eh ….”
Sisil hanya bisa diam seribu bahasa. Alvin masih belum mengubah posisinya. Mereka masih berada di jarak yang cukup dekat.
“Kamu jadi mau ke AlMart? Atau kamu cuma mau bikin Anye kesal?”
“A-aku mau ke AlMart kok. Kan aku juga butuh data di sana,” jawab Sisil cepat.
“Oke.”
Alvin mengembalikan posisi tubuhnya ke belakang setir, kemudian menjalankan kembali kendaraan roda empatnya.
Sisil menghembuskan nafas lega. Kejadian tadi lebih mendebarkan dibanding menaiki roller coaster. Wajah tampan Alvin begitu dekat dengannya. Bahkan gadis itu sempat berkhayal mendapat ciuman dari Alvin.
Perjalanan mereka berakhir ketika mobil berhenti di depan mini market. Ketika Sisil turun, tulisan AlMart yang dipasang di bagian atas, langsung tertangkap mata gadis itu. Logo Almart dan warna chat dibuat serupa seperti AlMart utama.
“Ayo,” ajak Alvin seraya menaruh tangannya di bahu Sisil.
Kedatangan pria itu cukup mengejutkan pegawai di sana. Pasalnya baru kemarin Alvin datang. Dan sekarang bos mereka kembali datang. Tapi sekarang bersama dengan seorang gadis cantik.
“Pagi semua.”
“Pagi, Pak.”
“Kenalkan, ini Sisil. Dia mau melakukan penelitian di AlMart. Mohon bantuannya, kalau dia butuh data atau apa pun kasih saja.”
“Siap, Pak.”
Alvin meninggalkan Sisil bersama para pegawainya. Pria itu memasuki ruang kerja yang biasa digunakan olehnya ketika datang berkunjung ke sini.
Pria itu menghempaskan bokongnya di atas kursi kerja. Dia membenarkan posisi di depannya yang sudah dalam keadaan menyala.
Di laptop terlihat gambar yang berasal dari cctv yang terpasang di toko. Matanya terus mengawasi Sisil yang sedang berbincang dengan para pegawai. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Sisil … kamu tambah cantik aja,” gumamnya pelan.
Alvin menggelengkan kepalanya. dia berusaha menyingkirkan bayangan Sisil yang terus menari-nari di kepalanya. sejak bertemu lagi di Bandung, sosok gadis itu mulai menghuni hati dan pikirannya.
Perkataan Sisil yang lebih menyukai pria dewasa membuatnya sedikit berharap kalau gadis itu memang tertarik padanya.
Sadar Vin, kamu sudah menikah. Kamu sudah berjanji pada nenek untuk tidak meninggalkan Anye. Tapi ….
Alvin terus bermonolog dengan dirinya. Di satu sisi, dia mencoba menyadarkan diri posisinya sekarang. Tapi di sisi lain, gejolak perasaan di hatinya tidak bisa dikontrol. Berada dekat di dekat Sisil membuat perasaannya semakin bertambah dalam.
Andai aku menolak dengan Anye, akankah aku bisa menikahi Sisil?
Ngga mungkin! Ingat, usiamu dan Sisil itu berbeda jauh. Kalau pun kamu belum menikah, Bang Dion ngga akan membiarkanmu menikahi anaknya.
Tapi bagaimana kalau Sisil juga mencintaiku?
Sisil melakukan itu hanya untuk membuat Anye cemburu. Dia bukan gadis gila yang jatuh cinta pada pria yang sudah menikah.
Alvin semakin dibuat gundah gulana. Pikirannya terus berperang. Pro dan kontra antara hati dan pikiran terus berseliweran. Tapi kemudian dia seolah mendengar bisikan halus.
Kamu coba tes aja. Apa benar Sisil punya perasaan padamu atau tidak?
“Om!” terdengar suara Sisil membuyarkan lamunan Alvin. Gadis itu masuk ke dalam ruangan dengan wajah sumringah. Dia cukup mendapat banyak data dan juga sudah mewawancarai pegawai yang bertugas pagi ini.
“Sudah selesai?”
“Sudah dong.”
“Cepat banget.”
“Masa?” Sisil melihat jam di pergelangan tangannya. “Aku satu jam lebih di bawah loh.”
Alvin dibuat terkejut. Ternyata waktu berlalu begitu cepat. Bahkan pria itu tidak sadar selama satu jam terakhir ini, pikirannya selalu dipenuhi tentang Sisil.
“Pulang sekarang?” tawar Sisil.
“Beneran udah selesai?”
“Udah.”
“Mau ke cabang lain, ngga?”
“Ehm … besok lagi aja.”
“Kenapa ngga sekalian hari ini?”
“Biar aku lebih lama di Jakarta,” sebuah senyum lebar diberikan oleh Sisil dan sungguh hal itu semakin membuat perasaan Alvin tidak karuan.
“Sebelum pulang, kita belanja dulu ya. Om mau aku masakin apa?”
“Terserah kamu aja.”
“Oke. Tapi enak ngga enak, harus dimakan.”
“Siap.”
Alvin bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan bersama dengan Sisil. Sebelum pergi, pria itu berpamitan dulu pada para pegawainya.
***
Rian memulai observasinya di Blue Mart. Pemuda itu berencana melakukan penelitian di divisi keuangan pusat perbelanjaan tersebut. Artinya, dia akan sering berada di divisi di mana Anyelir bekerja.
Sejak pagi Rian sudah berada di divisi keuangan. Cukup banyak data yang dibutuhkan olehnya. Sambil mengumpulkan data, pemuda itu berkenalan dengan seluruh staf, termasuk Anyelir dan Sandi.
Sepanjang pengamatannya sejauh ini, tidak ada hal mencurigakan dari Anyelir. Wanita itu tetap bersikap professional, berhubungan baik dengan semua rekan kerjanya, baik laki-laki mau pun perempuan.
Setelah mengumpulkan data, Rian bermaksud mewawancarai pegawai divisi keuangan. Tapi dia sengaja hanya mewawancarai satu orang per hari. Itu agar dia bisa sering datang ke kantor ini dan mengawasi Anyelir lebih lama.
“Terima kasih atas kesempatan wawancaranya, Pak,” ujar Rian mengakhiri wawancara pada salah seorang pegawai.
“Sama-sama. Kalau masih ada yang ditanyakan, tanyakan saja. Jangan sungkan.”
“Baik, Pak.”
Rian melirik para pegawai lain, mereka sedang bersiap meninggalkan meja kerjanya. Rupanya sudah masuk jam istirahat.
“Kalau istirahat begini, biasanya pegawai makan di mana, Pak?”
“Biasanya sih makan di tempat yang dekat kantor. Ada juga yang ke Pujasera Blue Mart. Letaknya ada di lantai lima. Atau ke pedagang kaki lima yang mangkal di dekat Blue Mart.”
“Ooh … gitu ya, Pak.”
“Iya. Mau makan bareng saya?” tawar pria bernama Priyo itu.
“Makasih, Pak. Saya mau lihat-lihat tempat makan di sekitar Blue Mart dulu.”
“Silakan.”
Tak mau mengurangi waktu istirahat Priyo, Rian pun berpamitan lebih dulu. Apalagi dia melihat kalau Anyelir sudah meninggalkan ruangan.
Di depan lift, dia melihat Anyelir bersama dengan Sandi dan satu rekan kerjanya. Rian segera bergabung dengan mereka. Anyelir sendiri tidak mengenali Rian. Saat Rian datang ke rumah Pahlevi, wanita itu memang tidak melihat Rian.
Begitu pintu lift terbuka, semuanya segera masuk ke dalam lift.
Ketika kotak besi berhenti di lantai lima, seorang pegawai keluar. Dia pasti akan pergi ke Pujasera. Sementara Anyelir dan Sandi masih bertahan di dalam lift.
Keduanya baru keluar bersama saat lift tiba di lantai dasar. Rian buru-buru keluar. Dia berpura-pura berjalan menuju toilet, tapi sebenarnya dia mencari tempat tersembunyi.
Diam-diam dia mengawasi Anyelir. Insting detektifnya langsung bekerja ketika melihat Anyelir dan Sandi tetap berada di lift.
Benar saja, keduanya keluar bersama dari Blue Mart. Rian pun mulai mengikuti. Dia mengambil ponselnya, kemudian diam-diam mereka Anyelir dan Sandi dari belakang.
Begitu keduanya keluar dari Blue Mart, tangan Sandi langsung melingkari pinggang Anyelir. Tidak ada penolakan dari wanita itu. Bahkan dia terlihat nyaman. Sandi menarik tubuh Anyelir hingga posisi mereka merapat.
Damn! Pasti ada sesuatu di antara mereka.
Rian terus mengikuti sambil terus merekam adegan di depannya.
Mereka terus berjalan menuju tempat makan yang letaknya tidak jauh dari gedung Blue Mart. Saat akan masuk, kepala Anyelir menoleh pada Rian yang masih mengikuti mereka.
***
Waduh🫣
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭
kamu mah gk gentleman Yan.....
dgn cara curang apakah kamu akan mendapatkan Sisil ?
cinta gk bisa di paksakan Man /Smug/
kamu akan merasakan akibatnya suatu saat nanti ....tunggu aja waktu yg tepat Yan ....pasti kamu akan menyesal melakukan culas pada Sisil /Curse/